Terjerat Cinta Sang Pembantu

Terjerat Cinta Sang Pembantu
Aku jujur


__ADS_3

Davian dan Arini telah sampai di rumah. Arini telah selesai membersihkan tubuhnya dan kini giliran Davian yang sedang mandi. Setengah jam kemudian, Davian keluar dari kamar mandi dan mengagetkan Arini.


"Serius banget!" ucap Davian


"Eh, Mas. Udah mandinya?" tanya Arini.


"Udah Rin. Seger rasanya." jawab Davian.


Arini benar-benar gugup. Arini ingin jujur, tapi ia bingung harus bagaimana.


"Mas,"


"Apa Rin?" jawab Davian


"Maksud ucapan Mas tadi, apa sih?" Arini penasaran.


"Aku duduk disini ya," Davian duduk di sofa.


"Tentu saja boleh." Arini menggeser duduknya.


Davian terdiam. Davian juga bingung dengan apa yang akan terjadi jika dirinya jauh dari Arini. Davian juga tak bisa membiarkan Arini disini, ia takut Arkan akan menyakiti Arini. Tapi, Davian harus mengatakannya pada Arini, agar tak ada lagi yang disembunyikan antara mereka.


"Sebenarnya, ada yang ingin aku katakan padamu, Arini."


"Apa itu Mas?" Arini penasaran


"Kita harus pura-pura berpisah." ucap Davian


Arini kaget, "Ha? Apa? Maksud Mas? Pura-pura berpisah?"


Davian sedikit takut mengatakannya pada Arini. Davian takut, akan reaksi Arini yang tak siap mendengar penjelasannya. Namun, Davian pun tak bisa terus menerus menyembunyikan hal ini dari Arini. Sepahit apapun kenyataan ini, Arini harus tahu.


Davian sengaja membuat Arini berpura-pura menjadi Dokter di Rumah sakit, agar Arkan merasa bahwa ini sungguhan. Sekretaris Dika telah merencanakan ini semua. Arini tidak menjadi Dokter sungguhan, Arini hanya menyamar menjadi Dokter.


Sekretaris Dika juga yang merekomendasikan agar Arini berpura-pura menjadi Dokter di kampung yang jauh dari kota, agar Arkan sulit untuk menemukan jejak Arini.


"Mas, apa maksud Mas?" Arini sangat penasaran.


"Ada satu masalah, dan itu mengancam keselamatan kamu, Arini. Aku tak bisa tinggal diam." ucap Davian menahan keraguan.


"Masalah? Masalah apa Mas?" tanya Arini


"Ini soal Arkan." jawab Davian

__ADS_1


"Arkan? Kenapa dia?" Arini sedikit kaget


Davian menatap istrinya. Lalu, ia mengelus-elus rambut Arini. Davian tak ingin Arini khawatir.


"Kita harus pura-pura cerai, dan kamu pergi ke pelosok. Itu adalah caraku agar kamu tak masuk perangkap Arkan." Davian mencoba jujur


"Maksud Mas? Kenapa aku tak mengerti sama sekali?" Arini kaget mendengar ucapan Davian


"Arkan sangat ingin menghancurkan ku, Arkan ingin membuat aku dan perusahaan ku hancur. Dia membuat Tasya masuk kedalam hidupku lagi, ternyata tak mempan. Aku sudah menemukan cinta yang lain. Sepertinya, dia akan melukaimu, karena kamu yang aku cintai. Baginya, mudah menghancurkan aku, kalau kamu yang menjadi targetnya." ucap Davian mencoba menjelaskan agar Arini tak kaget


"Apa benar begitu Mas? Kenapa Arkan sejahat itu?" tanya Arini


"Semua karena warisan Kakek. Dia iri dan benci terhadapku. Kakek memang memberi Arkan kesempatan merebut perusahaan, namun aku bisa menggagalkannya. Dia marah dan kecewa karena hal ini. Karena itulah, dia benar-benar membenciku." jawab Davian


"Kenapa harus aku yang dia incar?" Arini mencoba untuk tetap tenang


"Karena kamu, adalah wanita yang aku cintai. Jika kamu terluka, aku pasti akan lebih terluka. Aku lebih baik kehilangan perusahaan ku, daripada harus kehilangan kamu. Namun, tak akan semudah itu aku memberikan perusahaan pada Arkan. Dan aku, tak akan tinggal diam jika Arkan akan menghancurkan semuanya. Aku harus bisa lebih pintar darinya!"


"Mas, tapi itu pasti akan membahayakan kamu. Apa kamu akan baik-baik saja? Aku khawatir padamu." ucap Arini


"Kamu tak usah khawatir padaku, aku bisa menjaga diriku. Yang penting, Arkan tak akan macam-macam padamu. Yang harus aku lindungi adalah kamu, wanitaku." Davian menatap Arini.


"Mas, tapi jika karena hal ini, aku berat untuk meninggalkanmu. Aku ingin tetap bersamamu, aku takut sesuatu terjadi padamu." ucap Arini tiba-tiba memegang tangan Davian


"Mas, tapi aku berat sekali meninggalkanmu." Arini sedih.


"Tak usah khawatir, aku akan mengabari mu setiap hari. Tapi, aku akan meminta izin mu, untuk kita pura-pura cerai saja. Ini lebih baik, untuk kita." ucap Davian.


"Kenapa harus pura-pura cerai Mas?" tanya Arini


"Agar Arkan tak mengejar mu, jika dia tahu aku dan kamu telah bercerai. Lagipula, ada alasan kan kamu bercerai denganku? Kamu memilih jalan mu sebagai dokter, dan kita tak sejalan. Aku yakin, Arkan pasti mempercayainya." jelas Davian


"Kenapa Mas Davian harus melakukan hal seperti ini?"


"Arkan bukan orang yang mudah dibohongi. Aku harus benar-benar membuat strategi yang bisa membuatnya percaya. Karena itulah, aku bertidak sejauh ini. Aku yakin, dia sudah merencanakan sesuatu untukmu. Maka, sebelum Arkan bertindak, kamu harus segera pergi, agar jejak mu tak tercium olehnya." jelas Davian.


"Mas, kenapa kisah kita harus serumit ini?" Arini bingung.


"Karena aku bukan berasal dari kalangan orang biasa sepertimu. Persaingan dalam hidupku sangat pelik. Kamu harus kuat menghadapinya. Aku yakin, kamu kuat. Aku akan segera menyerahkan surat cerai palsu kita pada keluargaku. Dan kamu, harus segera meninggalkan rumah ini." jawab Davian


"Aku sedih, rasanya ini seperti perpisahan aku dan kamu yang sangat nyata, Mas." ucap Arini


"Tidak, sayang. Ini hanya sementara. Aku usahakan sampai Arkan masuk penjara, karena beberapa kali dia membobol uang perusahaan keluargaku, aku harus segera menemukan bukti-buktinya. Aku janji, dalam waktu 5 bulan, kamu akan kembali ke pelukanku, dan aku akan membuatmu menjadi dokter sungguhan disini." Davian mengusap rambut Arini.

__ADS_1


"Mas.."


Arini sedih, rasanya benar-benar seperti nyata. Seperti perpisahan yang sesungguhnya. Dia akan pergi meninggalkan Davian. Kenapa rasanya sakit sekali?


"Arini-ku?"


"Ya, Mas?" tanya Arini


"Mari kita lakukan.." Davian mulai lagi.


"Apa?" Arini tak mengerti


Davian mendekati Arini, "Pelepasan bersama kita, untuk mengobati rasa rinduku."


"Bercinta maksud Mas?" Arini polos


"Tentu saja, aku menginginkannya. Aku akan memakai pengaman, agar kamu tak hamil. Karena saat ini, aku tak ingin kamu hamil dulu." ucap Davian.


"Tapi, Mas. Aku berat melakukannya."


"Kenapa?" tanya Davian


"Aku merasa, ini seperti perpisahan yang nyata dan sungguhan. Ucapan mu seperti kita benar-benar akan berpisah. Aku sedih." Arini menitikkan air matanya.


"Tidak, sayang. Aku melow karena kamu sebentar lagi harus pergi, aku terbawa suasana. Aku akan mengunjungimu dua minggu setelah kepergian mu, jika aku merindukan sweety-mu, aku akan segera menuju tempatmu untuk menagihnya. Bagaimana?"


"Mas, kamu ini." Arini tersenyum malu


"Tuh kan, mulai tersenyum. Tenang saja, everything's will be Okay. Believe me, and wait me, Darling! Aku akan segera membereskan masalah ini. Ayo, si kecilku sudah bangun dari tadi."


"Mas, aku masih malu." Arini menutup wajahnya.


"Tak usah malu sayang, biar aku matikan lampunya. Ya?"


"Tapi, pelan-pelan ya Mas?" pinta Arini.


"Iya, sayang. Ayo, aku bawa kamu naik ke ranjang sekarang." Davian memangku Arini, lalu mencium leher Arini agar ia terangsang


"Mas, ahhhhh geli. Jangan cium-cium dulu." Arini kegelian.


Ssshhhhttt! Jangan nonton ya, Arini terlalu malu katanya. xixixi


*Bersambung*

__ADS_1


__ADS_2