
Cafe Rivan.
Nadya telah selesai makan siang bersama Rivan. Ada satu alasan mengaa Rivan mengajak Nadya makan siang di cafenya. Pada saat itu, Rivan berhenti di minimarket Ibu Arini. Rivan masuk kedalam toko dan betapa kagetnya ia bertemu dengan Nadya, teman sekelasnya dahulu.
Riva pun senang karena tahu ini rumah Arini. Sayangnya, Arininya tak ada dan tak tinggal bersama Ibunya. Karena pertemuan itu, Nadya dan Rivan bertukar nomor telepon. Rivan mengajak Nadya untuk mengunjungi cafenya, dah ternyata hari inilah hari yang tepat untuk Nadya dan Rivan bertemu.
"Coba aja kalau ada Arini. Pasti bakalan lebih seru, Nad!" seru Rivan.
"Iya. Sayangnya dia baru melahirkan dan suaminya pasti tak mengizinkan Arini untuk pergi keluar rumah." jawab Nadya.
"Begitu ya? Terbalik dengan istriku. Baru seminggu sudah melahirkan, dia langsung pergi jalan-jalan. Katanya suntuk di rumah. Kan aneh!" Rivan geleng-geleng kepala.
"Oh iya, istrimu dimana?" tanya Nadya.
"Dia di Singapore, dia gak mau aku ajak ke Indonesia. Aku sudah mengajaknya, tapi dia tak mau ikut denganku, karena dia sibuk membuka les piano." ujar Rivan.
"Wah, hebat banget istri kamu, Van. Anakmu udah berapa tahun?" tanya Nadya.
"Anakku udah 3 tahun, Nad. Aku kan nikah muda karena di jodohkan sama Papa." jelas Rivan.
"Ooo." hanya itu yang keluar dari mulut Nadya.
Nadya sudah dua jam berada di tempat itu. Ia memutuskan untuk pulang. Namun, Rivan berjanji akan mengantarnya. Nadya menolak, tai Rivan tetap memaksa. Rivan akan membelikan Nadya beberapa makanan untuk dibawanya pulang.
Nadya mengikuti kemauan Rivan karena kapan lagi mereka bertemu kalau bukan Rivan sedang mengunjungi restorannya. Karena kini Rivan stay di Singapore bersama istri dan anaknya.
"Yok, Nad." ajak Rivan.
"Ayo, Van." Nadya mengekor dibelakang Rivan.
...πΈπΈπΈ...
Sekretaris Dika masih menyendiri didepan kolam yang tenang. Ia tak menyadari, kalau Rangga sudah ada dibelakangnya. Ya, Rangga dan Tira berkunjung ke rumah Davian untuk bermain. Rangga mendengar keluh kesah Dika dari Davian. Rangga merasa bersalah pada sekretaris Dika. Bisa dibilang, dirinya telah mengambil Tira dari hati Dika.
"Dik ..." sapa Rangga.
"Eh, iya Tuan." sekretaris Dika tersenyum.
"Mikirin apa kamu, diem sendirian gitu.." Rangga tersenyum.
"Gak apa-apa, Tuan." jawab sekretaris Dika.
Rangga tahu, tak mungkin sekretaris Dika mau terang-terangan bicara jujur padanya. Tapi, sebagai seorang laki-laki, apa salahnya saling menguatkan untuk bisa mendapatkan apa yang seharusnya kita dapatkan.
"Dik, kamu dan aku tipe orang yang saling bertolak belakang. Aku orang yang suka berbicara blak-blakan. Bahkan, aku dengan mudahnya bisa menyatakan perasaan pada Tira, saat Tira belum siap bersamaku. Itu kesalahanku, yang pernah membuat Tira ragu padaku. Karena aku terlalu cepat. Sedangkan kamu, kamu tipe orang yang sulit menyatakan perasaanmu, bukan begitu? Tapi, jika terlalu lama dan seorang wanita tak mendapat kejelasan, rasanya kamu bisa kehilangan cintamu. Kalau boleh aku ikut campur, katakan saja dulu, soal jawabannya, serahkan pada yang di atas. Mau dia punya yang baru, mau bagaimana pun, coba saja ungkapkan dulu perasaanmu. Setidaknya, itu akan melegakan hatimu, Dik." Rangga memberi saran pada sekretaris Dika.
Sekretaris Dika menatap Rangga dalam kebingungan. Dirinya sadar, bahwa ucapan Rangga memang benar adanya. Namun, ia tak punya keberanian untuk mengatakan perasaan yang ada didalam hatinya. Sesulit itukah mengungkapkan cinta yang sesungguhnya?
"Tuan Rangga, apa Bos Davi yang mengatakannya?" tebak sekretaris Dika.
"Tentu saja. Dia ingin membantumu. Tapi, kurasa aku yang bisa membantumu dari keraguan itu. Aku bisa merasakan apa yang kamu rasakan, Dik. Karena aku merasa bersalah padamu. Jadi, aku yang harus bisa menguatkan kamu agar kamu yakin untuk mendapatkan cintamu. Semoga kamu berhasil, Dik. Kurasa, lebih baik sekarang kamu temui wanita mu." tegas Rangga.
Tiba-tiba, Davian, Arini dan Tira datang menghampiri Rangga dan sekretaris Dika. Mereka semua menyoraki Dika yang sedang dirundung rasa gundah gulana.
__ADS_1
"Yaelah, baru gitu aja udah nyerah. Noh, Abang gue udah kasih wejangan kan buat lo, Dik? Cepet sana, kejar wanita lu! Biar lu sama dia ada ikatan. Setidaknya, lu ada perjuangan buat dapetin dia. Sebelum dia dekat dengan pria lain!" tegas Davian.
"Et dah. Gue gak nyerah, Bos. Gue hanya sedang merenung. You know merenung? Gue juga bakal pepet si Nadya kok!" sekretaris Dika tak mau kalah.
"Hahaha, merasa tertantang ya kamu, Dik!" Rangga tertawa.
"Nih, Dik. Aku bawain bunga buat kamu! Ini aku sama Tira yang pilihkan. Kayaknya kamu memang butuh dorongan semangat agar bisa menyatakan cinta!" Arini terkekeh.
"Aish, Nona bisa aja. Saya gak bisa begitu-begitu. Saya gak se-romantis Bos bucin." jawab sekretaris Dika.
"Eh, kurang asem lu ya! Dibaik-baikin juga!" Davian sewot.
"Ssshhtt, udah Dik. Kamu ke rumahku lagi sekarang. Yakinkan hatimu, kau kamu bisa mendapatkan wanita mu. Aku bantu doa dari sini Ayo!" ujar Arini.
Semangat, Dik! Kamu pasti bisa. Ternyata, kamu memang memiliki kelemahan. Kamu tak bisa mengungkapkan perasaanmu pada wanita. Kalau saja dulu kamu menyatakan perasaan padaku, entah akan bagaimana nasibku dengan Bang Rangga. Ternyata, memang harus begini jalannya. Kehadiran Dika di hidupku hanya memberi warna saja untuk percintaanku dengan Bang Rangga. Batin Tira.
"Semangat, Dik!" Tira turut bersuara.
"Ah, makasih, makasih. Kalian semua baik sekali," sekretaris Dika tersenyum.
"Kita baik karena elu butuh support dan semangat! Makanta, jangan sia-siakan semangat yang udah kita kasih buat lo. Dah, berangkat sana!" Davian memberikan kunci mobil mewahnya.
"Loh, Bos, kok mobil yang ini. Gak ah, malu gue. Gak pede. Mobil biasa aja!" ucap sekretaris Dika.
"Udah, ini aja. Lu kan mau nyatain cinta ke cewek lu. Kalo lu berhasil jadiin Nadya, gue kasih kunci mobil ini buat lu!" tegas Davian.
"Ngapain lu kasih gue kunci? Udah banyak kunci kali gue, punya lu semua lagi." jawab sekretaris Dika.
"Bukan kuncinya aja! Tapi, sama mobilnya. Udah sana cepet!" tegas Davian lagi.
"Ya bener lah. Itu hadiah dari gue karena lu udah mau memberanikan diri menyatakan perasaan lo." Davian tersenyum.
"Ya ampun, Bos. Kalo dikasih mobil sport gini, langsung gue ajakin nikah aja kali ya?" sekretaris Dika semangat.
"Kalo Nadya mau diajak nikah sama lu, apartemen gue yang di menteng buat elu aja, Dik!" Ujar Davian.
"Ha? Serius lu Bos?" sekretaris Dika tak percaya.
"Iya, kita udah rundingan. Elu berhak bahagia, Dik. Gue pengen lu bahagia bersama gue." tegas Davian.
"Semangat, Dik. Semoga berhasil." ucap Rangga.
"Ah, terima kasih banyak. Kalian sangat berarti. Baiklah, aku berangkat ya. Doakan aku sukses."
"Dik, bawa bunganya jangan lupa!" Arini tersenyum.
"Baik, Nona ..." sekretaris Dika mengacungkan jempolnya.
Jasa sekretaris Dika pada keluarga Davian sangatlah nyata. Karena itu, Davian ingin mewujudkan balas budinya pada sekretaris Dika. Memang, Davian sangat menyebalkan dan sering membully Dika, namun Davian sangat menyayangi sekretarisnya itu. Walaupun, Davian tak pernah secata gamblang mengucapkan rasa sayangnya tersebut.
Tira dan Rangga berjalan-jalan di sekitar kolam renang, mereka sedang memperhatikan Keyza yang sedang berenang ditemani oleh pembantu Arini.
"Sayang?" sapa Rangga.
__ADS_1
"Ya, Bang?"
"Kalo si Dika dulu nyatain perasaan ke kamu, mungkin aku gak akan bisa dapetin kamu. Untung aja, dia punya kelemahan untuk menyatakan perasaannya. Kalo enggak, mungkin kamu udah sama dia!" ujar Rangga.
"Loh, ya gak gitu dong. Aku sama dia memang dekat. Tapi, itu kedekatan karena kita udah berdamai. Awalnya kan kita bermusuhan, setelah lama-lama, kita mulai membaik. Mungkin itu perasaan yang berbeda saat kita bermusuhan. Kisahku dan Dika hanya bumbu aja, untuk melengkapi kisah kita, Abangku sayang." Tira mulai menggoda, karena Tira tahu Rangga saat ini sedang cemburu.
"Ah, meleleh aku. Sayang, apa kamu mau ikut Keyza berenang? Yuk," ajak Rangga.
"Ah, enggak mau. Aku mau nungguin aja. Abang temenin Keyza aja sana!" ucap Tira.
"Baiklah. Foto aku dan Keyza ya," Rangga membuka bajunya.
"Oke!" jawab Tira.
Davian dan Arini memutuskan untuk masuk kedalam kamar. Karena baby Callan masih di kamar dan Arini akan membawanya keluar untuk bertemu Keyza.
"Mas, kukira si Dika itu gak serius sama Nadya. Ternyata, dia hanya tak bisa menyatakan cintanya. Kok ada ya laki-laki kayak si Dika." ucap Arini.
"Ya ada. Sifat dan kepribadian seseorang itu berbeda-beda. Dika memang bodoh kalau soal wanita. Ia selalu gagal dalam percintaannya, karena dia memang tak bisa serius menyatakan cinta." tegas Davian.
"Gimana kalo nanti malah gagal? Nadya kan lagi sama Rivan juga. Takut Dika salah sangka lagi." ucap Arini.
"Emang temen kamu itu suka sama si Nadya?" tanya Davian.
"Ah, enggak kok. Rivan itu temen deket kita. Lagian, setahu aku dia dah nikah dan sekarang stay di luar negeri karena istrinya tinggal di sana." ucap Arini.
"Terus, kenapa ngajakin si Nadya ketemu kalo gak suka?"
"Ya ampun, Mas. Mungkin saja karena Nadya belum menikah. Jadi, yang diajak bertemu oleh Rivan adalah Nadya. Kalo Rivan ngajak aku, gimana coba? Apa kamu gak kebakaran jenggot?" Arini terkekeh.
"Awas aja kalo berani." ucap Davian kesal.
...πΈπΈπΈ...
Sekretaris Dika telah sampai di minimarket. Ia sengaja tak masuk ke rumah Arini, karena ia ingin langsung bertemu Nadya saja. Namun, Nadya ternyata masih belum juga kembali. Sekretaris Dika sudah berjanji pada hatinya, tak akan membiarkan Nadya lepas dalam pelukannya.
Sekian lama menunggu, tiba-tiba mobil hitam berhenti tepat di parkiran minimarket. Sekretaris Dika mengira bahwa itu adalah pelanggan minimarket. Ternyata, Nadya turun dari mobil tersebut. Sekretaris Dika kaget dan kesal, ternyata laki-laki tadi bersmaa Nadya, malah mengantarkan Nadya pulang.
Apa laki-laki itu mencoba mendekati Nadya-ku? Apa yang harus kulakukan? Aku telah disemangati oleh Bos ku. Masa aku malah menyerah begitu saja. Sepertinya, aku harus segera mengajak Nadya menikah, agar tak ada satupun orang yang mengganggu dirinya dariku! Sekretaris Dika berapi-api.
Sekretaris Dika segera menghampiri Nadya dan Rivan yang tengah berbincang bersama didepan mobil. Dika tak peduli pada laki-laki yang berada di hadapan Nadya. Ia harus membuktikan cintanya pada Nadya. Dipegangnya bunga dari belakang yang tadi Arini beri untuknya. Ia harus segera memberikannya pada Nadya.
"Nadya ..." ucapan sekretaris Dika mengagetkan Nadya.
"Pak Dika? Sejak kapan Bapak disini?" Nadya kaget.
Sekretaris Dika menundukkan tubuhnya, dan berjongkok didepan Nadya. Sekretaris Dika tersenyum,
"Nadya, ini untukmu. Aku sudah lama sekali menantikan hal ini." ucap sekretaris Dika, yang membuat Nadya dan Rivan kaget tak percaya.
"Pak Dika, ya ampun." Nadya menutup mulutnya.
Sekretaris Dika memberikan bunga cantik itu pada Nadya. Nadya dan Rivan saling lihat-lihatan. Sekretaris Dika merasa hebat karena bisa menyatakan perasaannya pada Nadya didepan laki-laki yang menurut Dika adalah saingannya.
__ADS_1
*Bersambung*
2 Episode selanjutnya akan mulai di Callandra Series ya.. Ceritanya semakin ciamik dan seru loh.. Stay terus disini ya. Jangan bosen-bosen baca cerita aku. Hehhe πππ