
SATU MINGGU KEMUDIAN
Davian sangat sibuk, sudah 80% bukti-bukti telah ia pegang. Kini, Davian akan mengelabui Arkan lagi, untuk menyelamatkan Tasya. Davian sudsh mempunyai ide untuk menyelamatkan Tasya.
Siang ini, Davian menghubungi Arkan. Davian akan menolong Tasya dan bernegosiasi dengan Arkan. Arkan menyetujui permintaan Davian untuk bertemu dengannya. Arkan meminta Davian untuk menuju markas Arkan.
Sekretaris Dika telah meminta Detektif Jo untuk memantau suara Arkan CS melalui alat yang dipasang di sekitar markas. Agar jika terjadi sesuatu atau hal-hal yang tak diinginkan, Davian dan sekretaris Dika bisa mengantisipasinya.
Davian masuk kedalam markas dengan gagah, tak sedikitpun Davian terlihat takut. Davian tetap berani dan berjalan menuju markas tempat Arkan dan anak buahnya tinggal.
"Mana Tasya?" tanya Davian pada Arkan yang sedang duduk di kursinya
"Davian, oh Davian. Mau ngapain lo ambil Tasya? Apa lo akan kembali pada wanita jal*ng ini, setelah lo ditinggalkan oleh pembantu itu, iya?" ucap Arkan
"Tentu saja. Kalian hanya menjadikannya boneka s*ks kalian. Apa kalian tak punya rasa kasihan padanya? Arkan, gue minta lepasin Tasya! Jangan lo siksa dia terus. Gue udah nyerahin perusahaan ketika nanti lo akan bertemu dengan investor asing, sekarang gue mohon, lo serahin Tasya sama gue." ucap Davian
"Aldric keberatan jika lo mengambil Tasya. Bukankah lo udah buang Tasya? Kenapa sekarang malah lo ambil lagi barang yang udah lo buang?" tanya Arkan
"Gue gak tega, kalau Tasya dipermainkan seperti itu oleh kalian." ucap Davian
"Aldric tertarik pada Tasya, tak semudah itu gue melepaskannya." ucap Arkan
"Kalau anak buah lo tertarik sama Tasya, nikahi Tasya! Bukan malah mempermainkannya! Arkan, gue tahu, lo juga pernah make Tasya kan? Ngaku lo! Kalo lo gak lepasin Tasya, gue akan kasih tahu Meliza, kalo lo pernah nidurin Tasya!" ancam Davian
"Brengs*k lo! Sialan, jangan asal nuduh gue! Maksud lo apa fitnah-fitnah gue kayak gini hah? Lo pengen rumah tanggu gue hancur kayak lo, gitu?" Arkan berapi-api
"Kalo lo gak merasa melakukan itu pada Tasya, kembalikan Tasya. Biar gue yang urus Tasya! Kalian semu benar-benar biad*b!" Davian emosi
Arkan sedikit heran, kenapa Davian bisa tahu bahwa dirinya pernah menyetubuhi Tasya. Davian benar-benar menuntut Arkan agar dengan cepat menyerahkan Tasya.
Tak lama, Aldric keluar membawa Tasya yang terlihat sangat menyedihkan. Tasya terlihat menangis, ketika melihat Davian. Aldric menatap Davian dengan penuh kebencian.
Aldric mendekati Arkan. Aldric membisikkan sesuatu ke telinga Arkan. Arkan terlihat menganggukkan kepalanya pertanda setuju. Arkan menatap Davian, kemudian berkata,
"Bawalah wanita bekas itu! Kita sudah tak membutuhkannya lagi. Biarkan saja Davian memungut sampahnya yang telah ia buang! Hahahaha." Arkan dan Aldric tertawa puas
"Dasar bajing*n! Ayo Sya, kita pergi dari sini. Dik, bantu dia berjalan." perintah Davian
__ADS_1
"Siap, Bos."
"Hey, Davian! Sekarang lu masih bisa memerintah dan mengancam gue, sebentar lagi, perusahaan raksasa milik lo akan jadi milik gue. Tunggu saja, nanti gue yang akan menguasai semuanya." bentak Arkan
"Terserah, gue udah gak peduli sama perusahaan.
Gue akan melepaskannya, daripada harus bersiteru sama lo!" ucap Davian
Davian pergi meninggalkan Arkan dan Aldric di markasnya itu. Kini, Davian telah menyelamatkan Tasya, Davian akan membawa Tasya menuju tempat yang aman.
Didalam mobil, Tasya hanya diam tak bergeming. Davian tak ingin mengajak Tasya berbicara. Davian tahu, kalau Tasya benar-benar shock dan trauma.
"Kita kemana, Bos?" tanya sekretaris Dika
"Ke hotel keluarga gue aja. Sembunyikan Tasya." jawab Davian
"Baik."
Sekretaris Dika segera melajukan mobilnya dengan cepat. Ia pun kasihan melihat Tasya, sepertinya ia lapar dan kelelahan. Entah apa yang telah di perbuat oleh Arkan dan Aldric pada Tasya, sehingga Tasya bisa terlihat sangat menyedihkan seperti ini.
Sesampainya di hotel, Davian mengenakan topi dan masker agar tak ketahuan oleh karyawannya. Sekretaris Dika telah memesan kamar VIP untuk Tasya agar bisa beristirahat.
Davian dan Tasya duduk di sofa hotel. Sementara itu, sekretaris Dika mengambil makanan dari restoran yang ada di hotel ini, ia sengaja mengambilnya sendiri, agar pelayan tak tahu, bahwa ada Davian disini.
"Ceritakan lah, Sya. Apa yang mereka lakukan padamu?" tanya Davian
Tasya tak menjawab, Tasya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menangis. Hati Tasya berkecamuk. Ia memilih lebih baik mati saja, daripada harus terus-menerus disiksa oleh Aldric.
"Sya, cerita padaku. Jangan biarkan dirimu terluka seperti ini. Aku siap mendengarkan ceritamu." ucap Davian
Tasya menangis. Tasya tiba-tiba memeluk Davian. Tasya refleks melakukannya, ia benar-benar butuh sandaran untuk menenangkan hatinya. Davian kaget, Tasya malah memeluknya.Namun, Davian tahu, Tasya sangat terpuruk saat ini. Perlahan-lahan, Tasya melepaskan pelukannya, karena Tasya sadar, Davian terganggu dengan pelukan itu.
"Maaf, aku lancang." Tasya masih sesegukan
"Tak apa, Sya. Ceritakan lah padaku." ucap Davian
"Aldric sepertinya memang menyukaiku, *** Aldric tak ingin menikahi ku. Ia hanya ingin mempermainkan aku. Aku telah hina di matanya. Aku terus dipakai olehnya, sampai aku tak bisa bernafas. Diriku ini benar-benar kotor, Dav. Setiap anak buah aldric berhasil mendapatkna sesuatu, mereka menyerahkan aku pada anak buahnya, sebagai ucapan terima kasih. Sudah beberapa pria yang menjamah ku, namun yang paling sering adalah Aldric sendiri. Aku benar-benar ingin mati saja, Dav. Aku tak mau melanjutkan hidupku, apalagi kedua orang tuaku tak bisa berbuat apa-apa. Mereka juga seperti telah membuang ku." ucap Tasya
__ADS_1
"Apa Arkan juga pernah menyetubuhi mu?" tanya Davian serius
Tasya tak menjawab. Tasya bingung, karena Tasya tahu, bahwa Arkan adalah saudara Davian. Tak mungkin Tasya memberi tahu Davian, bisa-bisa semua keluarganya tahu, bahwa Tasya adalah wanita yang pernah ditiduri oleh Arkan.
"Jawab saja, tak perlu takut." ucap Davian
"A-aku, aku takut, Dav."
"Tak perlu takut, aku takkan melaporkan kamu, aku akan melindungi mu."
"Di-dia, dia pernah sekali menyetubuhiku Dav!"
Tasya menangis lagi, mengingat betapa kejamnya Arkan dan Aldric padanya. Davian tak bisa tinggal diam, Davian harus segera menempatkan Tasya di tempat yang aman.
"Sya, sepertinya kamu harus ikut denganku. Kamu akan tenang jika di sana. Ayo, kita pergi. Tuh, sekretaris Dika sudah datang. Silahkan makan dulu. Setelah itu kita pergi ke tempat yang menurutku aman." jelas Davian
"Kemana, Dav?"
"Gak perlu tahu, nanti juga tahu." balas Davian
"Baiklah."
***
Arkan dan Aldric terlihat duduk bersama. Aldric memberi tahu sesuatu yang membuat Arkan tercengang.
"Aku merasa, sepertinya Davian menyembunyikan sesuatu, Bos." ucap Aldric tiba-tiba
"Sesuatu apa maksudmu?" tanya Arkan
"Tunggu saja nanti, aku telah memasukan alat penyadap suara di tasnya Tasya. Sebentar lagi, mereka akan pergi ke suatu tempat. Aku akan tetap mendengarkan apa yang mereka bicarakan." jelas Aldric
"Benarkah? Aku tak memikirkan ke sana. Aku terlalu gugup. Kamu memang pintar, Dric." jawab Arkan.
"Tentu saja, Bos. Aku akan mengetahui bahwa sebentar lagi mereka akan pergi. Namun, sudah hampir 2 jam tak terdengar suara apapun lagi. Apa mereka telah mengetahui bahwa tasnya Tasya memiliki alat penyadap suara? Bagaimana kalau mereka mengetahuinya Bos?" tanya Aldric
"Kita tunggu saja dulu, apakah ada perkembangan dari alat suara itu. Kita tetap perhatikan gerak-gerik Davian, aku pun merasa, ada yang aneh dalam diri Davian, yang membuat aku tak mengerti kenapa dengan mudahnya Davian memberikan perusahaannya padaku."
__ADS_1
*Bersambung*