
Hari-hari yang melelahkan setelah perjalanan ke Paris, Perancis. Davian memutuskan untuk beristirahat di rumahnya selama beberapa hari. Biar perusahaan sekretaris Dika yang mengurusnya.
"Sayang, ayo sarapan." ajak Arini.
"Enggak ah," jawabnya.
"Loh, kenapa? Kamu kan belum makan apa-apa, Mas." ucap Arini.
"Aku udah kenyang,"
"Kenyang abis makan apa kamu?" Arini tak paham.
"Kenyang liatin kamu, sayang." Davian tersenyum.
"Ampun deh, pagi-pagi udah dikasih sarapan gombalan! Ayo cepet bangun! Sarapan dulu." ajak Arini.
"Iya, iya istriku yang bawel." jawab Davian.
Davian beranjak, kemudian ia duduk di meja makan mini tempatnya dan Arini biasa makan jika sedang tidak mood makan bersama keluarga besar.
"Baby, aku mau di suapin!" rengek Davian.
Arini melongo tak percaya, "Mas, kenapa manja banget sih? Kan bisa makan sendiri. Jangan banyak alesan deh, cepet makan!" Arini melotot pada Davian.
"Kamu galak banget sih sekarang! Ini kemauan bayi kita, loh! Masa kamu tega sih!" Davian merayu Arini.
"Kebiasaan deh, bawa-bawa bayi yang tak bersalah! Mas cuma ngarang aja kan, biar aku suapin!" ucap Arini.
"Kamu berani melawan suamimu yang tampan ini?" Davian memicingkan matanya.
"Aku bukan melawan, aku menegaskan Mas agar mau makan sendiri." jawab Arini.
"Kalau orang lain, tak pernah ada yang berani melawanku, kenapa kamu berani sekali, sayang?" tanya Davian.
"Karena permintaan Mas aneh-aneh terus! Memangnya Mas ini anak kecil apa, yang harus di suapin! Jangan selalu membuatku kesal ya Mas," pekik Arini.
"Apa kamu tak takut, aku akan menghukum mu di ranjang kalau kamu tak mengikuti perintahku?" Davian menyeringai.
"Tidak! Aku pulang saja ke rumah Ibu, memangnya aku takut sama Mas! Nanti, yang ada Mas Davian kalang kabut lagi seperti saat aku ada di pelosok. Apa Mas ingat, saat Mas tak bisa menahan rindu padaku? Apa yang Mas lakukan padaku? Jangan mengancam ku, karena aku akan membalas dengan ancaman maut ku juga!" Arini melotot pada Davian, lalu segera makan sarapan yang telah disiapkan oleh Tira.
"Oh my God, istriku. Luar biasa sekali kamu, ternyata aku telah menulari jiwa keberanian ku padamu! Aku bangga pada istriku yang tegas seperti ini." Davian tersenyum nakal.
"Udah deh, banyak bicara terus! Makan cepet, Mas." Arini melotot lagi.
"Baik, sayang. Istriku yang luar biasa." Davian memegang dagu Arini.
"Jangan pegang-pegang! Cepet makan!" Arini melotot.
***
__ADS_1
Siang ini, Davian hanya bersantai di ruang keluarga sambil menonton acara televisi. Ia ditemani Arini yang sedang bermain-main dengan Keyza. Arini terlihat bahagia sekali jika bermain-main dengan gadis kecil ini, sesekali, Arini membenarkan rambut Keyza yang di kuncir dua.
"Seneng banget kamu ngurusin dia! Suamimu aja gak pernah kamu perhatikan begitu!" ucap Davian, namun matanya tetap fokus pada televisi.
"Ya ampun, Mas! Masa kamu cemburu sama anak kecil?" tanya Arini.
"Memangnya, kamu mau anak perempuan? Kenapa kamu terlihat suka sekali padanya?" Davian memang kurang suka pada Keyza.
"Apapun yang Allah berikan padaku, aku akan sangat bersyukur sekali." jawab Arini.
"Kalau anakku laki-laki, aku pasti bahagia sekali, karena gen dan sifatnya akan turun dariku, ia akan menuruni sifat Daddy-nya yang tampan dan bijaksana ini. Lihat saja nanti, anakku akan sepertiku, sayang." Davian bangga.
"Astaga, Mas. Aku tak ingin anakku sepertimu, narsis dan over pede sekali. Oh tidak, sayang. Kamu seperti Mommy saja ya, jangan seperti Daddy mu!" Arini mengelus-elus perutnya.
"Jangan dengarkan mommy-mu, dia terlalu iri pada kharisma yang Daddy miliki, bayi kecil." balas Davian.
"Ya ampun, mahluk narsis satu ini. Selalu saja mengajakku berdebat!" keluh Arini.
Keyza yang sedang bermain barbie tertawa mendengar keributan kecil yang disebabkan oleh Onty dan Om-nya. Keyza sangat terbawa suasana, hingga tak sadar ia tertawa, dan barbie yang ia pegang refleks terlempar mengenai perut Arini. Lemparannya cukup keras, sehingga membuat Arini mengaduh.
"Awww, sakit, aduh, Key, kenapa kamu lempar barbie ini kena perut Onty." Arini memegangi perutnya.
Davian yang melihat hal itu, terlihat marah sekali pada Keyza.
"KAMU! Kenapa kamu berani sekali HAH! Jangan keterlaluan kamu, mentang-mentang istriku baik padamu. Kamu hanya menumpang disini, kenapa bercanda mu keterlaluan sekali, hah?" Davian memarahi Keyza.
Keyza takut dengan bentakan Davian. Ia menangis, menutup wajahnya karena ketakutan akan kemarahan Davian. Tira yang mendengar suara tangisan Keyza segera menghampiri mereka. Tira sedang di dapur, membantu menyiapkan makan malam untuk keluarga besar Davian. Karena, Rangga dan Kakek Davian akan segera tiba.
Tira langsung memeluk Keyza yang sedang menangis. Tira tak ingin banyak bicara, karena tahu bahwa Davian sedang marah.
"Anak kecil itu seenaknya saja padamu. Heh, asal kamu tahu, didalam perut istriku, ada anakku, ada bayiku, kamu jangan sembarangan padanya. Kamu memang sama seperti Ayahmu, selalu ingin menghancurkan apa yang aku miliki." Davian emosi.
"MAS!" Arini membentak Davian.
"HENTIKAN, DAV!" suara Rangga memenuhi ruangan besar itu.
Rangga tiba-tiba hadir diantara mereka. Rangga datang lebih dulu daripada Kakek dan Orang tua Davian. Ketika Rangga masuk, Rangga mendengar keributan antara Davian dengan Keyza. Rangga benar-benar tak habis pikir pada Davian.
"Opah kecil..." Keyza langsung berlari menuju Rangga, dan memeluk kakinya. Dirinya masih menangis.
Davian terdiam. Ia memang emosi pada Keyza, Davian memang tak pernah menyukai anak itu. Karena dendamnya pada Arkan, Davian juga tak menyukai Keyza. Kalau bukan karena permintaan Arini, Davian tak mau menerima anak itu di rumahnya.
"Mas, cukup." Arini tak ingin ada keributan.
"Dav, kenapa kamu memarahi anak kecil? Dia tak sengaja, dia refleks. Apa kamu tak sadar, kamu juga saat itu hampir mencelakai Arini. Aku mendengarnya dari Ibuku! Kenapa kamu egois sekali berani memarahi Keyza, padahal kamu sendiri pernah akan mencelakai istrimu dan mengancam kehidupan bayimu, bukan?" Rangga membentak Davian.
"Aku akui, aku pernah kehilangan kendali, membuat istriku jatuh. Tapi, jujur saja, aku tak menyukai Ayahnya, karena Ayahnya, aku hampir kehilangan istriku. Karena Ayahnya juga, aku hampir kehilangan nyawaku. Kenapa istriku baik hati sekali, mengizinkannya tinggal disini, padahal aku sangat membencinya!" balas Davian.
"Mas!" Arini tak habis pikir.
__ADS_1
"Kalau kamu keberatan dia tinggal di rumah ini, biarkan aku yang mengurusnya! Biarkan ia tinggal di apartemenku. Key, sudah jangan menangis. Kamu tinggal saja di rumah opa kecil ya, Aunty-mu sedang hamil, dia pasti kelelahan kalau mengurus kamu, dan kamu juga takut seperti tadi lagi. Maafkan Om Davian ya, ia hanya marah padamu, karena ada bayi kecil di perut Onty. Kamu mengerti, kan?" tanya Rangga sambil mengusap rambut Keyza.
Sambil menangis, Keyza bicara "A-aku mau tinggal di rumah Opah kecil, asalkan aku juga sama Kakak Tira di sana. Aku gak mau jauh dari Kakak Tira, Kakak Tira udah Key anggap sebagai Mamy Key sendiri. dia sangat baik dan selalu ada untuk Key."
Tira kaget. Namanya disebut, ia hanya bertanggung jawab untuk Arini dan Davian, mengurus Keyza hanya karena Arini sedang hamil saja. Tira tak mungkin mau mengurus Keyza, jika itu di rumah Rangga.
"Bawa saja dia. Bagus kalau kamu mau merawatnya. Bukankah kamu akan mencari Ibunya juga? Kurasa, anak itu pantas tinggal bersamamu!" Davian kesal.
Arini menitikkan air mata. Arini tahu, emosi dan dendam Davian pada keluarga Keyza, sampai saat ini pun masih membekas di hatinya. Davian benar-benar membenci Arkan. Arini sadar, Davian tak mungkin semudah itu bisa menerima Keyza. Arini tak sepenuhnya menyalahkan Davian, karena Davian seperti ini punya alasan.
"Baiklah, Onty akan mengalah sayang. Maafkan Onty dan Om ya, Om sangat kecewa, karena ada bayi kecil di perut Onty. Jangan Keyza masukan ke hati ya, Om hanya kesal, Om tak bermaksud memarahi Keyza. Kalau Keyza ingin tinggal di rumah opah kecil, Onty persilahkan, asalkan Keyza jangan membenci Onty ya Nak," ucap Arini.
"Keyza gak benci Onty dan Om. Keyza tahu, kehadiran Keyza disini sangat mengganggu Onty dan Om. Key ingin tinggal bersama opah kecil aja. Tapi, Onty.. Apa Key boleh mengajak Kakak Tira? Key sayang sama Kakak Tira onty," Keyza mengusap air matanya dan memohon pada Arini.
Arini terdiam. Ia menatap Tira yang terlihat tak suka jika harus tinggal di apartemen Rangga. Namun, Arini tak punya pilihan lain. Arini sadar, ia tak boleh memaksakan kehendaknya agar Davian menyukai Keyza, karena tak semudah itu bagi Davian memaafkan keluarga Arkan, sekalipun Keyza tak berdosa dan tak tahu apa-apa.
"Key sayang, onty tak bisa menjawabnya. Semuanya terserah pada Kakak Tira saja, Onty tak berhak memaksa Kakak Tira jika Kakak Tira keberatan tinggal di rumah opah kecil." jawab Arini.
Ya Tuhan, aku harus bagaimana? Mana mungkin aku tinggal di rumah Tuan Rangga. Aku tak mau, jika harus di sana. Tali, Keyza memintaku. Apa yang harus kulakukan? Kenapa jadi aku yang dilema? Batin Tira.
"Tira, tenang saja. Kamu tak perlu khawatir. Aku sering pergi ke luar negeri, urusan bisnis ku di sana. Kamu bisa tenang tinggal berdua bersama Keyza. Kamu tak perlu mengkhawatirkan apapun." ucap Rangga.
"Kakak Tira, Key ingin bersama Kakak Tira. Key mohon...."
"Tira, pergi saja dengan Keyza. Aku tak keberatan. Kurasa, ada baiknya dia pergi jauh dariku. Aku tak ingin memarahinya terus-menerus. Jika melihatnya, aku selalu terbayang-bayang oleh Arkan. Silahkan, jaga dia," Davian membuka suaranya.
"Ba-baik. Saya akan mengikuti keinginan Keyza, jika Nona dan Tuan tak keberatan." jawab Tira.
"Tira, kamu serius?" Arini tak percaya.
"Kakak Tira, baik hati... Terima kasih," Keyza memeluk Tira.
"Baiklah, Davian, kamu tak perlu bersusah hati memarahi dan mengabaikannya lagi. Dia akan aman bersamaku." jawab Rangga.
"Baguslah. Itu yang ku harapkan." jawab Davian.
Semoga saja, sesegera mungkin Nona Meliza kembali dan mengambil Keyza, aku tak nyaman jika harus terlalu lama berada di rumah Tuan Rangga. Semoga saja, Keyza bisa bertemu Ibunya dan kehidupannya bahagia kembali seperti sedia kala. Amin.
*Bersambung*
Hi semuanya,
Season 2 ini ada bumbu tambahan dari Rangga, Tira dan Meliza ya, Arini Davian juga tetap ada kok, hanya aku tambahi suguhan konflik dari orang baru. Kalau konfliknya dari Davian dan Arini, apa kalian mau? 😂 Gak kan? Hehe..
Karena Davian dan Arini gak akan mempan lagi kalau dikasih pelakor wkwk
Davian itu cinta mati sama Arini, begitupun juga Arini. Kita nikmati kisah cinta mereka berdua aja ya, sambil ditambahi bumbu-bumbu dr yg lain
Semoga kalian betah membacanya.
__ADS_1
Terima kasih..