
Hai.. hai..
Ini bonus chapternya ya..
Arini sedang hamil dua bulan, ia sedang dalam masa-masanya morning sickness. Ia sering mual dan muntah. Setiap pagi, ia selalu mual, dan berlama-lama di toilet karena mual yang tak kunjung berhenti.
Pagi ini, seperti biasa Arini sedang berada di toilet. Arini mengalami morning sickness sudah lebih dari satu minggu. Kondisinya tak kunjung membaik. Tubuhnya kurus kering, padahal Davian sudah membawakan ia dokter spesialis kandungan terbaik untuk meredakan mual Arini, namun mual tetap saja terjadi.
"Dika, Tira!" panggil Davian dari luar kamarnya.
Sekretaris Dika dan Tira segera berlari menuju Davian. Akhir-akhir ini Davian sering sekali uring-uringan, karena Arini yang sedang mengalami ngidam dimasa kehamilannya.
"Ya Bos?"
"Iya, Tuan?"
"Apa kita harus melakukan tindakan?" tanya Davian.
"Tindakan seperti apa, Bos?" tanya sekretaris Dika.
"Sepertinya kandungan istriku bermasalah. Apa istriku harus mendapat tindakan dari dokter spesialis? Kurasa, dokter yang kemarin tidak handal! Ia hanya memberi istriku vitamin, obat penambah darah, kalsium dan sebagainya. Kurasa, dokter itu tak tahu apa-apa. Aku ingin dokter memeriksa perut istriku. Aku tak mau istriku ada apa-apa dalam masa kehamilannya! Kalian lihat saja, sekarang dia sedang di toilet, dia mual dan muntah lagi. Aku kasihan padanya, aku tak tega membiarkan istriku seperti itu!" Davian kelimpungan.
"Maaf, Tuan. Itu tidak apa-apa. Justru, fase kehamilan itu, memang seperti itu, mengalami fase morning sickness, ngidam dan sebagainya." jelas Tira.
"Tahu apa lu tentang kehamilan? Nikah aja belum! Sok tahu!" umpat sekretaris Dika.
"Yee, aku kan pernah sekolah kebidanan dulu, walaupun tak tamat, tapi dasarnya aku tahu!" ucap Tira.
"Oh, ya? Menurut kamu begitu? Tapi, kalau istriku hamilnya sehat, dia tak mungkin dong mual muntah dan tak mau makan? Itu tandanya dia tak sehat!!! Ada yang harus aku periksakan." Davian bersikeras.
"Tau lu! Jangan sok tahu deh!" balas sekretaris Dika.
"Maaf, Tuan. Kalau pun Tuan komplain pada dokter manapun, tak akan ada yang melakukan tindakan untuk perut Nona Arini, karena itu normal-normal saja, yang ada kalau Tuan menyuruh dokter melakukan tindakan pada Nona Arini, Tuan malah ditertawakan!"
"Kenapa aku harus ditertawakan? Memangnya, siapa yang berani menertawakan aku?" Davian berpikir.
"Begini maksud saya, Tuan.. Mual dan muntah saat hamil itu adalah hal yang wajar pada Ibu yang sedang hamil muda di trimester pertama. Penyebabnya tentu perubahan hormon dimasa kehamilan, mood yang berlebihan, dan juga indra penciuman pada Ibu hamil yang cenderung lebih sensitif dari biasanya. Jadi, hal itu dapat memicu rasa mual pada Ibu hamil. Tuan tak perlu khawatir, Nona itu sehat. Hanya, kita harus menjaganya dari mual dan muntah yang berlebihan, takutnya Nona dehidrasi, dan berat badan akan turun drastis." jelas Tira.
"Kamu benar juga. Penciuman istriku sekarang jadi sangat sensitif. Dia bisa mencium aroma-aroma yang aku pun tak sadar akan baunya. Jadi, karena itu dia mengalami mual dan muntah ya." ucap Davian.
"Iya, Tuan. Jika Nona mengalami dehidrasi, baru itu yang kita khawatirkan. Namun, hal ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan pemeriksaan di perut Nona. Nona sangat sehat, dia masih mau makan walaupun sedikit."
"Satu lagi yang aneh! Dia kadang marah-marah gak jelas, dia juga kadang romantis sekali, sifatnya selalu berubah-ubah. Aku benar-benar tak mengerti."
__ADS_1
"Tuan harus mengerti. Karena mood pada Ibu hamil itu berubah-ubah, Tuan."
Tiba-tiba,
"MASSSSSS!!" pekik Arini.
"Tuh, kan. Genderang perang sudah memanggil. Aku harus segera menemuinya. Kalian tetap berjaga disini." ucap Davian.
"Baik, Bos." jawab Dika dan Tira.
Davian berlari menuju toilet dan segera menemui Arini. Davian memberikan senyuman terbaiknya, agar tak mau membuat Arini kecewa.
"Mas, aku capek muntah terus! Aku kira, aku gak akan mengalami morning sickness seperti ini. Rasanya, aku ingin Mas Davi saja yang merasakan mual dan muntah seperti ini." ucap Arini.
"Jika aku bisa, aku ingin sekali menggantikan mual dan muntah yang kamu alami, sayang." Davian mengelus-ngelus rambut Arini.
"Mas, aku ingin ikut ke kantor." ucapan Arini tiba-tiba membuat Davian kaget.
"Hah? Ke kantor? Ngapain, sayang?"
"Aku ingin lihat suamiku kerja. Kenapa? Gak boleh? Kamu punya simpanan di kantor, iya?" Arini mulai menaikkan tanduknya.
"Eh, tentu saja tidak, sayang. Siapa bilang aku punya simpanan. Aku cuma gak enak aja sama karyawan ku," ucap Davian jujur.
"Bukan begitu, maksudku. Aku hanya, ah, sudahlah. Mari, ikut denganku ke perusahaan!" ucap Davian.
"Tapi aku gak mau ganti baju, aku mau pake baju tidur aja!"
"Ya ampun, sayaaaaang. Apa kamu gak malu sama semua karyawan ku?"
"Enggak, aku kan pakai baju! Kalau aku gak pakai baju, baru aku malu!" Arini melengos keluar dari kamarnya.
"Gubraaaaak!" Davian hanya bisa mengelus dada.
Seperti biasa, sekretaris Dika yang mengendarai mobil, Arini dan Davian duduk di belakang. Karena Arini hamil, yang membersihkan semua kamar Davian beserta pakaian mereka berdua, Tira lah yang mengerjakannya.
Davian tak bisa memecat Tira begitu saja, karena ia juga sangat membutuhkan pekerjaan itu.
"Mas?" tanya Arini tiba-tiba.
"Apa, sayang?"
"Rasanya, aku ingin melakukan resepsi pernikahan kita. Aku belum pernah memakai gaun mewah dan didandani dengan sangat cantik, lalu dilihat semua tamu."
__ADS_1
"Kenapa tiba-tiba kamu berkata seperti ini?" tanya Davian.
"Gak tahu, rasanya aku ingin menggunakan gaun pengantin, kita kan memang belum melakukan resepsi, sayang."
"Memang betul, baiklah, aku akan mengadakan resepsi untukmu, secepatnya, sebelum perutmu semakin membesar. Akan aku persiapkan nanti." Davian tersenyum.
"Benar, Mas? Terima kasih banyak, sayangku." Arini mencium Davian.
Memang wanita hamil itu aneh. Kadang sifatnya seperti malaikat, kadang sifatnya seperti batu, kadang juga sifatnya seperti es yang mudah mencair. Lucu sekali kamu, Arini-ku, istri-ku.
"Mas?" tanya Arini lagi.
"Iya, sayang?" jawab Davian lembut.
"Aku gak jadi deh ke perusahaannya!"
"Loh, kenapa? Kamu mau pulang lagi?" tanya Davian.
"Enggak. Sekarang aku mau ke rumah Ibu aja. Dipikir-pikir, ngapain aku ke perusahaan, mendingan aku ke rumah Ibu aja. Udah lama juga aku gak ke rumah Ibu."
"Apa?" Davian menghela nafas.
"Loh, Mas kenapa?" Arini dengan wajah tak berdosa.
"Gak apa-apa, kok sayang. Gak apa-apa. Dik, putar balik menuju rumah Ibu Arini. Istriku sedang ingin ke rumah Ibunya. Biarkan saja aku terlambat bekerja, karena aku pemilik perusahaan, aku bisa semena-mena dengan pekerjaan ku. Begitu ya sayang?" Davian menyindir halus Arini.
"Tentu saja, sayang! Kamu kan punya jabatan, bebas lah kamu mau masuk kapan aja. Kamu gak usah takut dipotong gaji dan segala macam, karena kan kamu pemilik perusahaan. Uh, Mas Davi-ku, kamu memang lelaki idaman!"
Lelaki idaman? Aku sedang banyak kerjaan, dia bilang gak akan dipotong gaji? Oh my God, istriku benar-benar menggemaskan. Dia bilang putar balik ke rumah Ibunya? Kenapa gak bilang dari tadi, Bambang! Eh, salah, kenapa gak bilang dari tadi, Arini! Dia pikir putar balik gak makan waktu apa ya? Gimana kalau macet? Istriku memang sesuatu sekali. Sabar, Dav, sabar! Ini semua ujian Papa muda anak satu. Memang, hormon istriku ini berubah-ubah. Moodnya tak seimbang lagi, aku harus paham, bahwa ini bawaan bayiku. Oh bayiku, kenapa kamu membuat Papa pusing dengan tingkah laku Mama-mu?
*Bersambung*
Hai..
Terusin gak nih ceritanya? Kok otor sendiri suka kangen ya sama kegemasan Arini dan Davian π€£
Bonus chapter 1 ya.. Semoga suka..
Kalau kalian pengen lanjut ceritanya, berikan komennya lagi ya, aku lg down nulis, butuh dukungan sekali... π
Temen-temen, baca juga cerita temenku ya.. Bagus iniππ€
__ADS_1