Terjerat Cinta Sang Pembantu

Terjerat Cinta Sang Pembantu
makan


__ADS_3

"Makan dulu yuk? Kita belum makan apa-apa dari pagi." ucap Davian


"Boleh, Tuan. Mau makan apa? Tapi, yang murah-murah aja ya! Aku gak bisa bayar, kalau makanannya mahal." jawab Arini


"Gue udah bilang beberapa kali sama lu kan? Sekarang, lu itu istri gue. Lu itu tanggung jawab gue, apapun yang berhubungan sama elu, gue yang akan bertanggung jawab." ucap Davian


"Aku malu kalau harus Tuan yang membayarnya." jawab Arini


"Tak perlu sungkan. Gue itu suami lu. Apa lu emang gak anggap gue suami?" tanya Davian


"Eh, bukan begitu, Tuan. Saya sangat menghargai Tuan sebagai suami saya. Tapi, saya malu kalau semuanya harus Tuan yang bayar." ucap Aribi


"Gue gak akan jatuh miskin kalau cuma membiayai lu dan keluarga lu." ucap Davian


"Terima kasih banyak atas kebaikan Tuan pada saya."


"Ya udah, kita ke restoran khas sunda aja tuh yang di sana. Gue pengen makan sayur asem sama ikan gabus." Davian menunjuk restoran yang ia tuju.


"Baik, Tuan."


Davian dan Arini bergegas menuju restoran khas sunda yang diinginkan Davian. Tak butuh waktu lama, mereka pun telah sampai di restoran tersebut.


Davian segera memesan makanan yang di cita-citakan nya sejak tadi pagi. Arini memesan menu yang berbeda dengan Davian, Arini ingin memakan nasi tutug oncom khas Tasikmalaya.


"Coba, sesekali buatin gue makanan khas sunda. Gue suka banget sama makanan sunda." ucap Davian


"Tentu saja, Tuan. Selera kita sama, aku juga sangat menyukai makanan khas sunda. Namun, aku tak tahu kalau Tuan juga suka, jadi aku tak pernah membuatnya untuk Tuan." jawab Arini


"Kenapa kita harus sama? Apa mungkin kita jodoh Rin?" tanya Davian


"Hahaha, Tuan ngarang. Cuma sama selera makan aja apa memang harus dikait-kain dengan jodoh." jawab Arini


"Kita memang berjodoh bukan? Buktinya, gue sama lu menikah. Jodoh kan pasti menikah. Bener gak ucapan gue?" tanya Davian


"Gak ah! Kita menikah bukan karena cinta, bukan karena takdir pula, tapi karena keterpaksaan, kita yang memaksakan, lebih tepatnya Tuan yang memaksa saya!" Arini membeberkan fakta


"Lu emang pinter kalo ngomong. Ya sudah, tinggal kita serius aja menjalani rumah tangga kita. Tambahkan cinta setiap harinya, gampang kan?" Davian ngelantur


"Aneh-aneh aja deh, Tuan. Emangnya saya percaya sama Tuan." Arini terkekeh


"Percaya gak percaya itu urusan lu, bukan urusan gue." jawab Davian


"Eh, Tuan apaan sih, ngawur aja."


Makanan pun tiba. Arini dan Davian segera makan makanan tersebut. Davian melihat Arini yang sedang makan dengan lahapnya. Wanita itu memang cantik, bahkan ketika ia sedang makan sekalipun.


Arini tak pernah terlihat jelek dimata Davian. Meskipun Arini hanya seorang pembantu, dirinya tak jauh dari seorang model ataupun selebgram. Apalagi, gaya rambut curly Arini yang dipilihkan Davian, membuat Arini terlihat lebih cantik.


Davian menatap Arini yang sedang makan. Arini terlihat sangat imut sekali ketika sedang mengunyah. Pesona Arini benar-benar membuat Davian jatuh hati padanya, namun Davian selalu menampik perasaan itu.


Davian melihat bibir tipis merekah milik Arini. Bibir itu pernah dicium olehnya. Davian ingin sekali menyuapi Arini. Namun, Davian bingung bagaimana caranya ia bisa menyuapi Arini. Entah kenapa, perasaan seperti itu selalu muncul dan Davian tak sanggup menahannya.


"Rin?" tanya Davian

__ADS_1


"Iya, Tuan?" jawab Arini


"Lu bisa nggak sih makan yang bener?" tanya Davian lagi


"Memangnya, aku kenapa?" tanya Arini lagi


"Kalau ngunyah itu pake aturan, jangan kayak orang yang kelaparan gak dikasih makan selama seminggu."


Biar gue bisa nyuapin lu, Rin. Gue pengen nyuapin lu dengan lembut. Batin Davian.


"Oh, iya Tuan. Maaf! Saya akan mengunyah dengan benar." jawab Arini


Davian kecewa dengan jawaban Arini. Ternyata, Arini hanya minta maaf saja. Davian benar-benar ingin menyuapi Arini, namun Davian gengsi kalau dirinya harus secara terang-terangan berkata ingin menyuapi Arini.


"Rin?" tanya Davian lagi


"Iya, ada apalagi Tuan?" tanya Arini


"Lu mau coba sayur asem ini nggak? Enak banget loh, Rin. Lu harus bisa buatin gue sayur asem kayak gini di rumah." ujar Davian mencari alasan lagi.


"Boleh, Tuan. Sini, saya coba." Arini mengangkat sendok nya, namun Davian telah lebih dulu


"Eh, jangan! Nih, nih. Cobain, biar gue yang nyuapin lo." Akhirnya rasa gengsi Davian turun juga.


Davian mengambil sayur asem dengan sendok nya, lalu mendekatkannya ke mulut Arini. Akal Davian memang tak ada habisnya, selalu saja ia mempunyai cara untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.


Arini malu dengan perlakuan Davian yang menyodorkan sendok ke mukanya. Arini sungkan dan segan menerima perlakuan tersebut.


"Eh, Tuan! Tidak apa-apa. Aku bisa mengambilnya sendiri." jawab Arini menolak Davian


Dengan terpaksa, Arini menerimanya. Arini menerima suapan yang diberikan oleh Davian. Arini benar-benar malu. Arini tak pernah melakukan hal seperti ini dalam hidupnya.


"Tuan, jangan seperti ini." ucap Arini


"Gak apa-apa. Gue kan cuma minta lu nyobain sayur asem ini aja." ucap Davian


"Tapi, Tuan gak perlu nyuapin saya, saya bisa sendiri kok." ucap Arini


"Lu berlebihan banget sih cuma gitu doang juga."


"Iya-iya, Tuan. Sudah, lupakan saja." Arini tak mau memperpanjang masalah


"Gimana? Enak kan sayur asemnya? Lu bisa buat kayak gitu gak?" tanya Davian


"Bisa, dong. Lihat saja nanti, Tuan pasti suka dengan masakan saya." Arini percaya diri


"Dih, pede banget sih lu. Oke, besok lu harus masak menu sunda yang enak buat gue!"


"Tentu saja, aku akan menerima tantangan Tuan."


Aku menantikannya, Arin. Aku ingin memakan masakan yang dibuat oleh istriku. Istriku yang sangat cantik. Apa salah jika aku menganggap mu sebagai istriku yang sesungguhnya? Apa aku sudah gila, Arini? Batin Davian.


Tiba-tiba, Arini membuyarkan pikiran Davian. Arini teringat akan sesuatu yang membutuhkan izin dari Davian.

__ADS_1


"Tuan?"


"Eh, iya. Apa?" Davian sedikit kaget


"Apa aku boleh pergi ke suatu tempat?" tanya Arini


"Kemana?" tanya Davian.


"Aku mohon, Tuan mengizinkan aku pergi." rayu Arini.


"Ya, jawab dulu lah! Kemana?" Davian sedikit kesal


"Alif akan kemping. Aku harus menemani Alif kemping, Tuan." Arini berbohong


"Alif kan baru kelas dua SD, masa dia kemping?" Davian keheranan


"Eh, i-itu kan memang suruhan gurunya, Tuan. Anak kecil seperti Alif, harus belajar mandiri dan mengenal lingkungan." Arini ngeles lagi


"Lu gak bohong?" tanya Davian


"Ng-nggak, Tuan! Saya tak mungkin berbohong pada Tuan. Kumohon, izinkan saya pergi."


"Kapan? Dimana?"


"Sabtu depan, di taman lindung, Tuan." jawab Arini


"Jadi, pada malam itu, lu gak akan ada di rumah?"


"Iya, Tuan. Hanya sampai hari minggu kok. Boleh ya?" Arini membujuk Davian


"NGGAK."


"Kok gitu sih? Cuma sekali ini, saja! Please, izinkan saya pergi, Tuan. Saya akan menuruti permintaan Tuan, apapun. Asalkan Tuan mengizinkan saya pergi." ucap Arini


"Apapun?" Davian memicingkan matanya


"Iya, Tuan. Apapun!"


"Kalo gitu, lu harus cium gue. Sekarang juga!"


"HAHHHH? GAK MUNGKIN, TUAN!!!!"


"Lakukan, atau gue gak akan izinin lu pergi."


"Tuan, kenapa permintaanmu aneh sekali? Aku tak mungkin mencium Tuan lagi."


"Terserah padamu, aku hanya memberi pilihan. Lakukan, atau tidak pergi."


"Ya Tuhan, kenapa Tuan Davian sangat menyebalkan? Ingin rasanya aku gigit tangannya sekarang juga." umpat Arini


"Lu jangan munafik deh, kemarin aja lu nyosor-nyosor kan, pengen nyium gue." Davian terkekeh


"TUAN!!!!!!!"

__ADS_1


*bersambung*


Sayang-sayangku, jangan lupa LIKE dan KOMENTARNYA ya🤗💋💋


__ADS_2