Terjerat Cinta Sang Pembantu

Terjerat Cinta Sang Pembantu
jalan-jalan


__ADS_3

Pagi ini, benar-benar penuh kebahagiaan. Davian telah mendapatkan mahkota Arini, yang selama ini ia idam-idamkan. Arini dan Davian telah terbangun, namun mereka masih berbaring di ranjang dengan keadaan polos tak berbusana. Hanya selimut yang menutupi tubuh mereka berdua.


"Mas, ayo bangun. Mandi." ajak Arini


"Mandi bareng?" tanya Davian


"Nggak lah, mandi sendiri-sendiri aja."


"Aku pengen dimandiin sama kamu, Rin." Davian genit


"Apaan si Mas, ngaco aja!" jawab Arini


"Sayang?" tanya Davian


"Apa?"


"Sekali lagi yuk, sebelum mandi." ajak Davian lagi


"Nggak ah, aku masih sakit banget Mas. Perih tau nggak!" jawab Arini


"Masa sih, aku kan pelan-pelan semalem. Gak nyakitin kamu!"


"Gak nyakitin gimana, Mas terus-terusan nyakitin aku. Mas gak dengerin aku, aku bilang udah ya udah. Tapi, Mas nggak denger sama sekali."


"Ya nggak bisa gitu dong, Rin. Namanya cetak gol itu harus sampai benar-benar keluar. Aku gak bisa kalau setengah-setengah."


"Udah ah, cepetan mandi."


"Rin, sekali lagi, tanggung. Ayoooo!"


Davian menarik paksa Arini lagi. Ia akan bermain-main lagi dengan pedangnya. Arini sudah pasrah, tak bisa menolak, karena memang itu adalah surga dunianya Davian.


Davian terus menjelajah semua bagian tubuh Arini, pagi ini lebih tenang dan lembut. Beda dengan semalam, yang diiringi dengan nafsu dan amarah.


Kali ini, ia mulai bermain-main lagi dengan gundukan Arini yang menyembul indah. Memang, istrinya ini tak pernah berpakaian ketat, sehingga ketika tak memakai busana seperti ini, baru terlihat betapa menggodanya sang istri.


Davian sudah larut dalam nafsu birahinya. Ia tak bisa menahan gejolak dalam dirinya. Perlahan-lahan, ia memasukan lagi pedang itu dalam kenikmatan sang istri.


Kali ini tak seperti pertama melakukannya, Arini telah basah, sehingga mudah bagi Davian untuk menerobos pertahanannya lagi.


Arini mengerang hebat, sedikit demi sedikit, Arini sudah bisa menikmati rasanya bersenggama bersama sang suami. Ia menikmati, meskipun masih terasa perih disekitar mahkotanya.


Hentakkan Davian membuat Arini mengerang hebat, mereka tak bisa menahannya, dan Byurrrr lagi, Davian menyemburkan semuanya dalam gawang Arini. Lagi dan lagi, Arini hanya bisa pasrah dengan apa yang terjadi.


Mereka berdua terkulai lemas, permainan panjang yang melelahkan namun menggairahkan. Sepertinya, Davian akan terus memaksa Arini, Davian kecanduan pada tubuh Arini.


Davian mengajak Arini untuk mandi bersama. Arini menolak, namun Davian tetap memaksa. Karena, Davian ingin mengajari Arini, untuk tak malu lagi berhadapan dengan Davian.

__ADS_1


***


Davian ingin mengajak Arini jalan-jalan menghabiskan waktu bersama. Karena, mereka belum pernah sekalipun jalan-jalan bersama, menikmati kota metropolitan yang indah ini.


Arini menyetujuinya, karena Arini pun memang ingin berjalan-jalan di hari minggu. Davian akan menyetir mobilnya sendiri, ia tak ingin sekretaris Dika mengikutinya, karena Davian ingin menghabiskan waktu berdua bersama Arini.


"Kak, Aku ikut dong." pinta Sherly


"Aku juga, Kak."


"Haish, anak kecil jangan ngikut-ngikut. Kakak mau berduaan sama kak Arini."


"Kak Davi pelit banget sih!"


"Iya, HUH!" timpal Sheldy


Davian memegang tangan Arini, lalu mengajaknya keluar setelah pamit pada kedua orang tua Davian. Arini terpaksa mengikuti Davian, padahal Arini juga ingin mengajak kedua adik kembar Davian untuk jalan-jalan bersamanya.


Arini dan Davian telah berada didalam mobil, Davian segera melajukan mobilnya. Arini mengajak Davian berbincang.


"Mas, kenapa gak ajakin adik kembar mu jalan-jalan juga sih?"


"Ribet sama mereka. Nanti banyak maunya." jawab Davian enteng


"Kasihan mereka, padahal berharap banget diajakin sama Mas Davi."


Arini tersenyum mendengar ucapan Davian. Entah mengapa, mereka jadi seperti ini, mereka jadi saling mencintai dan menyayangi. Padahal, awalnya mereka selalu berselisih, dan baik Arini, maupun Davian, mereka selalu mengumpat bahwa tak akan mungkin mencintai satu sama kain, bahkan Arini pernah berkata bahwa Davian bukanlah tipenya.


"Mas?"


"Apa sayang?"


"Kenapa rasanya aku seperti menjilat ludah sendiri ya?" tanya Arini


"Memangnya kenapa?"


"Dulu, aku selalu bilang gak mungkin jatuh cinta sama Mas, Mas Davian bukan tipe-ku. Tapi sekarang, aku malah menjadi istri Mas Davian, dan aku juga kehilangan mahkotaku oleh Mas Davi."


"Ini sudah Takdir, kamu tak bisa melawannya. Kamu dan aku, saling mencintai. Kita tak boleh munafik dengan perasaan kita masing-masing." jelas Davian


"Apa Mas benar-benar dengan cinta ini?" tanya Arini tiba-tiba


"Kamu ragu?" Davian bertanya balik


"Hanya saja, kisah kita berjalan terlalu cepat. Aku masih ragu dan takut."


"Jangan samakan aku dengan lelaki lain, dengan CEO lain. Aku tak seperti mereka. Aku benar-benar menjaga hati dan cintaku. Aku tak pernah menyentuh wanita lain, selain dirimu." tegas Davian

__ADS_1


Arini terdiam. Tak mungkin seorang Davian Raharsya, lelaki yang tampan dan kaya raya tak pernah mempunyai wanita. Arini tak yakin dengan apa yang diucapkan Davian.


"Aku tak percaya." balas Arini


"Kenapa kamu harus tak percaya?"


"Tak mungkin lelaki tampan dan kaya raya sepertimu, tak pernah mempunyai wanita!"


"Serius, bahkan aku tak pernah pacaran sama sekali."


"Hahahahaha, bohong sekali." Arini tak percaya


"Aku harus bagaimana agar kamu mempercayaiku?" tanya Davian


"Aku tak tahu, hanya saja ucapan mu lucu, masa tak pernah pacaran sama sekali. Aneh sekali bukan?" ujar Arini


"Apa perlu aku jelaskan semuanya padamu?" tanya Davian


"Terserah kamu saja."


"Aku tak pernah pacaran, aku hanya pernah mengagumi satu wanita sebelum dirimu. Dan itupun, aku tak pernah pacaran dengannya." jelas Davian


"Kenapa?" tanya Arini


"Dia tak menyukaiku." jawab Davian


"Tapi kamu menyukainya, iya?"


"Tentu saja, kan aku sudah bilang, aku mengaguminya." ucap Davian jujur


"Kalau begitu, kenapa kamu tak mengejar cintanya, kenapa kamu malah disini bersamaku?" tanya Arini


"Dia menghindar, dia tak menyukaiku. Lalu, kamu datang dan mengalihkan pandanganku darinya. Aku mulai melupakannya, dan tertarik padamu." jelas Davian


Arini terdiam. Sebagai wanita normal, ketika pertama kali bertemu Davian, ia pun kagum dengan ketampanannya. Rasanya, tak mungkin jika ada wanita yang berani menolak Davian.


Davian kurang apa? Dia tampan, dia kaya, dia punya segalanya, dia seorang CEO perusahaan, dan dia juga punya masa depan yang cerah tentunya. Aneh, jika ada seorang wanita yang menolaknya. Bagaimana kalau nanti wanita itu kembali, dan merebut Davian dari Arini?


"Sepertinya, kamu masih memendam perasaan untuk wanita yang kau kagumi itu."


"Tidak, aku sudah melupakannya. Kini, aku mencintaimu, kamu yang ku kagumi dan ku cintai." jawab Davian


"Apa kebahagiaan ini akan utuh selamanya? Bagaimana kalau wanita yang kamu kagumi, datang kembali padamu, dan merebut mu dari aku?" ucap Arini


"Maka dari itu, jangan lepaskan tanganku. Genggam erat tanganku. Kita lalui apapun rintangan dan cobaan dalam rumah tangga kita. Kamu jangan menyerah pada cinta kita. Bertahanlah, tetap di sisiku, selama-lamanya. Karena, hanya Arini Syafira lah yang kini akan aku perjuangkan mati-matian didalam hidupku."


“Tapi, kenapa aku masih ragu?"

__ADS_1


*Bersambung*


__ADS_2