Terjerat Cinta Sang Pembantu

Terjerat Cinta Sang Pembantu
Calandra series 22


__ADS_3

Selamat membaca ..


Jangan lupa like dulu ya (maksa) 😁😁😁


Keesokan harinya ...


Kedatangan Rena membuat semua orang kaget dan tak percaya. Seketika itu pula, Nadia lemas dan tubuhnya ambruk begitu saja, saking kagetnya ada seorang wanita yang meminta pertanggung jawaban dari Elang. Keadaannya semakin mencekam, dan Davian meminta Rena untuk pergi. Davian akan membahas masalah ini dengan Rena, asalkan Rena bisa berlalu. Jika keadaan sudah membaik, semua itu akan dibahas.


Pagi ini, kondisi Nadia telah membaik. Elang, Nadia dan sekretaris Dika sudah berada di ruang keluarga. Sepertinya, sekretaris Dika akan menanyakan perihal kejadian semalam.


"Ayah, maaf ..." ucap Elang tiba-tiba,


"Maaf untuk apa? Kesalahan yang mana? Kesalahanmu terlalu banyak!" tegas sekretaris Dika.


"Ayah, Mama, dengarkan aku. Jujur, aku gelap mata ketika aku memasukan obat perangsang pada minuman Nisha, dan aku memang kesal karena Ayah meminta aku menjauh dari Nisha. Aku tak bisa terima hal itu. Karena itulah, aku nekad untuk membuat Nisha menjadi milikku dengan cara kotor seperti itu. Tapi, untuk masalah Rena, sumpah demi Allah Ayah, aku tak melakukannya. Aku memang pernah kepergok saat itu, tapi aku belum melakukan hal itu. Sungguh Ayah, percayalah padaku. Aku belum sejauh itu, aku belum pernah menidurinya. Maafkan aku telah berulang kali mengecewakan kalian, tapi jujur ... aku tak meniduri Rena. Aku tak tahu, siapa yang telah menghamilinya, Ayah. Sungguh." Elang meyakinkan kedua orang tuanya.


"Apa aku harus mempercayai anak sepertimu? Apa kamu masih bisa membuat aku percaya padamu?" selidik sekretaris Dika.


"Ayah, aku sungguh. Sumpah, aku tak menidurinya. Aku tak tahu menahu, kumohon kalian percaya padaku, aku berani sumpah dan aku mau dia test DNA, kalau kalian tak percaya padaku!" Elang terus membela diri.


"Elang, jujur ... Mama kecewa padamu, kamu telah melukai hati kita. Kamu telah melempar kotoran ke muka kita. Kamu membuat kita malu dihadapan keluarga Calandra. Aku berharap penuh padamu. Tapi, apa? Kamu ternyata malah menyakiti hatiku. Kelakuanmu sungguh tidak pantas. Sudah berulang kali kamu mengecewakan aku. Apa didikan ku padamu selama ini tak berarti? Apa aku salah mendidik mu? Apa kamu ingin aku mengabaikan mu, agar kamu berpikir? Baiklah, kurasa, aku tak perlu lagi peduli padamu. Silahkan, atur hidupmu sendiri, Elang. Aku angkat tangan mengurus mu. Aku tak mau ikut campur lagi. Ayah, maafkan aku. Silahkan kamu urus anak sulung mu ini. Aku sudah terlalu kecewa olehnya. Harapanku hancur begitu saja karena ulahnya. Maafkan keegoisanku ini." Nadia berdiri, lalu berlalu meninggalkan Elang dan sekretaris Dika.


Elang yang sedih mendengar ketidakpedulian sang Ibu, segera berlari mengejar Nadia. Elang menarik tangan Nadia, dan Elang bersimpuh di hadapan Nadia. Elang menyesali perbuatan gilanya. Elang tak menyangka, Nadia akan begitu kecewa dan sakit hati. Elang menunduk sambil memegangi tangan Nadia.


"Ma, Mama ... maafkan kesalahanku. Mama tak salah mendidik ku. Mama tak salah, aku yang salah. Aku yang menyalahartikan kebaikan dan kepedulian mu padaku. Aku yang bodoh merasa bahwa aku bisa melakukan segalanya. Sungguh, maafkan aku, Ma. Jangan biarkan aku, aku sedih jika Mama tak peduli padaku. Maa ...." Elang terus memohon.


"Aku salah mendidik mu. Jika kamu merasa bisa mengurus dirimu sendiri, silahkan urus dirimu dan aku tak akan sekalipun ikut campur padamu!" ucap Nadia lalu menepis tangan Elang yang memegangnya, dan berlalu.

__ADS_1


"Ma ... Mama ... maafkan aku," Elang menunduk dan air matanya tak bisa tertahan.


Sekretaris Dika hanya menatap Elang tanpa rasa iba sedikitpun. Anaknya itu berhak mendapat perlakuan tak acuh dari Ibunya, karena Elang sudah keterlaluan. Sekretaris Dika hanya menatap Elang yang sedang meratapi kesedihannya.


"Kau, kemari lah!" ucap sekretaris Dika pada Elang.


Elang menoleh, ia pun berjalan dengan lesu menuju sang Ayah. Elang sudah mendapat balasan atas perbuatannya. Elang sudah menyesal, karena melihat sang Ibu yang tak acuh padanya. Elang pun duduk sambil mengusap air matanya yang mengalir.


"Kamu puas? Ini yang kamu inginkan? Hati Ibu mana yang tak sakit jika anaknya mengecewakan seperti kamu? Kamu memang brengs3k Elang! Kamu tak tahu diri. Kurang apa Mamamu itu? Dia baik, dia paling menyayangi kamu dibanding Jenie, dia tak pernah memarahi mu, dia selalu memanjakan kamu. Memang kamu anak yang tak tahu di untung." tegas sekretaris Dika.


"Ayah ... maafkan aku, aku menyesal. Aku ingin Mama dan Ayah tak marah lagi padaku. Kumohon, Ayah ..." Elang memohon.


"Karena semalam ada keluarga Bos-ku, aku tak enak membahas masalah pribadimu. Bawa wanita jal4ng itu padaku malam ini. Aku harus berbicara dengannya secara jelas. Kalau malam ini dia tak datang, aku pastikan, aku akan mengusir dirimu dari rumah ini, Elang!" Sekretaris Dika berdiri lalu pergi meninggalkan Elang sendirian.


"Ayah, tunggu ... Ayah! Jangan pergi ..." Elang menutup wajahnya karena benar-benar pusing.


...🌸🌸🌸...


Nisha sudah kembali ke rumah besar Davian. Ia sebenarnya malu, kalau terus berlama-lama disini, dan ia ingin segera pulang. Tapi, Arini melarangnya sampai kondisi Nisha benar-benar pulih. Nisha hanya bisa berjalan-jalan di rumah Arini, karena hari ini mereka semua tak ada di rumah.


Tiba-tiba, Davian masuk kedalam rumah sambil menelepon, entah dengan siapa. Nisha yang sedang membantu Bik Lilis membersihkan meja makan, mendengar obrolan Davian yang terlihat serius dan penting.


"Baiklah, sore ini aku akan kerumahnya. Kita atur semua, dan pastikan semuanya aman hingga waktunya tiba." ucap Davian lalu mematikan ponselnya.


Nisha tersenyum menyambut Davian, dan Davian pun membalas senyuman Nisha.


"Kamu tak perlu membantu beres-beres. Kamu lebih baik istirahat, Nisha." ucap Davian.

__ADS_1


"Gak apa-apa, Pak. Nisha sudah baikan, kok. Di kamar pun Nisha kesal, makanya Nisha membantu Bibi." balas Nisha.


"Saya sudah larang, tapi Neng Nisha maksa, Pak." ucap Bik Lilis.


"Sudah tidak apa-apa." ucap Davian.


Davian berlalu, tapi Nisha memanggilnya, "Pak Davian, tunggu."


Davian berbalik, "Apa Nisha?"


Nisha menggigit bibirnya karena takut, "Pak, apa Nisha boleh pulang siang ini?"


"Kamu tak boleh pulang. Sore ini, aku akan menemui orang tua angkat mu untuk meminta maaf secara pribadi kepada mereka." ucap Davian.


"Apa? Tidak perlu, Pak. Tak usah, saya tidak apa-apa. Tak usah bertemu lagi dengan mereka. Saya menjadi guru les Livia pun sudah sangat senang dan bersyukur." cegah Nisha.


"Bukankah kamu merindukan mereka? Kenapa kamu tak mau bertemu mereka?" tanya Davian.


"Ah, ti-tidak, Pak. Saya hanya tak ingin bersama mereka lagi. Saya takut, jika bertemu mereka, Mama Ani ingin tinggal bersama saya lagi. Saya cukup bahagia hidup sendiri." ucap Nisha.


"Tidak apa-apa. Aku hanya datang untuk meminta maaf, agar Andra juga meminta maaf pada mereka." ucap Davian.


"Ta-tapi, Pak ...."


Nisha, aku tahu, kenapa kamu tak ingin bertemu mereka lagi. Aku tahu, kamu takut dengan Ayah angkat mu, lelaki gila yang menyukai daun muda. Kenapa tak kau katakan, bahwa kau juga pernah mendapatkan perlakuan tak senonoh dari si baj1ngan Adi itu. Aku tak akan tinggal diam, dan aku harus mengembalikan semua pada tempat yang semestinya. Perlahan tapi pasti, akan ku bongkar semuanya dan ku hancurkan baj1ngan gila itu. Batin Davian.


*Bersambung*

__ADS_1


__ADS_2