
"Halo, Rin. Dimana?" tanya Davian
"Aku di rumah Nadya. Rumahnya dekat rumah Ibuku. Ada apa?"
"Baiklah, aku akan menjemputmu. Aku tunggu di rumah Ibumu nanti."
"Kenapa tiba-tiba sekali?" tanya Arini
"Aku harus bicara padamu." ucap Davian
"Baiklah."
Davian segera melajukan mobilnya menuju rumah Arini. Davian tak enak hati jika tak jujur pada Arini. Davian harus mengatakan semua tentang Tasya. Hati Davian tak tenang karena dirinya berbohong pada Arini.
Davian sengaja pulang lebih dulu, karena ia benar-benar merindukan Arini. Ia sudah membereskan semua pekerjaannya demi menjemput istrinya.
Davian telah sampai di rumah keluarga Arini. Ia menunggu Arini, dan tak lama, Arini pun tiba di rumahnya.
"Ada apa, Mas?" tanya Arini
"Aku merindukanmu." bisik Davian ditelinga Arinu
"Bohong banget deh." ucap Arini
"Aku nggak bohong, sayang. Ngapain aku jauh-jauh jemput kamu, padahal belum waktuku untuk pulang."
"Ada apa sih Mas?"
"Pulang sekarang ya? Pamit dulu sama Ibu." Davian mendadak aneh
"Baik, ayo kita pulang."
Davian bingung. Ia benar-benar merasa ada yang mengganjal dihatinya kalau ia tak bicara pada Arini. Davian tak mau membohongi Arini. Tapi, Davian takut Arini akan marah dan kecewa padanya.
"Ada apa sih?" ucap Arini sambil memakai seat belt di pinggangnya
"Aku mau jujur sama kamu!"
"Tentang?" tanya Arini
"Tasya bekerja lagi di perusahaan." ucap Davian sambil mengemudi
"Oh ya?"
"Maaf, aku tak bisa menolaknya." ucap Davian
"Biarkan saja dia." ucap Arini
"Kamu gak marah, Rin?" tanya Arini
"Aku tak marah, ada hal yang harus aku selesaikan." ucap Arini tiba-tiba
"Apa itu?"
"Aku mau tanya, Meliza itu siapa?" tanya Arini
"Dia istrinya Arkan. Kamu kenal Meliza?" tanya Davian lagi
"Benarkan, kalau dia itu istrinya Arkan?"
"Benar, kamu tahu darimana?" tanya Davian
"Mas, apa boleh aku meminta dua bodyguard untuk menemaniku?" pinta Arini tiba-tiba
"Kenapa kamu mendadak ingin bodyguard?"
"Boleh atau tidak?" tanya Arini lagi
"Tentu saja, boleh. Tapi, kenapa tiba-tiba? Kenapa kamu juga mengenal Meliza?" Davian tak mengerti
__ADS_1
"Kamu cari tahu saja tentang Tasya dan Arkan. Sepertinya, semua ini ada hubungannya dengan Meliza yang mendekatiku." Arini menerka-nerka
"MELIZA? MENDEKATIMU? Berani sekali wanita ****** itu." umpat Davian
"Aku merasa ada yang aneh, ketika Meliza mendekatiku dan menginginkan aku menjadi anggotanya. Aku pura-pura tak tahu, dia siapa, namun dia juga begitu, dia malah bilang cuma perasaanku saja, dia juga tak mengenalku. Bohong sekali kan kalau dia tak mengenalku?"
"Sepertinya ada hal yang aku lupakan. Aku harus mengerahkan sekretaris Dika dan anak buahnya. Dia harus menyelidiki semua ini." ucap Davian.
"Aku rasanya mulai tak sanggup mendampingi mu, Mas." ucap Arini tiba-tiba
"Kenapa kamu berkata begitu?" Davian tak suka
"Hidupmu sangat rumit. Banyak persaingan dan membuat aku takut." ujar Arini
"Kenapa harus takut? Ada aku di sampingmu, aku takkan membuatmu terluka, percayalah padaku." ucap Davian meyakinkan
"Kamu memang takkan melukai aku, tapi orang-orang di sekitarmu? Sepertinya mereka sanggup melukaiku."
"Akan ku bunuh mereka jika berani menyentuhmu." ucap Davian tegas
"Mas, rasanya kita mulai di goncang masalah. Aku tak mau terseret dalam masalahmu. Aku tak tahu apa-apa. Tapi, aku pun curiga dengan maksud dan tujuan mereka mendekatiku." ucap Arini
"Ini tugas sekretaris Dika, kamu tak perlu khawatir. Dia dan anak buahnya bisa dengan cepat menyelesaikan masalah ini." perintah Davian
"Semoga aja, aku percaya padamu, Mas." ucap Davian
***
Malam hari di kamar Arini dan Davian.
Arini sedang membaca novel kesayangannya, tiba-tiba Davian duduk di ranjangnya setelah selesai menelepon.
"Siapa, Mas?" tanya Arini
"Eh, itu rekan kerja, sayang." jawab Davian berbohong
Davian mendekati Arini. Ia duduk di ranjangnya bersama Arini.
"Apa Mas?" Arini menggeser duduknya
"Kenapa sensitif banget? Aku cuma pengen tiduran di ranjang ku sendiri." jawab Davian
"Nggak, biasanya kamu ada maunya kalo udah deket-deketin gini." timpal Arini
"Memang, aku selalu mau kamu, sayang!" jawab Davian gombal
"Hahaha, emangnya aku makanan, main mau-mau aja." jawab Arini
"Kamu itu lezat, buat aku ketagihan lagi dan lagi tau nggak!" Davian terlihat mupeng
"Aish, apaan sih Mas. Aku lagi serius baca novel. Jangan ganggu!" jawab Arini
"Kapan beresnya sih Rin?" tanya Davian dengan wajah kesal
"Masih lama lah, Mas. Ini aja baru halaman ke 34, total semua halamannya 300 lebih."
"Banyak banget sih!!! Itu pasti gak akan selesai semalam." keluh Davian
“Ya tentu saja, Mas. Mungkin seminggu baru beres kalau aku terus membacanya." ujar Arini
"Bisa gak kalau kamu membaca diriku aja?" tanya Davian
"HAH? Maksud Mas apa sih?" tanya Davian tak mengerti
"Baca hatiku, kamu pasti tahu, apa yang diinginkan hatiku. Sini bukunya!"
Davian mengambil novel yang berada ditangan Arini. Davian membenarkan posisi Arini hingga tubuhnya dan tubuh Arini saling berhadapan. Mereka masih duduk di ranjang, namun posisinya semakin dekat.
"Apaan sih Mas?" Arini tak mengerti
__ADS_1
Davian menempelkan tangan Arini di dada bidang milik Davian. Davian mengusap-usap Dadanya dengan tangan Arini.
"Coba, kamu rasakan sensasi dan getarannya." ucap Davian
"Apaan sih? Gak jelas banget jadi orang!" Arini menggerutu
"Apa kamu merasa jantungku berdetak lebih cepat?" tanya Davian
"Nggak, biasa aja. Dada mu berdetak layaknya orang biasa. Nggak ada yang aneh." jawab Arini
"Oh ya? Tapi, aku merasa dadaku gedebak gedebug sangat kencang sekali sayang!" ucap Davian
"Gombal kamu, Mas!"
"Sini, biar ku pegang dada mu. Apakah kamu juga merasakan hal yang sama denganku? Atau malah sebaliknya?" Davian mulai beraksi lagi
Davian akan memegang dada Arini lagi. Dengan tangkas, Arini menepis tangan Davian yang akan memegang dadanya. Bukan tanpa alasan, Davian akan memegang dada Arini, pasti akan mengenai buah dadanya. Itulah yang Arini tak mau, karena jika Davian memegang buah dada Arini, hasrat terpendam Arini muncul begitu saja. Arini tak bisa mengontrol dirinya.
"Mas, jangan memegang payud*ra ku!!!" ucap Arini marah
"Kamu gimana sih? Aku hanya akan memegang dada mu, ingin tahu seberapa gugupnya kamu ketika berdekatan denganku!" jawab Davian
"Bukan seperti itu kenyataannya!"
"Maksudmu?" Davian tak mengerti
"Yang akan merespon malah payud*raku! Mas Davian emang gatel deh!!" Arini kesal
"Loh, kok kamu jadi nyalahin aku sih? Kalau kamu yang terangsang, kenapa malah aku yang disalahin?" Davian mencari-cari kesalahan Arini
"Aku nggak nyalahin Mas, aku cuma gak suka aja cara Mas megang-megang area sensitif di tubuhku!" timpal Arini
"Kan aku sudah bilang, aku hanya akan memegang dada mu Arini. Bukan bola duniamu. Gimana sih kamu?" Davian menjelaskan
"Kamu tuh emang nggak ngerti apa sengaja pura-pura nggak ngerti sih?" tanya Arini
"Aku gak ngerti Arini. Apa maksudmu?"
"Masa harus aku jelasin lagi?" Arini mengeluh
"Jelasin dong! Biar aku ngerti." jawab Davian
Arini cemberut. Davian benar-benar menguji emosinya. Ia benar-benar tak habis pikir. Apa Davian ini memang polos, atau pura-pura polos sih?
"Mas, dengar ya! Kalau Mas pegang dada aku, otomatis payud*ra aku juga kepegang sama tangan Mas."
"Kok bisa? Davian mulai geli
"Malah nanya lagi." Arini cemberut
"Karena payud*ramu itu besar ya Rin? Jadi dada mu terhimpit oleh kebesaran bola duniamu itu."
"ITU TAHU! KENAPA PURA-PURA GAK TAHU?" Arini mendengus kesal
"Aku sengaja isengin kamu, karena kelemahan kamu itu ada pada dada mu. Kalau aku memegang dada mu, lalu payud*ra mu kepegang, bukan salahku dong Rin? Justru itu adalah rezeki bagiku." Davian cengengesan
"Aaarrrgghhhh Mas Davian!" Arini menimpuk Davian dengan novel yang tadi ia baca
"Aww, awww, ampun Baby! Aku becanda. Maaf! Lagian, aku juga bisa menikmatinya setiap malam kan? Bukan begitu?" tanya Davian
"Jangan harap ya, aku udah kesel sama Mas!!!"
"Arini, aku bisa mati gaya malam ini."
"Itu urusanmu. Aku sih, ora urus!"
Arini berjalan menuju meja riasnya, dan memakai beberapa cream malam untuk memanjakan wajahnya.
*Bersambung*
__ADS_1