
Sebelum membaca, like dulu ya guys πππ
Yang mau kenal aku, follow Instagram @irnamahda π€
Siang ini, Andra merasa tak nyaman bekerja. Ingin rasanya ia menemui Nisha dan mengajaknya jalan-jalan. Andra tak ada pekerjaan lagi, hingga akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke perusahaan Nisha, karena ia ingin memberikan surprise untuk gadis yang sangat ia rindukan selama ini.
"Mau pergi kemana, Ndra?" tanya Elang.
"Mau ngapelin Nisha!" jawab Andra.
"Cih, perasaan Nisha bukan cewek kamu deh!" desis Elang.
Andra menyeringai, "Calon, calon istri, Lang."
"Bisa aja kamu, Ndra." Elang geleng-geleng kepala.
"Kamu standby ya. Kalau ada urusan penting segera kabari aku, aku pergi ya." ucap Andra, lalu ia pun berlalu.
"Siap, Bosque!" jawab Elang sigap.
Andra segera mengambil kunci mobil yang dipegang oleh Elang. Ia ingin mengemudikan kendaraannya sendiri, tanpa gangguan dari Elang. Sebelum menemui Nisha, Andra membeli sekotak dessert untuk Nisha makan siang. Ia membeli dua kotak dessert, red velvet dan melted cheese. Setelah selesai, Andra pun segera melajukan mobilnya kembali menuju perusahaan Nisha.
Sebenarnya, Andra sedikit kecewa pada Nisha. Entah kenapa Nisha tega tak memberi tahu padanya, perihal kepulangan Nisha dan perusahaan yang kini ia pegang. Mungkin, Nisha sengaja ingin menjauh dari Andra, tapi pada kenyataannya, sejauh apapun Nisha menghindari Andra, jika kehendak Tuhan mengharuskan mereka bertemu, akhirnya mereka pun bisa bertemu dalam keadaan yang tak diduga.
Andra pun sampai di perusahaan Nisha. Memang, perusahaannya tak sebesar perusahaan milik Andra, tapi ia cukup nyaman karena tempatnya bersih. Andra masuk menuju front office, dan bertanya pada receptionist untuk mengetahui ruang kerja Nisha.
"Selamat siang, Mbak. Bisa tanya dimana ruang kerja Direktur utamanya ya?" tanya Andra.
"Bapak siapa ya? Dan dari mana? Apa sudah ada janji sebelumnya?" tanya sang resepsionis.
Andra mendekatkan wajahnya, dan membisikkan sesuatu, "Mbak, jangan bilang siapa-siapa, tapi saya ini adalah kekasihnya direktur Nisha!"
Resepsionis itu pun kaget dan tak menyangka, "Apa saya bisa mempercayai Bapak? Adakah buktinya? Karena mohon maaf, demi menjaga privasi dan keamanan Bu Direktur, kami tak bisa mengizinkan sembarang orang untuk bertemu dengannya."
Andra menyeringai, kemudian ia mengeluarkan isi dompetnya dan memperlihatkan beberapa kartu nama. Betapa kagetnya sang resepsionis melihat kartu nama yang Andra berikan.
"Ba-bapak, adalah di-direktur dari Raharsya Grup?" resepsionis itu tak percaya.
"Perlu bukti lain?" tantang Andra.
Andra memperlihatkan foto Nisha yang terpampang nyata didalam dompetnya. Ia pernah memotret Nisha saat mereka masih berkuliah. Andra memotret Nisha saat Nisha terlelap karena efek obat perangsang yang diberikan Elang. Hanya foto itu yang menjadi kenang-kenangannya selama Andra dan Nisha berjauhan. Satu kenang-kenangan yang disimpan rapi didalam dompet Andra, foto Nisha yang begitu manis dan cantik meskipun sedang terlelap.
Resepsionis itu pun melihat foto tersebut. Dan ia langsung menunjukan rasa hormatnya pada Andra. Sang resepsionis pun membungkukkan badannya pada Andra.
"Maaf, Pak. Kami hanya memastikan. Agar tak ada hal-hal yang tidak diinginkan. Baiklah, kalau begitu saya akan menyuruh seseorang untuk mengantar Bapak menuju ruangan Bu Dirut." ucap resepsionis itu.
"Tak perlu, katakan saja dimana ruangannya, dan aku akan menuju ruangannya sendiri." titah Andra.
"Oh, baiklah, Pak."
Resepsionis itu pun memberitahu ruang kerja Nisha. Andra pun segera berlalu meninggalkan front office dan berjalan menuju lift untuk naik ke ruang kerja Nisha. Sepeninggal Andra, rekan sesama resepsionis dan para office girl itupun saling berbisik satu sama lain. Mereka begitu takjub dan tak percaya melihat Andra yang mengaku sebagai sosok kekasih Direktur mereka.
"Gila lu, Mel. Dipecat baru rasa lu nanti!" ujar Virna.
"Aduh, gue takut. Sumpah, gue kan gak tahu. Namanya tugas gue buat antisipasi kan, gimana kalau tadi itu sebenarnya penyusup!" bela Meli.
"Emang lu lihat dia bener? Direktur juga kah?" tanya Tika.
"Bener! Gue lihat dengan jelas, Namanya Calandra Eizzar Raharsya. Dia adalah Direktur Utama Raharsya Grup. Gila gak tuh? Pacarnya Bu Dirut itu Direktur juga. Wah, bayangin aja betapa tajirnya mereka!" Meli begitu takjub.
"Mampus lu, Mel. Lu udah curigain pacarnya Bu Nisha!" sambar Tika.
"Ah, gue yakin, Bu Nisha orangnya baik. Gak mungkin gue dipecat kalau cuma interogasi pacarnya. Salah Bu Nisha sendiri, gak pernah publish itu cowoknya. Jadi kan gue gak tahu!" Meli membela diri lagi.
"Ganteng banget ya, Guys pacarnya Bu Nisha. Sumpah deh, beruntung banget jadi Bu Nisha. Kenapa ya, orang kaya itu musti dapetin orang kaya lagi? Kenapa gak orang kaya sama cewek kayak gue gitu? Kayak novel-novel yang sering gue baca, CEO jatuh cinta sama karyawan, atau kalau enggak, gue itu di paksa menikahi sang CEO gitu, biar hidup gue ada tantangannya! Hahaha." Virna mengkhayal.
"Hahhaa, mimpi lo kebangetan Vir! Tapi, sumpah ya, cowoknya Bu Nisha itu tipe lelaki idaman banget, deh!" ujar Meli.
"Serius lu? Emang, apalagi yang lu tahu?" Tika kepo.
"Dia tadi buka dompetnya, selain dia nunjukin kartu namanya, di dompetnya juga ada foto Bu Nisha tahu! Sweet banget kan Pak Andra itu. Uwuuu deh, lelaki idaman banget! Cek deh di hape lu masing-masing, apa cowok-cowok lu pada nyimpen foto lu di dompet? Kalo iya, Fix, itu lelaki idaman cyin!" Meli terus bergosip.
"What? Gileeee, sumpah ya, jarang-jarang ada cowok kayak gitu. Ngiri banget deh gue sumpah. Emang sempurna sekali mereka, udah sama-sama cantik, sama-sama tajir, sama-sama bikin gue ngiri!" Tika tertawa terbahak-bahak.
"Keren emang, tapi kenapa ya kalau orang kaya itu sembunyi-sembunyi pacarannya?" tanya Virna.
Tiba-tiba, saat mereka asyik bergosip, Rival datang dan menghentikan aktifitas mereka berdua.
"Hey, kerja, kerja! Kenapa kalian malah gosip kayak gini sih? Siapa yang bayar kalian untuk gosip di tempat kerja?" serang Rival.
"Maaf, Pak, maaf." Semuanya kembali ke posisi masing-masing.
...πΈπΈπΈ...
Andra pun sampai di depan ruang kerja Nisha. Sekretaris yang berada tepat didepan ruang kerja Nisha sudah tahu, kalau Andra adalah kekasih Nisha. Sekretaris itu pun menyapa Andra dan segera masuk kedalam ruang kerja Nisha, untuk memberi tahu Nisha, perihal dirinya kedatangan tamu spesial.
"Bu, ada tamu spesial diluar." ucap Dela, sembari tersenyum.
"Tamu spesial? Siapa? Saya gak ada jadwal bertemu tamu!" ucap Nisha.
"Ibu mungkin gak tahu. Apa boleh dia masuk?" Dela terlihat menggoda Nisha.
"Siapa sih? Ya sudah, biarkan dia masuk, Del." perintah Nisha.
"Baik, Bu." Dela hanya senyam-senyum melihat Nisha.
Kenapa sih si Dela? Kenapa senyam-senyum gak jelas kayak gitu? Memangnya, tamu spesial siapa yang datang? Mamaku? Ah, terserahlah. Batin Nisha.
Pintu ruang kerja Nisha pun dibuka, dan betapa kagetnya Nisha, melihat sosok laki-laki bertubuh tegap dan gagah itu berada di hadapannya. Laki-laki yang tak pernah Nisha sangka kedatangannya ke perusahaan ini. Mata Nisha melotot dan ia refleks berdiri dari meja kerjanya.
"Andra? Ka-kamu, ngapain kesini?" Nisha begitu kaget.
Andra tersenyum dan berjalan mendekati Nisha, "Aku bawakan makan siang untuk putri cantik seperti kamu. Apa aku boleh duduk di sofa mu?"
__ADS_1
"Ah, i-iya, silahkan Andra. Silahkan duduk." Nisha begitu tak menyangka bahwa Andra datang ke perusahaannya.
"Terima kasih,"
Nisha pun berjalan menuju sofanya. Ia menatap Andra sedang membuka dessert box yang tadi Andra beli sebelum menuju perusahaan Nisha. Nisha sungguh heran, untuk apa Andra datang ke perusahaannya. Dan lagi, Nisha merasa semakin heran, karena Dela menyebutnya tamu spesial. Memangnya, apa yang Andra katakan pada pegawainya?
"Kamu ngapain sih Ndra kesini? Apa kamu gak sibuk di kantormu?" tanya Nisha.
"Aku santai di kantor. Makanya aku meluangkan waktu untuk datang ke kantormu. Apa kamu keberatan?" tanya Andra.
"Ah, iya. Tentu saja tidak, Andra." Nisha tersenyum.
"Aku bawakan dessert untuk makan siang kita disini." ucap Andra.
APA? KITA? Nisha begitu kaget.
"Hmm, terima kasih, Andra." Nisha tersenyum malu.
Nisha menatap Andra yang tengah sibuk membuka dessert box untuknya. Entah kenapa, Andra mau datang ke kantornya dan membawakan makan siang untuknya.
"Andra?" tanya Nisha.
"Iya, Nish?" jawabnya.
"Apa yang kamu katakan pada karyawan ku, sehingga tadi Dela berkata padaku bahwa ada tamu spesial? Kamu kah tamu spesialku?" Nisha heran.
Andra hanya tertawa kecil, ia tak membalas ucapan Nisha.
"Andra, katakan padaku. Kamu bilang apa sama karyawan ku?" Nisha bertanya serius.
Andra tersenyum jahil, "Aku bilang pada mereka, kalau kamu ini kekasihku. Tentu saja aku adalah tamu spesial untukmu, Nish. Bukan begitu?" Andra menyeringai.
"ANDRA! KAMU IH, Malu-maluin banget!" Nisha cemberut.
"Maaf, Nish. Habisnya mereka mengintrogasi ku, jadi aku jawab saja aku pacarmu, agar mereka tak banyak pertanyaan." Andra terkekeh.
"Tapi aku kan malu kalau ketemu sama mereka! Mereka pasti ngomongin aku deh!" Nisha masih cemberut.
Andra menatap Nisha, lalu memegang tangannya, "Kalau gitu, Aku mau jadi pacar kamu, gimana? Apa kamu mau, Nisha? Agar ucapan ku pada mereka itu terbukti adanya. Toh, kita sudah sama-sama dewasa saat ini. Mungkin, aku terkesan kurang romantis. Tapi, inilah kesungguhan ku. Aku hanya mencintai satu wanita dalam hidupku. Percayalah, tak ada cinta yang lain lagi, Nisha. Hanya kamu, yang mengisi hatiku walau kamu selama ini jauh dariku. Maukah kamu, menjalani semua ini denganku? Maukah kamu menjadi bagian dari hidupku? Maukah kamu, menemani hidupku yang kesepian ini? Kau, wanita ku, kau yang selalu ada dalam pikiranku, kau yang membuat aku hidup, kau lah wanita yang selalu ingin aku lindungi. Kau lah wanita yang terbayang-bayang dalam setiap tidurku. Bersediakah kamu, untuk menjadi pendamping hidupku?"
Nisha terharu mendengar Andra mengucapkan kata-kata seromantis dan sepuitis itu. Nisha begitu malu, karena Andra berani mengungkapkannya. Nisha tak bisa berkata-kata, Nisha hanya bahagia, bahwa lelaki yang berada dihadapannya ini, benar-benar serius kepadanya, dan tetap menjaga hatinya untuk Nisha, walaupun selama ini mereka jauh.
"Nisha, bagaimana? Apa kamu mau mempertimbangkan aku, untuk menjadi bagian dari hidupmu? Aku berharap penuh padamu, Nisha." Andra memegang lembut pipi Nisha.
Nisha menggigit bibirnya, ia gugup dan bahagia. Tapi, Nisha telah yakin, lelaki dihadapannya ini, tak mungkin main-main dengannya. Nisha tak bisa menjawab ucapan Andra, Nisha hanya mengangguk-angguk saja, pertanda bahwa dia mau menjalin hubungan dengan Andra.
"Terima kasih ..." Andra mencium tangan lembut Nisha.
"Terima kasih kembali, karena telah memilihku." Nisha tersenyum penuh kebahagiaan.
*Bersambung*
Sebelum membaca, like dulu ya guys πππ
Yang mau kenal aku, follow Instagram @irnamahda π€
Siang ini, Andra merasa tak nyaman bekerja. Ingin rasanya ia menemui Nisha dan mengajaknya jalan-jalan. Andra tak ada pekerjaan lagi, hingga akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke perusahaan Nisha, karena ia ingin memberikan surprise untuk gadis yang sangat ia rindukan selama ini.
"Mau pergi kemana, Ndra?" tanya Elang.
"Mau ngapelin Nisha!" jawab Andra.
"Cih, perasaan Nisha bukan cewek kamu deh!" desis Elang.
Andra menyeringai, "Calon, calon istri, Lang."
"Bisa aja kamu, Ndra." Elang geleng-geleng kepala.
"Kamu standby ya. Kalau ada urusan penting segera kabari aku, aku pergi ya." ucap Andra, lalu ia pun berlalu.
"Siap, Bosque!" jawab Elang sigap.
Andra segera mengambil kunci mobil yang dipegang oleh Elang. Ia ingin mengemudikan kendaraannya sendiri, tanpa gangguan dari Elang. Sebelum menemui Nisha, Andra membeli sekotak dessert untuk Nisha makan siang. Ia membeli dua kotak dessert, red velvet dan melted cheese. Setelah selesai, Andra pun segera melajukan mobilnya kembali menuju perusahaan Nisha.
Sebenarnya, Andra sedikit kecewa pada Nisha. Entah kenapa Nisha tega tak memberi tahu padanya, perihal kepulangan Nisha dan perusahaan yang kini ia pegang. Mungkin, Nisha sengaja ingin menjauh dari Andra, tapi pada kenyataannya, sejauh apapun Nisha menghindari Andra, jika kehendak Tuhan mengharuskan mereka bertemu, akhirnya mereka pun bisa bertemu dalam keadaan yang tak diduga.
Andra pun sampai di perusahaan Nisha. Memang, perusahaannya tak sebesar perusahaan milik Andra, tapi ia cukup nyaman karena tempatnya bersih. Andra masuk menuju front office, dan bertanya pada receptionist untuk mengetahui ruang kerja Nisha.
"Selamat siang, Mbak. Bisa tanya dimana ruang kerja Direktur utamanya ya?" tanya Andra.
"Bapak siapa ya? Dan dari mana? Apa sudah ada janji sebelumnya?" tanya sang resepsionis.
Andra mendekatkan wajahnya, dan membisikkan sesuatu, "Mbak, jangan bilang siapa-siapa, tapi saya ini adalah kekasihnya direktur Nisha!"
Resepsionis itu pun kaget dan tak menyangka, "Apa saya bisa mempercayai Bapak? Adakah buktinya? Karena mohon maaf, demi menjaga privasi dan keamanan Bu Direktur, kami tak bisa mengizinkan sembarang orang untuk bertemu dengannya."
Andra menyeringai, kemudian ia mengeluarkan isi dompetnya dan memperlihatkan beberapa kartu nama. Betapa kagetnya sang resepsionis melihat kartu nama yang Andra berikan.
"Ba-bapak, adalah di-direktur dari Raharsya Grup?" resepsionis itu tak percaya.
"Perlu bukti lain?" tantang Andra.
Andra memperlihatkan foto Nisha yang terpampang nyata didalam dompetnya. Ia pernah memotret Nisha saat mereka masih berkuliah. Andra memotret Nisha saat Nisha terlelap karena efek obat perangsang yang diberikan Elang. Hanya foto itu yang menjadi kenang-kenangannya selama Andra dan Nisha berjauhan. Satu kenang-kenangan yang disimpan rapi didalam dompet Andra, foto Nisha yang begitu manis dan cantik meskipun sedang terlelap.
Resepsionis itu pun melihat foto tersebut. Dan ia langsung menunjukan rasa hormatnya pada Andra. Sang resepsionis pun membungkukkan badannya pada Andra.
"Maaf, Pak. Kami hanya memastikan. Agar tak ada hal-hal yang tidak diinginkan. Baiklah, kalau begitu saya akan menyuruh seseorang untuk mengantar Bapak menuju ruangan Bu Dirut." ucap resepsionis itu.
"Tak perlu, katakan saja dimana ruangannya, dan aku akan menuju ruangannya sendiri." titah Andra.
"Oh, baiklah, Pak."
Resepsionis itu pun memberitahu ruang kerja Nisha. Andra pun segera berlalu meninggalkan front office dan berjalan menuju lift untuk naik ke ruang kerja Nisha. Sepeninggal Andra, rekan sesama resepsionis dan para office girl itupun saling berbisik satu sama lain. Mereka begitu takjub dan tak percaya melihat Andra yang mengaku sebagai sosok kekasih Direktur mereka.
__ADS_1
"Gila lu, Mel. Dipecat baru rasa lu nanti!" ujar Virna.
"Aduh, gue takut. Sumpah, gue kan gak tahu. Namanya tugas gue buat antisipasi kan, gimana kalau tadi itu sebenarnya penyusup!" bela Meli.
"Emang lu lihat dia bener? Direktur juga kah?" tanya Tika.
"Bener! Gue lihat dengan jelas, Namanya Calandra Eizzar Raharsya. Dia adalah Direktur Utama Raharsya Grup. Gila gak tuh? Pacarnya Bu Dirut itu Direktur juga. Wah, bayangin aja betapa tajirnya mereka!" Meli begitu takjub.
"Mampus lu, Mel. Lu udah curigain pacarnya Bu Nisha!" sambar Tika.
"Ah, gue yakin, Bu Nisha orangnya baik. Gak mungkin gue dipecat kalau cuma interogasi pacarnya. Salah Bu Nisha sendiri, gak pernah publish itu cowoknya. Jadi kan gue gak tahu!" Meli membela diri lagi.
"Ganteng banget ya, Guys pacarnya Bu Nisha. Sumpah deh, beruntung banget jadi Bu Nisha. Kenapa ya, orang kaya itu musti dapetin orang kaya lagi? Kenapa gak orang kaya sama cewek kayak gue gitu? Kayak novel-novel yang sering gue baca, CEO jatuh cinta sama karyawan, atau kalau enggak, gue itu di paksa menikahi sang CEO gitu, biar hidup gue ada tantangannya! Hahaha." Virna mengkhayal.
"Hahhaa, mimpi lo kebangetan Vir! Tapi, sumpah ya, cowoknya Bu Nisha itu tipe lelaki idaman banget, deh!" ujar Meli.
"Serius lu? Emang, apalagi yang lu tahu?" Tika kepo.
"Dia tadi buka dompetnya, selain dia nunjukin kartu namanya, di dompetnya juga ada foto Bu Nisha tahu! Sweet banget kan Pak Andra itu. Uwuuu deh, lelaki idaman banget! Cek deh di hape lu masing-masing, apa cowok-cowok lu pada nyimpen foto lu di dompet? Kalo iya, Fix, itu lelaki idaman cyin!" Meli terus bergosip.
"What? Gileeee, sumpah ya, jarang-jarang ada cowok kayak gitu. Ngiri banget deh gue sumpah. Emang sempurna sekali mereka, udah sama-sama cantik, sama-sama tajir, sama-sama bikin gue ngiri!" Tika tertawa terbahak-bahak.
"Keren emang, tapi kenapa ya kalau orang kaya itu sembunyi-sembunyi pacarannya?" tanya Virna.
Tiba-tiba, saat mereka asyik bergosip, Rival datang dan menghentikan aktifitas mereka berdua.
"Hey, kerja, kerja! Kenapa kalian malah gosip kayak gini sih? Siapa yang bayar kalian untuk gosip di tempat kerja?" serang Rival.
"Maaf, Pak, maaf." Semuanya kembali ke posisi masing-masing.
...πΈπΈπΈ...
Andra pun sampai di depan ruang kerja Nisha. Sekretaris yang berada tepat didepan ruang kerja Nisha sudah tahu, kalau Andra adalah kekasih Nisha. Sekretaris itu pun menyapa Andra dan segera masuk kedalam ruang kerja Nisha, untuk memberi tahu Nisha, perihal dirinya kedatangan tamu spesial.
"Bu, ada tamu spesial diluar." ucap Dela, sembari tersenyum.
"Tamu spesial? Siapa? Saya gak ada jadwal bertemu tamu!" ucap Nisha.
"Ibu mungkin gak tahu. Apa boleh dia masuk?" Dela terlihat menggoda Nisha.
"Siapa sih? Ya sudah, biarkan dia masuk, Del." perintah Nisha.
"Baik, Bu." Dela hanya senyam-senyum melihat Nisha.
Kenapa sih si Dela? Kenapa senyam-senyum gak jelas kayak gitu? Memangnya, tamu spesial siapa yang datang? Mamaku? Ah, terserahlah. Batin Nisha.
Pintu ruang kerja Nisha pun dibuka, dan betapa kagetnya Nisha, melihat sosok laki-laki bertubuh tegap dan gagah itu berada di hadapannya. Laki-laki yang tak pernah Nisha sangka kedatangannya ke perusahaan ini. Mata Nisha melotot dan ia refleks berdiri dari meja kerjanya.
"Andra? Ka-kamu, ngapain kesini?" Nisha begitu kaget.
Andra tersenyum dan berjalan mendekati Nisha, "Aku bawakan makan siang untuk putri cantik seperti kamu. Apa aku boleh duduk di sofa mu?"
"Ah, i-iya, silahkan Andra. Silahkan duduk." Nisha begitu tak menyangka bahwa Andra datang ke perusahaannya.
"Terima kasih,"
Nisha pun berjalan menuju sofanya. Ia menatap Andra sedang membuka dessert box yang tadi Andra beli sebelum menuju perusahaan Nisha. Nisha sungguh heran, untuk apa Andra datang ke perusahaannya. Dan lagi, Nisha merasa semakin heran, karena Dela menyebutnya tamu spesial. Memangnya, apa yang Andra katakan pada pegawainya?
"Kamu ngapain sih Ndra kesini? Apa kamu gak sibuk di kantormu?" tanya Nisha.
"Aku santai di kantor. Makanya aku meluangkan waktu untuk datang ke kantormu. Apa kamu keberatan?" tanya Andra.
"Ah, iya. Tentu saja tidak, Andra." Nisha tersenyum.
"Aku bawakan dessert untuk makan siang kita disini." ucap Andra.
APA? KITA? Nisha begitu kaget.
"Hmm, terima kasih, Andra." Nisha tersenyum malu.
Nisha menatap Andra yang tengah sibuk membuka dessert box untuknya. Entah kenapa, Andra mau datang ke kantornya dan membawakan makan siang untuknya.
"Andra?" tanya Nisha.
"Iya, Nish?" jawabnya.
"Apa yang kamu katakan pada karyawan ku, sehingga tadi Dela berkata padaku bahwa ada tamu spesial? Kamu kah tamu spesialku?" Nisha heran.
Andra hanya tertawa kecil, ia tak membalas ucapan Nisha.
"Andra, katakan padaku. Kamu bilang apa sama karyawan ku?" Nisha bertanya serius.
Andra tersenyum jahil, "Aku bilang pada mereka, kalau kamu ini kekasihku. Tentu saja aku adalah tamu spesial untukmu, Nish. Bukan begitu?" Andra menyeringai.
"ANDRA! KAMU IH, Malu-maluin banget!" Nisha cemberut.
"Maaf, Nish. Habisnya mereka mengintrogasi ku, jadi aku jawab saja aku pacarmu, agar mereka tak banyak pertanyaan." Andra terkekeh.
"Tapi aku kan malu kalau ketemu sama mereka! Mereka pasti ngomongin aku deh!" Nisha masih cemberut.
Andra menatap Nisha, lalu memegang tangannya, "Kalau gitu, Aku mau jadi pacar kamu, gimana? Apa kamu mau, Nisha? Agar ucapan ku pada mereka itu terbukti adanya. Toh, kita sudah sama-sama dewasa saat ini. Mungkin, aku terkesan kurang romantis. Tapi, inilah kesungguhan ku. Aku hanya mencintai satu wanita dalam hidupku. Percayalah, tak ada cinta yang lain lagi, Nisha. Hanya kamu, yang mengisi hatiku walau kamu selama ini jauh dariku. Maukah kamu, menjalani semua ini denganku? Maukah kamu menjadi bagian dari hidupku? Maukah kamu, menemani hidupku yang kesepian ini? Kau, wanita ku, kau yang selalu ada dalam pikiranku, kau yang membuat aku hidup, kau lah wanita yang selalu ingin aku lindungi. Kau lah wanita yang terbayang-bayang dalam setiap tidurku. Bersediakah kamu, untuk menjadi pendamping hidupku?"
Nisha terharu mendengar Andra mengucapkan kata-kata seromantis dan sepuitis itu. Nisha begitu malu, karena Andra berani mengungkapkannya. Nisha tak bisa berkata-kata, Nisha hanya bahagia, bahwa lelaki yang berada dihadapannya ini, benar-benar serius kepadanya, dan tetap menjaga hatinya untuk Nisha, walaupun selama ini mereka jauh.
"Nisha, bagaimana? Apa kamu mau mempertimbangkan aku, untuk menjadi bagian dari hidupmu? Aku berharap penuh padamu, Nisha." Andra memegang lembut pipi Nisha.
Nisha menggigit bibirnya, ia gugup dan bahagia. Tapi, Nisha telah yakin, lelaki dihadapannya ini, tak mungkin main-main dengannya. Nisha tak bisa menjawab ucapan Andra, Nisha hanya mengangguk-angguk saja, pertanda bahwa dia mau menjalin hubungan dengan Andra.
"Terima kasih ..." Andra mencium tangan lembut Nisha.
"Terima kasih kembali, karena telah memilihku." Nisha tersenyum penuh kebahagiaan.
*Bersambung*
__ADS_1