Terjerat Cinta Sang Pembantu

Terjerat Cinta Sang Pembantu
Mengenalkan mu..


__ADS_3

FLASHBACK HARI KEMARIN.


Di Rumah sakit.


Sekretaris Dika tetap menutup matanya degan tangannya. Ia menangisi Davian yang tak kunjung sadar. Hingga jari-jemari Davian bergerak perlahan-lahan pun, sekretaris Dika tak menyadarinya.


Tiba-tiba, lengan sekretaris Dika serasa ada yang mengelus lembut perlahan-lahan. Bulu kuduknya berdiri, ia merasakan hal mistis dalam tubuhnya. Ketika ia membuka mata, tak ada apa-apa disekitarnya. Hingga sekretaris Dika baru menyadari, bahwa ada gerakan-gerakan lembut pada tangan Davian, meskipun gerakannya masih sangat lemah dan pelan.


"DOK, DOKTER! TOLONG... Kemari lah! Lihatlah ini, keajaiban terjadi. Alhamdulillah.. Dok, Dokter!!!" sekretaris Dika pergi keluar mencari dokter.


Ya, Davian memberikan responnya pada sekretaris Dika. Benar-benar keajaiban yang tak disangka-sangka. Sekretaris Dika segera memanggil Dokter untuk memeriksa Davian.


Dokter sudah tiba, dan Dokter segera memeriksa Davian. Dokter memberikan berbagai rangsangan, seperti cahaya ke mata, ketukan dan tekanan pada bagian tubuh tertentu untuk menilai respon, serta rangsang nyeri dengan mencubit Davian.


Dokter melihat perkembangan yang signifikan pada tubuh Davian, nafasnya mulai kembali teratur, dan Dokter mulai melepas beberapa alat bantu pada tubuh Davian.


"Tuan Davian sebentar lagi pasti akan sadar. Tetap disisinya, dan sambut dia dengan baik ketika dia sadar nanti." ucap sang Dokter.


"Baik, Dokter. Terima kasih." jelas sekretaris Dika.


Akhirnya, sekretaris Dika bisa bernafas lega. Davian akan segera sadar sebentar lagi. Tinggal menunggu ia terbangun dari tidur panjangnya.


Ketika sekretaris Dika akan mengeluarkan handphone dari sakunya, perawat memanggilnya.


"Tuan, Dika?" tanya sang perawat yang berada didepan pintu.


"Iya, saya? Ada apa?" tanya sekretaris Dika.


"Tolong ambilkan resep obat di apotek untuk pasien ketika dia sadar nanti. Obatnya harus ditebus sekarang juga." ucap perawat.


"Baik, terima kasih. Akan saya tebus sekarang."


Sekretaris Dika mengambil secarik kertas yang berisi obat-obatan untuk Davian. Sekretaris Dika mengurungkan niatnya untuk menelepon Arini. Ia akan menelepon Arini ketika nanti setelah selesai mengambil obat.


Dengan hati yang penuh rasa senang dan bahagia, sekretaris Dika segera menebus obat uang diresepkan oleh sang Dokter. Walaupun obatnya mahal, sekretaris Dika tak mempedulikannya.


Ia tetap menebus dengan uang pribadinya, dan segera kembali lagi ke ruangan ICU tempat Davian dirawat, karena sekretaris Dika khawatir Davian akan segera sadar.


Davian terlihat masih terbaring, sekretaris Dika segera duduk di kursi tunggu pasien. Dan ia mengeluarkan handphonenya dari saku celananya.


"Aku harus segera menelepon Nona Arini, dia pasti sangat bahagia jika aku memberi tahu, bahwa Tuan Davian akan segera sadar."


Ketika ia memencet tombol kontak Arini, kemudian ia akan mendekatkan handphonenya ke telinganya, tiba-tiba..


"Jangan lakukan!" suara Davian masih serak, namun bisa bisa terdengar jelas.


Davian membuka matanya seketika. Dengan kesadaran penuh, tangan Davian menahan tangan sekretaris Dika agar segera mematikan teleponnya. Sekretaris Dika benar-benar kaget dan tak percaya, ia segera mematika teleponnya pada Arini sebelum sempat telepon itu tersambung.


"Bo-bos, Bos? Bos, Bos benar-benar telah sadar? Bos? Tuan ku? Ini benar Tuanku? Ya ampun, kau memang benar Bos Davian-ku. Bos, kini engkau sadar juga. Syukurlah, aku bahagia sekali." sekretaris Dika menghamburkan pelukannya pada Davian.


Davian hanya mengangguk. Pita suaranya masih sakit jika ia berbicara terlalu keras. Davian harus meminum obat terlebih dahulu, agar suaranya bisa pulih seperti sedia kala.


Sekretaris Dika tak menanyakan perihal kesadaran Davian. Ia hanya fokus pada tubuh Davian yang telah sadar dan bisa memberikan respon kembali. Davian mengisyaratkan agar sekretaris Dika tak menelepon Arini, dan tak memberi tahu mengenai dirinya yang telah sadar.


***


Malam hari di Rumah sakit.

__ADS_1


12 jam setelah Davian sadarkan diri.


Kesehatan Davian telah berangsur membaik. Hanya tinggal luka tembakan ditubuhnya yang memerlukan perawatan intensif lebih lanjut. Kini, suaranya sudah membaik dan tubuhnya pun terlihat bugar. Ia sudah bisa jalan dan beraktifitas seperti biasa.


Sekretaris Dika telah menceritakan semuanya. Mengenai acara pertemuan besok, dan Rangga yang mengambil alih untuk sementara. Davian hanya mendengarkan dan memperhatikan saja. Sekretaris Dika bingung dengan tingkah kalem Davian. Tak seperti biasanya Davian seperti ini, sekretaris Dika jadi sedikit khawatir.


"Bos, lu gak kenapa-napa kan?" tanyanya.


"Emang kenapa? Gue udah merasa baikan kok." jawab Davian.


"Kenapa lu malah diem aja ketika tahu besok Nona Arini dan Tuan Rangga akan berpura-pura menjadi suami istri?" tanya sekretaris Dika.


"Biarkan saja. Aku akan datang esok hari. Aku akan membuat kejutan untuk istriku. Dia pasti tak menyangka, kalau tiba-tiba aku akan datang di acara tersebut. Aku ingin memberikan kejutan untuknya. Kau tahu, betapa kerennya aku kan? Nanti, ketika aku datang dan mengejutkan mereka semua, istriku pasti jadi orang pertama yang benar-benar kaget ketika melihatku. Seperti pangeran yang datang menjemput permaisurinya. Ketika permaisurinya akan dijodohkan dengan pria lain, disitulah gue datang dan membuyarkan acara tersebut! Hahahha. Keren kan gue, Dik? Seperti yang ada di drama-drama, gue akan datang disaat yang tepat!" Davian mulai bicara seperti dirinya yang biasa.


"Alhamdulillah ya Allah.. Terima kasih banyak, Engkau telah mengabulkan permintaanku. Akhirnya Tuanku kembali dengan sifat narsisnya seperti yang biasa ia lakukan. Akhirnya, aku lega sekarang. Bos, ini benar-benar elu Bos! Tadi gue sempet khawatir kalau elu bukan Bos Davian yang gue kenal. Setelah lu bicara barusan, gue yakin bahwa ini benar-benar Bos gue yang paling Narsis." sekretaris Dika menepuk-nepuk pundak Davian.


"Sialan lu! Gue gak narsis. Gue hanya berbicara sesuai realita. Dik, lu bawain semua perlengkapan kerja gue di kantor, jangan di rumah, nanti ketahuan. Lu bawa kemeja terbaik gue, pokoknya lu siapin semua, hingga besok gue benar-benar terlihat seperti pangeran yang akan menjemput permaisurinya. Oke Dik?"


"Oke, Bos. Bisa diatur. Gue seneng banget pokoknya, elu bisa sadar dari koma dan akan menghadiri acara besok. Benar-benar keajaiban yang luar biasa, Bos." sekretaris Dika sumringah.


"Gue mimpi, istri gue nangis-nangis, dia mohon-mohon sama gue, kalau dia gak mau gue pergi ninggalin gue. Gue gak tahu, kenapa gue gak bisa ngapa-ngapain ketika dia menangis dan memohon-mohon sama gue. Gue gak bisa bangun, gue gak bisa membuat dia berhenti menangis. Entahlah, kenapa gue bisa mimpi buruk seperti itu. Gue sadar, ternyata gue harus bagun dari mimpi buruk itu. Gue harus membuktikan, bahwa sampai kapanpun gue gak akan melepaskan Arini. Akhirnya, gue bisa bangun dan sadar kembali, ketika gue berusaha bangun dari mimpi buruk itu." jelas Davian.


"Itu memang nyata, Bos. Gue udah rekam kejadian selama lo terbaring koma di Rumah sakit, dan lo gak akan nyangka sama sekali, apa yang dilakukan Nona Arini. Gue harus ambil memori yang ada didalam kamera di atas sana. Mungkin, lusa lu udah bisa lihat isi rekamannya."


"Masa iya? Gue jadi penasaran, apa aja yang terjadi selama gue gak sadar." jelas Davian.


"Secepatnya gue beri sama lo, Bos."


Flasback Off.


...***...


Hati dan perasaannya hancur, namun Rangga tak mau terlihat sedih, ia tetap berpura-pura tegar, bahwa dirinya biasa saja.


Davian tengah memberikan sambutan pada semua investor yang hadir pada saat ini, ia juga telah meminta maaf atas keterlambatannya. Didalam pidatonya, Davian berharap, hubungan kerjasama antar perusahaan akan tetap terjalin dengan baik.


Semua orang yang hadir dalam acara tersebut, memberikan tepuk tangan yang meriah. Haru biru, dari keluarga Davian, yang tak menyangka anaknya bisa dengan tegar dan kuat tetap menghadiri acara yang sangat penting baginya. Keluarga Davian benar-benar tak percaya dengan apa yang terjadi pada Davian.


Bak mimpi di siang bolong, Mama dan Papa Davian bisa melihat anaknya sedang berdiri di atas podium dengan sangat gagah dan tampan. Mereka sangat bahagia, mempunyai anak yang kuat dan hebat seperti Davian.


"Halo semuanya, terima kasih atas apresiasi kalian kepada saya. Terima kasih, kalian sudah bersedia menjadi rekan bisnis saya. Tanpa kalian, apalah saya. Semoga, hubungan perusahaan kita bisa terjalin dengan baik." Davian mengurai senyumnya.


Prokk.. Prookk.. Prokkk


"Dalam hubungan kerja sama kali ini, saya telah memberi kalian proposal kerjasama antar perusahan, apa yabg harus kita lakukan, berbagai macam jenis kerja sama, dan keuntungan yang akan kita dapatkan. Ini adalah kesempatan bagi kita semua, untuk terus sama-sama saling menguatkan perusahaan kita, dan tetap bertahan dengan kondisi perekonomian global yang kian hari kian merosot. Semoga, dengan seiringnya waktu berjalan, kita bisa saling menguntungkan dan saling mendukung untuk kemajuan perusahaan kita bersama." ucap Davian.


Semua tepuk tangan untuk Davian, memenuhi riuhnya gedung hotel bintang lima ini. Semua tamu benar-benar takjub pada Davian, mereka juga bangga dengan prestasi yang telah dicapai Davian.


"Terima kasih. Kali ini, saya akan memperkenalkan kalian pada seseorang yang membuat saya bersemangat menjalani hidup ini. Seseorang yang sangat saya cintai. Mungkin, saya belum pernah mengenalkannya pada kalian semua, dan kali ini, saya akan menunjukannya dihadapan publik. Kumohon, untuk istriku, Arini.. Naiklah keatas panggung ini, aku akan menepati janjiku untuk mengenalkan mu pada dunia."


Semua bertepuk tangan dengan sangat meriah. Mata mereka semua tertuju pada Arini, karena saat Davian masuk, Davian langsung datang menemui Arini.


Arini malu, namun ia memberanikan diri naik keatas panggung. Ia meyakinkan dirinya, bahwa ia sanggup bersanding dengan Davian, meskipun dirinya bukan berasal dari keluarga terpandang.


"Semuanya, perkenalkan, ini adalah istriku. Wanita yang selalu menemani hari-hariku saat ini. Kalian pasti belum mengenal istriku, karena aku belum pernah membawanya ke publik. Aku pun belum mengadakan resepsi untuk acara pernikahanku dengannya. Semuanya terjadi sangat mendadak, aku mohon maaf untuk itu. Jika waktunya telah tiba, aku akan mengundang kalian semua untuk makan malam, sebagai tanda maaf dari kami, karena pernikahan kami yang terkesan tertutup."


Mereka semua mengangguk-angguk, pertanda mengerti dan paham apa yang Davian maksud. Sang MC mempersilahkan pada Davian, mengutarakan seluruh isi hatinya pada Arini,

__ADS_1


"Silahkan, Tuan Davian. Adakah kata-kata atau ucapan yang ingin Tuan utarakan pada Nona Arini. Waktu dan tempat dipersilahkan."


Davian menghela nafas. Sejujurnya, ini kali pertama ia bertemu Arini lagi setelah dirinya sadar dari komanya. Davian jadi merasa canggung lagi ketika berada dekat dengan Arini. Davian membalikkan tubuhnya pada Arini. Satu tangannya memegang tangan Arini, dan satu tangannya lagi memegang microfone.


"Arini-ku, mungkin cinta kita terjalin karena ketidaksengajaan, mungkin cinta kita tumbuh tanpa kota menyadarinya. Cinta kita tumbuh, ketika kita selalu berdua, bersama menghabiskan hari-hari kita. Aku tak pernah menyangka, akan mencintaimu, dan jatuh kedalam hatimu seperti ini. Aku benar-benar merasa, bahwa kamulah takdirku. Kamulah yang dikirim Tuhan untukku, terima kasih, telah sabar menghadapi ku. Terima kasih, telah menerima segala sifat egois ku. Aku berharap, cintaku dan cintamu akan tetap bersatu selamanya. Meskipun aku tahu, kamu pernah terluka karena aku. Kali ini, esok, bahkan sampai kapanpun, aku berjanji, aku tak akan pernah meninggalkanmu lagi, dan aku akan menjaga kamu, seperti aku menjaga diriku sendiri. Arini, kamulah segalanya dalam hidupku, kamulah alasan aku bernafas sampai saat ini, kamulah anugerah terindah yang pernah ku miliki.."


Davian mengecup kening Arini dengan lembut. Membuat semua tamu undangan benar-benar larut dalam kemesraan dan kehangatan. Tak disangka-sangka, dalam acara formal perusahaan, Davian bisa menyelipkan hal-hal yang romantis untuk Arini.


Arini sangat bahagia, kini Davian mengakuinya sebagai istri SAH-nya. Davian tak lagi menyembunyikannya. Ada perasaan haru pada diri Arini, dengan gentle-nya laki-laki didepannya ini membuat ia sangat bahagia.


Arini tak pernah menyangka, bahwa Davian akan memberinya kejutan seperti ini. Semuanya sungguh diluar dugaan Arini, ia tak pernah menyangka bahwa Davian bisa sembuh dengan begitu mudahnya.


"Terima kasih, aku terharu dengan sikap Mas padaku. Tak banyak yang ingin aku ucapkan, selain rasa terima kasihku padamu, aku tak menyangka acaranya akan jadi seperti ini. Sekali lagi, aku ucapkan terima kasih, atas cintamu yang tak pernah habis untukku."


Davian ingin mencurahkan seluruh isi hatinya untuk Arini, ia menggenggam tangan Arini, lalu terdengar lantunan nyaring yang Davian nyanyikan.


...🎶Melihat tawamu mendengar senandung mu...


...Terlihat jelas di mataku warna-warna indah mu...


...Menatap langkahmu meratapi kisah hidupmu...


...Terlihat jelas bahwa hatimu anugerah terindah yang pernah ku miliki...


...Sifat mu nan selalu redakan ambisi ku...


...Tepikan khilaf ku dari bunga yang layu...


...Saat kau di sisiku, kembali dunia ceria...


...Tegaskan bahwa kamu anugerah terindah yang pernah ku miliki...


...Belai lembut jarimu, sejuk tatap wajahmu...


...Hangat peluk janjimu,...


...Belai lembut jarimu, sejuk tatap wajahmu...


...Hangat peluk janjimu...


...Anugerah terindah yang pernah ku miliki...


...Belai lembut jarimu, sejuk tatap wajahmu...


...Hangat peluk janjimu,...


...Belai lembut jarimu, sejuk tatap wajahmu...


...Hangat peluk janjimu...


...Anugerah terindah yang pernah 'ku miliki🎶...


*Bersambung*


Hai..


Ini judulnya pertemuan dgn investor asing ya, tapi pidatonya pakai bahasa indonesia aja, gapapa deh ya? Soalnya bahasa inggris author belum terlalu fasih, 😁😆

__ADS_1


Semangat, menuju hari-hari Arini dan Davian yang baru, akan ada banyak cerita, tetap setia ya 🥰😘


beri vote dong untuk cerita ini..


__ADS_2