
Rangga segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Arini memeluk Keyza. Dihari ulang tahunnya, gadis yang harusnya berbahagia karena kehadiran orang tercintanya, malah harus bersedih hati, Tapi, Keyza tetap terlihat tenang, karena baginya, Melisa tak kenapa-napa. Karena Keyza merasa, telah bertemu dengan Ibunya.
Arini tak bisa mengerti dengan apa yang terjadi, ia tetap menatap Keyza. Gadis itu tak terlihat sedih. Ia terlihat bahagia, Keyza tak sedikitpun menangis atau mengeluarkan air matanya. Arini heran, apa yang terjadi dengan Keyza.
"Key sayang, kenapa Key terlihat senang?" tanya Arini.
"Karena Mommy telah menyemangati Key." jawab Keyza.
"Benarkah? Kapan Key bertemu Mommy? Kok Aunty gak lihat Mommy Key tadi." jawab Arini.
"Tadi Mommy buru-buru. Katanya, mau kerja. Walaupun sebentar, Key senang sekali aunty, Mommy menyempatkan untuk bertemu sama Key." ucap anak polos itu.
"Key, kamu benar bertemu dengan Mommy-mu?" Arini masih tak percaya.
"Benar Onty. Bahkan, Mommy menangis dan memeluk Key. Tapi, dia bilang gak bawa apa-apa, karena mommy mendadak datangnya." jawab Keyza.
Arini kaget. Tak mungkin anak sekecil Keyza berbohong. Tak mungkin juga ia bisa berbohong menjabarkan perlakuan Ibunya padanya. Tapi, apakah mungkin itu hanya halusinasi Keyza saja? Arini percaya bajwa Keyza tak berbohong. Namun, ini benar-benar diluar nalar dan pikirannya.
Apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa Keyza bisa bertemu dengan Melisa? Sementara, Rumah sakit Melati itu jaraknya jauh dari rumahnya, dan tak mungkin dalam waktu satu jam bisa sampai di Rumah sakit. Ada apa ini? Melisa, apa yang terjadi padamu? Batin Arini.
"Key, apa Key tahu, kita mau kemana?" tanya Arini pelan.
"Bukannya kita mau ke Rumah sakit ya Onty?" tanya Keyza.
"Iya, kita mau ke Rumah sakit. Tapi, apa Key tahu, kita akan bertemu siapa?" Arini terus bertanya.
"Bukannya tadi Opah kecil bilang, akan bertemu mommy di rumah sakit? Apakah Mommy bekerja di Rumah sakit, Onty? Tadi Mommy bilang pada Key, kalau Mommy harus segera pergi, karena dia akan bekerja. Apakah Mommy menjadi Dokter di sana?" ucap Keyza polos.
Rangga dan Arini benar-benar kaget mendengar ucapan Keyza. Ternyata, anak kecil itu masih mengingat apapun yang diucapkan Ibunya. Berarti memang benar, Keyza bertemu Melisa. Walaupun ini tak bisa diterima oleh akan sehat, tapi sepertinya pertemuan itu benar terjadi.
Arini berkaca-kaca, ia tak bisa menahan air matanya yang ingin jatuh membasahi pipinya. Keyza, si anak kecil yang polos, dan tak tahu apa-apa, harus mengalami kejadian pahit seperti ini. Arini segera memeluk Keyza. Ia menangis di pelukan gadis polos itu. Hatinya ikut sakit, mendengar gadis polos itu masih berharap pada Ibunya.
"Onty, Onty kenapa nangis?" tanya Keyza.
"Rin, Arini. Fokus, kamu jangan menangis. Jangan stres, jangan banyak pikiran. Ingat, kamu sedang hamil. Jangan sampai sesuatu terjadi padamu. Aku takut Davian akan menghabisi ku. Tenanglah, Arini. Tarik nafas dalam-dalam, lalu buang perlahan." Rangga yang sedang mengemudi mencoba menenangkan Arini.
"Onty, onty gak kenapa-napa kan?" ucap Keyza.
Arini melepaskan pelukannya, ia mengusap air mata yang mengalir di pipinya.
"Enggak kok, Onty gak kenapa-napa sayang. Onty cuma mau bilang, kalau Onty sangat menyayangi Keyza. Onty mencintai Keyza, Onty gak mau kehilangan Keyza. Jangan pernah menangis, karena ada Onty yang selalu menyayangi kamu sayang. Jangan pernah bersedih, Onty akan selalu ada untuk Keyza. Pegang tangan Aunty, dan percayalah, bahwa Aunty akan menjadi Tante yang terbaik untuk Keyza." Arini masih bersedih.
__ADS_1
"Iya, Aunty sayang. Key juga sangat mencintai Aunty." Keyza tersenyum riang.
Hati Arini bagai ditusuk belati, ketika ia melihat senyuman tulus Keyza. Anak kecil yang polos dan tak berdosa itu, harus menanggung beban sebesar ini. Kalau mengingat kebelakang, betapa bencinya Davian pada Keyza, karena Keyza adalah anak Arkan, orang yang menyebabkan suaminya terluka. Tapi, kebencian Davian pada Keyza sangat tak mendasar.
Keyza tak tahu apa-apa. Keyza hanya anak kecil yang berharap kasih sayang dari kedua orang tuanya. Gadis yang hebat dan pintar, bisa melawan kesedihan yang melanda dirinya. Gadis yang kuat, tak pernah menunjukkan kesedihannya.
...***...
Arini telah mengabari Davian akan hal ini. Kali ini, Davian memakluminya. Dan karena Davian sedang meeting dengan rekan bisnisnya, ia tak bisa buru-buru menuju Rumah sakit. Davian hanya berpesan pada Arini, bahwa Arini harus menjaga dirinya baik-baik, mengingat bahwa Arini sedang hamil, dan Davian tak ingin Arini kelelahan ataupun stres.
Rangga, Arini dan Keyza segera menuju ruang ICU tempat Melisa dirawat. Di ruang ICU, sudah ada dua orang pasangan suami istri yang menunggu diluar. Kedua orang itu segera menghampiri Rangga dan Arini.
"Aden, Nona. Apa kalian adalah saudara dari Neng Melisa?" tanya Ibu paruh baya yang bernama Bu Sumi.
"Iya, Bu. Saya keluarganya. Bagaimana keadaannya? Apa kita bisa masuk kedalam?" tanya Rangga.
"Barusan teh Nona Melisa kritis, badannya benar-benar drop, sekarang dokter sedang memeriksanya, ia seperti kehabisan nafas, ia sesak, dan selalu memegangi dadanya, seperti sedang merasakan kesakitan yang teramat dalam. Tunggu sebentar lagi, mungkin Dokter akan keluar." jawab Ibu Sumi.
Arini membawa Keyza jalan-jalan disekitar koridor Rumah sakit. Ia tak mungkin membiarkan Keyza mendengar berita tentang Ibunya. Rangga terus menggali informasi mengenai Melisa, agar ia bisa menyambungkannya dengan kisah Keyza yang katanya bertemu dengan Melisa.
"Ibu yang membawa Melisa ke Rumah sakit ini?" tanya Rangga.
"Iya, Den. Ibu teh tukang bersih-bersih didekat kontrakan Neng Melisa. Pas Ibu lagi nyapu, Neng Melisa keluar dari kontrakannya, dia bawa kado ini juga, tapi dia terlihat pucat dan lemas. Ibu khawatir, gak lama, dia jatuh ke jalan, lalu memegangi dadanya yang sakit. Neng Melisa sesak nafas, nafasnya gak beraturan, gak bisa diajak berbicara sama sekali, hanya gerakan tangannya aja yang mengisyaratkan bahwa dia minta tolong. Barulah kita membawanya ke Rumah sakit, sama Bapak. karena Ibu khawatir, akan kondisinya." jelas Ibu Sumi.
"Belum atuh, Den. Neng Melisa baru keluar dari rumah kontrakannya, lalu dia terlihat menahan sakit, dia langsung terjatuh, baru aja mau berangkat, baru keluar rumah Den. Langsung saja Ibu bawa ke Rumah sakit, karena khawatir. Ditambah lagi, Neng Melisa memang sendiri tinggal disini, tak ada keluarganya." jelas Bu Sumi
Astaga, ternyata Melisa belum sempat datang ke acara ulang tahun Keyza. Bahkan, kado ini pun masih ada ditangannya. Dia akan berangkat, namun penyakitnya kambuh lagi. Melisa? Apa kamu? Astaga, jangan sampai itu terjadi. Kalau begitu, siapa yang datang menemui Keysa?Anakmu membutuhkanmu, aku harap kamu bisa sembuh. Kasihan Keyza, Mel. Dia sangat berharap penuh padamu. Batin Rangga.
Tak lama, Dokter keluar memanggil keluarga dari Melisa. Rangga segera berlari menuju pintu ruang ICU.
"Saudara keluarganya Nona Melisa?" tanya Dokter.
"Iya, Dok. Bagaimana keadaannya?" Rangga khawatir.
"Silahkan masuk, pasien menunggu keluarganya." ucap Dokter.
"Tunggu! Kami juga bagian dari keluarganya." Dari kejauhan, Arini berteriak. Ia segera memegang tangan Keyza menuju ruangan ICU. Bagaimanapun kondisinya, siap ataupun tidak siap, Keyza harus bertemu dengan Ibunya. Keyza harus mengetahui kondisi Ibunya yabg sebenarnya. Arini dan Keyza pun ikut masuk kedalam.
Melisa terbaring lemah dengan banyak alat ditubuhnya. Ia tak bisa berbuat apa-apa. Namun, Dokter telah membuka oxygen di wajah Melisa. Melisa melihat lemas kearah Keyza, anaknya. Keyza yang melihat Melisa berbaring tak berdaya di atas kasur Rumah sakit, ditambah lagi dengan banyak alat yang menempel ditubuhnya, membuat Keyza menangis sangat kencang.
Keyza paham, Mommy-nya sedang dalam kondisi sakit, karena banyak dipasang alat ditubuhnya. Wajah Melisa sangat pucat dan bibirnya menghitam. Keyza tiba-tiba mengeluarkan air matanya. Keyza sakit, hatinya sangat terluka. Ia tak mengerti, kenapa Mommy-nya bisa tiba-tiba terkapar lemah seperti ini. Keyza mendekati Mellisa, ia memberanikan diri memegang tangan Melisa.
__ADS_1
"Mommy......"
Keyza menangis. Tangannya bergetar ketika ia memegang tangan Melisa. Melisa tak menjawab ucapan Keyza. Dirinya tak mampu menjawab ucapan anaknya, ia hanya mengeluarkan air mata. Semakin terasa kesedihan di ruangan itu. Pecah tangisan Arini dan Rangga, melihat kejadian yang menyakitkan antara Ibu dan Anak.
"Momy, kenapa momy tidur seperti ini? Bukankah Momy tadi baik-baik saja, Momy......." air matanya mengalir deras, meratapi Ibunya yang tak berdaya.
Arini mengusap kepala Keyza. Sungguh menyakitkan, jika berada di posisi Keyza. Arini tak bisa membayangkan, jika hal itu menimpa dirinya. Ia sebisa mungkin mencoba tegar dan menguatkan Keyza walaupun sebenarnya sangat menyakitkan.
"Mel, sadarlah, sembuh lah demi anakmu. Ada anakmu yabg mengharap kesembuhan dirimu. Kamu harus kuat Mel, anakmu sangat menyayangimu. Kamu berhak melanjutkan hidupmu dan berbahagia bersama anakmu. Maafkan keegoisanku, yang membuat dirimu jauh dari anakmu. Aku sungguh menyesal, pernah menyembunyikan Keyza. Maafkan aku, Mel. Sungguh." ucap Rangga.
Melisa menatap Rangga, dengan nafas yang tersenggal-senggal, ia seperti ingin mengatakan sesuatu pada Rangga. Tangan Melisa melambai-lambai pada Rangga. Rangga pun mengerti, ia mendekatkan tubuhnya, pada tubuh Melisa.
"Apa, Mel? Katakan saja padaku, apa yang ingin kamu katakan.." ucap Rangga.
Dengan terbata-bata, Melisa mencoba mengutarakan apa yang ingin dia ucapkan. Walaupun terdengar tak jelas, Rangga mencoba memahaminya.
"Bang, Rangga, a-aku.. aku, maafkan aku merepotkan mu. Aku ingin kamu menjaga Keyza sepenuh hatimu, kumohon.. Ba-Bang Rangga, terima kasih, te-telah menyayangi anakku. Hanya kamu yang tulus padaku dan anakku...." Melisa sesak lagi, namun ia mencoba menguatkan dirinya.
"Mel, Melisa.. Kuatlah. Jangan biarkan dirimu seperti ini. Kumohon, bertahanlah demi anakmu, aku akan membantumu untuk sembuh seperti sedia kala." Rangga pun menitikkan air matanya.
Arini tak mampu berkata-kata. Ia hanya bisa menangis dan memeluk Keyza yang juga turut menangis melihat Melisa yang terkapar lemah.
"Momy......." hanya itu yang bisa keluar dari mulut Keyza.
"Bang Rangga, dengarkan aku.. Aku tak bisa banyak bicara, aku hanya ingin, kamu menikahlah dengan asisten-mu, dengan Tira yang merawat Keyza. Aku yakin, dia bisa membahagiakan Keyza bersamamu. Aku mohon, menikahlah dengannya, agar aku bahagia di sana melihat kalian. Sebelum aku pergi, izinkan aku mengatakan sesuatu padamu, bahwa aku mencintaimu. Aku menyayangimu sebagai laki-laki....... Aku mencintai mu, Bang. Terima kasih, telah peduli padaku..." suara itu melemah dengan serak, hingga Melisa lemas tak bergerak lagi, matanya perlahan tertutup, dan terdengar suara dari alat monitor detak jantung,
Tuuuuuuut.............
Monitor detak jantung Melisa memperlihatkan, bahwa jantungnya sudah tak berfungsi lagi. Keyza menjerit, menangis memanggil-manggil Ibunya, begitupun juga Rangga, yang kaget mendengar ucapan bahwa Melisa menyayanginya. Arini menenangkan Keyza, dan berniat membawanya pergi, namun Melisa menolak, ia tak mau pergi dari ruangan itu. Dokter segera menggunakan defibrilator pada dada Melisa, untuk memulihkan detak jantungnya, karena tiba-tiba detak jantung Melisa berhenti.
Segala upaya telah dilakukan, Dokter telah berusaha dengan keras, alat defibrilator telah berkali-kali di setrumkan pada tubuh Melisa, tapi tak ada reaksi juga. Ternyata Allah berkehendak lain, Melisa telah meninggalkan mereka semua, dan tak bisa kembali lagi. Dokter pun tak bisa membuat nyawanya kembali hidup.
"Mohon maaf, segala cara telah kami lakukan. Namun, Tuhan berkehendak lain. Nona Melisa telah berpulang pada pukul 14.28 WIB." Dokter mengumumkan kematian Melisa.
"Mommy...... Mommy...... Jangan pergi, jangan tinggalkan aku, Mommy...... Kenapa kau pergi? Mommy......" Keyza menjerit, ia menangis dengan keras, ia mengerti bahwa Ibunya telah meninggalkannya untuk selama-lamanya.
"Mel, Melisa.. Bangunlah! Katakan lagi bahwa kamu mencintai aku! Aku akan menikahi kamu, Mel. Aku akan mencintaimu, maafkan aku yang terlalu bodoh untuk mengetahui perasaanmu. Aarrghhhhhh." Rangga memegangi kepalanya, ia menyesali semuanya.
Davian telah berada didepan pintu ruang ICU. Ia melihat kejadian pilu itu. Ia membiarkan Arini menenangkan Keyza, hati Davian pun sebenarnya ikut teriris, namun ia tetap kuat melihat mereka tanpa mengeluarkan suara sepatah kata pun.
Mereka menangis, kini yang mereka anggap sampah dan benalu itu telah tiada. Seseorang akan terlihat berharga, ketika ia sudah pergi meninggalkan kita semua. Sama halnya seperti Melisa, ia dikucilkan, ia tak dianggap, bahkan ia tak ada artinya lagi, tapi setelah kepergiannya, ternyata ia juga berhak disayangi, ia juga berhak dicintai.
__ADS_1
Penyesalan tinggal penyesalan. Rangga menyesali semuanya. Ia tak bisa mengembalikan nyawa Melisa lagi. Melisa kemarin berkata, bahwa oa akan menemukan kebahagiaannya, dan inilah kebahagiaan Melisa yabg sesungguhnya. Kebahagiaan berada di alam lain. Melisa pasti bahagia di sana. Itulah kebahagiaan yang Melisa inginkan. Semoga tenang, REST IN PEACE, MELISA.
*BERSAMBUNG*