
"Mm, Nad, kalo gitu aku duluan ya. Sepertinya kamu punya tamu spesial." ucap Rivan.
"Ah, i-iya Van. Makasih banyak ya udah nganterin aku. Makasih juga oleh-olehnya." Nadya terlihat malu.
"Iya, sama-sama. Kalo gitu, see u next time ya, Nad." Rivan melambaikan tangannya.
Rivan segera berlalu, karena ia sadar. Ada laki-laki yang sepertinya menyukai Nadya. Rivan tak mau mengganggu Nadya. Nadya yang malu merasa tak enak pada Rivan. Ia tak mengerti, kenapa sekretaris Dika bisa bersikap seperti itu padanya.
"Eh, Pak Dika ... Bangun, ngapain jongkok dibawah gitu. Ayo, berdiri," Nadya tak enak.
"Ini, bunga buat kamu." sekretaris Dika berdiri lalu menyerahkan bunga yang disiapkan Arini pada sekretaris Dika.
"Pak Dika, ya ampun, ada apa ini, kenapa aneh sekali? Pak, malu diliatin orang, ayo masuk ke rumah Ibu dulu. Duduk dulu," Nadya merasa ada yang aneh pada diri sekretaris Dika.
Nadya berjalan lebih dulu diikuti sekretaris Dika. Dika sangat tak menyangka jika dirinya mampu memberikan bunga itu pada Nadya secara langsung. Ia heran, padahal sebelumnya ia sangat gugup dan malu. Ternyata, jika ada saingan, sekretaris Dika jadi berani.
"Pak Dika kenapa?" Nadya heran.
"Aku ngasih bunga ke kamu. Apa itu salah?"
"Enggak, sih. Aku hanya kaget aja, Pak." jawab Nadya.
"Tadi itu siapa?" tanya sekretaris Dika.
"Tadi itu temen SMP aku, Rivan namanya. Dia buka cafe di Jakarta. Jadi, aku mampir ke cafenya, Pak." Nadya tersenyum.
Aku sudah tahu, Nad! Gumam sekretaris Dika.
"Oh, temen apa temen?" sekretaris Dika penasaran.
"Temen lah Pak. Itu temen Arin juga," Nadya menjelaskan.
"Masa sih?"
"Iya bener. Pak Dika ada apa sih aneh banget hari ini? Segala ngasih bunga ke saya tanpa maksud dan tujuan yang jelas!" tegas Nadya.
"Kamu pulang jam berapa? Aku antar ke rumahmu." sekretaris Dika tak menjawab pertanyaan Nadya.
"Jam 5 aku pulang. Memangnya ada apa, Pak?" tanya Nadya.
"Aku mau ke rumahmu, main ke rumahmu. Boleh gak?" sekretaris Dika memberanikan diri.
"Ha? Mau ngapain, Pak?" Nadya kaget.
"Mau main, gak boleh ya?" sekretaris Dika terlihat santai.
"Eh, bo-boleh kok. Tapi, di rumahku ada Ibu sama Bapak. Kadang, ada Kakak aku juga Pak, apa Pak Dika gak malu?" tanya Nadya.
"Enggak kok. Aku malah pengen ketemu mereka!" tegas sekretaris Dika.
"Eh? Ketemu Ibu Bapakku? Mau ngapain, Pak?" Nadya heran.
"Lihat nanti aja. Dah ah, aku mau nyapa Ibu Nona dulu. Sekalian aku mampir ikut sholat ashar dulu disini. Aku mau tungguin kamu disini sampe kamu selesai bekerja." jawab sekretaris Dika.
Sekretaris Dika melengos dan mengetuk pintu rumah Ibu Arini yang tak tertutup. Ia masuk kedalam menyisakan beberapa pertanyaan yang muncul di kepala Nadya.
Ada apa sebenarnya dengan Pak Dika? Kenapa dia seperti itu? Kenapa Pak Dika terlihat serius berbicara padaku? Apa yang akan dia lakukan nanti di rumahku? Aneh sekali. Tak biasanya dia seperti ini. Aku sangat heran dengan sikapnya. Batin Nadya.
...πΈπΈπΈ...
Nadya dan sekretaris Dika pamit pada Ibu Arini. Ibu Arini terlihat senang, karena melihat Nadya dan Dika bersama. Mereka pun langsung naik kedalam mobil dan melambaikan tangannya pada Ibu Arini.
Padahal rumahnya gak jauh. Tapi, kenapa harus pake mobil mewah ini sih, Pak. Aku malu," ucap Nadya.
"Nad, bisa gak panggil aku Dika aja?" tanya sekretaris Dika.
"Eh, kenapa gitu? Gak sopan banget dong, Pak." ucap Nadya.
"Gak apa-apa, Nad. Aku sama kamu juga gak beda jauh umurnya. Kamu seumur sama Nona kan? Aku tiga tahun lebih tua dari kamu. Panggil Dika aja, biar terdengar akrab." ucap sekretaris Dika.
"Pak Dika aneh hari ini. Ada apa sih sebenarnya?" Nadya mencoba mengartikan.
"Dika, bukan Pak Dika!" tegas Dika.
"Ah, iya Dika. Maaf, aku belum terbiasa."
__ADS_1
"Aku ingin memperkenalkan diriku pada kedua orang tuamu." ucap sekretaris Dika tiba-tiba.
"Ha? Apa maksudmu?" Nadya kaget.
"Aku ingin mengenalkan diriku, sebagai calon suami kamu." ucap sekretaris Dika.
"Eh, apa-apaan sih kamu! Kenapa seenaknya aja? Berhenti!" tegas Nadya.
"Loh, kok kamu marah sih?" sekretaris Dika bingung.
"Berhenti! Kepinggirin sekarang juga!" Nadya terlihat kesal.
Sekretaris Dika menatap Nadya. Ia tak menyangka, bahwa Nadya malah marah. Padahal, niatnya baik akan bertemu dengan kedua orang tuanya untuk meminang Nadya. Sekretaris Dika menuruti permintaan Nadya untuk meminggirkan mobilnya.
"Kenapa?" tanya sekretaris Dika.
"Kenapa kamu seenaknya mau bilang gitu sama Ibu Bapakku?" tanya Nadya.
"Memangnya kamu gak suka?" tanya sekretaris Dika.
"Memangnya kamu dan aku ada hubungan apa? Sampai-sampai kamu berani mendatangi orang tuaku?" tanya Nadya.
Astaga, sepertinya dia ingin aku menyatakan perasaanku padanya. Dia tak ingin aku terlalu cepat. Tapi, bagaimana mengungkapkannya? Aku bingung sekali. Kenapa mengungkapkan perasaan itu sangat sulit sekali? Kenapa aku tak bisa? Apa yang harus aku katakan padanya? Ya Tuhan, bantu aku. Batin sekretaris Dika.
"Itu karena aku serius padamu, Nad." ucap sekretaris Dika tiba-tiba.
"Bohong." jawab Nadya.
"Maksud kamu? Aku gak bohong!" tegas sekretaris Dika.
"Serius apa? Serius gimana? Kita gak ada hubungan apa-apa. Kenapa semudah itu kamu akan menemui kedua orang tuaku?" tanya Nadya.
"Karena aku serius, aku langsung menemui kedua orang tuamu!" tegas sekretaris Dika.
"Lalu, kamu tak sedikitpun berkata padaku?" tanya Nadya.
"Berkata apa? Dengan aku langsung bertemu orang tuamu, bukankah itu berarti aku serius dan ingin menjalani semua denganmu?" sekretaris Dika menjelaskan.
"Kenapa kamu tak mengatakan cinta padaku jika kamu ingin serius menjadi suamiku?" tanya sekretaris Dika.
DEG. Pertanyaan maut Nadya keluar. Sekretaris Dika hanya bisa menatap Nadya. Ia bingung harus menjawab apa. Ia memang menyukai Nadya, tapi ia bingung bagaimana cara mengatakannya. Ia terlalu malu untuk menyatakan perasaannya yang sesungguhnya.
Sekretaris Dika bingung. Ia harus berani, sesuai ucapan Rangga padanya. Ia harus membuktikan, bahwa ia bisa menyatakan cintanya pada Nadya.
"Nad, aku ..." ucapan sekretaris Dika terpotong.
"Apa?" tanya Nadya.
"Aku ..." sekretaris Dika makin gugup.
Nadya tak menjawab. Ia hanya menatap sekretaris Dika dengan tajam. Laki-laki macam apa yang ingin melamar wanita, tapi tak pernah mengungkapkan perasaannya pada sang wanita. Itulah yang muncul didalam benak Nadya.
"Nad, aku mau jujur sama kamu ..." ucap Dika dengan tangan dan kaki yang gemetar.
"Nad, sebenarnya aku," terpotong lagi saking gugupnya.
"Kenapa sih? Kok kesannya Pak Dika kayak lagi mempermainkan saya? Pak, saya mau pulang ya. Saya gak perlu diantar. Saya bisa pulang sendiri. Tolong buka kuncinya," perintah Nadya.
"Nad, jangan!" cegah sekretaris Dika.
"Apalagi, Pak? Saya mau pulang! Tolong, buka pintunya. Ini sudah sore, saya harus segera sampai di rumah. Tolong kerja samanya, Pak Dika!" tegas Nadya.
"A-aku mencintaimu, Nadya! Aku ingin kamu menjadi istriku!" ucap sekretaris Dika dengan gugup dan canggung.
Nadya kaget. Walaupun ia tahu arah pembicaraan mereka, tapi dengan Dika berkata jujur padanya, itu sudah pertanda bahwa sekretaris Dika memang menyimpan perasaan pada Nadya.
"Apa maksud ucapan itu?" Nadya terlihat kaget.
"Aku mencintaimu, dan aku mau melamarmu sekarang. Aku bukan orang yang mudah menyatakan perasaanku. Aku tak bisa mengungkapkan rasa cintaku. Bukan berarti aku tak serius padamu, jika aku tak mengatakan cinta. Tapi, beginilah aku. Aku mencintaimu, tanpa harus selalu kuucapkan cinta itu. Yang penting, hatiku hanya untukmu. Jawab aku, Nadya. Maukah mau bersamaku?" tanya sekretaris Dika.
Nadya kaget. Kata-kata manis itu bisa keluar dari mulut Sekretaris Dika. Nadya sangat tersanjung karena sekretaris Dika ternyata menyimpan perasaan padanya. Sekretaris Dika amat bahagia, karena ia mampu menyatakan cintanya pada Nadya. Nadya tersenyum pada sekretaris Dika.
Nadya mengangguk, "Iya, aku mau ..."
"Serius Nad? Alhamdulillah, akhirnya ... Aku bahagia sekali melihat anggukanmu." sekretaris Dika tersenyum.
__ADS_1
"Kenapa secepat ini kamu mau bertemu orang tuaku?" tanya Nadya.
"Aku tak mau lama-lama. Aku sudah menetapkan pilihanku, dan aku ingin serius. Aku tak ingin main-main. Aku tak ingin kehilangan wanita yang aku cintai." ucap sekretaris Dika
"Baiklah, ayo ke rumahku. Katakan semuanya pada orang tuaku, maksud dan tujuanmu bersamaku." ucap Nadya.
"Tentu saja. Aku akan meminta izin pada kedua orang tuamu, Nad."
"Terima kasih, telah mencintaiku." jawab Nadya.
"Sama-sama. Terima kasih juga, karena telah menerimaku." sekretaris Dika tersenyum bahagia.
Sekretaris Dika dan Nadya pun sampai di rumah kedua orang tua Nadya. Rasa canggung dan takut menyelimuti diri sekretaris Dika. Tapi, sebagai laki-laki, ia tak mungkin hanya diam saja. Ia harus bisa meyakinkan kedua orang tuanya Nadya.
"Sore, Pak, Bu." sapa sekretaris Dika.
"Sore, Nak. Mari masuk," ucap Ibu Nadya.
Sekretaris Dika duduk di ruang tamu sendirian. Ia di suguhi teh hangat dan beberapa camilan. Nadya menyimpan tas nya dan segera kembali menuju ruang tamu. Bapak dan Ibu Nadya telah duduk di hadapan sekretaris Dika.
"Siapa namamu?" tanya Bapak Nadya.
"Nama saya Dika, Pak." jawabnya.
"Kamu pacar anakku?" tanyanya lagi.
Sekretaris Dika menghela nafas, "Pak, Bu, tujuan saya datang kemari karena saya ingin mengenal Nadya lebih dekat dan menjalani hubungan serius dengan putri Bapak dan juga Ibu." ucap sekretaris Dika ramah.
"Kamu bukannya asisten si Arini ya?" tanya Bapak Nadya.
"Iya, Pak. Saya sekretarisnya suami Nona Arini." ucap sekretaris Dika.
"Berarti, mobil kamu yang diluar itu milik Bos kamu ya?" sindir Bapak Nadya sembari melihat mobil mewah yang terparkir di samping rumah Nadya.
"Iya, Pak. Itu milik Bos saya."
"Kok pake mobil orang sih. Pengen kelihatan kaya ya? Harusnya, kamu sederhana saja, semampunya kamu. Bawa mobil milik sendiri. Karena kamu tak mungkin selamanya akan menggunakan barang-barang mewah milik Bosmu!" tegas Bapak Nadya.
DEG.
"Bapak!" Nadya kecewa.
"Ah, iya Pak. Maaf, nanti saya akan bawa mobil saya sendiri. Tadi saya pakai mobil ini karena kebetulan lagi dijalan sehabis mengantar Bos saya." jawab sekretaris Dika kikuk.
"Kamu ingin menikah dengannya?" tanya Bapak Nadya.
"Iya, Pak. Saya akan menikahinya." jawab sekretaris Dika.
"Kalau kamu ingin menikahinya, Ubah gaya pakaianmu ketika datang ke rumahku! Kamu buka sekretaris kalau di rumah ini. Kamu hanya laki-laki biasa!" tegas Bapak Nadya.
"Pak ..." Ibu Nadya bersuara.
Sepertinya, harus ditunda dulu lamarannya. Ini gak mungkin terjadi sekarang. Bapak Nadya galak banget ya, gue harus sabar, demi dapetin Nadya. Batin sekretaris Dika.
"Sudah, aku banyak urusan. Silahkan nikmati teh nya. Aku pergi dulu." ucap Bapak Arini, lalu ia segera pergi meninggalkan ruang tamu.
"Nak Dika, minum teh nya ya. Silahkan berbincang-berbincang dengan Nadya. Ibu kebelakang dulu." Ibu mengikuti perginya Bapak Nadya.
Sekretaris Dika mematung karena mendapat ucapan tajam dari Bapak Nadya. Nadya merasa tak enak. Dia pikir, orang tuanya akan menyetujuinya. Namun, memang hal ini terlalu cepat, jika mereka harus buru-buru menikah.
Tak lama, Sekretaris Dika segera pamit pada keluarga Nadya, karena hari sudah mulai gelap. Nadya mengantar sekretaris Dika sampai ke depan dan mengantarkannya sampai masuk mobil.
"Kamu kecewa ya?" tanya Nadya.
"Enggak, kok. Ucapan Bapak kamu bener, Nad. Aku pastikan, aku akan membuat Bapakmu terkesan padaku. Baiklah, aku pulang dulu ya," sekretaris Dika masuk kedalam mobilnya.
Setelah sekretaris Dika berlalu, Nadya segera menghampiri Bapaknya yang sedang menonton televisi.
"Pak, Bapak! Kok Bapak tega sih sama sekretaris Dika. Bapak gak suka sama dia?" tegas Nadya.
"Enggak kok. Bapa suka sama dia!" jawab Bapak Nadya.
"Terus, kenapa bapak nyindir-nyindir dia?" tanya Nadya.
"Bapak hanya mengetes saja. Ingin tahu saja, bagaimana mentalnya. Bapak suka kok sama dia. Bapak suka kamu dekat dengan seorang sekretaris pribadi. Bapak cuma iseng aja, sengaja Bapak gituin biar dia semakin berusaha mendapatkan kamu. Lihat saja nanti, dia pasti berubah. Dia pasti menghormatiku." Bapak Nadya tertawa.
__ADS_1
"BAPAK ..." Nadya kesal.
*Bersambung*