
1 Minggu kemudian.
Kabar duka menyelimuti keluarga Davian. Tante Meisya, telah meninggal dunia. Tante Meisya yang koma dan tak sadarkan diri, akhirnya telah menghembuskan nafas terakhirnya dinihari tadi.
Kini, jenazah Tante Meisya telah dibawa ke rumah Kakek dan Nenek Davian. Rumah tante Meisya dan Arkan telah dijual, karena mengingat rumah itu, sama halnya seperti mengingat kejahatan Arkan pada Davian.
Mendiang Tante Meisya telah selesai di bersihkan, banyak orang datang melayat dan memberikan doa terakhirnya dengan lantunan ayat-ayat suci Al-qur'an. Begitupun juga Arini dan Mama Amel, mereka sama-sama mendoakan kepergian Tante Meisya.
Arkan? Apakah Arkan tahu Ibunya meninggal? Arkan diberi tahu oleh ajudan Kakeknya, dan Arkan diperbolehkan untuk melihat jenazah Ibunya yang terakhir kalinya.
Kakek Surya tidak memperbolehkan siapapun untuk menjenguk Arkan di sel tahanan, sehingga Arkan tak tahu apa yamg telah terjadi. Arkan tak tahu istrinya kabur, Arkan juga tak tahu, Ibunya sakit hingga meninggal, dan anaknya kini dirawat oleh Arini dan Davian.
Kini, Arkan berada di perjalanan menuju rumah Kakek Surya. Pengawalan ketat dijaga oleh polisi. Selama Arkan pergi, tangannya harus di borgol, dan tubuh Arkan dipasang alat, agar ketika ia akan berontak, polisi bisa segera mengetahuinya.
Lelaki yang kini mendekam dipenjara itu mengira istri dan anak-anaknya ada di rumahnya. Entah akan bagaimana reaksi Arkan, jika dirinya tahu, bahwa anak dan istrinya tak lagi ada.
Keyza tak diperbolehkan berada di dekat jenazah Neneknya, karena Kakek Surya tak mengizinkan Arkan bertemu dengan anaknya.
"Sayang, Arkan sedang dalam perjalanan kesini. Kita harus menghindar. Akan ada polisi yang menjaga kita nanti." Bisik Davian pada Arini.
"Baiklah, Mas. Aku akan menyudahi doaku untuk mendiang Tante Meisya.
Arini menghindar, karena sebentar lagi Arkan tiba. Keluarga Davian takut, tapi mau bagaimana lagi, Arkan tetaplah anaknya, anaknya harus tahu dan harus menemui Ibunya, untuk yang terakhir kalinya.
Hingga waktu pun tiba. Arkan tiba, dengan beberapa polisi dibelakangnya. Arkan tak boleh lepas pandangan dari polisi. Polisi terus menjaga Arkan. Polisi yang menjaga Arkan tak diperkenankan memegang pistol, takut dendam dan kejadian waktu itu terulang kembali.
"Mama.. Mama.. Maafkan aku, Mama.." Arkan menangis dan bersujud di jasad Ibundanya.
Tangisnya pecah, jiwanya rapuh. Ia menyesal, ia sudah lelah untuk menyalahkan orang lain lagi. Bagaimana tidak, Arkan didakwa oleh hakim untuk dipenjara dalam kurun waktu 20th. Tapi, pengusaha-pengusaha yang mengalami kerugian atas perbuatan Arkan, meminta Arkan untuk dipenjara seumur hidup. Kakek Surya menyerahkan semuanya pada pihak pengadilan saja.
Jiwa Arkan benar-benar hancur, ia terus menangis disisi jasad Tante Meisya yang kini tinggal kenangan. Semuanya sedih, namun tak ada satupun dari keluarga Davian yang mau mendekatinya.
__ADS_1
Rangga hanya melihat peristiwa itu dari jauh. Ia sudah tak peduli pada apa yang telah terjadi. Tiba-tiba, Arkan bangkit. Arkan berdiri, ia melihat keluarganya. Ia bertanya-tanya, mengapa anak dan istrinya tak ada di samping jasad Ibunya.
"Hey kalian! Mana anak dan istriku! Kenapa istriku tak pernah lagi menjengukku? Apa kalian yang melarangnya, HAH?" Arkan membentak keras.
Davian mulai tak suka mendengar Arkan bersuara keras. Ia mendekati Arkan, dengan berani Davian melangkahkan kakinya menuju Arkan. Arini menahannya, Arini takut.
"Mas, jangan!"
"Tenang sayang, dia sudah tak bisa berbuat apa-apa lagi."
Davian meneruskan langkahnya. Ia mendekati Arkan dengan tatapan sinis.
"Apa yang kau katakan HAH? Anak dan istrimu? Apa kau lupa, Arkan?"
"Apa maksudmu, Davian? Apa kamu yang telah mencelakai anak dan istriku? DIMANA MEREKA, DAVIAN!!!" Arkan marah.
"Istrimu pergi, meninggalkan Ibu dan anakmu. Dia tahu, bahwa kamu telah meniduri wanita lain, yang tak lain adalah wanita yang kau maksudkan untuk menghancurkan aku! Istrimu kecewa, ia bahkan menelantarkan anakmu. Itulah hasil telah kau tanam! Kamu menanam keburukan, maka hasilnya pun keburukan. Padahal, untuk apalagi kau hidup Arkan! Hidupmu sudah tak ada gunanya. Kamu sudah tak berguna di dunia ini. Istrimu sudah meninggalkanmu, anakmu juga tak membutuhkanmu, bahkan Ibumu pun sudah tak bernyawa. Semua ini karena siapa? Jelas KARENA ULAH MU SENDIRI, ARKAN!" Davian berapi-api.
"Aku tak sudi menyentuh keluargamu. Mereka tak penting bagiku. Jelas-jelas, mereka pergi karena kamu! Sudah salah, masih tak tahu diri juga!" Davian kesal.
"Kemana anakku, Davian? Aku ingin bertemu dengannya, untuk yang terakhir kalinya, karena aku sadar, aku tak akan bisa lagi bertemu dengannya. Izinkan aku memeluknya, Davian. Aku mohon. Aku tak akan membuat masalah lagi, asalkan kau pertemukan aku dengan Keyza, anakku." Arkan melemah, dan memohon pada Davian.
Davian menyeringai, "Memangnya, dia mau menganggap mu sebagai Ayah? Kau harusnya berterima kasih padaku. Anakmu akan dengan siapa, jika tak ada aku? Aku dan istriku yang merawatnya! Aku akan membesarkan dia dengan kebaikan, bukan keburukan seperti yang kau lakukan! Sudah tak ada waktumu untuk bertemu dengan putrimu. Biarkan aku dan keluargaku yang mengurusnya. Hancur sudah hidupmu! Berantakan juga kan? Inilah akibat dari perbuatan mu, Arkan. Pergilah! Enyahlah kau dari kehidupan keluargaku. Kau tak pantas menjadi bagian dari keluarga ini lagi." bentar Davian.
Keluarga Davian semua terdiam. Mereka membiarkan Davian mengeluarkan semua kekesalannya pada Arkan. Davian patut membenci Arkan, karena Arkan selalu mencelakai Davian. Akhirnya, Arkan mendapat balasan yang setimpal atas perbuatan yang telah ia lakukan.
"Aku mengaku salah. Aku tak akan marah. Tapi, kumohon izinkan aku bertemu dengan anakku, Davian. Aku mohon." Arkan terus memohon.
"Waktumu sudah habis. Kamu tak bisa mengembalikan semuanya. Sudah tak ada waktu untukmu lagi, Arkan. Pergilah! Aku sudah muak melihatmu. Bawa dia pergi, Pak. Waktunya sudah habis!" perintah Davian.
"Pak Arkan, waktu anda habis. Mari, ikut kembali dengan kami. Anda harus kooperatif!"
__ADS_1
Polisi menggiring Arkan kembali. Arkan berteriak, meronta-ronta karena tak bisa bertemu dengan anaknya. Arkan menangis, air matanya mengalir, karena kerinduannya pada sang putri.
"KEYZA, Ayah merindukanmu, Nak. Dengarkan, Ayah. Nanti kita pasti akan bertemu lagi sayang. Maafkan perlakuan Ayah, maafkan Ayahmu. Ayah menyesal, Nak. Semoga kamu mendengarnya. Aku mohon, Keyza anakku.." Arkan terus memanggil nama anaknya.
Namun semuanya percuma. Keluarga Davian telah mengantisipasi hal ini. Keyza telah di amankan. Ia berada di rumah Davian bersama Tira. Keyza tak boleh lagi bertemu dengan Arkan.
Davian kembali ke tempatnya. Ia berjalan menuju Arini, sang istri. Arini tersenyum bangga. Davian tak takut sedikitpun menghadapi Arkan. Ia tetap berani melawan Arkan dengan kemampuannya.
"Mas, aku bangga padamu. Kamu berani melawannya." ucap Arini.
"Aku harus memberinya pelajaran. Ada baiknya kan? Aku memaksa Keyza tetap di rumah. Karena aku sudah tahu akan hal ini. Aku tak akan memperlihatkan Keyza pada Arkan sekarang. Biarkan gadis itu dewasa, barulah pertemukan ia dengan Ayahnya. Ketika sudah dewasa, anak itu pasti bisa bersikap. Toh, Arkan akan terus mendekam dipenjara. Ia tak akan mudah untuk keluar."
"Aku sempat berpikir negatif padamu, karena kamu terlihat tak suka sekali pada Keyza, sehingga kamu memintanya untuk tetap tinggal di rumah. Maafkan aku mengira hal yang tidak-tidak padamu, Mas." ucap Arini.
"Aku memang masih asing pada anak itu, tapi aku tak punya niatan untuk membencinya, apalagi mencelakainya. Aku hanya belum bisa menerimanya, sayang. Maafkan aku," ucap Davian sambil mengusap rambut Arini.
"Aku bisa memahami dirimu, Mas."
"Iya, sayang. Terima kasih."
***
Jenazah Tante Meisya segera dikebumikan. Semuanya mengantar sampai ke pemakaman. Duka menyelimuti mereka, namun takdir sama sekali tak bisa dibantah.
Mereka menemani jenazah sampai ke tempat peristirahatan terakhirnya. Tak lupa, memberikan doa didepan pusaranya. Semoga diterima amal ibadahnya, dan ditempatkan di sisiNya.
Davian dan keluarganya pergi meninggalkan makam mendiang Tante Meisya. Satu persatu, mulai pergi meninggalkannya, hingga tak ada satupun orang yang menemani tempat peristirahatan terakhirnya.
Hingga beberapa menit berlalu, semua orang telah tak terlihat lagi di pemakaman. Seorang wanita menggunakan pakaian serba hitam datang menuju pusara mendiang Tante Meisya.
"Ma, Maafkan aku. Maafkan aku, tak bisa menemanimu disaat-saat terakhir hidupmu. Aku menyesal, telah meninggalkanmu, hingga akhirnya engkau harus pergi meninggalkan kita semua. Aku mempercayakan anakku padamu. Bagaimana nasib anakku, Ma? Dirimu telah pergi, anakku bersama siapa? Kenapa aku tak melihat anakku tadi? Ma, aku butuh jawabanmu..."
__ADS_1
*Bersambung*