
Persiapan kembali ke rumah.
Arini dan Davian telah lebih dulu pulang ke rumah bersama sang bayi. Tira membereskan barang bawaan itu bersama Rangga. Mbak Sita, baby sitter pengganti Tira, telah pulang karena perkenalannya telah selesai. Rangga menyuruhnya pulang dahulu beberapa hari, karena Rangga tahu, Sita pasti sangat merindukan keluarganya.
Kejadian siang tadi, tak ada jawaban sepatah kata pun dari Tira. Tira tak menjawab, ia bingung dengan perasaannya sendiri. Namun, Rangga menganggap diamnya Tira adalah iya. Ia tetap optimis akan perasaannya. Saat ini, Tira dan dirinya sedang membawa beberapa barang dan peralatan Arini.
Keyza pulang bersama Arini, karena ia ingin terus bersama adiknya. Keyza terus menganggap, bahwa anak Arini adalah adiknya. Karena itulah, Keyza ikut bersama sang bayi pulang lebih dulu. Mereka diantar oleh sekretaris Dika yang terlihat murung sejak tadi.
Hanya tinggal Rangga dan Tira yang masih di Rumah sakit. Mereka membawa beberapa jinjingan untuk dimasukan kedalam bagasi mobil Rangga. Barang pun selesai dibereskan, Rangga dan Tira segera naik kedalam mobil. Seperti biasa, Rangga selalu menatap Tira. Ia masih terdiam, dan enggan mengemudikan mobilnya.
"Tuan? Ayo, berangkat." ucap Tira.
"Nanti dulu. Ada yang kurang," jawab Rangga.
Tira mengernyitkan dahinya, "Apa yang kurang?"
"Kamu belum menjawab ucapan ku tadi," ucap Davian.
"Ucapan apa?"
"Aku ingin mendengar jawabanmu." ucap Rangga.
"Baiklah, aku jawab. Iya, Tuan." ucap Tira.
Rangga cemberut, "Iya apa? Yang lebih spesifik lagi, dong!" jelas Rangga.
"Iya, Tuan. Saya mau menggantikan Mbak Sita menjadi baby sitter untuk Tuan lagi." jawab Tira.
"Baby sitter untuk aku? Aku tak butuh baby sitter. Aku butuh kamu, untuk menjadi baby sitter di hatiku. Kamu jangan pura-pura. Aku tak perlu lagi mengatakan cinta yang tulus padamu. Kedatanganku kesini murni, tulus karena aku ingin menemuimu. Aku sangat merindukanmu, Tira. Ketika aku mendengar suaramu, aku benar-benar bisa gila, jika saat itu aku tak segera terbang ke Indonesia! Ini adalah bukti cintaku padamu. Walau aku tahu, kamu dan Dika ada ketertarikan satu sama lain. Tapi, itulah godaan. Cinta tak hanya ada di satu hati, tapi beribu-ribu hati datang, hanya untuk menguji cinta itu sendiri. Apakah kamu mau, menetapkan pilihanmu padaku? Aku sangat membutuhkan jawabanmu." ujar Rangga penuh harap.
Tira terdiam. Ia berfikir, selama ini, ia dan sekretaris Dika hanya terjebak kisah cinta yang ambigu. Mereka dekat, tapi tak dapat mengungkapkan isi dari perasaan itu sendiri. Mungkinkah perasaan itu hanya ambisi semata?
Jujur, ketika Tuan pergi, aku merindukan Tuan. Aku kesepian. Tak ada lagi yang bisa membuatku tertawa karena hal kecil. Jujur, aku juga malu jika mengungkapkan kalau rasa rindu ini adalah cinta. Aku jadi merasa bersalah pada sekretaris Dika. Karena, aku dekat dengannya ketika Tuan pergi. Aku sangat kesepian saat itu, hanya sekretaris Dika yang mau membantuku dan menemaniku. Memang, aku terhanyut pads perlakuan sekretaris Dika yang hangat padaku. Namun, Tuan juga selalu aku bayangkan. Jika aku tanya pada hatiku, siapa yang lebih mengisi hati ini? Jawabannya adalah Tuan. Karena, aku pun tak tahu, kenapa kamu ada di hati ini. Ah, entahlah. Aku bingung dengan perasaanku sendiri. Kalau perasaanku pada Tuan adalah cinta. Lalu, perasaanku pada sekretaris Dika, perasaan apa? Batin Tira.
"Perasaan bersalah dan saling tak enak satu sama lain. Itu jelas bukan cinta. Itu hanya ungkapan kedekatan yang berlebihan." ucap Rangga, seakan tahu apa isi hati Tira.
Tira kaget, ia tak menyangka. Kenapa Rangga bisa tahu isi hatinya? Kenapa dengan mudahnya Rangga menjawab pertanyaan Tira yang ia ucapkan dalam hati?
__ADS_1
"A-apa maksud Tuan? Kenapa Tuan berkata begitu?" Tira pura-pura tak mengerti.
"Aku tahu. Wajahmu tak bisa berbohong. Kamu mau kan menerima aku? Tapi, kamu merasa tak enak pada Dika. Bukan begitu?" Rangga menebak.
"Ih, apa sih? Enggak kok! Jangan asal nebak deh!" Tira gugup.
"Ya sudah, cepat jawab. Mau kan mencobanya dengan majikanmu ini?" goda Rangga.
Tira tak tahu harus menjawab apa. Ia sangat keberatan untuk menjawab iya. Tira malu, harga dirinya ditaruh dimana jika ia dengan mudah luluh dengan permintaan lelaki.
"Aku tak akan menjawab iya. Aku akan melihat dulu, seberapa serius ucapan Tuan pada saya. Saya belum percaya 100% dengan ucapan Tuan. Tapi, melihat saya mau menuruti Tuan lagi, dan berada di mobil ini lagi, adalah suatu pertanda, kalau saya mempertimbangkan ucapan Tuan Rangga." jelas Tira.
Bilang aja IYA, gitu! Bilang IYA aja ribet banget, sampe harus muter-muter dulu. Apa cewek memang kebanyakan gengsinya ya? Batin Rangga.
"Baiklah, aku akan menunggu kamu berkata IYA padaku. Aku akan menantikan saat-saat indah itu." ucap Rangga.
Semoga saja, rasa bersalah ini cepat berlalu. Aku tak enak pada sekretaris Dika. Sepertinya, dia marah padaku. Aku harus segera minta maaf padanya. Batin Tira.
Rangga pun melajukan mobilnya menuju rumah Davian. Ia puas mendengar jawaban Tira. Walaupun Tira masih malu-malu mengatakan iya, tapi sinyal cinta itu telah Rangga dapatkan. Ia merasa bersalah pada Tira, karena merasa merebut Tira darinya.
Dik, aku akan meminta maaf padamu, karena telah mengambil wanita pilihanmu. Aku bingung harus bagaimana? Jika aku pun ternyata memilihnya sebagai wanitaku? Batin Rangga.
...๐ตAku berhenti berharap dan menunggu datang gelap...
...Sampai nanti suatu saat tak ada cinta kudapat...
...Kenapa ada derita bila bahagia tercipta?...
...Kenapa ada sang hitam bila putih menyenangkan?...
...Aku pulang tanpa dendam...
...Kuterima kekalahanku...
...Aku pulang tanpa dendam...
...Kusalutkan kemenanganmu๐ต...
__ADS_1
Lagu sendu diputar didalam mobil sekretaris Dika. Malam ini, ia merasa kesepian. Ia berkata pada Davian, akan pulang ke rumahnya. Padahal, sekretaris Dika tak mau berada di rumah Davian, karena ada Tira dan sekretaris Dika. Tira menemani Arini, karena baby sitter pengganti Tira ingin pulang dulu ke Bogor selama tiga hari.
"Pedih ... Lagunya kenapa harus ini sih? Gue jadi keinget-inget terus kan!" sekretaris Dika berbicara sendiri.
Pulang ke rumah, ngapain? Jenuh gue, ini masih jam tujuh lagi. Kemana coba? Ngapain gue kali ini? Kenapa sedih banget ya jadi gue? Enaknya ngapain ya sendirian gini? Ah, kayaknya gue balik aja ke rumah. Tidur di rumah lebih asyik. Eh, tapi, di rumah gue gak ada apa-apa nanti. Gue lupa gak bawa makanan dari rumah Bos. Saking gue pengen buru-buru pergi. Kayaknya gue pergi ke minimarketnya Nona aja deh.
Sekretaris Dika melajukan mobilnya menuju minimarket Arini. Itu berarti, sekretaris Dika akan bertemu dengan Nadya. Karena Nadya yang menjaga minimarket tersebut. Lima belas menit berlalu, akhirnya sekretaris Dika sampai juga di parkiran minimarket Ibu Arini. Ia segera turun dari mobilnya dan masuk kedalam minimarket.
Nadya sedang berdiri di meja kasir. Memberi tahu pelayan baru untuk memegang kasir. Ia menyambut pelanggan yang masuk kedalam minimarket. Namun, betapa kagetnya Nadya ketika yang datang adalah sekretaris Dika. Nadya segera keluar dari tempat kasir dan mendekati sekretaris Dika.
"Pak Dika? Ngapain kesini?" tanya Nadya.
"Kok kamu malah nanya sih? Ini minimarket kan? Kalau aku datang kesini, berarti aku mau belanja. Ngaco kamu, Nad!"
"Eh, iya sih. Tapi, maksud aku itu kenapa ... Ah, sudahlah. Pak Dika mau beli apa? Biar saya carikan," ucap Nadya.
"Ada pop mie seduh? Boleh deh pop mie, makan di meja depan ya." tunjuk sekretaris Dika menuju kursi dan meja yang tertata rapi didepan minimarket.
"Ada, Pak. Tapi, apa gak mau masuk kedalam rumah Ibu aja? Diluar dingin. Pak Dika bisa makan didalam," saran Nadya.
"Oh, gak perlu. Aku makan diluar aja. Aku tunggu di luar sekarang." sekretaris Dika berlalu.
Ada apa dengan Pak Dika ya? Kok dia mau-maunya datang kesini hanya untuk memesan pop mie? Ah, biarlah. Nanti saja kutanya. Batin Nadya.
Sekretaris Dika duduk di meja yang telah disediakan. Ia tak mengerti, kenapa dirinya malah memesan pop mie seduh, padahal niat awal ia ingin membeli snack untuk makanannya di rumah nanti.
Ah, nasi sudah menjadi bubur. Mungkin saja, karena aku kesepian jadi aku ingin di tempat ini. Jangan sampai si Nadya itu berharap kalau aku kesini ingin bertemu dengannya. Gumam sekretaris Dika dalam hati.
*Bersambung*
Hai semuanya...
Buat kalian yang kecewa karena Tira memilih Dika, aku minta maaf yang sebesar-besarnya ya. Kuharap kalian gak marah dan tetap mau melanjutkan kisah ini. Alasannya apa sih? Adakah yang ingin tahu alasan kenapa Tira ku pasangkan dengan Rangga? Nanti aku tulis Q&A tentang pertanyaan-pertanyaan kalian guys..
Yang mau bertanya, silahkan tanya di kolom komentar. Yang bertanya nomor rekening author, itu boleh banget kalo mau kasih uang ke otor ๐๐ canda ya guys...
Staytune di cerita ini ya. Detik-detik menuju tamat, sekitar 6 episode lagi.
__ADS_1
Aku juga akan mempertemukan Arkan dan Keyza di akhir episode. Semoga kalian betah membaca sampai akhir ya..
Makasih ๐๐๐