Terjerat Cinta Sang Pembantu

Terjerat Cinta Sang Pembantu
Jangan harap


__ADS_3

"Bang Rangga, lepas!" Melisa menggerak-gerakkan tangannya agar Rangga melepaskannya.


"Kamu, kamu bekerja disini?" Rangga melihat pakaian kerja Melisa.


"I-iya, lepasin Bang!" Melisa memaksa.


Dengan syarat, jangan pergi. Aku ingin bicara denganmu!" Rangga melepaskan genggaman tangan Melisa.


"Bicara apa?" mata Melisa berkaca-kaca.


"Kamu sudah lihat anakmu, kan?" tanya Rangga.


Melisa terdiam. Ia tak mampu membalas ucapan Rangga, ia benar-benar sedih. Jika mengingat kata 'anak' benar-benar membuat hatinya sakit. Melisa merasa, sudah jadi Ibu yabg gagal dan lepas tanggung jawab pada anaknya.


"Kamu tak menjawab. Berarti, jawabanmu aku anggap iya. Kenapa kamu pergi meninggalkan Keyza? Kenapa kamu tega padanya?" tanya Rangga.


Melisa hanya menangis. Air matanya tak bisa terbendung lagi. Melisa merasa bersalah, rasanya ia sudah tak pantas menjadi seorang Ibu. Wanita yang mementingkan egonya hanya karena emosi semata. Wanita yang tak melihat hati anaknya, bagaimana perasaan anaknya ditinggalkan begitu saja karena keegoisan sang Ibu.


"Aku menyesal," ucap Melisa sembari menunduk.


"Kamu egois, Melisa!" ucap Rangga.


"Maaf, Bang. Aku sungguh menyesal, maafkan aku!" ucap Melisa yang masih menangis.


"Kamu tak punya perasaan. Kamu tega, Mel." ucap Rangga.


"Abang, sudah cukup!" Melisa menutup wajahnya.


Rangga melihat Melisa yang tengah menangis. Ia sebenarnya tak tega, melihat Melisa sedih seperti itu. Namun, ia pun sengaja, ingin membuat Melisa kesal dan kecewa karena ulahnya sendiri. Rangga ingin Melisa merasakan sakit, karena ditinggalkan anaknya. Agar Melisa paham, bahwa anak tak sepatutnya ditinggalkan.


"Apa kamu ingin bersamanya lagi?" tanya Rangga.


"Tentu saja, namun aku malu pada diriku. Aku juga sangat malu pada Bang Rangga, ternyata Abang yang menjaga Keyza. Terima kasih, Bang. Maafkan aku," ucap Melisa.


"Kemana saja kamu Mel? Kenapa baru menyesal sekarang?" tanya Rangga.


"Bang, aku sudah mencari Key ke rumah mendiang Mama, tapi rumah itu kosong tak berpenghuni. Aku mau ke rumah Kakek, aku sangat takut, apalagi untuk ke rumah Davian. Aku sudah tak mau lagi berhubungan dengan Davian. Aku bukan menyerah, aku hanya butuh waktu untuk mengambil anakku lagi. Ternyata, Keyza bersamamu. Terima kasih Bang Rangga," ucap Melisa.

__ADS_1


"Aku yang berterima kasih padamu! Karena kamu, aku bisa merawat Keyza dengan baik. Karena kamu, dia menyayangi aku. Karena kamu, aku menjadi lebih dekat dengan.." ucapan Rangga terpotong.


"Dengan wanita itu? Dia siapa mu, Bang?" tanya Melisa.


"Dia wanitaku. Memangnya kenapa?"


"T-tidak apa-apa. Cantik, cocok sekali denganmu." ucap Rangga.


"Dia yang akan menjadi Ibu baru bagi Keyza. Dia sangat menyayangi Keyza, dan aku senang mereka bisa akrab dengan mudah!" ucap Rangga membuat Melisa kaget.


"Bang Rangga, apa maksud dari ucapan mu?" Melisa tak terima.


"Ya, aku dan wanitaku yang akan menggantikan peran kamu dan Arkan untuk mengurus Keyza." ucap Rangga.


"Kenapa kamu tega sekali, Bang?"


"Kamu yang tega, Mel. Kamu membiarkan anak sekecil itu menangis dalam kesendirian." Rangga kesal dan marah.


"Abang, kenapa Abang harus berkata begini? Aku ini Ibu kandungnya Keyza. Kenapa Bang Rangga malah berkata begitu?" Melisa semakin sedih.


"Kamu Ibu kandungnya, tapi kamu tak layak disebut Ibu oleh anakmu. Ibu mana yang tega meninggalkan anaknya? Tanya pada dirimu sendiri, Mel. Apa kamu pantas disebut Ibu oleh anakmu?" Rangga menatap Melisa dengan sorot mata yang tajam.


Karena Rangga tak kunjung kembali, Tira memutuskan untuk melihat Rangga ke toilet, karena Keyza sudah selesai makan dan ingin segera pulang. Tira menuju ke toilet. Ia berjalan tanpa melihat kearah toilet. Hingga saat ia sampai di toilet, ia memergoki Rangga sedang bersama wanita. Tira pun merasa malu telah mengganggu mereka. Rangga yang melihat Tira merasa gugup.


"Ya ampun, maafkan aku." ucap Tira dan berbalik, untuk kembali ke mejanya.


"Sayang, tunggu!" ucap Rangga pada Tira.


Sontak saja membuat semuanya kaget. Jantung Tira berdebar kencang ketika Rangga memanggil dirinya dengan sebutan sayang. Tira tak mengerti, apa yang terjadi diantara mereka, namun Tira lebih tak mengerti, kenapa Rangga berkata sayang pada dirinya. Rangga mendekati Tira. Refleks, Rangga merangkul lengan Tira, karena ia tak mau membuat rencananya gagal.


"Sayang, maafkan aku. Aku terlalu lama ya, ayo kita pergi." Rangga memaksa Tira berjalan, tanpa mempedulikan Melisa yang terlihat sangat sedih dan kesal.


Tira sangat tak nyaman dengan perlakuan Rangga. Namun seakan Tira mengerti, bahwa Rangga meminta dirinya untuk dapat bekerja sama kali ini. Hingga Rangga dan Tira pun pergi keluar dari toilet dan segera menemui Keyza. Rangga gugup, dan merasa bersalah. Ia segera melepaskan rangkulannya dan segera menuju kasir untuk membayar.


Setelah selesai, akhirnya mereka pulang. Didalam mobil, tak ada satupun dari mereka yang berbicara. Keysa yang duduk bersama Tira, ternyata asyik dengan mainan yang berhasil ia dapatkan daei timezone. Hanya keheningan yang tercipta sampai di pelataran parkir apartemen. Rangga berjalan bersama Keyza menuju apartemen, Tira mengikutinya dari belakang dengan perasaan tak menentu.


Sesampainya di apartemen,

__ADS_1


"Key, masuk dulu ya, ada yang mau opah kecil bicarakan pada Kakak Tira." ucap Rangga sembari mengusap rambut Keyza.


"Baik, Opah." Keyza segera masuk kedalam.


Rangga menatap Tira. Tira tak nyaman, Tira sangat ingin bertanya dan mempertanggung jawabkan perlakuan Rangga padanya, namun Tira tak berani berkata dan menanyakannya. Tira terlalu malu dan merasa segan pada Rangga.


"Maaf." hanya itu yang keluar dari mulut Rangga.


"Tidak apa-apa, Tuan." ucap Tira, lalu ia akan membuka pintu apartemen.


Tira tak nyaman, ia memutuskan untuk tak ingin memperpanjang masalah dengan Rangga. Kata maaf telah terucap dari mulut Rangga, itu berarti tak ada masalah lagi. Sudah cukup bagi Tira untuk tak bertanya hal yang tak seharusnya ia tanyakan.


"Tira, tunggu!" cegah Rangga.


"Iya, Tuan. Ada apa lagi?" tanya Tira.


"Apa kamu gak tahu, tadi itu siapa?" tanya Rangga.


"Enggak, Tuan." jawab Tira simpel, tak ingin ikut campur.


"Kenapa tak bertanya? Apa kamu tak ingin tahu?" tanya Rangga lagi.


"Maaf, Tuan Rangga. Bukan kapasitas saya untuk ikut campur urusan pribadi Tuan." Tira tersenyum lembut.


"Dia adalah Ibunya Keyza." ucap Rangga.


"Apa? Ibunya?" Tira kaget.


Pantas saja aku tak asing dengan wajahnya. Aku pernah melihatnya, namun aku lupa-lupa ingat, kenapa Ibunya Keyza kini menapakkan dirinya? Gumam Tira.


"Dia sudah tahu, Keyza bersamaku. Dia ingin Keyza kembali padanya. Namun, aku sudah mengatakan padanya, bahwa Keyza telah aku rawat. Dan kamu, adalah calon Ibu Keyza. Maafkan aku, membawa-bawa namamu kedalam kisah ini." ucap Rangga.


Tira menohok kaget. Ia tak menyangka kata-kata seperti itu keluar dari mulut Rangga. Ia kesal, kenapa Rangga harus membawa-bawa namanya. Tira tak ingin terbawa-bawa masalah Rangga dan Melisa. Tira ingin hidup damai, Tira tak suka dengan cara Rangga yang seperti ini.


"Maaf, Tuan Rangga. Saya tak ingin terbawa-bawa kedalam masalah kalian. Saya ingin hidup tenang, dan saya tak suka jika Tuan Rangga melibatkan saya dalam pertikaian antara Tuan Rangga dan Ibunya Keyza. Mohon maaf, kuharap hal seperti ini tak akan terulang kembali. Permisi, saya harus masuk kedalam." ucap Tira meninggalkan Rangga.


Kenapa Tira marah? Tira marah padaku, kan? Apa perlakuanku tadi membuatnya tak nyaman? Aku kan sudah minta maaf padanya, kenapa ia terlihat masih marah? Batin Rangga.

__ADS_1


*Bersambung*


__ADS_2