Terjerat Cinta Sang Pembantu

Terjerat Cinta Sang Pembantu
kegiatan sehari-hari.


__ADS_3

Malam ini, Rangga tak bisa berpikir jernih. Ia sakit hati, ia sedih, karena Arini dan Davian tengah kembali bersama. Ia memang tak bisa mendapatkan Arini, namun ia berharap, Arini bisa baik lagi padanya.


Rangga pergi ke diskotik. Ia ingin menenangkan dirinya. Ia duduk di depan meja bartender sendirian. Ia menikmati cocktail yang disediakan oleh sang bartender.


Pikiran Rangga melayang kemana-mana. Rangga kira, hari ini akan menjadi hari yang paling bahagia dalam hidupnya, bisa berdua bersama Arini. Ternyata, lagi-lagi Davian menggagalkannya, Davian tiba disaat yang tepat, mengganggu suasana romantis Arini dan dirinya.


Tiba-tiba, Rangga melihat Meliza sedang melayani beberapa tamu di diskotik ini. Rangga tak yakin itu adalah Meliza, karena Rangga dalam keadaan sadar tak sadar.


Tapi, Rangga tetap menyangka, itu adalah Meliza. Ia melihat, Meliza menjadi pelayan di cafe itu dan sedang digoda oleh om-om hidung belang.


"Bukankah itu Meliza? Tapi, masa bodoh. Aku tak peduli. Dia buka urusanku."


Rangga terus meneguk minuman yang ada didepannya hingga habis sampai berbotol-botol. Rangga terus saja minum, tanpa memperhatikan kesehatannya. Beberapa jam kemudian, Rangga sudah tak sadarkan diri. Ia benar-benar mabuk.


***


Pagi ini, seperti biasa Davian akan pergi bekerja. Arini telah menyiapkan sarapan untuk suaminya itu. Davian selesai mandi, dan segera melahap habis makanan yang telah disiapkan oleh Arini.


"Wah, nasi goreng buatan istriku. Aku sangat merindukan wangi nasi goreng ini." ucap Davian.


"Spesial untuk suamiku yang baru sembuh dari sakitnya." Arini tersenyum.


"Kamu tahu gak? Ketika kamu di kampung, aku selalu makan makanan Bi Lilis, tapi aku tak suka nasi goreng buatannya. Apa lidahku sudah kamu racuni? Hingga aku hanya mau memakan makanan yang kamu buatkan!" ucap Davian.


"MAS! Aneh-aneh aja deh! Mana mungkin aku berbuat seperti itu. Ngarang!" bantah Arini.


"Kamu memang racun untukku, Arini."


"Racun apaan sih, ngaco banget deh!" Arini kesal.


"Racun cinta, di hatiku, eaaaaaaaa!"


"Dih, aneh! Oh, iya Mas? Kerjaan ku di sana, gimana? Kapan aku kembali lagi ke sana?" tanya Arini.


"Kamu tak harus bekerja di sana lagi. Sudah aku putuskan semua." balas Davian.


"Tapi, Mas? Loh, kok gitu sih?" Arini cemberut.

__ADS_1


"Kamu kan sedang kerja juga. Kerja untukku, melayani aku, iya kan? Kerja, kerja untuk apa bekerja. Memang kamu mau gaji berapa? Aku bisa memberimu gaji perbulan! Mau sebulan 10 juta? Sebulan 50 juta? Atau 100 juta? Aku bisa memberikannya untukmu. Aku bisa menggaji mu lebih dari instansi kesehatan yang termahal di Indonesia pun." ucap Davian.


"Loh, Mas Davi, dengarkan aku ya! Sejak kecil, aku memang bercita-cita ingin menjadi seorang Dokter. Aku selalu main dokter-dokteran sama Mita. Aku suka, aku senang menjalaninya. Ketika aku sudah besar, aku sadar. Bahwa, profesi seorang dokter itu sangat besar manfaatnya, bukan hanya diukur dengan uang. Aku ingin menjadi dokter, bukan sepenuhnya tentang uang. Aku ingin, mengabdikan diriku, lebih berguna untuk bangsa dan negara ini, dengan menjadi ahli kesehatan yang bisa mensejahterakan rakyatnya untuk sembuh dan hidup sehat. Apa aku salah, Mas? Bukankah saat itu Mas bilang, kalau Mas akan mengizinkan aku menjadi dokter disini?" ucap Arini.


"Untuk apa kamu capek-capek mengurus orang sakit! Lagipula, aku sudah kaya, aku mampu memberimu uang, tanpa kamu harus lelah-lelah bekerja seperti itu." balas Davian.


"Mas, kumohon. Izinkan aku!" Arini memohon.


"Kenapa kamu selalu memaksa?" tanya Davian.


"Aku ingin ada kegiatan. Aku bosan, aku ingin bekerja." pinta Arini.


"Kamu ingin ada kegiatan?" tanya Davian.


"Tentu saja, Mas. Aku bosan di rumah, aku ingin bekerja saja."


"Ya sudah, ayo, kita buat kegiatan untukmu." ucap Davian mengajak Arini keatas ranjang.


"Kegiatan? Di ranjang? Apa maksudmu, Mas?" Arini tak mengerti.


"Kita buat kegiatan untuk kamu di ranjang ini." ucap Davian.


"Iya, kita bercinta setiap pagi menjelang subuh. Konon katanya, itu akan mempercepat sel telur bertemu dengan sel ******."


"Kemana arah pembicaraan ini, Mas?" Arini sedikit tak mengerti.


"Kamu memang kurang pintar. Kamu tak pantas jadi pengusaha sepertiku. Hanya begitu saja kamu tak mengerti. Bagaimana jika kamu mengelola perusahaan? Otakmu tak sampai dengan ucapan ku. Ucapan ku terkesan terlalu jenius, kamu tak akan bisa menandinginya." Davian di atas angin lagi.


"MAS! Aku juga pintar! Jangan sembarangan kamu! Kamu itu bukan jenius, kamu itu terlalu berbelit-belit! Ibarat kata begini, sudah ada jalan lurus menuju rumahku, tapi kamu malah belok kanan dan berputar-putar, jadi membuatku pusing!" Arini kesal.


"Jadi gini lho sayangku, cintaku, matahariku, kita lakukan saja kegiatan itu secara rutin, setiap pagi kita lakukan ketika kita bangun tidur, sampai kita membuahkan hasil. Itu akan membuat spermaku masuk kedalam sel telur mu, dan tentunya akan menjadi janin. Betulkan? Artinya, kamu akan hamil kan? Nah, ketika kamu sudah melahirkan, kita punya anak kan? Nah, anak itu harus kita urus kan? Nah, disinilah letak kegiatanmu! Kegiatanmu itu untuk mengurus anak. Jadi, jangan meminta bekerja dengan alibi melakukan kegiatan. Lakukan saja bercinta denganku! Nantinya juga akan menjadi kegiatan untukmu! Mengurus dan mengasihi anakku. Sudah, ini sudah siang! Aku terlalu banyak bicara padamu. Jangan bekerja, bekerja saja untukku! Paham?"


Davian mengecup kening Arini, lalu membawa tas nya dan meninggalkan Arini seorang diri. Arini tak mengerti dengan ucapan Davian.


Apa maksudnya itu? Seorang anak? Dia memintaku memberi anak untuknya? Begitu? Dan itu, anakku nantinya akan dia jadikan kegiatan sehari-hariku, begitu? Oh, tidak. Kenapa Mas Davian tak mengizinkan aku bekerja? Padahal, tinggi harapanku untuk bisa menjadi Dokter.


"Mas, Tunggu! Tunggu aku!"

__ADS_1


***


Arini dipanggil oleh Mama dan Papa Davian. Arini segera menghampiri mereka.


"Arini, apa kamu mau ikut dengan Mama?" tanya Mama Davian.


"Kemana, Ma?"


"Ke rumah Arkan. Mama dengar, Tante Meisya sakit. Meliza kabur, dan Papamu kasihan juga pada adik perempuannya. Jadi, kita akan menjenguknya. Mau ikut? Tenang saja, Mama pastikan tak akan ada hal aneh-aneh terjadi padamu." ucap Mama Davian.


"Tapi, Arin belum izin sama Mas Davi, Ma." ucap Arini.


"Ya sudah, izinlah dulu pada suamimu. Mama akan siap-siap. Kalau Davian mengizinkan, siap-siaplah, kita berangkat sebentar lagi."


"Baik, Ma." jawab Arini.


Arini sebenarnya malas bertemu dengan nenek sihir itu. Tapi, mendengar kata sakit, membuat Arini tak tega juga. Arini mencoba menghubungi Davian.


[Mas, aku mau antar Mama pergi ke rumah Arkan. Kata Mama, Tante Meisya sakit.]


[Orang kayak gitu ngapain dijenguk. Buang-buang waktu aja!]


[Mas, gak boleh gitu. Mas mengizinkan aku tidak?]


[Aku mengizinkan kamu pergi. Asalkan dengan sekretaris Dika,]


[Baiklah, suruh dia pulang sekarang.]


[Ya, sayangku Arini-ku. Hati-hati, kalau mereka berbuat jahat lagi padamu, segera hubungi aku.]


[Tentu saja, Mas.]


***


Pukul sepuluh pagi, Rangga baru sadar. Ia mabuk berat, kepalanya sangat pusing, ia benar-benar tak mengerti dengan apa yang terjadi padanya semalam. Tiba-tiba, ia melihat disekelilingnya, kamar kos-kosan yang ukurannya sangat sempit. Rangga tak mengenal sama sekali tempat ini.


"Dimana aku? Siapa yang membawaku ke tempat kumuh seperti ini?"

__ADS_1


*Bersambung*


__ADS_2