Terjerat Cinta Sang Pembantu

Terjerat Cinta Sang Pembantu
Calandra series 32


__ADS_3

Like dulu sebelum membaca ya.. dikasih like aja aku mah udah seneng 🤭😁


"Aku rindu senyummu, Nisha ... aku rindu wajahmu, aku rindu rambut panjang mu, aku rindu semuanya. Entahlah, walaupun kau bukan milikku, tapi aku merasa memiliki dirimu seutuhnya." ucap Andra.


"Kamu berlebihan, Andra!" balas Nisha.


"Tapi, apa kamu tak merindukan aku sedikitpun? Jika iya, apa yang kamu rindukan dari diriku?" tanya Andra.


Nisha terdiam dalam keheningan. Ia malu untuk mengungkapkan yang sesungguhnya. Sebenarnya, Nisha pun begitu merindukan Andra. Nisha rindu senyuman dan perhatian Andra padanya. Nisha nyaman dengannya, jauh dengan Andra membuat Nisha kesepian. Tapi, karena Nisha tak mau mengganggu Andra dan Sheila, ia lebih memilih untuk pergi meninggalkan Andra.


"Nish? Kenapa melamun? Apa kamu tak merindukan aku, sedikitpun?" tanya Andra.


"Ehm i-itu, aku, Ah iya ... aku juga merindukanmu." Nisha amat gugup.


"Apa yang kamu rindukan dariku?" tanya Andra.


"Dirimu ..." jawab Nisha.


"Bohong!" Andra membantah.


"Aku serius, Ndra. Aku juga merindukanmu saat kita jauh. Tapi, semua itu juga karena aku mengejar cita-citaku." ucap Nisha.


"Kukira, kamu sudah melupakan aku!" ucap Andra tiba-tiba.


Nisha hanya tersenyum, "Bagaimana hubunganmu dengan Sheila?"


Andra kaget, kenapa Nisha malah menanyakan hubungannya dengan Sheila? Padahal, setahu Andra, Sheila telah dijodohkan dan ia pun hadir ke pesta pernikahan Sheila.


"Hubunganku dan Sheila? Dia menikah dengan ..." ucapan Andra terpotong oleh Nisha.


"Apa? Menikah?" Nisha kaget tak percaya.


"Iya, menikah." Andra mengangguk.


Ya Tuhan, benar dugaan ku, ternyata Andra dan Sheila telah menikah. Tak sia-sia aku pergi jauh. Ternyata, aku telah membuat mereka berdua bahagia. Tapi, kenapa sekarang Sheila tak ikut? Batin Nisha.


"Selamat ya, Andra." ucap Nisha.


Nisha sedikit kecewa mendengar Andra telah menikah, padahal tadi ia begitu bahagia ketika Andra berkata bahwa ia merindukan Nisha. Tapi, kenyataan ini membuat Nisha sedikit kesal. Nisha hanya terbawa emosi saja, dan segera memotong pembicaraan Andra, padahal Andra belum selesai bicara.


Andra mengernyitkan dahinya, "Selamat? Selamat apa maksud kamu, Nish?"


"Selamat atas pernikahanmu." ucap Nisha.


"Apa sih maksud kamu? Aku gak ngerti sama sekali." Andra heran.


"Iya, karena kamu telah menikah dengan Sheila, jadi aku ucapkan terima kasih padamu, Ndra." ucap Nisha.


Andra tak kuasa menahan tawanya. Ia tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan selamat dari Nisha. Andra tak percaya, ternyata Nisha mengira dirinya telah menikah bersama Sheila. Andra tahu, sepertinya Nisha cemburu. Dan ingin rasanya Andra mengerjai Nisha kali ini. Padahal, ini baru pertemuan pertama mereka, tapi Nisha selalu saja membuat Andra berkesan.


"Andra, kamu jahat! Kenapa kamu tertawa?" Nisha cemberut.


"Ah, enggak kok, gak apa-apa, Nish. Kamu cemburu ya?" goda Andra.


"Aku? Cemburu? Enggak, kok! Aku cuma pengen tahu aja ... dan ternyata, kamu telah menikah dengannya." ucap Nisha sedikit bersedih.


Andra tak kuat ingin tertawa, namun sebisa mungkin ia tahan, karena ia ingin tahu, sejauh mana Nisha mengira bahwa dirinya telah menikah dengan Sheila, "Oh, gitu ya? Eh, Nish ... Pulang bareng aku, yuk?"

__ADS_1


"Enggak ah, aku pulang sama sekretarisku aja. Kalau istrimu tahu, habis aku." ucap Nisha.


"Gak apa-apa, tenang aja. Dia sedang pergi ke luar angkasa kok! Eh salah, ke luar negeri maksudku," Andra cekikikan.


"Apa sih kamu! Gak jelas banget!" Nisha sedikit kesal.


"Pulang bareng aku ya, please?" Andra memohon.


"Genit ya kamu! Udah beristri juga." tegas Nisha.


"Nish, kita kan sekarang rekan kerja. Kenapa kita gak boleh pulang bareng? Ada satu hal yang mau aku tunjukin ke kamu. Ini penting, Nisha. Demi masa depan dan kepentingan negara kita!" ujar Andra.


"Apa sih Ndra? Kamu kok jadi gak jelas gini." Nisha kesal.


"Iya, intinya aku anterin kamu pulang malam ini. Biar sekretarismu pulang sendiri. Jangan takut, jangan merasa bersalah, kita rekan kerja, oke? Mau ya?" bujuk Andra.


"Baiklah, tapi hanya kali ini saja ya! Jangan harap aku mau lagi jalan sama pria beristri seperti kamu!" ujar Nisha.


"Karena ini penting, Nisha. Aku harus memberitahumu sesuatu." ucap Andra.


"Baiklah, terserah padamu. Tapi ingat, hanya sekali ini saja, mengerti!" Nisha memberi peringatan pada Andra.


"Iya, galak. Galak banget deh sekarang!" ucap Andra.


Nisha ... kenapa kamu masih polos dan menggemaskan? Apa kamu percaya, kalau aku memang menikah? Kenapa kamu lucu sekali? Apalagi saat kamu memotong pembicaraanku karena kaget mendengar kata menikah? Nisha, aku jadi semakin gemas padamu. Kamu pintar dalam hal akademis, tapi kamu kurang pintar untuk urusan cinta. Batin Andra.


Acara pun telah selesai. Andra mengajak Nisha untuk segera pulang. Nisha pun menuruti permintaan Andra karena Andra berkata, ada yang ingin ia tunjukkan pada Nisha. Nisha percaya begitu saja ketika Andra berkata menikah. Karena, ia ingat jelas pesan yang diberikan Sheila, bahwa Sheila akan mendapatkan Andra. Hal itulah yang membuat Nisha yakin.


"Elang, kau pulanglah. Aku akan pulang bersama Nisha." ucap Andra.


"Lah, Ndra? Aku pulang bagaimana kalau mobilnya kamu yang bawa?" Elang protes.


"Ah, gak asyik banget nih orang." Elang menggerutu.


Nisha merasa bersalah. Ia tak tega membiarkan Elang pulang sendirian karena dirinya yang akan diantar oleh Andra. Nisha pun mengeluarkan ponselnya,


"Bentar, Lang, aku telepon sekretaris ku dulu," ucap Nisha.


Nisha pun menelepon Rival, meminta agar Rival segera menemuinya di pintu utama rumah Etiga grup, karena tadi Nisha menyuruh Rival untuk pulang terlebih dahulu. Beberapa menit kemudian, Rival pin satang dan menghampiri Nisha.


"Ada apa, Bu?" tanya Rival sopan.


"Val, ini temenku pulang bareng kamu ya? Aku pulang bareng sama Pak Andra, jadi kamu tolong antar sekretarisnya pulang." ucap Nisha.


"Lah, Nish? Jadi, aku pulang sama pisang, gitu?" Elang mengernyitkan dahinya.


"Udah, berisik kamu. Sana pulang bersama sekretarisnya Nisha!" perintah Andra.


"Gak apa-apa Elang, Rival baik kok orangnya." Nisha tersenyum.


"Ayo, Pak Elang. Saya antar." ajak Rival.


"Dasar Calandra! Seneng sekali ya kamu bertemu dengan Nisha, sampai-sampai aku dilupakan!" gerutu Elang.


Andra tak mengindahkan ucapan Elang. Ia pun mengajak Nisha untuk menuju mobilnya. Bahagia, senang, sedih, bercampur menjadi satu. Andra tak menyangka, dirinya akan bertemu Nisha ditempat yang tak pernah ia duga sebelumnya. Andra sama sekali tak terfikir bahwa Nisha menjadi direktur di perusahaan Ibunya.


"Aku masih gak nyangka kamu bisa jadi direktur juga, Nish." ucap Andra sambil mengemudikan mobilnya.

__ADS_1


Nisha menatap Andra, "Jadi, kamu merendahkan aku?"


"Enggak, bukan gitu maksud aku, Nish. Setahuku, cita-citamu itu menjadi guru kan? Aneh saja, tiba-tiba bisa menjadi petinggi perusahaan seperti ini." ucap Andra.


"Iya, aku memang ingin menjadi guru. Tapi, semua hak waris Mama angkatku, jatuh ke tanganku, jadi aku tak punya pilihan lain, bahwa aku memang harus meneruskan semuanya. Karena itulah, aku kuliah diluar negeri demi mendapat gelar magisterku." ucap Nisha.


"Ya, aku bangga padamu, Nish. Tapi, karena itu juga kamu melupakan aku. Iya kan?" ucap Andra.


"Enggak, kok. Aku gak lupain kamu, ini buktinya aku masih ingat kamu, Ndra." Nisha tersenyum jahil.


"Senyum kamu tetap manis, tak pernah berubah, Nisha." ucap Andra.


Nisha tersipu malu, "Kamu bisa aja,"


"Nish, kenapa kamu gak ngabarin aku selama delapan tahun ini? Kenapa setiap Mommy-ku menanyakan kabarmu, kamu selalu bilang sibuk? Apa kamu memang ingin melupakan aku?" tanya Andra.


"Tidak, Andra. Dulu istrimu meminta aku menjauhi mu, karena dia merasa terhalangi oleh kehadiranku. Aku bersyukur, akhirnya kalian bersatu juga sekarang." Nisha terlihat sedikit kecewa.


"Sheila berkata begitu padamu? Kurang ajar sekali dia!"


Ya ampun, anak ini. Dia yang memotong pembicaraanku tadi, dia juga yang mengatakan kalau aku menikah dengan Sheila. Kenapa dia lucu sekali? Nisha, asal kau tahu, belum ada lagi wanita yang bisa mengisi kekosongan hatiku saat kamu pergi hingga saat ini. Sheila, berani-beraninya menyuruh wanitaku pergi. Pantas saja Nisha menolakku saat dulu aku memaksa dia untuk jadi kekasihku. Ternyata, Sheila yang mengancamnya. Batin Andra.


"Andra, kamu tak boleh begitu pada istrimu sendiri." ucap Nisha.


"Nish, hentikan ucapan itu. Aku tak tahan lagi. Tunggu sampai kita sampai nanti, baru kau bicara lagi." ucap Andra.


"Ah, baiklah, maaf." Nisha merasa tak enak.


Hanya kamu wanitaku, Kanisha. Aku tak pernah sedikitpun menganggap Sheila, sekalipun dia memaksa untuk mendekatiku. Ternyata, kamu yang sangat berarti untukku. Hanya kamu yang ada di hatiku. Aku beruntung, selalu menjaga perasaan ini, untukmu ....


Andra membawa Nisha ke sebuah Mall besar di Jakarta. Entah kemana Andra akan membawa Nisha. Nisha tak berani bertanya, karena Nisha merasa bahwa Andra kesal padanya. Mereka pun tiba disebuah toko perhiasan dan berlian yang begitu mewah. Nisha bingung, kenapa Andra membawa dirinya ke tempat seperti ini.


"Andra, kenapa kamu bawa aku ke tempat seperti ini? Untuk apa kita ke toko ini?" Nisha heran.


Andra hanya mendekatkan ibu jarinya pada bibir manis Nisha. Andra mengisyaratkan Nisha untuk diam. Andra pun mengajak Nisha duduk didepan etalase tempat penyimpanan perhiasan-perhiasan mewah dan mahal tersebut. Nisha semakin bingung dibuatnya.


"Mbak, berlian yang telah aku simpan sekian lama, masih ada kan? Tolong keluarkan." perintah Andra.


"Ah, baik Pak, tentu saja." pelayan itu menuruti permintaan Andra.


Toko berlian ini adalah toko milik Nenek Calandra yang diwariskan pada Davian dan Arini. Tentu saja sang pemilik toko mas tersebut mengenal Andra. Nisha semakin heran dibuatnya. Nisha tak mengerti, untuk apa Andra meminta berlian pada pelayan toko tersebut.


Tak lama, pelayan itu pun memberikan kotak merah pada Calandra. Berlian cantik nan indah itu pun dibuka oleh Andra. Nisha yang melihatnya begitu takjub dan merasa kaget dengan apa yang Andra perlihatkan padanya.


"Nisha, bukankah cincin berlian ini sangat cantik?" ucap Andra.


"Tentu saja, dia begitu indah dan berkilau." jawab Nisha.


Andra menghela nafas panjang, "Aku membelinya sejak 5 tahun lalu. Aku selalu membayangkan betapa cantiknya wanita yang akan memakai cincin berlian ini. Aku sengaja membelinya, berharap ia akan segera pulang dan segera memakainya. Tapi, waktu tak kunjung berpihak padaku kala itu. Aku simpan lagi cincin ini dengan penuh harapan agar wanita yang aku tunggu-tunggu akan segera kembali. Kini, wanita yang aku tunggu itu ada di dekatku, dan bisa aku pandang berkali-kali. Nisha, ini untukmu, dan aku benar-benar merindukanmu."


"Andra, tapi kan kamu sudah meni---" ucapan Nisha terpotong oleh ibu jari Andra yang menempel di bibirnya


"Aku belum menikah, kamu yang salah mengartikan ucapanku, Nisha. Aku akan memberitahumu, bahwa Sheila menikah dengan lelaki pilihan orang tuanya, bukan denganku. Tapi, kamu salah mengira dan segera memotong pembicaraanku. Hatiku masih kosong sampai saat ini, Nish. Aku tak pernah jatuh cinta pada wanita lain, setelah kepergianmu. Hanya mengenangmu dan mengingatmu yang bisa membuatku tetap tegar menerima kenyataan ini. Kanisha, ini memang untukmu, percayalah padaku, karena aku memang tulus padamu," Andra menyerahkan kotak kecil merah itu pada Nisha.


Mata Nisha berkaca-kaca, "Andra, benarkah ... aku terharu mendengar semua ucapanmu. Sungguh, aku tak menyangka ini semua, untukku ... maafkan aku, yang salah menilaimu."


Andra mengangguk, "Ini untukmu. Maafkan aku, yang pernah memaksamu. Aku tak akan memaksa cinta itu lagi, yang penting, tetap bersamamu, bisa membuat aku bahagia, Nisha. Tetaplah di sampingku, dan biarkan cinta itu datang dengan sendirinya, begini pun, aku sudah sangat bahagia. Sekali lagi, terima kasih telah kembali ...." Andra tersenyum begitu tulus.

__ADS_1


Semua ini takdir, Andra. Aku kembali bukan untukmu, tapi aku kembali karena takdir yang menyatukan kita lagi. Batin Nisha.


*Bersambung*


__ADS_2