
1 bulan kemudian.
Rangga baru saja tiba di Indonesia. Ia telah mengurus urusan bisnisnya di Swiss selama satu minggu. Untungnya, Rangga bisa pulang cepat karena sekretarisnya yang menghandle semua pekerjaannya. Rangga sangat merindukan Tira dan Keyza, karena Tira tak mau ikut ke Swiss.
Supir keluarga Raharsya sudah menunggu Rangga di depan pintu utama. Ia segera masuk kedalam mobil berharap akan bisa segera sampai ke rumahnya. Rangga tidak menghubungi Tira kalau ia hari ini sudah pulang, Rangga ingin memberikan kejutan pada Tira dan Keyza.
"Pak Udin, nanti bawa aja mobilnya, saya gak akan pakai mobil ini, di apartemen ada mobil kok." ucap Rangga.
"Oh, baik Den. Bapak kira Den Rangga gak ada mobil, makanya Bapak bawa mob den Rangga." jawab Pak Udin.
Rangga memejamkan matanya, berharap akan segera sampai di rumahnya. Ia sudah sangat merindukan Keyza dan Tira. Setengah jam kemudian, Rangga telah sampai di apartemennya. Ia pamit pada Pak Udin dan segera bergegas masuk naik lift.
Bel apartemen dibunyikan oleh Rangga. Tak lama, pintu apartemen pun dibuka. Ternyata, yang membuka pintunya itu Keyza. Keyza sangat kaget melihat Rangga berada di hadapannya, gadis kecil itu tak menyangka jika sang Ayah sudah pulang.
"Ayah! Kenapa sudah pulang? Yeay, Ayah sudah pulang!" Keyza langsung menghamburkan pelukannya pada Rangga.
"Iya sayang, Ayah mau kasih surprise sama Keyza dan juga sama Bunda. Bunda mana sayang?" tanya Rangga.
"Bunda masih tidur, Ayah ..." jawab Keyza.
"Ha? Masih tidur? Ini jam berapa, Key!" Rangga melihat jam tangannya.
"Gak tahu, udah beberapa hari ini Bunda bangun siang terus, rumah juga gak djberesin." jelas Keyza.
"Ya ampun, serius kamu Key? Apa Bunda sakit? Ayo, kita segera masuk!" ajak Rangga.
Betapa kagetnya Rangga ketika ia melihat isi rumahnya, sangat berantakan dan benar-benar tak terurus. Ia kaget, kenapa rumahnya bisa seberantakan ini. Padahal, Tira adalah wanita yang rajin dan giat bersih-bersih. Rangga jadi khawatir, mungkinkah Tira sakit?
"Key, sejak kapan Bunda ngebiarin rumah berantakan?" tanya Rangga.
"Baru tiga harian Ayah, gak tahu kenapa Bunda sukanya rebahan aja sama nonton televisi." jawab Keyza.
"Apa Bunda sakit?" tanya Rangga.
__ADS_1
"Enggak kok, Bunda gak sakit, semalem aja maen game di handphone Bunda bareng sama Key," tambah Keyza.
Rasa penasaran menghantui pikiran Rangga. Mungkinkah sebenarnya sifat Tira itu seperti ini? Apalagi, kemarin-kemarin Rangga tak ada, jadi bebas saja bagi Tira untuk membuat rumahnya berantakan seperti kapal pecah. Rangga segera memasuki kamarnya, dan Keyza diminta untuk menunggu di ruang keluarga.
"Sayang, bangun ... Ini udah siang," ucap Rangga mengelus rambut Tira.
Tira menggeliat, ia tak mengindahkan ucapan Rangga, ia masih belum menyadari bahwa suaminya membangunkannya.
"Sayang, ini udah hampir jam sepuluh. Masa kamu masih tidur sih? Kamu sakit?" tanya Rangga lagi
"Mmmhhhh, hoaaaam," Tira menggeliat dan menguap.
Tira baru menyadari, bahwa ada tangan yang mengusap rambutnya. Tira segera membuka matanya pelan-pelan. Tira terperanjat, ia sangat kaget melihat Rangga berada di sampingnya.Tira segera bangun dan terduduk, ia tak menyangka Rangga bisa ada di depannya.
"Ya ampun! Abang, kapan pulang? Kok udah ada di rumah." Tira kaget.
"Aku sengaja mau buat surprise untuk kamu. Tapi ternyata, malah kamu yang buat surprise untuk aku!" Rangga tersenyum.
"Bobo yuk, aku masih ngantuk!" ujar Tira.
"Tapi aku males ngapa-ngapain, aku mau tiduran. Kalo kamu gak mau, ya udah aku mau tidur lagi aja!" ujar Tira.
Loh, kenapa dengan Tira? Menyebalkan sekali. Suami baru pulang, bukan disuguhi sarapan, malah diajak tidur lagi. Disuruh ada pembantu di rumah, dia gak mau terus. Tapi sekarang, dia gak bisa rawat rumah dan rawat suami. Kenapa sekarang Tira berubah tak seperti biasanya? Batin Rangga.
"Sayang, mending kita beresin rumah yuk! Rumah berantakan loh, nanti aku bantuin beresin." ajak Rangga.
"Nanti aja deh Bang, entar aku beresin, aku masih ngantuk. Nanti ya, siangan dikit aku beresin!" Tira menarik selimutnya kembali.
"Sayang, sebenarnya kamu sakit gak sih?" tanya Rangga.
"Enggak kok, Mas. Aku baik-baik aja." ujar Tira.
"Ah, ya sudahlah kalau kamu maunya tidur!" Rangga sedikit kesal.
__ADS_1
Ia keluar dari kamarnya. Rangga kecewa pada sikap Tira yang menyebalkan seperti itu. Rangga memang lelah karena telah melakukan perjalanan jauh, tapi ia juga tak bisa membiarkan rumah seperti kapal pecah. Ia bergegas membersihkan rumah yang berantakan. Membawa piring-piring kotor sisa untuk segera dicuci.
Rangga melakukannya dengan sepenuh hati, karena ia tak mungkin membiarkan rumah berantakan tak berwujud seperti ini. Rangga kemudian mencuci piring. Banyak sekali piring kotor, entah sudah berapa hari Tira tak mencuci piring. Meskipun lelah, Rangga tetap membersihkan rumahnya sampai bersih.
Satu jam kemudian, Rangga telah selesai membersihkan semua rumahnya. Kini, rumahnya telah bersih kembali. Rasa kesal itu masih memenuhi dadanya. Rangga segera merebahkan tubuhnya di sofa, saking lelahnya. Keyza yang melihat Rangga kelelahan, hanya tersenyum senang dan menertawakannya.
Entah apa yang terjadi pada Tira, yang jelas Tira akhir-akhir ini sangat taj berselera untuk bersih-bersih dan membersihkan rumah. Biasanya, jam segini Keyza sudah selesai mandi dan rapi, tapi sekarang Keyza belum mandi, dan masih mengenakan pakaian tidurnya.
"Ayah, bantuin aku mandi." pinta Keyza.
"Ya ampun, Tira kenapa sih? Kok anak dibiarin belum mandi seperti ini? Sepertinya Bunda kamu gak sakit, tapi entah kenapa kamu malah dibiarkan begini. Ayo, Ayah ajak kamu mandi sayang." ajak Rangga.
Rangga sudah sangat kesal pada sang istri. Rangga akan bicara serius pada Tira setelah selesai memandikan Keyza. Rangga harus mengutarakan kekesalannya dan membuat Tira menjawab apa penyebab dirinya jadi malas seperti itu
Setelah Keyza selesai mandi, Rangga masuk lagi kedalam kamarnya, dan berharap bahwa Tira sudah bangun. Ternyata, Tira memang sudah bangun, namun ia malah sedang memainkan ponselnya dan menyender pada dipan ranjang.
"Sayang, aku harus bicara!" tegas Rangga.
"Bicara apa, sayang?" jawabnya.
"Kita gunakan jasa pembantu saja. Aku ingin di rumah ini ada pembantu!" tegas Rangga.
"Pake pembantu itu ribet, Bang. Aku juga mampu kok bersihin rumah ini sendiri. Gak usah deh yaa," rayu Tira.
"Kamu mampu? Buktinya mana? Kamu bersihin rumah gak? Jam segini kamu malah masih tiduran, harusnya kan kamu udah bersihin rumah sayang. Kalo kamu keberatan, aku bakal sediain pembantu di rumah ini. Daripada kamu capek, ujung-ujungnya rumah gak di bersihin " Rangga sedikit emosi.
Tira tak menjawab ucapan Rangga. Tira menangis, air matanya tak bisa ditahan lagi. Tira menangis sesegukan membuat Rangga kaget dan tak percaya. Sepertinya, hati Tira sedang melow saat ini. Mudah sekali menangis, dan itu membuat Rangga tak nyaman.
"Loh, loh, sayang? Kok kamu nangis sih Ra? Kamu kenapa? Sayang, maafin aku ya?" Rangga merasa bersalah.
"Kamu jahat, Bang! Aku dimarah-marahin sama kamu. Aku sakit hati, kamu tega banget sih giniin aku. Aku jadi merasa kayak wanita yang gak ada gunanya!" Tira masih menangis.
Aneh sekali, ada apa dengan Tira? Kenapa kebiasaannya berubah seperti ini? Ku tahu, Tira sangat rajin dan giat, Tira juga tak mudah menangis. Tapi, kenapa sekarang tiba-tiba Tira jadi cengeng dan menangis seperti ini? Apa Tira sedang mengerjai aku? Batin Rangga yang masih tak mengerti dengan perubahan yang Tira alami.
__ADS_1
*Bersambung*