Terjerat Cinta Sang Pembantu

Terjerat Cinta Sang Pembantu
Calandra series 9


__ADS_3

Selamat membaca ...


Sebelum membaca, like dulu ya guys, biar gak lupa ❀❀❀


Part Of View Renata.


Siang ini, aku mengajak Elang pergi bersamaku ke Mall. Aku ingin belanja, aku ingin memanjakan diriku. Elang ternyata baik, kenapa tak dari dulu aku menerima perasaannya. Kenapa aku malah mengejar kesenangan demi mendapatkan uang. Kini, aku akan bersungguh-sungguh mencintai Elang. Aku akan mencoba menyayanginya dengan sepenuh hati, dan aku berharap Elang akan segera memutuskan pacar taruhannya.


Aku bahagia, Elang jujur padaku, makanya aku mau membantu wanita kampungan itu. Kalau Elang jujur padaku, berarti dia memang serius dan tulus padaku. Aku berjanji, aku akan berubah dan takkan kembali pada dunia itu, aku akan mencintai Elang dengan tulus.


Kulihat, Elang sedikit menjauh dari toko tempat aku sedang memilih-milih sepatu. Sepertinya dia sedang menelepon seseorang. Aku curiga, bahwa itu adalah wanita kampungan tadi pagi. Aku tak suka kalau Elang terus berhubungan dengannya. Aku harus memastikan, kalau Elang akan memutuskan wanita kampungan itu hari ini juga.


"Rena, maaf, barusan ada telepon. Kamu mau sepatu yang mana? Biar aku yang bayar sekarang." ucap Elang.


"Siapa yang telepon?" tanyaku kesal.


"Nisha. Maafkan aku, dia menghubungiku terus. Padahal, aku tak menghubunginya dari pagi." ucap Elang.


"Putuskan dia secepatnya! Aku gak mau tahu ya, Lang. Kalau kamu gak mutusin cewek kampungan itu secepatnya, aku yang akan mutusin kamu!" ancamku agar Elang takut.


"Sayangku Renata, iya-iya, aku akan segera memutuskannya. Sore ini, aku akan segera menemuinya, dan aku pastikan hubunganku dengannya akan segera berakhir. Sudah dari dulu aku mencintaimu, tak mungkin aku mengecewakan kamu yang kini memilihku, sayang." Elang membelai rambutku dengan lembut.


"Awas aja kalau kamu bohong!" Aku masih sedikit kesal.


"Iya sayang. ayo, mau beli yang mana, aku bayar sekarang. Kita makan siang, aku lapar nih." Elang memegangi perutnya.


"Aku ambil tiga. Apa gak apa-apa?" tanyaku sedikit ragu.


"Tidak apa-apa. Aku membawa credit card kok. Ayo, ke kasir." ajaknya.


Bahagianya hatiku, ketika Elang mewujudkan semua keinginanku. Kenapa aku bodoh sekali baru menerimanya? Sayangnya, aku baru tahu kalau Elang ini anak orang kaya. Ya, walaupun anak seorang sekretaris pribadi, tentu saja Elang pun termasuk kaya.


Aku berjalan-jalan dengannya hingga puas. Aku membeli semua kebutuhanku, mulai dari make up, dress, blazer, piyama, sepatu, dan accesorries lainnya Elang belikan untukku. Aku bahagia, karena Elang begitu sangat mencintaiku.


Aku menyesal telah mencintai Gino yang ternyata tak mencintaiku. Yang paling aku sesali adalah, aku telah memberikan semuanya pada Gino.


Ah, sudahlah ... semoga saja yang ku takutkan tak pernah terjadi, karena ku akan membuka lembaran baru dengan Elang.


Part Of View Renata selesai.


...🌸🌸🌸...


Nisha hanya mengajari Livia, karena Calista sibuk di sekolah. Di rumah ini sepi, hanya ada beberapa pembantu saja. Arini dan Davian sama-sama sibuk dengan pekerjaannya. Mungkin, hal inilah yang membuat Livia sedikit manja dan keras kepala. Karena Livia kurang mendapat perhatian dari kedua orang tuanya.

__ADS_1


"Nih, makan ... " Andra memberikan sepiring spaghetti untuk Nisha.


"Gak usah, makasih." jawab Nisha seperlunya.


"Makan aja! Bi Lilis buatnya banyak, kok." ucap Calandra.


"Aku gak lapar, kok." Nisha menolak.


"Kamu emang gak bisa menghargai orang lain." Calandra berlalu pergi meninggalkan Nisha dan membawa kembali piring yang awalnya akan dia berikan pada Nisha.


Eh, apa dia ngambek? Duh, aku kan emang gak laper. Ah, masa bodo lah. Aku males berurusan sama dia. Batin Nisha.


"Kakak kok jahat sih sama Kakak aku?" ucap Livia tiba-tiba.


"Eh Livi, Kakak gak jahat, kok. Kakak cuma gak laper, jadi Kakak gak mau." Nisha malu.


"Kalau Kakak gak lapar, terima aja, Kak. Jangan ditolak, Kakak aku kan ngasihnya tulus sama Kakak." ucap Livia membuat Nisha benar-benar malu.


"Maafin Kakak ya, Livi. Kakak salah ... " Nisha merasa bersalah.


"Kakak minta maaf sama Kakak Andra aja. Jangan sama Livi." ucap Livia.


"Ha? Kakak minta maaf sama Kakak kamu?" Nisha ragu.


"Sekarang, Liv?" Nisha gengsi.


"Iya, Kakak. Sekarang lah, Kakak minta maaf sama Kakak aku sana." perintah Livia.


"Ah, i-iya. Baiklah, aku akan minta maaf pada Kakakmu."


Nisha berdiri dan berjalan menuju Andra yang naik ke lantai dua. Mungkin spaghetti-nya akan dimakan oleh Andra sendirian. Andra telah menutup pintu kamarnya, Nisha terlambat mengejarnya. Nisha malu jika harus mengetuk pintu kamar Andra. Tapi, Nisha lebih malu jika tak meminta maaf pada Andra, karena Livia telah memperingatkan Nisha. Nisha memberanikan diri mengetuk pintu kamar Andra.


Tok, tok, tok. Tangan Nisha mengetuk pintu kamar Andra. Tak lama, Andra membuka pintu dan kaget melihat Nisha ada di depan pintu kamarnya.


DEG. Ngapain dia kesini? Sial, kenapa aku harus gugup? Batin Calandra.


"Aku mau minta maaf, aku mau makan spaghetti-nya." ucap Nisha malu.


"Biarlah, tak perlu. Aku akan memakan dua-duanya." ucap Calandra.


"Dua-duanya?" Nisha mengangkat alisnya.


"Iya, karena kamu tak mau." ucap Andra.

__ADS_1


"Kamu sengaja meminta pembantu mu membuatkan spaghetti?" tanya Nisha.


"Lebih tepatnya, aku sengaja meminta pembantuku membuatkan spaghetti untukku dan untukmu!" tegas Calandra.


"Ah, baiklah-baiklah. Aku minta maaf! Sini, kembalikan piringku, akan ku makan sekarang." ucap Nisha.


"Ambil saja kedalam." ucap Andra cuek.


"Ha? Kamu bercanda! Udah, cepet. Siniin piringnya." Nisha tak mau basa-basi.


"Ya kamu ambil aja sendiri. Tadi, aku sudah berbaik hati mengantarkan piring itu padamu, tapi kamu malah menolaknya dan tak menghargai pemberianku. Sekarang, kamu memintanya kembali. Ya sudah, ambil saja sendiri." Calandra puas sekali.


"Aku gak berani masuk ke kamar cowok. Udah, ayo ambilin." ucap Nisha.


"Kenapa gak berani? Memangnya kamu mau ngapain ke kamarku? Cuma mau ngambil piring yang berisi spaghetti aja kan? Kenapa harus gak berani?" Andra memberikan Nisha pertanyaan bertubi-tubi.


"Baiklah. Aku akan masuk. Maaf, aku lancang masuk ke kamarmu." ucap Nisha.


Nisha masuk kedalam kamar Calandra yang mewah dan luas. sebuah kamar yang mungkin luasnya dua kali lipat dari kontrakan kecilnya. Nisha sangat takjub dan heran dengan keindahan kamar Calandra. Perlahan, Calandra pun masuk kedalam kamarnya, ia menyeringai puas, lalu ia menutup pintunya, dan diam di depan pintu kamarnya. Nisha kaget, karena pintunya ditutup oleh Andra.


Nisha membawa piring lalu berjalan kearah Andra, "Eh, ngapain di tutup pintunya? Buka gak!" tegas Nisha.


"Sabar dulu, dong. Kenapa sih?" Andra tersenyum nakal.


"Calandra! Aku mau keluar! Awas, buka pintunya. Awas kamu ya, aku laporin kamu sama Bu Arini." ancam Nisha, padahal ia sendiri pun takut.


Calandra mendekatkan kepalanya ke telinga Nisha, jantung Nisha bergetar hebat. ia takut, ia benar-benar ketakutan. Andra bisa merasakan betapa gugupnya Nisha saat ini. Andra pun gugup, tapi ia ingin tahu, seberapa kuat Nisha menghadapinya. Andra membisikan sesuatu ke telinga Nisha, dan hembusan nafasnya terasa begitu hangat.


"Nisha, kamu jangan terus begini. Aku sudah minta maaf padamu. Kumohon, terima maaf ku, karena aku tulus mengatakannya. Jangan menghindar, aku berjanji akan melindungi mu. Jangan membuatku jengkel, jika kamu tak mau mendapat ciuman kedua dariku!" tegas Calandra.


DEG. Nisha tak bisa bernafas ketika Andra sangat dekat dengan dirinya. Nisha begitu kaget, tak percaya Andra bisa mengatakan hal itu lagi padanya.


Nisha menggeser tubuh Andra, "Awas! Minggir. Dasar gila, udah ngerusak hidup aku karena ciuman itu, sekarang malah mengancam ku dengan ciuman lagi. Dasar pria mesum!" Nisha membuka pintunya, lalu ia pergi meninggalkan Calandra dengan emosi.


Calandra hanya tersenyum nakal mendengar Nisha menggerutu dan mengatai dirinya gila.


Nisha, mungkin saja ciumanku saat itu bukan ingin membuat hidupmu hancur. Tapi, ciuman itu ternyata malah membawamu datang padaku. Kenapa aku merasa bahagia pernah mencium mu? Kalau ternyata dengan mencium mu, akan membawamu datang padaku, haruskah aku mencium mu lagi? Batin Calandra yang pikirannya mulai tak jauh beda dengan Davian, sang Daddy.


*Bersambung*


Berikan vote rekomendasi kalian untuk cerita ini ya.. yang berkenan memberikan hadiah, berikan juga ❀❀❀


makasih banyak semuanya... πŸ€—

__ADS_1


__ADS_2