
like dulu sebelum membaca..
makasih..
Perusahaan Bu Ani, tak ada campur tangan sama sekali dengan keluarga besarnya. Semua ini murni hasil kerja keras Bu Ani dan Pak Adi. Pak Adi begitu mencintai Bu Ani, sehingga semua asetnya atas nama sang istri. Dahulu, Pak Adi begitu setia dan mencintai Bu Ani, karena itulah Bu Ani memaksakan diri untuk menikah dengan Pak Adi, padahal taj ada restu sama sekali dari seluruh keluarganya.
Karena Bu Ani lebih memilih Pak Adi daripada keluarganya, Bu Ani seperti dibuang oleh semua keluarga, hingga ia tak mempunyai siapa-siapa selain sang suami. Kenyataan bahwa Bu Ani tak bisa mempunyai anak, mungkin itu adalah suatu karma untuknya, karena dahulu ia melawan orang tuanya dan lebih memilih laki-laki daripada keluarga.
Hingga kenyataan terbongkar, bahwa sang suami ingkar dan melakukan perbuatan hina dengan wanita lain, Bu Ani pun bingung tak tahu arah dan tujuan kemana ia harus pergi. Beruntungnya, ia memiliki Nisha, ia masih memegang surat sah adopsi Nisha, hingga Nisha mau kembali ke pangkuannya, sampai saat ini Nisha bisa membangkitkan kembali perusahaan miliknya yang sempat jatuh.
Sore ini, Nisha akan berangkat menuju rumah keluarga besar dari pemilik Etiga grup. Rival sang asisten pribadi sekaligus sekretarisnya, sudah siap siaga mengantar kemanapun Nisha pergi. Rival adalah staff marketing yang Nisha angkat menjadi sekretarisnya karena kemampuan Rival dalam mengemudi juga Rival adalah sarjana management yang sudah berpengalaman di perusahaan ini. Karena kemampuan dan keterampilannya, Nisha mengangkat Rival jadi sekretarisnya.
"Bu, saya sudah siapkan bucket bunga sebagai penghormatan untuk pihak Etiga Grup." ucap Rival di halaman depan rumah Nisha.
"Baik, terima kasih. Kita berangkat sekarang aja, aku udah pamit sama Mama, dan dia juga mau berangkat ke restoran, yuk berangkat!" ucap Nisha.
"Baik, Bu." Riva segera membukakan pintu mobil untuk Nisha dan mereka pun berangkat bersama.
...πΈπΈπΈ...
Calandra berangkat dengan Elang, sang sekretaris yang turun temurun dari Ayahnya. Elang telah lulus kuliah, dan Elang diminta Davian untuk meneruskan profesi sekretaris Dika. Karena kini Elang telah berubah, dan Elang tak seperti dulu lagi. Davian memberikan kepercayaan pada Elang, karena Elang adalah anak sekretaris Dika.
Kini, Elang dan Andra sudah seperti sahabat. Delapan tahun waktu yang cukup untuk menata hati dan perasaan mereka. Waktu delapan tahun juga bisa melupakan kisah pilu yang terjadi antara Elang, Andra dan juga Nisha.
Andra dan Nisha sudah hilang kontak, karena Nisha kuliah diluar negeri. Elang pun sama halnya dengan Andra. Tak pernah tahu lagi kabar Nisha. Kini, mereka mulai melupakan Nisha, tapi Andra masih belum juga bisa mendapatkan pengganti Nisha. Andra masih ingin sendiri, karena ia tak mau terbebani dengan yang namanya kekasih.
Andra dan Elang sedang dalam perjalanan menuju rumah keluarga besar Etiga Grup. Elang tak seperti biasanya, ia terlihat murung dan tak bersemangat. Andra tahu, bahwa Elang sepertinya sedang ada masalah. Karena Elang tak akan seperti itu jika suasana hatinya sedang baik.
"Kenapa kamu, Lang?" tanya Andra.
Elang menarik nafas, "Tanpa aku bilang juga kamu pasti udah tahu, Ndra" ucap Elang.
"Perjodohan itu?" tanya Andra.
"Iya, itu kamu tahu. Cewek itu akan pulang dari USA. Dan sebisa mungkin aku harus menyambutnya. Ayah juga bilang perjodohan itu akan segera dilaksanakan ketika dia sudah pulang." ucap Elang.
"Santai aja, Lang. Gak selamanya perjodohan itu menyedihkan. Semoga saja kamu dan gadis pilihan orang tuamu itu cocok!" saran Andra.
"Aku merasa bahwa perjodohan hanya membuat ku terkekang. Bayangkan saja, tak mudah bagi orang asing masuk kedalam hatiku, begitu pun juga aku, tak mudah menerima seseorang untuk menjadi bagian dalam hidupku, apalagi kita tak saling mengenal. Rasanya, aku tak boleh jatuh cinta lagi, karena Ayah telah membatasi ku untuk itu." jawab Elang.
"Biarkan saja, semoga dia adalah wanita idaman mu nanti." ucap Andra.
__ADS_1
"Bisa aja kamu, Ndra. Kamu sendiri gimana? Jangan berharap terus sama Nisha! Dia gak akan kembali, percuma kamu nunggu dia." ucap Elang.
"Ah, entahlah. Rasanya, aku tak mau buang-buang waktu dengan wanita. Aku jadi malas untuk bercinta karena Nisha menolak ku. Padahal itu sudah lama sekali, tapi aku masih saja mengingatnya." ucap Andra.
"Move on dong! Kamu enak, tak akan dijodohkan oleh keluargamu! Tapi, lihatlah aku, Ndra. Aku disini tak boleh jatuh cinta, karena wanitaku sudah ditentukan oleh Ayahku. Ini hukuman atas perbuatan ku dulu pada Nisha. Ah, sungguh bodohnya diriku." ucap Elang.
"Ya, kau memang bodoh, Elang! Kau juga salah satu alasan Nisha dulu menolakku!" ucap Andra.
"Loh, kok? Apa maksudmu menyalahkan aku, Ndra? Apa salahku padamu?" Elang tak mengerti.
"Kamu adalah alasan Nisha menolak ku, Elang! Kamulah penyebabnya! Nisha bilang, karena ia trauma dengan laki-laki. Jadi ia tak mau pacaran saat itu!" ujar Andra.
Elang hanya tertawa sambil menyetir. Elang dan Andra terlihat seperti sahabat. Andra tak mau Elang memanggilnya dengan sebutan Tuan atau Bos. Andra mau Elang menyebut namanya saja, karena memang Andra tak suka diperlakukan istimewa oleh temannya sendiri.
"Malah ketawa kamu, Lang! Aarrgghh, Nisha lagi yang dibahas. Sudah, lupakan saja. Masa bodoh Nisha akan bagaimana. Aku sudah tak peduli. Acara makan malam ku akan hancur jika terus mengingat Nisha lagi." keluh Andra.
"Itu namanya belum move on, Ndra. Kamu masih menyimpan dia didalam hatimu!" Elang cekikikan lagi.
"Sembarangan kamu, Lang. Tapi, apa Nisha sudah tak ada didalam hatimu? Kenapa kamu dengan mudahnya melupakan dia?" tanya Andra.
"Aku mudah melupakannya, karena aku memang tak mencintainya. Alu hanya kasihan padanya." jawab Elang.
"Nah, kan! Itulah alasan Nisha menolak ku juga. Katanya, dia tak ingin ada lelaki yang mengasihani dirinya. Semua penolakannya berdasarkan kelakuanmu padanya, Lang. Aarrghh, kenapa otak ini malah mengingat Nisha lagi? Harusnya aku melupakan dia, bukan malah mengingatnya." keluh Andra.
"Ah, tentu saja tidak begitu. Aku bukannya terpaku pada Nisha, tapi aku tak ada waktu untuk jatuh cinta. Memangnya, siapa si Nisha itu? Kenapa aku harus terus memikirkannya? Mungkin karena pembahasan mu menjurus kearah sana, aku jadi teringat Nisha lagi. Padahal, ia sudah lama aku lupakan!" Andra berbohong.
"I know, that is bullshit!" Elang terus menertawakan Andra.
(Aku tahu, itu adalah omong kosong)
"Damn! You, Shut up!" Andra melotot kesal pada Elang.
(Sialan, diam kamu!)
Elang dan Andra pun sampai di rumah besar Etiga grup. Mereka terjebak macet sepuluh menit. Beruntungnya, acara baru saja dimulai dan mereka tak begitu terlambat. Andra pun segera masuk kedalam rumah itu diikuti oleh Elang dibelakangnya.
Tiba-tiba, pandangan Andra tertuju pada wanita yang sedang berbincang dengan Nyonya besar istri dari pemilik Etiga Grup. Andra melihatnya dari kejauhan, dan ia mengedipkan matanya berkali-kali agar yakin dan menebak siapa wanita itu.
"Syukurlah, kalau Bu Ani baik-baik saja. Sampaikan salam saya padanya, ya Nisha. Selamat, kamu juga berhasil memimpin perusahaan Ibumu dengan baik." ucap Nyonya Fujita.
"Ah, iya. Terima kasih banyak, Nyonya. Baiklah, saya ucapkan terima kasih, dan selamat semoga nanti acara pernikahannya berjalan lancar ya. Kalau begitu, saya permisi dulu Nyonya." Nisha membungkukkan badannya lalu berlalu dari hadapan Nyonya besar pemilik rumah ini.
__ADS_1
Nisha pun berlalu. Saat Andra telah mengucek matanya berkali-kali, Andra begitu kaget, karena ternyata wanita itu sudah tak ada. Andra merasa, bahwa dirinya melihat Nisha tadi. Tapi, ketika matanya membulat dengan sempurna, Nisha itu tak ada. Nyonya Fujita hany sendiri, dan kini ditemani oleh anaknya yang nanti akan menikah.
"Pak Andra yang terhormat, apa yang terjadi padamu? Apa matamu kelilipan?" ledek Elang.
"Kurang ajar kamu, Lang. Sembarangan! Ada yang aneh, sepertinya barusan aku melihat Nisha sedang berbincang dengan Nyonya Fujita." ucap Andra.
Elang melihat kearah Nyonya Fujita, "Mana? Nyonya besar itu sedang bersama anaknya yang nanti akan menikah, mana ada Nisha! Memang pikiranmu hari ini sedang tertuju pada Nisha ya? Udah deh, jangan inget-inget Nisha terus. Jadi terbayang-bayang kan akhirnya." saran Elang.
"Ah, iya. Mungkin ini hanya halusinasi ku saja. Sudah, kita sapa dulu tuan rumah, setelah itu baru kita makan." Andra mengalihkan pembicaraan.
"Baik, Pak Calandra. Aku harus menyebutmu dengan sopan disini." Elang cekikikan.
Andra dan Elang pun bersalaman dengan Nyonya Fujita dan Tuan Kenjie. Tuan Kenjie menanyakan kabar Davian dan terlihat obrolan santai antara Andra dan Tuan Kenjie. Tanpa masing-masing dari mereka sadari, ternyata Nisha telah hadir di tempat yang sama dengan Andra. Mereka pun sama-sama datang bersama sekretetarisnya.
Setelah selesai berbincang santai, Andra dan Elang pun segera menuju tempat jamuan hidangan makan malam. Andra mengambil beberapa potong steak dan hidangan pemanis lainnya. Lagi-lagi, matanya tertuju pada sepasang laki-laki dan wanita yang sedang duduk bersama di meja tamu. Terlihat sang lelaki sedang memberikan tisu pada sang wanita karena ada sisa makanan di pipi sang wanita.
Mata Andra melotot tajam, karena kaget melihat lelaki itu memperlakukan wanitanya dengan baik dan romantis. Kali ini, Andra memastikan dirinya tak salah melihat. Ia segera memberi tahu Elang, perihal penglihatannya kali ini.
"Lang, Elang! Coba kamu lihat meja diujung sana! Lihat, wanita itu! Bukankah itu Nisha, Lang? Lihatlah dengan benar!" tegas Andra.
Elang melihat kearah yang dituju Andra, "Ha? Ah, iya. Mirip sekali dia dengan Nisha. Tapi, aku yakin, itu pasti bukan Nisha. Itu hanya mirip dengannya."
"Lah? Kok mirip sih Lang? Bukannya jelas-jelas itu Nisha? Aku yakin sekali, itu Nisha Lang!" Andra meyakinkan Elang.
"Ya ampun, Pak Calandra yang terhormat. Coba kamu perhatikan, wanita itu begitu dewasa dan ia bersama suaminya. Lihat yang jelas! Mana mungkin itu Nisha. Kalau pun itu Nisha dan ia telah menikah, tentu saja kamu pasti diundang! Sudah, makan dulu kita. Otakmu hari ini sedang dipenuhi dengan Nisha, pantas saja melihat wanita yang mirip dengan Nisha saja kamu anggap itu dia." Elang geleng-geleng kepala.
"Astaga, Elang! Lihatlah dengan matamu, bukan dengan mulutmu! Jelas-jelas itu Nisha!" Andra tak mau kalah.
"Otakmu sudah dipenuhi oleh Nisha. Ini gak bakalan bener. Udah kan ambil makanannya? Ayo, kita duduk sekarang. Makan dulu biar kamu fokus, Pak Bos ku!" Elang membawa Andra.
Andra pun terpaksa menuruti Elang. Tapi, Andra merasa bahwa itu adalah Nisha. Namun, dengan tampilan yang sedikit lebih dewasa dan menggunakan riasan make up. Bedanya dengan Nisha dahulu, Nisha tak pernah menggunakan make up.
"Aku merasa bahwa itu Nisha, Lang!" Andra berdiri dari duduknya.
"Eh, mau kemana Ndra?" Elang heran.
"Aku akan menemuinya, dan memastikan bahwa itu Nisha apa bukan." Andra pun berlalu.
"Eh, Ndra! Tunggu! Andra ... tunggu!" Elang pun makan satu suapan, lalu berjalan mengikuti Andra.
Masa sih itu Nisha? Kalau itu Nisha, kenapa bersama laki-laki? Ah, Calandra. Aku yakin, itu bukan Nisha. Ada-ada saja ulahnya. Batin Elang.
__ADS_1
*Bersambung*
Kalau sempat, insyaAllah malam UP lagi. Asalkan, like dan komennya yaaaaa π€π€π€