
Beberapa minggu kemudian.
Acara siraman tujuh bulanan Arini akan segera dilaksanakan. Davian mengundang semua keluarga Arini. Ibu Arini, tampak bahagia menginjakkan kakinya lagi di rumah besar Davian ini. Arini senang, orang-orang terdekatnya bisa hadir di acara tujuh bulanannya. Bahkan, Nadya pun turut hadir. Demi acara ini, Ibu Arini meminta Nadya menutup minimarket untuk sementara.
"Nad, kamu betah kerja sama Ibu? Maaf ya, sampai melahirkan, aku dilarang pulang sama Mas Davi. Katanya, kalau aku pulang, aku suka gak mau diem, dan pengennya bantu-bantu terus. Dia gak suka," ucap Arini.
"Gak apa-apa kok Rin, lagian toko juga bisa aku handle. Ibu kamu juga udah makin pintar sekarang. Sesekali, dia bisa melayani pelanggan." ujar Nadya.
"Makasih, Nad. Kalau sudah melahirkan nanti, aku bakal sering main ke rumah." ucap Arini.
"Iya-iya, tenang saja. Nanti ada waktunya kita sering bertemu. Udah, sana kamu, acaranya sebentar lagi dimulai." ujar Nadya.
Acara tujuh bulanan pun dimulai. Mulai dari pengajian bersama, sampai siraman, semuanya dilakukan dengan baik dan hati-hati. Ibu Arini dan Mama Davian terlihat akrab, dan bercengkrama bersama. Mereka terlihat santai, begitupun juga dengan kedua adik Arini yang disapa hangat oleh Sherly dan Sheldy.
Tak lama, Rangga pun tiba. Keyza dan Tira tentu saja ikut. Keyza langsung menghamburkan pelukan pada Arini, yang baru selesai ganti pakaian setelah acara siraman. Keyza merindukan Arini. Sudah beberapa minggu Keyza tidak bertemu dengan Arini.
"Aunty, Key kangen....." Keyza memeluk Arini.
"Key sayang, Onty juga kangen banget. Kenapa gak dari kemarin kesini nya?" tanya Arini.
"Opah kecil sibuk Onty, kemarin Key sama Kakak Tira di rumah aja gak boleh kemana-mana kata Opah." jelas Keyza.
"Ya sudah, malam ini Key nginap disini aja ya?" pinta Arini.
Keyza terdiam. Ia ingin sekali menginap bersama Arini. Tapi, Keyza jadi takut pada Davian. Keyza tak berani dekat dengan Arini, karena rasa traumanya di marahi oleh Om nya sendiri.
"Gimana nanti aja Onty, gimana Opah kecil." jawab Keyza.
"Key mau ikut Onty gak? Onty mau ke sana, ke adik Onty. Nanti biar aunty kenalin Key sama adik aunty. Aunty punya dua adik, lho." Arini mengajak Keyza.
"Boleh Onty. Adik Onty baik gak?"
"Baik dong sayang, ayo kita pergi ke sana."
Arini mengajak Keyza bertemu dengan Mita dan Alif. Kedua adiknya yang terlihat sedang memakan berbagai jamuan yang telah dihidangkan oleh keluarga Davian. Mita dan Alif tersenyum sumringah ketika melihat Arini mendekati mereka.
"Mita, Alif.. Kenalin, ini keponakan Kakak." ujar Arini pada kedua adiknya.
"Hai, Cantik. Namanya siapa?" tanya Mita.
"Hai, kenalin aku Keyza adiknya Onty Arin. Kakak namanya siapa?" tanya Keyza.
"Nama Kakak Mita, ini adik Kakak, alif namanya. Keyza berapa tahun?" tanya Mita.
"Hai, Keyza. Aku Alif. Aku duduk di bangku kelas 3. Aku baru naik kelas." ucap Alif.
"Aku baru mau 5 tahun, tapi aku belum sekolah. Kata Opah kecil, aku sekolahnya di rumah aja nanti." ucap Keyza.
"Maksud Keyza home schooling sepertinya." jawab Mita.
"Apa itu kak?" Alif tak mengerti.
"Sekolah di rumah, Lif. Gimana sih kamu, katanya udah kelas tiga!" timpal Mita.
"Udah, udah. Mit, ajak Keyza main ya, beri makanan yang dia mau." titah Arini.
"Baik, Kak."
__ADS_1
Arini mendekati Davian yang sedang duduk bersama Rangga. Arini tak pernah melihat suaminya sedekat itu bersama Omnya. Entah apa yang terjadi, mungkin saja Davian memang sudah memaafkan Rangga. Terlihat Dika pun ada diantara mereka. Namun, Tira belum terlihat lagi setelah tadi ia meminta izin pergi ke toilet. Arini mendekati mereka semua.
"Bang Rangga, Tira kemana?" tanya Arini.
"Tadi dipanggil sama mertuamu, disuruh bantuin bagi-bagi amplop untuk ibu-ibu yang tadi melaksanakan pengajian tujuh bulanan mu." jawab Rangga.
"Oh iya," Arini ikut duduk di sebelah Davian.
"Sayang, lihat perjaka tua ini. Setelah gagal mendapatkan mu, dia sangat frustasi untuk mendapatkan wanita lagi. Apalagi, dia disuruh cepat-cepat menikah oleh Kakek." Davian tertawa puas.
"Sialan lu, Dav. Jangan mentang-mentang hidup lu udah sempurna deh! Jadi lu bisa seenaknya kayak gitu sama gue." balas Rangga.
Sekretaris Dika hanya terdiam. Ia ikut mendengarkan obrolan antar saudara tersebut. Sekretaris Dika tak diperbolehkan pergi, karena ia harus selalu standby di samping Davian.
"Mas, jangan gitu dong. Harusnya, kamu bantu carikan istri buat dia." ucap Arini.
"Carikan gimana? Memangnya, setelah menikah denganmu, aku dekat dengan wanita mana? Aku tak punya teman wanita sama sekali. Aku ini pria baik. Aku hanya mengenal satu wanita yang aku cintai, yaitu kamu istriku!" Davian mulai lagi.
"Berisik lu ah, dasar raja gembel." Rangga kesal.
"Mas, kamu ini. Jangan begitu! Tapi, apa Bang Rangga tak punya beberapa teman wanita yang sangat dekat gitu? Mungkin sajang ada perasaan berbeda pada salah satu teman wanita yang pernah dekat denganmu!" ucap Arini.
"Bener tuh, Ga!" Davian ikut-ikutan.
"Ada sih, seseorang yang dekat, bahkan sangat dekat denganku." ucap Rangga.
"Ciye, Siapa tuh? kalau ada, kenapa gak coba deketin aja kalau gitu." ucap Arini.
"Aku gak yakin." ucap Rangga.
"Gimana gue mau gentle, sedangkan dia nyuruh gue ngawin emaknya si Keyza." ujar Rangga membuat semua mata kaget.
"Maksud lu? Yang lu omongin siapa sih sebenarnya? Kenapa bawa-bawa emak si Keyza?" Davian tak mengerti.
"Tira." ucap Rangga terdiam.
Sekretaris Dika refleks berbalik kearah Rangga ketika nama Tira disebut. Ucapan Rangga membuat sekretaris Dika kaget. Walaupun kaget, sekretaris Dika tetap terlihat seperti biasa dan tak mencurigakan. Hanya pendengarannya ia pasang sebaik mungkin, agar ia bisa mendengar percakapan mereka lebih fokus lagi.
"Hah? Tira? Maksud kamu?" Arini heran.
"Ga, lu suka sama Tira?" Davian menatap sekretaris Dika sebentar.
"Gue gak suka sama dia. Gue cuma nyaman deket dia. Gak bosen rasanya kalau gue lagi ngobrol sama dia." ucap Rangga.
"Ya ampun, Ga. Kalau lu terus deket sama dia, kalau lu terus serumah sama dia, lambat laun lu akan jatuh cinta! Contoh aja gue, sebegitu kesal dan amarahnya gue sama Arini, lama-lama, hati gue juga jatuh sama dia. Ada pesona seorang wanita yang kita gak tahu. Lu percaya deh apa yang gue bilang." ucap Davian.
"Gue emang nyaman sama dia. Diminta untuk nikahin dia pun gue mau kok. Gue rasa, Tira cewek baik-baik." Rangga tersenyum.
"Ya ampun, Bang Rangga. Kamu benar suka sama Tira ternyata!" Arini merasa aneh.
"Kayaknya, bakalan ada cinta segitiga nih! Ga, sekretaris gue tertarik sama asisten Tira. Kalau lu juga suka sama Tira, lu saingan sama sekretaris gue berarti.
Rangga menatap sekretaris Dika, "Ah, begitu ya? Sorry, gue gak tahu." Rangga mengangguk-anggukan kepalanya.
"Eh, maaf Tuan Rangga. Bos saya memang belum minum obat, jadi dia bicara seenaknya. Maaf sekali, itu salah. Saya gak ada perasaan apapun sama Tira. Saya dan dia hanya sebatas rekan kerja saja. Jangan merasa tak enak, saya tak menyukainya." Dika pasrah.
"Benarkah?" tanya Rangga.
__ADS_1
"Ah, Dik jangan gengsi lu. Bilang aja kalau lu suka." ucap Davian.
"Enggak, Bos. Gue gak suka sama dia. Jangan Fitnah deh!" sekretaris Dika tak nyaman.
"Udah, udah. Kalian gak bisa meributkan hal ini. Semuanya ada ditangan Tira bukan? Dan juga, kenapa Tira tahu soal Melisa? Kenapa Tira nyuruh Bang Rangga untuk dekat sama Melisa?" tanya Arini penasaran.
"Aku pernah bertemu Melisa di sebuah toilet saat berjalan-jalan dengan Keyza dan Tira. Melisa menangis, karena melihat Keyza, untungnya hanya Melisa yang melihat, sedangkan Keyza tidak. Awalnya, ia berterima kasih padaku, karena telah menjaga Keyza, dan ia ingin Keyza kembali padanya, Tapi, aku membuatnya marah. Kubilang padanya, bahwa aku yg akan menggantikan dia merawat anaknya. Tak lama, Tira datang, aku bilang saja bahwa aku juga Tira yang akan mengganti peran Melisa dan Arkan untuk menjaga Keyza. Melisa marah besar, dia tak terima. Lalu, aku meninggalkannya begitu saja." ucap Rangga.
"Tapi, lu bener suka sama Tira?" Davian tak percaya.
"Kalau dia mau sama gue, gue pasti seneng banget. Sayangnya, dia malah nyuruh gue nikahin Melisa, sang Ibu dari Keyza." jawab Rangga.
Sekretaris Dika sedikit kesal mendengar ucapan Om Davian tersebut. Namun, ia tak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya bisa diam dan mendengarkan.
"Ada benarnya juga. Melisa kan tak bersalah, ia juga korban, sama seperti Keyza. Kenapa gak kamu coba aja untuk menjadi pengganti Arkan? Namun, Keyza tetap bersama Ibunya?" Arini tahu, Dika menyukai Tira, makanya Arini mencoba mencari jalan tengah.
"Bener tuh!" tambah Davian.
"Tapi, gue gak suka sama Melisa. Gue sukanya sama Tira." ucap Rangga.
Tiba-tiba, Tira datang dan mendengar namanya disebut.
"Iya, Tuan. Ada apa?" tanya Tira.
Semua orang berbalik ke sumber suara.
"Eh, Ti-Tira. Duduk sini," Rangga gugup.
"Jadi gini Tir, si Rangga ini, sebenarnya dia itu..." ucapan Davian terputus karena Rangga membekap mulutnya.
"Mmpphhh, mmpphhh!!" Davian ingin melepaskan tangan Rangga.
"Jangan didenger, Tira. Davian ngaco!" Rangga gelagapan.
"Ya ampun, Bang Rangga. Lepasin suami aku, kasihan dia!" Arini kesal lantaran Davian dibekap oleh Rangga.
Akhirnya, Rangga melepaskan bekapannya. Namun, Rangga memberi kode pada Davian dengan maksud Davian jangan membocorkan ucapannya tadi.
"Ada apa sih sebenarnya?" Tira tak mengerti.
"Ah, Rangga sialan! Jadi Gini Tir, sebenarnya.."
"Dav, Davian!!!" cegah Rangga.
"Diem lu, Ga! Jadi gini, Si Rangga pengen makan pancake di sana. Tapi, dia terlalu malas untuk mengambilnya. Dia ingin kamu yang ambilkan, tapi dia malu bilangnya. Kasihan katanya, karena kamu sudah disuruh-suruh oleh Mamaku." ucap Davian.
"Hahaha, aku jadi pengen ketawa." ucap Arini.
"Ah, iya, maaf Tira. Jangan dengarkan Davian. Dia memang menyebalkan." ucap Rangga gugup.
"Tidak apa-apa, Kok. Biar saya bawakan untuk semua. Tunggu sebentar ya," Tira berlalu menuju meja makanan.
Sekretaris Dika menatap Tira. Ia memicingkan matanya, ia menatap Tira dengan kesal.
Cih, wanita itu sekarang sedang di atas angin. Dia pasti besar kepala, kalau dia tahu Bos nya menyukainya. Dia pasti sengaja membuat Tuan Rangga jatuh padanya, karena dia memang matre! Gerutu sekretaris Dika dalam hati.
*Bersambung*
__ADS_1