Terjerat Cinta Sang Pembantu

Terjerat Cinta Sang Pembantu
Harus menemukanmu!


__ADS_3

Arini memencet-mencet remote televisi, namun hampir semua stasiun televisi menayangkan breaking news yang sama. Akhirnya, Arini membiarkan breaking news itu.


Ia mulai mengambil handphonenya. Ia ingin menelepon suaminya, Davian. Arini fokus memencet layar handphone, sehingga berita yang lewat di tivi tak ia lihat.


Ketika ia memanggil Davian, ia mendekatkan handphonenya ke telinganya, agar mengetahui bahwa telepon tersambung atau tidak. Teleponnya tersambung, namun Davian tak mengangkatnya.


Tiba-tiba, pandangan Arini refleks melihat kearah televisi. Matanya tertuju pada seorang lelaki yang ia kenal. Arini mengucek matanya berkali-kali, memastikan bahwa dirinya salah lihat. Tiba-tiba, ia merasa pusing sekali,


"Tir, Tira! Sini. Cepet!" teriak Arini


Tira yang sedang memasak segera satang, karena Arini berteriak.


"Apa, Non?" Tira heran


"I-itu, itu siapa? Kenapa rasanya aku mengenal lelaki di dalam televisi itu?" Arini jadi kikuk, namun tangan dan kakinya sudah bergetar


"HAHHHHH? Non, Nona! Itu Tuan Davian. Non, apa yang terjadi? KENAPA?"


"APA? Davian?"


Handphone Arini terjatuh, karena Arini terlalu lemas mendengar ucapan Tira. Davian? Kena luka tembak?


"Oh, tidak, Tira. Tidak mungkin itu suamiku, suamiku sedang bekerja, ia tak mungkin kena luka tembak." Arini kesulitan bernafas, dadanya benar-benar sesak


"Non, Nona. Tenang, Nona tenang dulu. Tarik nafas, sabar, lalu buang perlahan-lahan. Nona tetap rileks, jangan memikirkan hal-hal yang membuat nona tambah down." Tira memegang tubuh Arini yang terkulai lemas di sofa


Arini menarik nafasnya dalam-dalam, sambil mengatur ritme pernafasannya, "Aku tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Sebentar, Tira. Tubuhku sangat lemas, aku harus menguatkan tubuhku dulu. Ada apa dengan suamiku? Kenapa dia harus terbaring seperti itu?" tanya Arini diiringi air mata yang mengalir dari ujung pelupuk matanya


"Nona, sabarlah. Tenanglah dulu, Nona. Aku sedang mencoba menghubungi sekretaris Dika untuk menanyakan hal ini, namun dia belum mengangkat juga." ucap Tira


Arini menangis sejadi-jadinya, tubuhnya mulai kuat kembali, ia menangis, ia menjerit, ia meronta-ronta, ia sangat khawatir akan keadaan Davian. Apa yang menyebabkan suaminya tertembak seperti itu? Sambil tetap menangis, Arini berkata,


"Tira, temani aku pergi ke Jakarta sekarang. Percuma kamu menghubunginya, mereka sengaja membiarkan aku, mereka sengaja, tak mengabari ku, mereka tak ingin aku tahu mengenai suamiku. Tapi, aku tak bisa tinggal diam. Mas Davian adalah nyawaku, Mas Davian adalah hidup dan mati ku, walaupun aku tahu, cintaku padanya baru terjalin beberapa minggu. Kini aku mengerti, bahwa aku ternyata sangat mencintainya, bahkan aku sangat takut jika harus kehilangan dirinya. Kumohon, tolong aku, Tira. Antar aku menemui suamiku, aku tak sanggup berada disini, sementara suamiku di sana sedang berjuang melawan rasa sakit di tubuhnya. Ayo, kita pergi. Hatiku sakit, melihat berita di televisi. Ayo, antar aku, kumohon." Arini terus memohon sambil menangis tersedu-sedu


"Baik, Nona. Mari, kita pergi menggunakan mobil dinas milik Rumah sakit. Aku akan membawanya, aku bisa mengendari mobil.

__ADS_1


" Ayo, bawa mobilnya segera. Aku benar-benar ingin mengetahui keadaan suamiku saat ini." jawab Arini


"Tentu, Nona."


Arini sakit, hatinya benar-benar terluka. Ia tak tahu, apa yang terjadi pada Davian. Namun, Arini yakin, semuanya pasti ada sangkut pautnya dengan Arkan. Arini benar-benar tak menyangka jika kejadian seperti ini akan menimpa suaminya.


Tira benar-benar mengemudikan mobil dinas petugas rumah sakit. Tira dan Arini segera menuju Jakarta. Arini benar-benar tak bisa membiarkan Davian seorang diri. Ia harus menemaninya, menemani Davian untuk sembuh, atau?


Sepanjang perjalanan, Arini menangis. Ia tak sanggup menahan air matanya yang terus memaksa keluar. Air matanya tak henti-hentinya kelua, mata Arini sudah sangat bengkak sekali. Sungguh menyakitkan, hal yang tak pernah diduga sama sekali, kini malah menimpanya.


Arini mencoba menelepon keluarganya, namun tak ada yang mengangkat. Arini mencoba menelepon mertuanya, namun tak ada yang mengangkat pula. Arini mencoba menelepon sekretaris Dika, apalagi. Tak ada satupun orang yang mau mengangkatnya.


Arini bingung. Ia benar-benar tak bisa berpikir jernih. Tak ada satupun keluarganya, maupun keluarga Davian yang mengangkat teleponnya. Sepertinya, memang semua keluarganya sepakat untuk tidak memberi tahu Arini.


Terpaksa, Arini mencari berita dalam internet. Walaupun, awalnya Arini tak mau membacanya. Arini tak mau membaca kisah Davian yang terluka. Tapi, tak ada informasi yang bisa Arini dapatkan. Mau tidak mau, Arini harus membaca artikel, agar tahu, kondisi yang menimpa Davian.


***


10 jam berlalu. Akhirnya, Arini dan Tira sampai di rumah sakit. Menurut artikel yang telah Arini baca, Davian di rawat di Rumah sakit milik keluarganya. Arini segera melaju menuju restoran tersebut.


Arini berlari menuju ruang rawat VVIP Davian. Di sana, sudah hadir Mama dan Papa Davian, kedua adiknya, Kakek dan Neneknya, serta, Ibu dan adik-adik Arini. Mereka juga ternyata sudah disini menunggu Davian.


Mereka semua tak boleh masuk kedalam, karena Davian baru saja selesai di operasi. Davian harus steril dari apapun, Davian harus sendiri, sampai dokter mengizinkan keluarga untuk menemani didalam.


"TEGA KALIAN SEMUA!!!!" bentak Arini begitu melihat keluarganya sedang menunggu Davian


"A.. ARINI?" Mama Davian sangat kaget


"Arini?" Ibu Arini pun kaget


"KAKAKKK?" ucap semua adik Arini, termasuk Sherly dan Sheldy


"Non, Nona?" mata sekretaris Dika melotot tak percaya


"Kenapa dia ada disini?" Kakek Davian masih belum tahu, bahwa perceraian Arini dan Davian adalah rekayasa.

__ADS_1


Arini berlari sekuat tenaganya. Ia menghampiri semua keluarganya. Ibu Arini menangis, melihat betapa menyedihkannya Arini. Seketika, Ibu Arini langsung memeluk anak sulungnya tersebut.


"Arin, Arini. Maafkan Ibuk yang mengabaikan pesan dan telepon darimu. Aku tak mau, kamu memikirkan suamimu yang sedang kritis ini. Maafkan Ibu, Arini." Ibu Arini memeluk Arini


Mama Davian mendekati Arini yang terus menangis. Mama Davian tahu, bahwa hati Arini pasti sama terluka, sama halnya dengan dirinya.


Mama Davian perlahan mendekati Arini dan Ibunya yang sedang berpelukan. mama Davian memegang pundak Arini, seraya berkata sabar, sabar, walaupun hati Mama Davian juga sangat sakit sekali menghadai kenyataan bahwa anaknya terkena luka tembak.


Arini melepaskan pelukan dari Ibunya. Perlahan, ia berjalan mendekati jendela ruang operasi. Ia menatap suaminya yang sedang di kelilingi oleh beberapa tim dokter yang baru saja selesai menjalankan operasi.


Arini menangisi Davian. Davian masih belum sadar juga, bahkan kondisinya semakin mengkhawatirkan. Kini, Davian dalam kondisi kritis. Air mata Arini tak bisa berhenti, air mata kesedihan itu terus membasahi wajahnya, air mata yang sangat berharga, menangis lelaki yang berharga dalam hidupnya.


"Mas, Mas Davian.. Ini aku, ini aku istrimu, ini aku Arini-mu! Kenapa kamu membiarkan tubuhmu terluka, Mas? Bukankah kamu sudah berjanji padaku, bahwa kamu akan menjaga dirimu, dan tak akan terluka sedikitpun! Mas, bangunlah! Ada aku yang menantimu, Mas. Aku datang untukmu! Aku ingin semoga Mas cepat sadar. Aku sedang menantimu, menunggumu, disini. Kenapa kamu egois, Mas? Kenapa kamu malah menyelamatkan aku, membiarkan alu pergi jauh? Tapi kamu, kenapa kamu malah membiarkan tubuhmu terluka? Mas Davian-ku, sadarlah! Bangunlah dari sakit mu itu. Berikanlah padaku rasa sakit itu, bagi penderitaan mu padaku, mari kita lewati bersama. Aku tak sanggup melihat kamu menderita seperti itu, Mas!" Arini menjerit-jerit, sambil menangis.


Arini terus-terusan menangis, Arini tak tahu, bagaimana lagi caranya ia sabar dan bertahan. Bagaimana lagi, caranya menenangkan hatinya yang benar-benar sakit. Melihat sang suami terkapar lemah sedang berada di ruang operasi. Arini hanya bisa melihat dibalik jendela ruangan tempat Davian di operasi.


"MASSSSSS, MAS DAVIAN! BANGUNLAH! BANGUN, MAS! ADA AKU YANG MENANTIMU, ADA AKU YANG TERSIKSA MELIHAT KAMU TERLUKA SEPERTI INI. MASSSSSS! DENGAR AKU, BANGUNLAH! KUMOHON, MASSS."


"Aaaarrggghhhhhh," Arini menjerit, menangis dan memegang kepalanya berkali-kali


Arini terus menangis dan menangis, air matanya tak bisa ditahan. Ia tak terima, suami yang ia cintai, harus menderita seperti ini.


*Bersambung*


Selamat sore,


Jangan lupa LIKE dan KOMENTARNYA ya..


Hanya itu dukungan untuk aku, selain vote.


Terima kasih..


Temen-temen, baca cerita temenku yuk. Bagus ini 🤗


__ADS_1


__ADS_2