Terjerat Cinta Sang Pembantu

Terjerat Cinta Sang Pembantu
Cari bukti.


__ADS_3

Selesai sudah Arini membeli segala perlengkapan untuk kepergiannya besok. Davian mengajak Arini menuju ke toko berlian. Davian hari ini benar-benar menjadi laki-laki yang sangat romantis.


"Sayang, kamu suka yang mana?" tanya Davian


"Mas, tak perlu repot-repot. Aku kan sudah pakai cincin kawin yang Mas berikan."


"Kalau kamu gak mau cincin, kamu beli gelang dan kalungnya saja."


"Mas, ini sudah cukup kok. Tak perlu berlebihan." jawab Arini


"Aku tak akan jatuh miskin jika hanya membelikan mu barang-barang seperti ini. Kamu gak tau apa, kekayaan aku itu sebanyak apa?"


"Iya, iya. Aku tahu kok! Mas itu orang kaya. Gak perlu diperjelas." jawab Arini


"Kekayaanku itu tak terhitung banyaknya. Jadi, kamu foya-foya saja, Rin. Tak perlu memikirkan uangku akan habis atau kamu tak enak padaku, karena melakukan pemborosan. Kamu tenang saja, aku bekerja agar kamu bisa menghabiskan uang-uangku. Bukan begitu?"


"IYA, IYA, MAS DAVIAN!"


"Kamu sensitif banget sih? Udah, pilih aja liontin yang kamu mau."


"Aku bingung. Gak bisa milihnya, semuanya bagus Mas. Mas aja yang pilih, mana yang menurut Mas Davi bagus untukku." ucap Arini


"Baiklah kalau begitu. Aku memang lelaki tampan yang berselera tinggi, pilihanku pasti sangat bagus, kamu tunggu disini ya." Davian beranjak memilih liontin


Ampun deh, Mas Davian narsisnya. Dia itu lelaki yang over pede banget deh menurut aku! Baru kali ini nemuin laki-laki yang over pede kayak dia. Umpat Arini.


Arini melihat Davian yang sedang memilih-milih liontin. Arini sadar, kalau semua ini terjadi karena ketidaksengajaan. Ia masih tak menyangka, pernikahan sandiwara mereka malah jadi boomerang untuk mereka berdua.


Kini, pernikahan ini layaknya pernikahan sungguhan. Arini telah SAH menjadi istri Davian walaupun hanya keluarga saja yang tahu. Orang lain, rekan bisnis dan sebagainya masih belum ada yang tahu mengenai status Davian dan Arini.


"Sayang?" Davian mengagetkan lamunan Arini


"Ya, Mas?"


"Sini.." Davian mengajak Arini.


Davian mendekat, ia menyibakkan rambut panjang Arini kebelakang punggungnya. Terlihat, leher jenjang Arini yang sangat cantik dan indah. Perlahan-lahan, Davian memasangkan kalung liontin berbentuk hati dengan kerlipan mutiara-mutiara di pinggir liontinnya. Sangat cantik, pilihan Davian tak salah. Kalungnya sangat indah dengan harga yang fantastis.


Davian memakaikan kalung tersebut, Arini malu karena banyak pegawai yang melihatnya. Namun, Davian tetap saja memakaikan kalung tersebut, tanpa mempedulikan keadaan sekitar.


"Sangat cantik. Secantik dirimu." puji Davian


"Makasih, Mas." jawab Arini tersipu malu


"Saya beli kalung ini, Mbak. Berapa harganya?"

__ADS_1


"Harganya 28.xxx.xxx, Pak. Silahkan, lakukan pembayaran. Bisa secara cash maupun non cash."


"Baik, saya bayar dengan kartu ini."


Davian menyerahkan kartu saktinya pada pegawai kalung tersebut. Semua mata tertuju pada Davian dan Arini. Benar-benar pasangan yang romantis dan menakjubkan.


Arini dan Davian memutuskan untuk keluar dari Mall tersebut. Arini ingin sekali segera pulang. Karena, ia benar-benar kelelahan seharian mencari semua keperluannya.


Davian dan Arini akan makan malam di restoran, namun sekretaris Dika meneleponnya.


[Halo, Bos? Dimana?]


[Di Mall. Kenapa?"]


[Jangan terlalu lama di luar bersama, bahaya kalau Arkan tahu,]


[Iya, Dik. Lu benar. Yasudah, gue sekarang pulang. Lu dimana?]


[Baru sampai, dengan asisten wanita Nona.]


[Gimana orangnya? Pinter?]


[Menyebalkan, Bos! Tapi, gue yakin, dia bisa jagain Nona.]


[Hati-hati cinlok lu!]


[Udah, gue balik dulu!]


[Hati-hati, Bos.]


Davian tak jadi makan di restoran, karena takut tercium oleh Arkan dan keluarganya. Arini pun mengerti. Akhirnya, mereka pulang bersama-sama dan memutuskan untuk makan malam di rumah saja.


***


Kediaman Arkan.


Arkan baru tahu, kalau Davian telah bercerai. Tante Meisya baru saja sampai dan mengabari Arkan.


"Mami yakin?" tanya Arkan sedikit tak percaya


"Yakin, Arkan. Davian dan Arini bercerai. Surat cerainya pun Mami melihatnya. Sepertinya, wanita itu memang tak ingin pada Davian, sehingga dia memutuskan pergi. Dan apa kamu tahu Kan?"


"Apa Mami?" Arkan penasaran


"Davian benar-benar hancur. Davian terlihat terpuruk. Sehingga, Davian tak mau mengurusi perusahaan! Davian meminta kamu dan Meliza yang bertemu dengan relasi bisnis, investor asing kita! Itu berarti, kamu ditugaskan untuk menjadi CEO yang baru Kan! Bukankah itu berita baik untuk kita?"

__ADS_1


Arkan terdiam. Hatinya masih belum yakin sepenuhnya perihal ucapan Maminya. Arkan bingung, mengapa dengan mudahnya Davian memberikan perusahaan padanya hanya karena seorang wanita?


"Aku masih belum yakin Davian rela seperti itu." ucap Arkan


"Benar, Kan. Ini sungguhan. Davian sangat mencintai wanita itu, namun wanita itu pasti sangat ingin pergi dari Davian. Mungkin saja Davian sangat terluka, sehingga tak siap menyambut kedatangan investor asing kita." jelas Tante Meisya


Arkan masih terus berpikir. Mengapa bisa hal itu terjadi bersamaan ketika Arkan akan mencoba menghancurkan Arini? Mungkinkah Davian berbohong? Atau mungkinkah kejadian ini memang sungguhan? Pikiran Arkan bercabang kemana-mana.


"Mami, ada yang harus Arkan urus sekarang. Arkan pergi dulu."


Arkan pergi meninggalkan Ibunya yang keheranan dengan tingkahnya. Arkan segera membawa mobil mewahnya menuju kediaman Aldric. Sepertinya, Arkan harus meminta bantuan Aldric untuk mengetahui kebenaran dari ucapan Ibunya.


Tak butuh waktu lama, mobil sport itu telah terparkir di kediaman Aldric yang terlihat biasa saja bagi orang seperti Arkan. Arkan langsung memberi kode pada pelayan Aldric untuk memberinya akses masuk menuju kamar Aldric.


Arkan langsung di persilahkan masuk oleh pelayan Aldiric. Didalam kamar Aldric, terlihat Tasya yang sedang melayani Aldric. Tasya tetap menjadi budak Aldric, karena Aldric sangat suka dengan tubuh Tasya, namun dalam kamus Aldric, tak ada kata 'Menikah' dalam hidupnya.


"Wah, wah wah! Kamu memang lelaki yang perkasa Dric. Wanita ini benar-benar patuh padamu!" ucap Arkan


"Halo, Bos. Ada apa sebenarnya? Kemari lah, biar Tasya-ku yang akan melayani mu." jelas Aldric


Tasya hanya bisa terdiam. Ia hanya bisa berharap, Aldric akan mengasihaninya dan membuatnya layaknya manusia.


"Apa kau tahu, Davian dan wanitanya telah bercerai?" tanya Arkan


"What? Benarkah Bos? Kenapa mendadak sekali?"


Tasya yang mendengar ucapan Arkan langsung kaget. Apa yang terjadi dengan Davian? benak Tasya.


"Aku masih tak percaya. Tugasmu kali ini, cari bukti kebenarannya. Aku penasaran, kenapa hal ini bisa terjadi."


"Tentu saja, Bos. Anak buah ku akan mencari informasinya. Silahkan duduk, Bos. Kamu ingin minuman atau makanan apa? Biar Tasya-ku ini yang menyiapkannya." ucap Aldric


Arkan menatap Tasya dari ujung rambutnya sampai ujung kakinya. Arkan melihat bahwa Tasya adalah wanita yang cantik dan seksi.


"Aku tak ingin apa-apa. Sepertinya, aku ingin menyicipi wanita ini saja. Apa boleh?" tanya Arkan


"Tentu saja, Bos. Tapi, apa Bos tak takut pada Nona Meliza? Bagaimana kalau ia tahu?" tanya Aldric


"Istriku sudah tak menyenangkan. Dia hanya ingin uang, uang, uang. Aku tak pernah mendapatkan kenikmatan yang sesungguhnya." jawab Arkan


"Baiklah, Bos. Kalau Bos menginginkan wanita ini, pakailah dia sampai Bos merasa puas. Dia memang wanita yang menggairahkan Bos." ucap Aldric


"Tentu saja, aku akan melahap habis wanita ini. Kau beruntung Dric, bisa mendapat kenikmatan dari wanita ini." Arkan tersenyum sinis


Arkan mendekati Tasya dengan ganas. Sepertinya, Tasya akan mendapat perlakuan bejad lagi. Tasya sudah pasrah, ia tak menolak dan tak meronta-ronta. Ia sudah biasa melayani mereka. Namun, baru kali ini ia melayani Arkan.

__ADS_1


Tasya hanya berharap, akan ada orang yang membebaskannya dari jeratan iblis-iblis ini. Tasya sudah lelah, jika memilih, ia lebih baik mati saja daripada harus menerima perlakuan menjijikan seperti ini.


*Bersambung*


__ADS_2