Terjerat Cinta Sang Pembantu

Terjerat Cinta Sang Pembantu
Lagi-lagi


__ADS_3

Hari demi hari telah berganti, sekretaris Dika sedang mengantar Davian bertemu dengan rekan bisnisnya. Ia selalu setia mendampingi Davian, dimana pun dan kemana pun Davian pergi, sekretaris Dika pasti ada dibelakangnya. Bagi sekretaris Dika, Davian adalah orang yang berjasa dalam hidupnya. Banyak sekali jasa yang telah Davian berikan untuknya.


Sekretaris Dika sedang duduk bersama Davian di sebuah restoran ternama di Jakarta. Ia menyimak pembicaraan antara Davian dan rekan kerjanya. Tiba-tiba, handphone sekretaris Dika berbunyi. Ia segera membukanya, dan ternyata ada satu pesan masuk dari Nadya.


📩 Istriku, Nadya❤


Sayang, jemput aku jangan terlalu sore ya, jemput jam empat aja. Udah dibolehin kok sama Ibunya Arin. Nanti biar kita bisa jalan-jalan dulu. Love u Bang, jangan lupa sholat dan makan ya. Aku kangen kamu❤


DEG. Sekretaris Dika sangat bersemangat mendapat pesan dari Nadya. Ini sudah hari ketika setelah pernikahan mereka. Ia berpikir, itu berarti? Nadya memberikan sebuah kode untuk malam pertama mereka. Sekretaris Dika sangat senang sekali, ia sudah tak sabar ingin segera menemui sang istri.


Ia melihat jam di tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul dua siang Itu berarti, hanya butuh waktu dua jam untuk segera bertemu dengan Nadya. Sekretaris Dika sudah tak sabar, rasanya ingin segera menyelesaikan pekerjaan ini. Karena, ini adalah hari yang sangat ditunggu-tunggu olehnya.


Bos, Bos, ayolah! Segera selesaikan pembicaraanmu. Ini sudah waktuku untuk menikmati hari indahku sebagai pengantin. Ini sudah hari ketiga. Itu berarti, istriku sudah tak banjir lagi. Ini adalah kesempatan besar bagiku untuk segera bertemu dengan keindahan surga dunia. Tapi, kenapa sepertinya mereka terlihat masih sibuk sih? Kenapa harus lama seperti ini? Aarrgghh, Bos. Tolong berpihak lah padaku sekali ini saja. Batin sekretaris Dika.


Satu jam pun berlalu. Ini sudah pukul tiga, dan pembicaraan itu pun baru selesai. Sekretaris Dika tak biasanya bosan seperti ini. Biasanya, berapa jam pun waktu pertemuan dengan rekan bisnis, ia selalu enjoy dan tak pernah kesal. Tapi, sekarang sangat berbeda, karena ada hal yang sangat membuat sekretaris Dika bersemangat di hari ini, dan ia ingin meeting ini segera berakhir.


Sekretaris Dika berbisik pada Davian, "Bos, kapan selesainya? Buruan,"


"Sabar, bentar lagi kok." jawab Davian.


Hingga akhirnya rekan bisnis Davian pun meninggalkan Davian dan sekretaris Dika, karena perbincangan mereka telah selesai. Betapa bahagianya sekretaris Dika, melihat rekan bisnis Davian telah pergi. 30 menit lagi, ia akan segera bertemu dengan Nadya. Hal yang sangat sekretaris Dika tunggu-tunggu.


"Bos, ayo balik!" ajak sekretaris Dika.


"Gak bisa, Dik. Nanti jam empat kita ada jadwal ketemu sama Mr. Chen. Dia rekan bisnis Bokap gue dari Cina. Papa gue udah bilang, dia minta kita buat nemenin dia bertemu sama Mr. Chen. Ayo, Papa sudah di sana. Sekarang kita menyusul. Kita gak mungkin batalkan pertemuan dengannya. Hari ini jadwal padat, Dik." Davian berjalan lebih dulu keluar dari restoran.


"Ha? Bos? Serius ini? Aaah, kesel banget gue."


Ya ampun, kenapa gue lupa, kalau hari ini kita emang sibuk. Gue cek jadwal Bos, ada acara pertemuan di perusahaan Mr. Chen. Kenapa gue baru sadar? Saking gue gemes, dan gak sabar ingin segera bertemu dengan Nadya, gue jadi gak fokus mikirin perusahaan. Aarrgghh, Bos! Gimana gue ngomongnya ini? Satu sisi, dia Bos gue, dan gue harus selalu patuh sama dia. Tapi, Nadya juga istri gue. Dia bilang pengen jalan-jalan dulu. Ya ampun, kenapa sedih banget ya hidup gue? Dilema antara pekerjaan dan cinta. Gumam sekretaris Dika.


Tak mungkin untuk berkata tidak pada Davian. Bagaimana pun, sekretaris Dika harus tetap mengedepankan loyalitasnya. Terpaksa, ia harus mengalah dan memberikan pengertian pada Nadya, agar Nadya bisa memahami, bahwa dirinya saat ini sedang sibuk. Sekretaris Dika segera menghubungi Nadya.


📲 Calling Istriku, Nadya❤


"Halo, Bang. Udah dimana?" suara Nadya terdengar di ponsel sekretaris Dika.


"Em, sayang. Maafkan aku, ternyata aku tak bisa pulang cepat. Bos Davian masih ada pertemuan penting. Aku bingung nolaknya gimana. Maafkan aku, pekerjaanku tak mengenal waktu. Aku sangat menyesali hal ini." jawab sekretaris Dika yang begitu menyesal.


"Ah, iya. Baiklah, aku mengerti. Orang seperti Abang pasti sangat sibuk. Baiklah, tak usah menjemputku. Aku akan naik gocar saja, aku akan pulang lebih dulu kalau gitu." suara Nadya yang terdengar begitu kecewa.


"Sayang, maafkan aku. Aku bingung, harus gimana. Kamu tunggu di rumah aja ya. Aku janji, akan segera pulang jika telah selesai. Kamu mau aku belikan apa?" rayu sekretaris Dika.


"Aku gak mau apa-apa. Aku mau kamu segera pulang aja, Bang." jawab Nadya lewat ponselnya.


"Aku jadi merasa bersalah sama kamu. Maafin aku ya, maaf banget Nad. Aku lupa, kalau Bos Davian masih ada satu pertemuan. Saking aku senangnya, tadi aku gak ingat sama sekali sama pertemuan terakhir hari ini. Kamu jangan kecewa ya, Nad?" sekretaris Dika merasa bersalah.


"Enggak kok Bang. Abang fokus kerja aja ya. Yasudah, udah dulu ya Bang. Aku mau beres-beres." jawab Nadya.

__ADS_1


"Baik sayang. Aku akan segera pulang jika semuanya telah selesai. Maafkan aku membuatmu kecewa. Tunggu aku di rumah ya, istriku." ucap sekretaris Dika dengan halus.


"Iya Bang. Hati-hati dijalan. Aku tutup ya. Assalamualaikum." ucap Nadya sangat lembut.


"Ya sayang, waalaikumsalam."


Telepon pun ditutup. Sekretaris Dika sangat merasa bersalah pada Nadya. Ia lupa, ia benar-benar tak ingat bahwa hari ini Bos nya sangat sibuk. Ia bersama Davian segera berangkat menuju perusahaan yang dituju. Didalam perjalanan, sekretaris Dika hanya diam saja. Ia menyesal, ia teringat pada Nadya yang tadi pasti sangat berharap akan kedatangannya.


"Kenapa lu?" tanya Davian.


"Gak apa-apa, Bos." jawab sekretaris Dika.


"Kita harus fokus. Pertemuan kali ini sangat penting, Dik." jelas Davian.


"Oke, Bos. Siap." jawab sekretaris Dika.


"Lu kenapa sih? Kok aneh gitu. Cerita aja sama gue. Ada apa, Dik?" tanya Davian.


"Kagak, Bos. Gak apa-apa. Sumpah deh."


"Dasar lu."


Mereka pun tiba di perusahaan Mr. Chen, dan Davian segera menemui Papanya yang sudah ada di sana. Mereka membicarakan obrolan yang sangat penting hingga berjam-jam. Sekretaris Dika sudah kesal dan ingin segera pulang. Jika ia meminta pulang pada Davian, ia pasti akan merasa tak enak. Dilema yang ia rasakan saat ini.


Setelah perbincangan selesai, mereka makan malam bersama. Jamuan makan malam yang mewah yang disiapkan oleh Mr. Chen. Baru kali ini, sekretaris Dika tak menikmati jamuan makanan yang disediakan. Ia merindukan Nadya, ia ingin segera bertemu dengan istrinya.


...🌸🌸🌸...


Sekretaris Dika telah sampai di apartemennya. Ia melihat, lampu didalamnya sudah redup. Apa mungkin Nadya sudah terlelap? Sekretaris Dika merasa bersalah pada Nadya. Ia tahu, Nadya pasti sudah tidur, karena sekarang sudah pukul sepuluh.


Benar saja, istrinya itu sudah terlelap. Mungkin saja, Nadya lelah menunggu Dika yang tak kunjung tiba. Sekretaris Dika segera membersihkan tubuhnya dan mengganti pakaiannya. Setelah selesai, ia duduk di pinggir ranjang, dan mendekati Nadya.


Sekretaris Dika mengelus rambut Nadya yang tergerai. Ia pun memegang tangan Nadya dengan lembut. Perlahan, sekretaris Dika mendaratkan ciumannya pada kening Nadya, membuat Nasya menggeliat dan sedikit membuka matanya.


"Mmhh, Abang udah pulang." ucap Nadya.


"Sayang, maafin aku ya. Kamu pasti kecewa sama aku." ucap sekretaris Dika.


Nadya mengucek matanya, "Enggak apa-apa, kok. Aku tahu dan aku mengerti profesi mu, Bang. Aku bisa mengerti, bahwa aku istri seorang sekretaris pribadi, dan aku harus memahami kesibukan Abang."


"Ya udah, kamu bobo lagi sayang. Ini sudah malam." ucap sekretaris Dika.


Nadya menggeleng.


"Kenapa?" tanya sekretaris Dika.


"Aku udah janji, bakal ngasih semuanya buat kamu." ucap Nadya menggelayut pada tangan sekretaris Dika.

__ADS_1


DEG. Jantung sekretaris Dika mulai tak beraturan ketika Nadya mengucapkan hal itu. Pikirannya melayang kemana-mana. Ia mulai tak fokus, dan merasa ada aliran dalam dirinya yang membuatnya ingin segera mendekati Nadya.


"Memangnya kamu tak ngantuk?" tanya sekretaris Dika.


"Enggak, aku rela bangun. Aku tak ingin mengecewakan suamiku. Maafkan membuat Abang menunggu terlalu lama." ucap Nadya yang membuat gairah sekretaris Dika semakin menjadi.


"Nad, jangan di teruskan ucapan mu itu. Aku semakin tak tahan." sekretaris Dika mulai mendekati Nadya dan menggeser duduknya.


"Mmhhh," Nadya menggeliat ketika tanga sekretaris Dika menyentuh tubuhnya.


Perlahan, sekretaris Dika mencium Nadya. Mereka saling berciuman satu sama lain. Bibir mereka menempel. Sekretaris Dika memainkan aksinya di bibir Nadya. Mereka larut dalam gairah yang tak tertahan. Tangan sekretaris Dika mulai lihai membuka kancing baju tidur Nadya.


Tiba-tiba....


Panggilan masuk,


📲 Bos Bucin yang terhormat


Aksi mereka terhenti karena ponsel sekretaris Dika berbunyi. Ia melihatnya, dan betapa kesalnya sekretaris Dika. Ingin rasanya ia memaki-maki Davian saat ini juga. Namun, ia tak mampu melakukannya. Ia takut ada hal penting yang darurat. Sekretaris Dika segera mengangkat telepon Davian.


"Sayang bentar ya." ucap sekretaris Dika.


"Iya, Bang." Nadya pun sedikit kecewa.


Diambilnya ponsel tersebut, kemudian ia mengangkat teleponnya.


Kalau sampe gue angkat dan ternyata bukan hal penting. Lihat aja, gue bales dendam nanti. Umpat sekretaris Dika.


"Halo, Bos. Ada apa?" sekretaris Dika menempelkan ponsel di telinganya.


"Dik, lu belum tidur, syukurlah! Arini sama gue lagi ngobrol. Katanya elu waktu itu makan bakso di pinggiran ya sama si Tira? Trus katanya enak banget. Dimana sih tempatnya? Besok gue sama Arini mau kesitu!" tanya Davian tak berdosa.


SIALAN. GANGGUIN MALAM PERTAMA GUE CUMA BUAT NANYAIN TUKANG BAKSO. AWAS AJA LU BOS! Batin sekretaris Dika.


"Di taman kota, gue kira lu penting nelepon gue malem-malem gini. Udah, gue sibuk. Kalo elu gangguin gue lagi, gue gak mau tahu, naikin gaji gue dua kali lipat!" ancam sekretaris Dika.


Tut.. Tut.. Tut..


"Eh, Dik! Dik! Tunggu ..."


Telepon pun terputus dengan perasaan kesal pada Davian. Sekretaris Dika mematikan handphone-nya dan berkali-kali memaki-maki Davian.


*Bersambung*


SKIP atau NEXT malam pertamanya?


Tulis jawaban kalian di komentar.

__ADS_1


😁😁😁


__ADS_2