
BRAKKKKK
Davian membuka pintu rumah sakit dengan kakinya. Sekuat tenaga ia membuka pintu kamar Rangga. Dirinya benar-benar marah dan kecewa pada Rangga. Berani-beraninya Rangga memfitnah dirinya.
"Maksud lo apa? Fitnah gue? Berani-beraninya lu bermain peran sama gue. Jangan mentang-mentang lu Om gue, lu bisa seenaknya ya Ga! Gue gak akan tinggal diam."
"Dav, kamu kenapa? Tenanglah dulu." Nenek Davian menenangkan cucunya yang emosi
"Ayah, lihat keponakan lucu ku ini. Dia pemarah sekali kan?" Rangga tersenyum sinis.
"Apa yang Papa ucapkan padaku, apa itu benar keluar dari mulutmu?"
"Davian, duduklah dulu. Kakek ingin berbicara padamu."
Dengan amarah yang membuncah, Davian duduk di kursi sebelah kakeknya.
"Kamu jangan terpancing emosi Rangga. Kakek sudah tahu semuanya!"
"Maksud Kakek apa? Manusia biad*b ini telah memfitnah aku, Kek! Kalau kalian memang percaya pada anak bungsu kalian, masa bodoh! Aku tak peduli. Aku hanya ingin meluruskan, kalau berandal ini memang pembohong dan penjilat lidah!" Davian berapi-api.
"Rangga takut pada Papa-mu, dia tak jujur. Kamu tahu kan, emosi Papa-mu gampang sekali meledak-ledak! Persis sepertimu."
"Apa maksudnya semua ini?" Davian tak mengerti
"Rangga memang berbohong pada Papa-mu. Dia membalikan fakta, tapi Rangga sudah jujur pada Kakek."
"Apa mau mu Rangga? Kenapa kamu bermain cantik seperti ini? Kenapa kamu harus bermuka dua seperti ini?"
"Dav, maafkan aku! Aku terpancing emosi, aku hanya ingin jalan-jalan bersama Arini, tak lebih." Rangga duduk dari ranjangnya
"Apa lu gak tahu, kalau Arini itu istri gue? Jangan seenaknya jadi orang! Gue gak suka lo mau melecehkan Arini seperti itu."
"Dav, aku hanya menakut-nakutinya. Aku kesal, aku takkan sampai hati melakukan hal seperti itu." jelas Rangga
"Omong kosong! Itu karena gue datang tepat waktu pas lo lagi nyiksa Arini."
"Kalo lo bukan Om gue, pasti udah gue laporin lu ke polisi."
"Davian, apa kamu mencintai Arini?" tanya Kakek
"Tentu saja! Karena dia istriku."
"Bukankah kamu hanya menikah sandiwara dengannya?" tanya Kakek
"Maksud Kakek apa?" Davian mulai tak mengerti
"Rangga sepertinya mencintai Arini, kalau kamu akan melepaskan Arini, apa kamu rela kalau Arini menjadi milik Rangga?"
Davian melotot. Ia tak habis pikir, kedatangannya kesini malah membahas Arini, bukan meminta penjelasan Rangga.
"Apa maksud Kakek? Jangan buat aku marah disini. Apa Kakek mau, aku menghancurkan semua barang disini?" Davian mengancam Kakeknya
__ADS_1
"Dav, dengarkan aku. Rangga kesal padamu, Rangga cemburu padamu. Ia menyukai Arini sebelum kamu menyukainya. Jadi, Rangga terus saja mendekati Arini, dan Rangga ingin memiliki Arini. Karena sekarang Arini adalah milikmu, Kakek memberi pilihan padamu, apa kamu akan melepaskan Arini, atau kamu akan mencintai Arini sepenuh hatimu? Kakek tak bisa melihat kamu mempermainkan Arini, kalau kamu tak serius padanya, berikan Arini pada Rangga!" jelas Kakek
"Jadi, Rangga menginginkan Arini? Dengan berbuat picik seperti ini, apa kau yakin, kau bisa mendapatkan Arini-ku?" ucap Davian sinis
"Aku akan menunggu saat kau melepaskannya, Dav."
"Aku mencintainya, aku takkan melepaskannya. Kau jangan main-main, Rangga!"
Rangga tersenyum sinis pada Davian.
"Dav, maafkan perilaku Rangga pada Arini. Kakek tak akan membiarkan kalian ribut hanya karena wanita. Kalau kamu mencintai Arini, cintai dia dengan sepenuh hatimu, jangan permainkan hati Arini."
"Tentu saja, KEK."
"Rangga memang salah, aku meminta kamu jangan dendam padanya. Esok dia akan pergi, kumohon lupakan masalah tadi "
"Tergantung sikap dia padaku akan seperti apa."
"Aku menyesal, Dav. Maafkan aku." ucap Rangga.
Davian sudah tak ingin mendengar penjelasan apapun lagi dari Rangga. Ia segera pergi meninggalkan mereka semua. Ia harus menjaga Arini, istrinya.
Didalam perjalanan pulang, Davian berpikir, apakah hubungan mereka akan benar-benar serius? Davian ingat, ketika itu Arini memiliki seorang kekasih, sebelum Davian melakukan pernikahan sandiwaranya dengan Arini.
Mungkin karena itulah, Arini belum mau serius pada Davian.
Aku terlalu menghayati peran suami-istri kita, sehingga aku lupa, kalau Arini memiliki kekasih. Apa aku boleh cemburu? Tapi, Arini telah lebih dulu membina kisah dengan lelakinya, aku yang menyerobot paksa untuk menikahi Arini. Kenapa, banyak sekali lelaki yang menginginkan Arini? Termasuk aku.. Eh, apa benar begitu? Gumam Davian.
"Kaka sudah pulang." ucap Sherly
"Gimana kondisi kakakmu Sher?"
"Kak Arini hanya shock, tapi dia gak apa-apa kok. Kepalanya hanya sedikit pusing. Aku kaget ketika mendengar Kak Arini di siksa oleh Om Rangga." ucap Sherly
"Itu hanya terpaksa, Om Rangga kelepasan, ia tak bermaksud menyakiti kakak ipar mu." ucap Davian.
"Kakak nggak marah sama Om Rangga?"
"Nggak, dia hanya emosi. Kalau Kak Arini menyetujuinya, dia pasti tak akan berbuat sejauh itu. Intinya, Kakak harus lebih ekstra menjaga Kak Arini."
"Aku kasihan pada kak Arini. Ya sudah, karena kakak sudah pulang, aku kembali ke kamarku ya." ucap Sherly
"Iya, Sher. Terima kasih, telah menjaga Kak Arini."
Sherly berlalu. Davian melihat Arini, ia tak menyangka wanita ini tetap kuat meskipun telah mengalami hal yang tak menyenangkan.
Davian mendekati Arini, ia menatap Arini dengan penuh cinta. Ia benar-benar berjanji akan melindungi Arini.
Rangga memang kurang ajar, dia berani berbuat macam-macam pada Arini. Kalau Arini membiarkanku, mungkin akan ku hajar lagi Rangga, tapi sayangnya Arini memintaku untuk tidak membalas Rangga.
Bagaimana aku tak kesal, aku selalu menahan si kecilku untuk menerobos dinding kenikmatan Arini, tapi Rangga dengan mudahnya akan melakukannya. Aku yang secara hukum dan agama telah SAH menjadi suaminya pun tak tega kalau Arini harus kehilangan mahkotanya saat ini.
__ADS_1
Aku tahu, Arini belum siap melakukan pernikahan, ini semua karena aku, aku harus meyakinkan Arini, agar ia mau mengarungi bahtera rumah tangga yang sesungguhnya bersamaku. Namun, apa Arini masih berhubungan dengan lelaki yang saat itu aku lihat*?
Arini bangun dari tidurnya. Ia kaget, melihat Davian sedang tersenyum melihatnya. Arini langsung duduk dan bersandar pada Divan ranjang.
"Mas sudah pulang, maafkan aku ketiduran. Kepalaku tadi sedikit pusing."
"Kamu memang harus tetap istirahat. Apa sekarang sudah baikan?" tanya Davian
"Sudah, Mas. Aku tidak apa-apa kok. Terima kasih, telah melindungi ku." Arini tersenyum
Davian memeluk Arini. Hangat sekali rasanya, memeluk wanita yang kini mengisi hati Davian. Arini menerima pelukan Davian.
"Itu sudah menjadi kewajiban ku. Kamu istriku, aku tak mau kamu terluka atau tersakiti, sedikitpun. Aku datang sedikit terlambat, maafkan aku!"
"Nggak kok, Mas datang tepat waktu."
"Arini, ada satu hal yang ingin ku tanyakan padamu."
"Apa itu?" tanya Arini
"Apa kamu masih berpacaran dengan kekasihmu, Mas Adit itu?"
Arini kaget. Kenapa tiba-tiba Davian bertanya tentang hal ini. Apalagi, ia masih tahu tentang Mas Adit.
"Kenapa Tuan, Ehh, kenapa Mas bertanya tentang itu?"
"Bagimu, aku kehidupan halu-mu kan? Tapi, untuk Mas Adit, dia adalah kehidupan nyata-mu. Apa itu benar?"
"Tidak, tidak. Tidak begitu, Mas. Apa maksud Mas bertanya begini?" tanya Arini
"Aku tahu, Mas Adit adalah pacarmu. Aku pernah melihat pesannya di handphone mu. Dan aku pernah melihat kamu jalan berdua bersamanya. Aku ingin bertanya serius padamu."
Arini bingung, harus bagaimana menjelaskan pada Davian, bahwa Mas Adit bukanlah kekasihnya, namun bukti seakan menguatkan jika Mas Adit adalah kekasih Arini.
"Katakan saja, apa yang ingin Mas katakan." ucap Arini
"Apa kamu mau, menganggap aku sebagai suamimu yang sesungguhnya? Apa kamu sanggup, melepaskan Mas Adit mu dan mulai belajar mencintaiku? Apa kamu mau, menjalani pernikahan yang sesungguhnya, dengan aku?" tanya Davian penuh pengharapan
"Tuan, kenapa tiba-tiba jadi serius seperti ini?" Arini gugup
"Aku mulai takut kehilanganmu. Aku mulai tahu, berartinya dirimu dalam hidupku. Aku mulai nyaman bersamamu, aku selalu ingin melindungi dirimu. Apa kamu mau, menjadi istri dari Davian Raharsya? Aku akan mengenalkan mu ke publik, jika kamu bersedia...." ucap Davian
"Mas, tapi aku.."
"Arini, tatap aku! Katakan kalau kamu juga memiliki perasaan yang sama denganku."
"......."
*Bersambung*
Selamat pagi..
__ADS_1
Selamat membaca. Jangan lupa like dan komennya ya 😘