
21+ Dibawah itu, mohon untuk tidak membaca. Ini khusus untuk yang sudah dewasa.
Pernikahan Nisha dan Andra telah selesai diselenggarakan. Kini, Andra dan Nisha telah berada didalam satu kamar yang sama. Nisha begitu canggung, mengingat ia belum pernah ada di kamar laki-laki sebelumnya. Nisha telah SAH menjadi seorang istri dari Calandra Eizzar Raharsya, yang merupakan sang pewaris utama di perusahaan Raharsya Grup.
Menjadi seorang istri pewaris tahta, Nisha tak perlu repot-repot menjadi istri yang sebagai mana mestinya. Segala perlengkapan, persiapan makan, semuanya telah dibereskan oleh seluruh asisten rumah tangga. Ada asisten rumah tangga khusus untuk mengurus segala keperluan Nisha dan Andra.
Seperti saat ini, mereka berdua telah selesai mandi dan makan malam. Semuanya telah diurus oleh asistennya. Nisha tak perlu bersusah payah lagi untuk mengurus semuanya. Ia hanya tinggal duduk manis di samping Andra. Seperti saat ini, Andra dan Nisha sedang duduk berdua di sofa besar mereka, dan melihat video pernikahan mereka yang secara eksklusif ditayangkan.
"Ndra, aku gak enak kayak gini." ucap Nisha tiba-tiba.
"Kok Ndra sih? Memangnya aku temanmu?" ucap Andra.
"Eh, iya maaf. Sayang, aku ngerasa gak enak aja." ucap Nisha menatap Andra.
"Gak enak, kenapa?" tanya Andra.
"Semuanya telah disiapkan oleh Bibik, mulai dari perlengkapan mandi, makan, membersihkan kasur, seprai dan sebagainya. Aku sebagai istri, jadi merasa gak ada apa-apanya. Aku malu, padahal aku istrimu sekarang, tapi semuanya malah pembantu yang menyiapkan." Nisha sedikit menunduk.
Andra menatap Nisha, lalu refleks ia memegang bahu Nisha, dan membuat Nisha kaget karena ini pertama kalinya Andra memegang bahu Nisha setelah resmi menikah. Jantung Nisha berdebar tak karuan, ia benar-benar malu sekaligus gugup, karena Andra terus menatapnya.
"Sayang, kamu tak boleh berpikiran seperti itu. Kamu istriku, Nish. Aku tak ingin kamu lelah dan melakukan pekerjaan rumah tangga yang begitu memberatkan. Kamu harus bahagia, biarlah Bibik yang membantu pekerjaanmu. Kamu juga kan masih harus mengelola perusahaan Ibumu. Kamu pasti lelah jika semua pekerjaan rumah harus kamu yang menyelesaikan. Aku tak akan menuntut mu untuk hal itu, sayang." Andra tersenyum pada Nisha.
"Tapi aku gak enak. Terus, tugasku apa dong? Aku kan istri kamu, masa apa-apa yang nyiapin Bibik, bukannya aku." Nisha cemberut.
Andra menyeringai, "Tugasmu ... melayaniku, Nisha. Malam ini, malam pertama kita menjadi sepasang suami istri. Bukankah aku boleh meminta hak ku sebagai suami?"
"Ha? Ah, i-itu ya? Mm, i-iya, itu ... aku, tapi, aduh ... Gi-gimana aku bilangnya, Ndra! Aku bingung ..." Nisha gelagapan ketika Andra membicarakan tentang malam pertama.
Andra mendekat, "Kenapa, Nish? Bukankah kita memang sudah sewajarnya melakukan itu. Apa kamu tak mau memberikan kewajiban mu padaku? Bukankah aku berhak mendapatkannya?"
"Bu-bukannya gitu, Andra. A-aku, aku masih gugup dan takut. Sungguh, aku takut." Nisha menunduk.
"Nish ... apa aku harus memberi minuman seperti yang Elang berikan dulu? Agar kamu yang meminta lebih dulu seperti waktu itu? Dulu, aku masih bisa menjaga imanku agar tak melakukannya. Tapi, sekarang aku benar-benar akan melakukannya. Haruskah aku membeli obat itu?" ucap Andra jahil.
__ADS_1
"Ih, kamu! Gak mau! Sakit banget tahu rasanya. Aku masih mengingat rasa itu, dan itu membuatku takut." Nisha kesal.
"Ya sudah, berikan tubuhmu secara sukarela padaku. Kenapa kau harus malu-malu? Aku sudah membeli tubuhmu dengan mas kawin dan mahar yang mewah. Tak maukah kau berterima kasih, dan memberikannya secara tulus padaku?" Andra menggoda Nisha.
"A-Andra, ta-tapi, aku ..." Nisha terus mengelak
"Nish, kamu begitu menggoda malam ini. Wajah cantikmu, tubuh mulus mu, kulit putih mu, kumohon, izinkan aku menyentuhnya. Kali ini, aku telah sah untuk bisa menyentuhnya. Maafkan aku memaksamu ..." Andra mendekatkan diri pada Nisha.
Andra mendekatkan wajahnya pada wajah Nisha dengan tangan masih menempel di bahu Nisha. Wajah Andra menatap Nisha dengan penuh kelembutan. Jarak bibirnya dengan bibir Nisha, hanya sekitar 2 sampai 3 cm saja. Sangat dekat dengan nafas yang memburu, Andra pun bisa merasakan hembusan nafas Nisha yang tak beraturan karena ulahnya.
Perlahan-lahan, Andra mendekatkan bibirnya pada bibir Nisha. Ia mengecup lembut bibir Nisha yang menggoda imannya sejak tadi. Nisha kaget, mendapat sentuhan di bibirnya oleh Andra. Namun, ia tak bisa menolak, karena dirinya memang sudah sepenuhnya milik Andra.
Perasaan yang tak biasa muncul pada diri Nisha. Ia tak pernah mendapat perlakuan seperti ini sebelumnya. Ini benar-benar kali pertama bibir Nisha dikecup oleh laki-laki yang menjadi suaminya. Andra terus menciumi bibir Nisha, hingga lidahnya bermain-main didalam rongga mulut sang istri yang menawan itu. Benar-benar ciuman malam pertama yang penuh kehangatan.
Andra mulai memegang bahu Nisha. Tangannya mulai menagih haknya sebagai suami Nisha. Andra bermain lebih, ia mulai meraba-raba leher dan telinga Nisha. Terdengar desahan manja dari mulut Nisha yang menawan.
"Andra, cukup, aku gak nyaman. Aahh," Nisha menggeliat.
Andra merasakan sensasi yang hebat. Batangnya mulai mengeras, hasratnya benar-benar sudah masuk dalam tubuh Nisha. Perlahan tapi pasti, jari-jemari Andra dengan terampil mulai turun kebawah leher Nisha memegang dada Nisha yang menyembul dan menggiurkan.
"Ahh, Andra ... jangan, cukup. Aku tak sanggup, aku takut." Nisha berucap sambil memejamkan mata dan menggigit bibirnya.
"Maafkan aku, Nish. Kamu benar-benar menggoda imanku." Andra terus menjelajah tubuh Nisha lagi.
Andra memangku Nisha, dan berjalan menuju ranjang empuk tempat mereka akan bertempur malam ini. Nisha mulai melemas, karena merasa dirinya sudah terbuai oleh Andra. Nisha terbaring dengan cantiknya, bajunya mulai naik keatas pahanya, membuat paha Nisha terlihat. Paha yang mulus dan putih, membuat jiwa Andra meronta-ronta.
"Nish, kamu begitu cantik. Tubuhmu indah. Aku beruntung memiliki tubuh ini. Terima kasih, telah memberiku keindahan yang seperti ini. Kamu sangat menggodaku malam ini." Andra mengangkat baju Nisha
"Ah, Andra, jangan ..."
Andra membuka baju Nisha perlahan-lahan. Tangan Andra mulai lihai membuka kancing baju Nisha. Ia membukanya dengan jantung yang berdebar cepat. Terlihatlah gundukan kenyal milik Nisha yang terlihat besar. Andra begitu terpana melihat pemandangan indah milik Nisha. Andra pun langsung memegangnya dan memainkannya. Nisha menjerit kegelian, ia pun mendesah, merasakan kenikmatan yang benar-benar baru bisa ia rasakan sekarang.
"Nish, indah sekali buah ini. Seperti buah jambu yang menggantung indah, dan membuatku ingin segera melahapnya. Tenang ya sayang, ini pasti membuatmu geli." Andra berbisik ditelinga Nisha.
__ADS_1
"Andra! Aku malu..." Nisha menutup wajahnya.
"Enggak sayang, nanti juga terbiasa kok."
Andra terus memeganginya, hingga ia memberanikan diri menghisap bola dunia milik Nisha. Andra terus bergumul dengan dada Nisha, membuat Nisha benar-benar merasakan kenikmatan yang tak bisa di ungkapkan dengan kata-kata.
"Mmmpphhh, aaah, Ndra! stop it! please!"
Andra mulai turun ke bawah, ia membuka semuanya. Hingga terpampang nyata kemolekan tubuh sang istri. Andra pun mulai menanggalkan pakaiannya. Pelan-pelan, ia mulai mendekati bagian paling sensitif dari tubuh Nisha.
"Sayang, jangan, aku benar-benar takut!" Nisha menahan lagi.
"Sayang, aku akan pelan-pelan. Tenang sedikit ya, milikmu sudah terlihat basah, itu akan menjadi pelumas untukku. Jangan takut, aku akan pelan-pelan." Andra mengarahkan pedangnya menuju milik Nisha.
"Andra, No! Aku takut. Please, udahan aja ya? Aku takut, sungguh." Nisha memejamkan matanya dan menutupnya dengan kedua tangannya. Ia merasa malu karena melihat burung panjang milik Andra.
"Kamu jangan takut, Nish. Ini gak seperti apa yang kamu bayangkan. Aku mulai sekarang ya, tahan sayang ..." Andra mulai mengarahkan burungnya lagi.
"Aarrggh, sempit sekali, Nish!" Andra kesulitan.
"Jangan! Sakit, Andra. Aauwh," belum masuk pun Nisha sudah merasa kesakitan.
"Nisha, maafkan aku!" Andra menerobos paksa milik Nisha yang begitu sempit.
"Mmmppphhh, Aahhh, Andra kamu jahat!" Nisha meringis ketika seluruh pedang panjang Andra telah masuk kedalam rumahnya.
"Aku akan mengimbanginya, Nisha. Kamu jangan takut! Ini tak sesakit yang kamu bayangkan. Aku akan menikmati setiap hentakannya, sayang. Terima kasih, telah memberikan kebahagiaan batin untukku." Andra mengecup kening Nisha dengan lembut sambil tubuhnya terus berolahraga maju mundur, maju mundur syantik.
Terlihat bercak merah di seprai milik Andra, yang menjadi pertanda, bahwa kesucian Nisha telah direnggut malam ini, dimalam pertama pernikahan mereka. Selamat berolahraga pengantin baru!
..._________________________...
Kalau masih ada yang mau bonus chapter, komentar ya guys...
__ADS_1
Buat yang mau tahu lanjutan Novel ini, buka di buku baru aku dengan judul TERJERAT CINTA SATU MALAM ya.. Klik foto aku, dan nanti ada judul itu. Kisah anak Rangga dan Dika dijadikan satu. Langsung pada otewe ke sana ya guys.. aku tunggu di novel baruku.. makasih❤❤❤