Terjerat Cinta Sang Pembantu

Terjerat Cinta Sang Pembantu
Calandra series 16


__ADS_3

Satu bulan kemudian ...


Kejadian yang menimpa Elang dan Rena, telah berlalu dan dilupakan. Akhir-akhir ini, Rena sedikit menjauhi Elang, karena Elang sudah tak bisa memanjakan dirinya lagi. Elang membiarkan Rena, karena kali ini, Elang lebih tertarik untuk mendekati Nisha lagi. Alasan utamanya adalah karena Calandra yang kini mulai dekat dengan Nisha.


Siang ini, Elang hanya menonton televisi di rumahnya. Berkali-kali, Elang menelepon dan mengirim pesan pada Nisha, namun tak juga Nisha angkat. Elang melihat Ibunya sedang memanggil-manggil Pak Maman, sang supir yang setia bekerja pada mereka.


"Mah, ngapain sih manggil-manggil Pak Maman?" tanya Elang.


"Mama mau minta Pak Maman anterin jas dan beberapa baju Ayah kamu ke rumah Pak Davian. Soalnya, Ayah kamu malam ini mau ke Bandung, ada rapat penting katanya. Sedangkan, stok pakaian di rumah Pak Davian sudah habis." ucap Nadya.


Pak Davian? Rumah Calandra? Bukankah ini masih pukul dua siang? Setahuku, Nisha pasti sedang mengajari les anaknya Pak Davian kalau jam segini. Apa aku saja yang mengantarkan pakaian Ayah ke rumah Pak Davian? Aku harus merebut hati Nisha kembali, karena aku tak sudi, Nisha bersama Calandra. Aku tahu, yang Nisha cintai hanyalah aku. Oleh karena itu, aku harus bisa mendapatkan Nisha kembali. Bagaimanapun caranya. Batin Elang.


"Maa, biar Elang aja yang anterin pakaian Ayah. Kan kasihan Pak Maman kalau harus berangkat lagi, dia kan baru aja pulang jemput Elang sama Jenie. Biar Elang aja ya?" pinta Elang.


"Kamu kan kata Ayah gak boleh bawa mobil lagi, kamu gak boleh bawa motor lagi. Nanti Ayah kamu marah, Lang. Biar Pak Maman aja!" tegas Nadya.


"Gak apa-apa, Ma. Ayah gak akan marah, Elang juga cuma pergi nganterin pakaian dia, masa dia harus marah. Kalau udah selesai, Elang pasti langsung pulang kok, Ma. Elang janji." Elang mengacungkan jari kelingkingnya.


"Baiklah, kalau begitu. Tapi, kamu janji ya, kalau udah selesai anterin baju Ayah kamu, kamu harus segera pulang!" perintah Nadya.


"Baik, Mama." Elang pun bergegas masuk ke kamarnya untuk mengganti pakaian.


Tak lama, Pak Maman pun datang menemui Nadya,


"Iya, Nyonya. Ada apa? Barusan manggil saya?" tanya Pak Maman.


"Ini, tolong Bapak masukin paper bag ini ke mobil, ini isinya Baju suami saya. Elang akan mengantarkannya menuju rumah Pak Bos. Berikan kunci mobilnya pada Elang, saya sudah mengizinkan dia pergi." perintah Nadya.


"Baik, Bu. Laksanakan." Pak Maman pun segera mengambil paper bag dan segera menuju garasi mobil.


Elang dengan sigap bersiap menuju rumah Davian. Elang penasaran, apakah Nisha ada di rumah besar itu atau tidak. Sudah lama Elang tak bertemu Nisha, karena Nisha hanya kuliah kelas karyawan, dan akhir-akhir ini pun, Nisha sulit sekali ditemui. Elang rupanya sedikit menyesal karena telah memutuskan Nisha. Namun, Elang akan tetap mendekati Nisha, karena sekretaris Dika pun sepertinya setuju kalau Elang bersama Nisha lagi.


Setengah jam perjalanan untuk menuju rumah Davian. Akhirnya, Elang pun sampai dan segera memasuki kawasan perumahan elit tersebut. Elang sudah tak sabar, ingin bertemu dengan Nisha. Karena, ketika Elang pergi ke rumah Nisha, Nisha sudah pindah dan tak tinggal di kontrakan kecil itu lagi.


"Selamat siang, Pak. Apa Sekretaris Dika ada? Saya anaknya, saya ingin bertemu dengannya. Ada beberapa pakaian yang harus saya berikan padanya." ucap Elang pada satpam di rumah Davian.


"Ada, Den. Silahkan masuk," satpam itu pun membiarkan Elang masuk.


Elang masuk kedalam rumah yang luasnya berkali-kali lipat dari rumahnya. Rumah yang mewah dan megah. Pastinya, kekayaan Davian tak akan habis-habis walaupun sudah tujuh turunan. Elang berjalan menuju ruang tamu, dan melihat sekretaris Dika sedang duduk di ruang tamu bersama Davian.


"Loh, kamu? Ngapain kamu yang kesini?" tanya sekretaris Dika.


"Iya, Ayah. Aku yang mengantar pakaian ini untukmu. Pak Maman kelelahan, jadi aku saja yang mengantarnya. Halo, Pak Davian. Selamat siang, semoga sehat selalu." ucap Elang, lalu ia membungkukkan badannya pada Davian.


"Oh, baiklah. Ya sudah, sana kamu pulang!" tegas sekretaris Dika.

__ADS_1


"Eh, Ayah, a-apa aku boleh izin ke toilet dulu sebentar? Aku kebelet," Elang beralasan.


"Toilet didalam, tanyakan saja pada asistenku." ucap Davian.


"Baik, Pak Davian. Terima kasih banyak," Elang pun bergegas kedalam rumah besar Davian.


Elang sengaja meminta ke toilet, karena Elang ingin melihat, apakah Nisha ada di rumah ini atau tidak. Ketika Elang masuk ke ruang keluarga, benar saja, dewi fortuna sedang berpihak padanya, ia melihat Nisha sedang mengajari Livia. Tak butuh waktu lama, Elang pun mendekati Nisha, dan menyapanya.


"Hai, Nish. Selamat siang ..." sapa Elang.


Nisha yang melihat Elang ada di hadapannya begitu kaget, karena Nisha memang sengaja menghindari Elang. Nisha masih merasa sakit hati atas perbuatan Elang sebulan lalu padanya. Semenjak itu, Nisha pun pergi menjauh dari Elang. Kali ini, Nisha tertangkap basah ada di rumah Davian, dan Nisha pun pasrah, harus bertemu dengannya.


"Elang?"


"Hai, Nish. Kamu kemana aja? Aku nyari-nyari kamu, kamu pindah kemana?" ucap Elang.


"Aku telah pindah kontrakan, kenapa?" tanya Nisha.


"Nish, aku minta maaf, atas perbuatan ku waktu itu. Aku menyesalinya." Elang menunduk.


"Sudah, aku tidak apa-apa. Lupakan saja, Lang. Semua sudah berlalu." ucap Nisha.


"Nisha, aku ingin berbicara jujur padamu. Ada satu hal yang belum aku katakan padamu sejak awal. Apa kamu mau, mendengarkan aku? Jika iya, aku akan mengatur pertemuanku denganmu." ucap Elang.


"Elang, kumohon jangan ganggu aku, aku sedang mengajar Livia les. Kuharap, kamu segera pergi, aku sibuk." ucap Nisha menghindar.


"Iya, iya, Lang. Baiklah. Tapi, tolong jangan ganggu aku. Sekarang aku sedang mengajari Livia, kumohon kamu pergi saja." tegas Nisha.


"Tolong angkat teleponku, Nish. Jangan kamu blokir nomorku." ucap Elang.


"Iya, baiklah." Nisha malas.


Davian dan sekretaris Dika masuk kedalam ruang keluarga, mereka melihat Elang yang sedang merayu Nisha. Nisha terlihat tak nyaman karena Elang mendekatinya. Sekretaris Dika yang melihatnya merasa kesal, karena Elang selalu saja membuat masalah.


"Elang!" tegas sekretaris Dika.


"Eh, A-ayah, maafkan aku, aku hanya berbicara dengan Nisha sebentar." ucap Elang.


"Pulang sekarang!" tegas sekretaris Dika.


"Ba-baik Ayah. Nisha, nanti aku hubungi kamu, kumohon kamu bersedia mengangkatnya."


Elang pun berdiri dan segera pamit pada Davian dan Ayahnya. Elang sangat beruntung, karena tak ada Calandra di rumah ini. Elang tak akan bisa berbincang dengan Nisha, kalau ada Andra di rumahnya. Elang pun pamit, dan segera naik ke mobilnya. Elang berharap, bisa meyakinkan Nisha lagi, jika Elang jujur padanya tentang rasa kasihan nya pada Nisha saat dulu Elang baru kenal dengannya.


Rena sudah menjauh, kini aku harus bisa mendapatkan Nisha lagi. Aku yakin, Nisha masih mencintaiku. Karena aku adalah cinta pertamanya. Satu yang harus aku singkirkan, yaitu Calandra. Batin Elang.

__ADS_1


Sekretaris Dika meminta maaf pada Davian atas keributan yang Elang lakukan. Dika tahu, bahwa Elang sengaja datang ke rumah ini, karena Elang ingin bertemu dengan Nisha. Sekretaris Dika berpikir, daripada Elang dengan wanita tak jelas itu, ada baiknya jika anaknya bersama Nisha. Mungkin, Elang akan menjadi pribadi yang lebih baik jika bersama Nisha.


"Kurasa, anakku masih mencintai Nisha." ucap sekretaris Dika.


"Kalau benar begitu, kenapa dulu dia mempermalukan dirinya dengan meniduri wanita lain?" ucap Davian tanpa filter.


DEG. Sekretaris Dika merasa tersindir dengan ucapan Davian. Ia tak enak mendengar Bos nya berkata begitu. Namun, sekretaris Dika tahu, kalau Davian bicara memang selalu blak-blakan dan tak pernah di saring.


"Ya, anakku memang melakukan kesalahan, karena dia tergoda dengan wanita gatal itu. Tapi, aku berharap kalau Nisha bisa merubah Elang. Sepertinya, Nisha bisa membuat Elang berubah menjadi lebih baik lagi." sekretaris Dika tersenyum.


"Bukankah mereka sudah putus?" selidik Davian.


"Ya, tapi aku masih berharap Nisha mau menerima anakku lagi. Dia wanita yang baik, dan kurasa dia pantas untuk Elang." jawab sekretaris Dika.


Apa maksudnya curut ini? Seenaknya saja berkata bahwa Nisha pantas untuk anaknya? Kau salah, curut! Nisha memang pantas untuk anakmu, tapi anakmu tak pantas untuk Nisha! Sembarangan saja kau bicara. Nisha itu pantasnya dengan Calandra, anakku. Batin Davian.


"Tapi anakmu tak pantas untuk Nisha!" tegas Davian.


"Eh, Bos? Apa maksudnya?" sekretaris Dika tak mengerti.


"Anakku yang pantas untuk Nisha." jawab Davian membuat sekretaris Dika kaget.


"Loh, kok anakmu?" sekretaris Dika kaget.


"Lihat saja nanti, anakmu apa anakku yang pantas mendapatkan wanita seperti Nisha!" Davian menyeringai.


"Aku yakin, Nisha mencintai anakku. Hanya butuh waktu untuk meyakinkan hatinya kembali." jawab sekretaris Dika.


"Ah, mimpimu berlebihan! Nisha sudah tersakiti oleh anakmu, dan anakku yang menjadi penolong Nisha disaat Nisha sedih, karena disakiti oleh anakmu." ucap Davian tak mau kalah.


"Bos, lu ngajak gelut?" sekretaris Dika menatap tajam Davian.


"Ayo, gelut sama gue! Gue gak takut sama lu." Davian memicingkan matanya kesal.


...🌸🌸🌸...


Rena telah menunggu seseorang didepan gerbang rumahnya. Berbekal testpack garis dua, yang akan menjadi bukti kuat untuknya. Om Adi, Rena memanggilnya dengan sebutan Om Adi. Sugar Daddy yang selalu meminta Rena untuk melayaninya. Rena kebobolan, hingga dirinya mengandung benih anak Om Adi.


Rena sudah berusaha menggugurkan anaknya, tapi janin dalam rahimnya terlalu kuat. Rena sudah memutuskan untuk meminta Om Adi bertanggung jawab atas kehamilannya.


Semoga saja Om Adi mau menerima buah hatinya. Aku tak bisa menggugurkan janin ini, karena ia terlalu kuat. Jika aborsi, aku terlalu takut. Aku sudah meminum pil dan sebagainya, tapi aku tak juga keguguran. Kurasa, anak ini memang ingin hidup. Aku ingat, bahwa Om Adi tak mempunyai anak karena istrinya mandul. Mungkinkah bayi ini ingin hidup bersama Om Adi? Aku rela jadi madu Om Adi, asalkan aku selalu diberi uang puluhan juta olehnya. Kalau pun Om Adi menolak, aku harus bisa mengambil uang ratusan juta darinya. Lihat saja nanti.


Aku memang takut Om Adi akan menolak mentah-mentah semua ini. Jika Om Adi tak berkenan, aku sudah punya option kedua, yaitu ELANG. Aku akan meminta pertanggung jawaban Elang, karena orang tuanya mengira aku telah tidur dengannya. Bukankah untuk meraup uang banyak itu mudah sekali, Rena? Hahahaha, aku memang wanita yang pintar. Batin Rena.


Adakah yang tahu, siapa Om Adi itu?

__ADS_1


*Bersambung*.


__ADS_2