
Malam ini, Tira tidur bersama Keyza di kamar tamu. Rangga tidur di kamar miliknya. Rangga tak bisa tidur malam ini. Ia ingin menemui Keyza tapi takut Keyza sudah tidur. Rangga keluar dari kamarnya, tapi di ruang keluarga, sudah tak ada siapa-siapa, hanya beberapa pembantu yang sedang membersihkan sisa-sida acara tadi.
Rangga kesal. Ia tak tahu harus kemana lagi, ia memutuskan untuk pergi keluar dari rumah Davian. Rangga membawa mobilnya sendiri. Ia melihat jam, jam menunjukkan pukul 21.00 WIB. Ia segera melajukan mobilnya ke suatu tempat.
Ternyata, begini rasanya hidup sendiri. Aku kesal, aku kesepian. Tak ada yang menemani aku, tak ada yang bisa ku ajak bercerita. Kenapa aku kesal sekali malam ini? Tak dapat ku pungkiri, aku memang cemburu pada Davian. Kebahagiaannya benar-benar sempurna. Kenapa aku tak bisa mendapatkan kebahagiaan seperti yang Davian dapatkan? Kenapa hidupnya dari dulu selalu bahagia. Andai aku memiliki wanita seperti Arini, mungkin aku sangat bahagia sekali.
Rangga terus melajukan mobilnya entah kemana. Ia ingin menghabiskan malam ini dengan meneguk wine favoritnya. Niat hati ingin pergi ke diskotik langganannya, namun ia terhenti di suatu tempat yang asing baginya.
"Tempat apa ini? Apa ini diskotik juga? Kenapa aku baru melihatnya? Apa tempat ini baru dibuka? Apa aku coba saja ke tempat ini dulu? Siapa tahu, tempatnya bagus dan minumannya enak." ucap Rangga.
Rangga segera memasukkan mobilnya kedalam pelataran parkir Diskotik tersebut. Lalu, ia segera masuk kedalam diskotik dengan santainya. Rangga sangat menyukai dunia malam. Ia senang masuk kedalam diskotik. Namun, ia tak pernah datang bersama temannya. Ia selalu datang seorang diri.
Saat dirinya sedang terpuruk, saat dirinya sedang dirundung masalah, ia selalu datang ke tempat seperti ini dengan meminum minuman yang memabukkan. Rangga memang suka menyendiri untuk menenangkan dirinya. Seperti yang ia lakukan saat ini, menyendiri karena kesepian.
Rangga duduk di meja khusus untuk dua orang. Ia memesan wine favoritnya. Diskotik ini ramai, karena memang masih baru dibuka sejak sebulan yang lalu. Rangga baru tahu tempat ini, karena beberapa minggu kebelakang, ia berada di Swiss.
"Silahkan, Tuan." ucap sang pelayan.
Rangga mengenal suara itu. Ternyata Melisa, Mata Rangga dan mata Melisa bersatu. Mereka saling pandang, Rangga tak mengerti kenapa Melisa bekerja di tempat seperti ini. Baru sekitar dua minggu, semenjak Rangga bertemu dengan Melisa. Kenapa Melisa bisa berada disini?
"Melisa? Kamu?" Rangga kaget.
"Bang Rangga. Kukira siapa," Melisa pun sama kagetnya.
"Kenapa kamu bekerja disini? Bukankah kamu bekerja di restoran pizza kemarin?" tanya Rangga.
"Tidak apa-apa, Bang. Aku hanya bekerja part time di tempat ini." ucap Melisa.
Rangga terdiam. Sepertinya, ada sesuatu yang menyebabkan Melisa bekerja ditempat seperti ini. Rangga melihat-lihat sekitar. Rangga menarik tangan Melisa, dan menuju kasir.
"Bang, ngapain? Lepasin, ini ditempat umum! Arrghhh," Melisa meronta.
Rangga tak mendengarkan. Ia tetap menarik Melisa menuju kasir, dan meminta permintaan pada kasir.
"Saya menyewa wanita ini satu jam! Berapa tarifnya?" tanya Rangga tiba-tiba.
"Bang Rangga!" bentak Melisa.
"Disini perjam harganya bervariasi. Hanya untuk menemani, apa open room?" bisik sang kasir.
"Menemani berapa? Open room berapa?" tanya Rangga penasaran.
"Bang Rangga, apa maksudmu!!!" Melisa kesal.
Sang kasir sedikit berbisik, "Ini masih baru. Menemani dibandrol 10 juta, open room 20 juta per jam. Bagaimana?" tanya sang kasir.
"Aku bayar 20 juta. Jangan ada yang ganggu wanita pesanan ku! Segera siapkan VIP room yang luas." tegas Rangga.
"Jika VIP, tambah 5 juta, Tuan."
"Berapapun saya bayar. Asalkan jangan biarkan dia bekerja. Dia menjadi wanita pesanan ku malam ini. Aku bayar dengan ini." Rangga mengeluarkan kartu sakti dari dompetnya.
"Baik, Tuan. terima kasih. Akan kami proses sekarang."
__ADS_1
Rangga tetap memegang tangan Melisa dengan kuat. Salah satu pelayan disitu mengantar Rangga menuju ruang VIP yang diinginkan Rangga. Melisa berontak, namun Rangga tak mengindahkannya. Hingga sampailah mereka di ruangan VIP yang lengkap dengan ruangan karaoke dan kasur tidur yang biasa dilakukan untuk melakukan one night stand.
Rangga menutup pintunya. Melisa berontak semakin menjadi, hingga akhirnya Rangga melepaskan genggaman tangannya pada tangan Melisa. Melisa mengaduh kesakitan. Ia marah, ia tak mengerti dengan apa yang Rangga ucapkan.
"Gila kamu, Bang! Apa maksudmu melakukan hal seperti ini padaku? Berani-beraninya kamu melecehkan aku, HAH!!! Kamu pikir, aku wanita yang bisa kamu bayar dengan uang, iya?" Melisa marah, namun wajahnya terlihat sangat pucat.
"Aku tak akan berbuat apapun padamu. Aku hanya ingin berdua denganmu, dan berbicara padamu." ucap Rangga.
"Apa maksudmu?" Melisa tak mengerti.
"Kenapa kamu bisa bekerja di tempat seperti ini?" tanya Rangga.
"Dari dulu pun inilah tempat aku bekerja!" bentak Melisa.
"Apa maksudmu? Bukankah kamu bekerja di restoran pizza?" Rangga tak mengerti.
"Aku bekerja di sana ingin menghindar dari pekerjaan kotor ini. Namun, nyatanya aku tak bisa. Aku tetap membutuhkan uang untuk biaya hidupku. Aku juga harus membayar denda karena pernah kabur dari diskotik yang dulu, jadi terpaksa aku tetap bekerja disini, walaupun hanya beberapa hari saja dalam seminggu, yang penting aku bisa membayar dendaku.." ucap Melisa.
"Memangnya kamu pernah bekerja di tempat seperti ini sebelumnya?" Rangga tak tahu.
"Pernah, tapi bukan di tempat baru ini. Aku bekerja di diskotik yang sudah lama berdiri. Aku menjadi pelayan sekaligus LC di diskotik itu. Kini, tugasku pun sama seperti sebelumnya. Aku menjadi LC jika ada om-om yang memintaku. Untungnya, aku masih bisa menjaga diriku agar tak tidur dengan pria-pria hidung belang itu." Melisa menjelaskan.
"Kamu bekerja di diskotik mana? Aku memang samar-samar pernah melihatmu beberapa bulan yang lalu!" ucap Rangga.
"Ya, benar. Aku bekerja di diskotik yang kamu maksud! Dan aku juga yang mengantarmu menuju kosanku saat itu, karena kamu mabuk berat!" jawab Melisa.
"Apa? Ka-kamu yang membawaku ke tempat kecil itu? Tapi kenapa? Lalu, kemana kamu pada saat itu? Kenapa aku bangun, tak ada siapapun di tempat itu." tanya Rangga.
"Saat itu aku pergi mencari pekerjaan, aku ingin lepas dari diskotik, tapi sulit sekali mendapat pekerjaan. Makanya, aku meninggalkanmu seorang diri di kosan-ku." jelas Melisa.
"Apa maksudmu, Bang? Aku tak bisa seenaknya begitu. Aku tak bisa melarikan diri dari mereka. Mereka tak akan menyakiti aku, asalkan aku tetap bekerja disini." jelas Melisa.
"Mel, apa kamu tak kasihan pada anakmu, haa? Keyza sangat menyayangimu. Apa jadinya jika dia tahu bahwa Ibunya bekerja ditempat malam seperti ini? Kamu jangan mengecewakannya, Melisa!" bentak Rangga.
"Untuk apa aku kasihan pada anakku hah? Toh, Anakku tak akan pernah bertemu lagi denganku! Bang Rangga sudah mengambilnya dan aku tak akan bisa bersamanya lagi. Biarkan aku mengurus hidupku sendiri. Walaupun aku sudah hancur, aku akan tetap bertahan. Biarkan apapun yang aku lakukan, kamu tak berhak menggangguku, Bang!" Melisa menitikkan air matanya.
"Mel, seburuk apapun kamu, kamu adalah Ibu kandung Keyza. Kamu tak boleh membuatnya kecewa dengan pekerjaanmu yang seperti ini.".
"Aku bekerja di restoran pizza. Aku tak mengecewakan anakku. Aku bekerja disini sebagai sampingan saja. Sekarang, pekerjaan ini bukanlah pekerjaan utama bagiku. Sudahlah, kamu tak perlu ikut campur urusanku, Bang! Lepaskan aku, aku harus bekerja lagi. Kamu menghambur-hamburkan uang hanya untuk pembicaraan tak penting ini." tegas Melisa.
"Ini penting! Untuk masa depan anakmu." jelas Rangga.
"Sudahlah, aku tak berselera lagi bicara denganmu, Bang. Karena aku berteriak dan marah-marah padamu, tubuhku kini tak stabil. Aku merasa sesak, dadaku sakit. Kamu pergi saja, aku harus mengurus diriku." ucap Melisa menahan sakit.
Melisa beranjak berjalan menuju pintu, dadanya sesak, serasa terjepit. Asma-nya kambuh, karena ia terlalu banyak mengeluarkan tenaganya. Obrolannya bersama Rangga membuat emosinya bekerja tak beraturan. Melisa tak kuat menahan sakit di dadanya. Nafasnya tersenggal-senggal, ia harus segera mengambil obatnya agar keadaannya semakin membaik. Melisa berjalan sempoyongan, namun ia tetap menguatkan dirinya agar bisa mengambil tas nya yang berisi obat-obatan. Sayangnya, tas itu berada di loker karyawan, didekat pantry diskotik.
"Mel, Melisa! Kamu kenapa? Hey, tunggu! Jangan kemana-mana, kalau kamu memaksakan diri, nanti kamu terluka!" Rangga mengejar Melisa.
Melisa yang sudah kehilangan kendali, tak bisa lagi menahan tubuhnya. Ia sangat lemas, dan tubuhnya sempoyongan. Melisa menahan sakit yang teramat di dadanya, hingga tubuhnya pucat, dan bibirnya menghitam, ia benar-benar tak bisa mengontrol dirinya. Hingga akhirnya kesadaran Melisa menurun, dan Melisa pun terjatuh, namun Rangga dengan sigap segera menopangnya.
"Mel, Melisa! Ada apa denganmu? Hey, Mel. Sadarlah kamu, kenapa kamu ini?" Rangga terlihat khawatir.
Ia berpikir. Melisa harus segera diobati. Namun, Rangga tak mau jika Dokter pribadinya harus datang ke tempat ini untuk memeriksa Melisa. Rangga memutuskan untuk membawa Melisa ke apartemennya. Rangga membopong Melisa menuju kasir tempatnya tadi melakukan penawaran.
__ADS_1
"Kasir, tolong beri saya tas pelayan ini. Aku akan membawanya pulang!" tegas Rangga.
"Di-dia kenapa, Tuan?" sang kasir khawatir.
"Dia pingsan. Sudah, jangan banyak tanya. Cepat bawakan tas nya padaku!"
"Baik, Tuan."
Sang kasir berlalu, dan segera mengambil Tas Melisa yang diminta oleh Rangga. Sang kasir pun dengan sigap memberikan tas nya pada Rangga. Kemudian, Rangga pun berlalu dengan cepat untuk segera membawa Melisa. Kedua kasir yang melihat adegan itu, berdecak kagum dan keheranan.
"Kenapa tuh pelayan baru?" tanya bartender.
"Dia karyawan lama, cuma dipindahin dari diskotik utama, menuju kesini. Eh, eh, Tuan tadi itu menyewa si Melisa tahu. Dia berani bayar mahal tadi." ucap sang kasir.
"Masa sih? Terus, kenapa itu pelayan malah pingsan?"
"Mungkin Tuan itu terlalu kasar mainnya, jadi si Melisa kewalahan, akhirnya pingsan deh!" Mereka semua tertawa.
"Wah, parah juga tuh Tuan ya. Baru sebentar udah buat cewek pingsan." salah satu dari merek ikut bergosip.
"Memang pelayan itu janda, udah lama gak di jamah cowok deh kayaknya, pantesan aja cepet kewalahan." timpal sang bartender.
Mereka semua tertawa, tanpa mengetahui keadaan yang sebenarnya.
...***...
Rangga memutuskan untuk membawa Melisa ke apartemennya. Rangga sudah menghubungi Dokter pribadinya, dan mereka akan bertemu di apartemennya. Rangga teringat akan Keyza dan Tira. Entah mengapa, disaat-saat seperti ini, Rangga selalu teringat pada Keyza dan juga Tira. Bukan hanya Keyza, ia juga teringat Tira.
Entahlah, hati Rangga kini tak bisa di prediksi apa maunya. Tanpa basa-basi, Rangga segera menghubungi Tira sambil mengemudi. Rangga menggunakan earphone-nya agar tak mengganggunya menyetir.
Telepon pun tersambung...
"Halo, Tuan. Ada apa?" sapa Tira.
"Keyza sudah tidur?" tanya Rangga.
"Sudah, Tuan. Ada apa ya?" tanya Tira lagi.
"Aku sedang di luar. Maaf tak memberitahumu, dan juga aku malam ini tak bisa pulang ke rumah Davian. Katakan pada Keyza, bahwa aku ada urusan penting." jelas Rangga.
"Baik, Tuan. Tapi maaf, urusan penting apa kalau boleh saya tahu?" Tira penasaran.
"Aku tak sengaja bertemu Melisa, dan dia pingsan. Sepertinya Melisa sakit, aku akan membawanya ke apartemenku, Dokter pribadiku akan memeriksanya. Kamu jangan beritahukan hal ini pada Keyza. Kuharap, kamu bisa menjaga rahasia ya, Ra." tegas Rangga.
"Ba-baik, Tuan." Tira sedikit gugup.
"Baiklah, kalau begitu, aku tutup. Jaga Keyza ya, Ra. Aku percaya padamu, besok aku akan kembali ke rumah Davian untuk menemui kalian."
Tut.. Tut.. Tut..
Tira yang mendengar kabar bahwa Rangga sedang bersama Melisa, merasa sedikit kecewa dan ada perasaan tak enak. Entah apa yang ia rasakan, namun kedekatannya dengan Rangga kini semakin akrab, sehingga membuat Tira merasa sedih ketika mendengar Rangga sedang bersama wanita lain.
Ternyata, Tuan sedang bersama Ibunya Keyza. Kukira, Tuan Rangga sedang berada di kamarnya. Memang benar saran-ku, menyuruh Tuan dekat dan menjalin hubungan dengan Ibunya Keyza. Aku tak salah, bukan? Mereka memang layak bersama. Mereka memang seharusnya bersatu, demi Keyza. Baguslah, aku yakin mereka akan bahagia, dan aku pasti sebentar lagi akan disingkirkan. Kenapa rasanya sedih sekali ya? Oh, Tuhan... Aku tak mengerti kenapa suasana hatiku menjadi tidak baik saat ini? Gumam Tira dalam hati.
__ADS_1
*Bersambung*