
Hari ini adalah jadwal USG Arini. Davian meluangkan waktunya untuk menemani Arini pergi ke Dokter spesialis kandungan. Arini senang, karena rasanya ia akan bertemu dengan baby-nya, walaupun hanya melihatnya dengan alat.
Sekretaris Dika mengantar Davian dan Arini pergi ke Rumah sakit khusus Ibu dan anak. Davian sangat antusias mengantar Arini, karena ia pun penasaran, anak yang Arini kandung, berjenis kelamin laki-laki, atau perempuan.
"Sayang, aku sudah tak sabar!" ucap Davian.
"Sabar, sebentar lagi kan sampai." jawab Arini.
"Bagaimana aku bisa sabar, sebentar lagi aku akan melihat bayiku. Tentunya aku sangat penasaran." balas Davian.
"Jangan kecewa ya, kalau ternyata anak kita perempuan!" tegas Arini.
"Mana mungkin aku kecewa. Aku tak akan kecewa, karena dia adalah benihku, mau laki-laki atau perempuan, aku akan menyayanginya. Walaupun, keinginanku tentu saja ingin mempunyai anak laki-laki. Punya keinginan kan wajar sayang," ujar Davian tersenyum.
"Baguslah, kalau Mas mengerti."
"Iya sayang, aku akan menerima apapun yang Tuhan berikan padaku." Davian memegang tangan Arini.
"Aku juga, Mas. Apapun nanti jenis kelaminnya, yang penting dia tetap sehat dan sempurna." Arini menyenderkan kepalanya ke bahu Davian.
Sekretaris Dika yang melihat pada kaca mobil, merasa kesal dengan tingkah kedua Bos nya itu. Bagaimana rasanya, seorang sekretaris yang tak pernah merasakan jatuh cinta, kini setiap harinya ia harus melihat pemandangan romantis seperti ini.
"Kenapa lu? Liat-liat?" ucap Davian.
"Kan gue punya mata, Bos. Makanya gue liat." balas sekretaris Dika.
"Lu envy, ya? Pengen ya? Cari cewek dong, Dik!" Davian tertawa.
"Mana bisa gue cari cewe, Bos. Setiap hari gue ada dibalik ketek elu! Gak ada waktu buat gue sekedar pacaran." sekretaris Dika kesal.
"Dih, curhat! Ya udah lu pacaran sama ketek gua aja nih! Mau?" Davian tak henti-hentinya tertawa.
"Mas, kamu jangan gitu ih. Kasihan Dika. Dik, kan sekarang udah zaman canggih, kamu bisa dapetin cewek walau hanya chat di handphone. Setelah dirasa dekat, tinggal ajak ketemuan aja. Tapi awas, jangan sampai tertipu kamera jahat! Nanti kamu shock pas ketemuan." Arini pun tak bisa menahan tawanya.
"Tuh kan, sudah kuduga, ujung-ujungnya gak enak. Nona, saya itu malas basa-basi. Rasanya, kalau sudah ada wanita yang pas di hati saya, ingin rasanya langsung saya ajak menikah saja!" ucap sekretaris Dika mantap.
"Wow, seorang sekretaris Dika gentle sekali. Gue merinding dengernya. Mana ada lu nikah gak pedekate dulu sama itu cewek. Ya setidaknya lu harus melakukan pendekatan dong, biar lu dan dia bisa merasa cocok satu sama lain." ucap Davian.
"Jodoh itu gak bisa ditebak, Bos. Udah lah, males gue bahas gituan. Toh, gue emang males deketin cewek. Jodohin gue ajalah, Bos. Sama cewek cakep, biar gue gak bosen mandangin nya!" sekretaris Dika pasrah.
"Ada, mau?" ucap Davian serius.
"Mau dong. Siapa? Kirim kontaknya aja sama gue. Asal beneran cewek, Bos!" ucap Dika.
"Ya iyalah cewek! Masa lu mau jeruk makan jeruk."
"Mas, kamu ini ya. Memang kamu mau jodohin Dika sama siapa? Staff mu ada yang lajang kah?" tanya Arini.
"Tentu ada, sayang. Dia siap menikah, karena sampai saat ini dia juga tak mau berhubungan. Kayaknya sama kayak si Dika, ingin langsung menempuh jenjang yang serius! Hahaha." Davian tertawa puas.
"Ah, elah. Cepet kirim aja nomer handphone nya, Bos. Kebanyakan teori lu dari tadi. Tapi, kasih nomernya kagak!" balas sekretaris Dika.
"Gak usah gue kasih. Lu juga udah punya!" jawab Davian.
"Hah? Maksud lu, Bos?" Dika tak mengerti.
"Gue mau jodohin lu sama Tira. Cocok banget lu sama dia. Sama-sama jual mahal. Hahahaha." Davian tergelak penuh tawa.
__ADS_1
"Astaga, Mas Davi. Aku gak nyangka kesitu loh! Tapi, aku setuju Dik. Kamu sama Tira itu kayak ada manis-manisnya gitu, walaupun hubungan kalian terlihat biasa saja. Tapi kayaknya, masing-masing dari kalian itu saling memperhatikan satu sama lain, walaupun kalian berdua terlihat cuek. Aku bisa lihat dari sorot mata kalian." ucap Arini.
"Ah, tahu lah. Kalian berdua sama aja. Gue udah serius, udah dengerin baik-baik. Ujung-ujungnya malah sama dia lagi." Dika cemberut kesal.
"Ya elah, ngambekan lu! Cepet tua nanti." Davian terkekeh.
...❤❤❤...
Arini dan Davian telah sampai di Rumah sakit. Mereka segera masuk ke dalam rumah sakit dan segera bertemu dengan Dokter Tika Sp.Og. Dokter Tika adalah Dokter spesialis kandungan terbaik di Jakarta. Davian setuju jika Arini di dampingi oleh Dokter Tika sampai melahirkan nanti.
Arini sedang berbaring. Alat USG diarahkan ke perutnya, dan sebelum itu Dokter Tika telah mengoleskan gel khusus guna mencegah terjadinya gesekan antara kulit dan alat USG yang disebut transducer. Gel itu juga berfungsi memudahkan pengiriman gelombang suara kedalam tubuh, sehingga Arini tetap bisa rileks.
"Coba lihat, itu dia, sedang telungkup, dan bermain-main. Lihatlah, Tuan. Ini dia kepalanya, dia dalam kondisi yang normal ya, kepala bayi dan lingkar kepalanya normal, sesuai usia kandungannya yang saat ini, 24week." ucap Dokter Tika.
Davian memegang tangan Arini. Jantungnya bergetar hebat, melihat buah hatinya terpampang jelas di layar komputer. Arini pun sangat bahagia, bisa melihat aktifitas bayinya didalam perutnya. Davian mengusap rambut Arini, matanya berkaca-kaca. Ia benar-benar bahagia.
"Dokter, benarkah dia? Anakku, lucu sekali dia. Aku sepertinya harus membeli alat USG ini, agar setiap hari aku bisa melihatnya di rumah." Davian mulai lagi.
"Astaga, Mas Davi. Please deh, serius!" Arini sedikit malu.
"Aku serius. Kalau saja aku bisa membelinya. Dok, apa bisa aku membeli alat USG ini?" tanya Davian.
Dokter Tika tersenyum, "Tentu tidak, Tuan Davian. Ini hanya diperuntukkan untuk pemeriksaan. Tidak boleh digunakan sembarangan. Jika Tuan menginginkan USG, kan bisa datang kesini lagi, saya akan dengan senang hati memeriksa Nona Arini."
"Tadinya, aku ingin melihatnya setiap hari. Baiklah Dok, lanjut! Apa jenis kelamin anakku?" tanya Davian antusias.
Dokter Tika menggerak-gerakan alat transducernya, ia melihat layar komputer dan memastikan keadaan bayi Arini dalam kondisi sehat.
"Kita bertahap dulu ya, pemeriksaan dari kepala lalu kebawah. Kepala, lingkar kepala normal. Jarak matanya juga normal, panjang lengan dan jari-jarinya juga baik, normal sesuai usia kandungannya." ucap Dokter Tika.
"Kita lihat ritme dan denyut jantungnya ya, tunggu sebentar. Denyut jantungnya atau disebut dengan DJJ, normal kok, 130x/ menit ya. Dan kita lihat jenis kelaminnya.." ucap Dokter Tika.
"Apa Dok jenis kelaminnya?" Davian benar-benar penasaran.
"Hmm, maunya apa nih?" Dokter Tika menggoda Davian.
"Ah, Dokter. Anda membuat saya mati penasaran. Ayo, beritahu kami." Davian tak sabar.
"Coba lihat di bagian ini. Apa ini?" Dokter Tika tersenyum.
"Apa itu laki-laki, Dok?" Arini menebak.
"Tuan Davian, apa ini?" Dokter Tika bertanya pada Davian.
"Ah, apa itu, aku tak mengerti. Dokter, jangan membuat aku penasaran terus menerus. Jelaskan sekarang juga." ucap Davian.
"Lihat, ini ada bijinya. Bercanda ya, jangan terlalu serius. Kemungkinan besar, bayi Tuan Davian dan Nona Arini adalah laki-laki. Bisa dilihat dari sini ya, ini bayi laki-laki." ucap Dokter Tika.
"Alhamdulillah, itulah yang saya inginkan, Dok. Bagaimana kondisi keseluruhannya? Bayiku sehat kan?" tanya Davian penuh semangat.
"Semuanya normal. Bayi sesuai dengan perkembangan usianya. Untuk plasenta juga posisinya bagus, cairan ketuban cukup, namun sedikit keruh. Nona Arini harus banyak minum air mineral ya, karena minum air benar-benar mempengaruhi jumlah air ketuban. Banyakin minum terus ya, biar air ketubannya jernih." ucap Dokter Tika.
"Baik, Dokter." ucap Arini.
"Oh, tidak. Apa itu ketuban keruh? Dokter, jangan buat saya takut. Tolong buat air ketuban istri saya jernih kembali. Saya gak mau terjadi sesuatu pada bayi saya. Mereka berdua harus sehat, Dok. Tolong buat air ketuban istri saya jernih kembali. Saya akan bayar berapa saja asalkan Dokter bisa menjernihkan air ketubannya." Davian khawatir.
"Mas, ya ampun." Arini benar-benar malu.
__ADS_1
"Ini tidak parah, kok. Jumlah air ketubannya cukup, hanya sedikit keruh karena Nona mungkin sering kelelahan dan kurang minum. Banyakin minum air putih saja, karena itu akan membuat air ketuban jernih." ucap Dokter Tika.
"Berapa gelar sehari, Dok? Aku harus mengawal istriku, dia memang kurang minum. Pantas saja, berpengaruh pada cairan ketubannya." ucap Davian.
"Sehari 8 gelas, cukup. Intinya, perbanyak air putih dan makanan bergizi. Saya juga akan meresepkan vitamin, obat penambah darah dan suplemen asam folat untuk Nona Arini. Susu hamilnya apa masih ada?" tanya Dokter Tika.
"Tolong berikan obat termahal dan terbaik, Dok. Saya ingin yang terbaik untuk anak saya." ucap Davian.
Dokter Tika melepaskan alat USGnya, karena USG telah selesai.
"Baik, Tuan. Kalau susu apa perlu saya resepkan?" tanya Dokter Tika.
"Tak usah, Dok. Stok susu hamil saya banyak, dan saya cocok dengan sumil yang ada di rumah. Oh iya, saya ingin nanti bayi saya ASI ekslusif, merangsang agar ASI keluar, bagaimana ya Dok?" tanya Arini.
"Oh, iya, karena sekarang menuju 7 bulan, merangsang pay*dara agar keluar ASI sangat dianjurkan. Saya sarankan, Pijat lembut pay*dara anda, dari bagian tepi payudara ke area p*ting secara teratur. Lakukan setiap hari selama masa kehamilan untuk memperlancar ASI keluar nanti saat bayi sudah keluar. Sangat mudah, dan rangsangan p*ting juga sangat penting. Rangsangan bisa dilakukan dengan cara menarik lembut atau memutar perlahan p*ting susu. Bisa juga untuk memutarnya dengan lembut dan perlahan." ucap Dokter Tika menjelaskan.
Astaga, kenapa otak gue traveling kemana-mana ketika Dokter Tika menjelaskan seputar persusuan? Aduh, Davian. Otak lu emang harus dibersihkan! Batin Davian dalam hati.
"Oh, baiklah Dok. Terima kasih atas penjelasannya." ucap Arini.
"Nanti setelah menuju kelahiran, jika ASI belum keluar juga, saya akan meresepkan obat pelancar ASI. Peran suami juga sangat membantu dalam proses keluarnya ASI. Minta bantuan pijat saja pada suami ya, agar tubuh lebih rileks." ucap Dokter Tika.
Pijat? Bantu oleh suami? Pijat susu kah? Oh, aku senang sekali rasanya. Dokter Tika, itulah yang aku inginkan. Eh, kenapa ini pikiranku selalu saja begini. Aarrggh! Gumam Davian lagi.
"Pijat apa Dok?" tanya Arini.
Ya pijat buah dada kamu dong sayang, Davian menjawab dalam hatinya.
"Memijat leher dan punggung anda, Nona. Ketika dipijat, posisikan diri dalam posisi setengah menunduk. Akan lebih baik jika Anda melepaskan baju ya Nona, sehingga pay*dara akan jatuh ke bawah. Agar ASI mudah terangsang untuk keluar. Mulailah memijat dari bagian leher ke punggung dengan menggunakan ibu jari." jelas Dokter Tika.
Eh, salah ya pikiran gue? Kirain pijat bola dunia Arini. Xixixi, ternyata pijat punggung. Gumam Davian.
"Baik, ini sudah saya resepkan obatnya ya. Silahkan ambil di bagian Farmasi." jelas Dokter Tika.
"Baik, terima kasih, Dok. Penjelasannya sangat bermanfaat. Kalau begitu, saya permisi dulu ya," Arini beranjak dari tidurnya.
"Terima kasih, Dok." ucap Davian.
"Sama-sama. Semoga sehat selalu ya kandungannya." Dokter Tika tersenyum.
Davian dan Arini keluar dari ruangan dokter Tika. Davian tak banyak bicara seperti awal tadi. Arini tak mengerti apa yang terjadi pada suaminya itu.
"Mas, kok jadi pendiem sih? Kenapa?" tanya Arini.
"Aku tak bisa berpikir jernih ketika kamu dan Dokter Tika membahas mengenai susu-mu itu." ucap Davian.
"Eh, Mas! Pelan-pelan dong ngomongnya." Arini malu.
"Kamu yang nanya, ya aku jawab. Ayolah, segera ambil obatmu. Kita pulang. Kita menstimulasi air susu-mu, aku sudah tak sabar ingin membantumu." ucap Davian.
"Cih? Apa maksudnya itu? Membantu? Kesempatan aja kamu ya!" Arini cemberut.
"Tentu saja, itu kesempatan emas. Selain membantumu, aku juga bisa menyegarkan diriku." Davian memegang tangan Arini dan mengajaknya berjalan menuju farmasi.
"Astaga, menyesal aku bertanya seputar ASI pada Dokter Tika." Arini geleng-geleng kepala.
*Bersambung*
__ADS_1