
"Davian?"
Rangga kaget, melihat Davian yang tiba-tiba muncul di dapur.
"Sudah ku bilang padamu, jangan ikut campur dengan urusan pembantuku. Apa kau tuli HAH?" Davian emosi
"Tuan, hentikan!" Arini tak ingin ada keributan
"Aku tidak ikut campur urusanmu, aku hanya ikut campur pada urusan Arini." ucap Rangga tak mau kalah
"Arini adalah urusanku! Paham!!! Arini, ayo pergi." Davian memegang tangan Arini dengan erat
"Aww, sakit Tuan."
Davian meninggalkan Rangga. Davian memaksa Arini untuk ikut dengannya. Arini tak bisa melepaskan genggaman tangan Davian, karena tenaga Davian amatlah kuat.
Davian membawa Arini ke kamarnya. Arini tak mengerti, kenapa Davian harus marah pada Om nya sendiri? Padahal, Rangga tak berbuat aneh-aneh pada Arini. Rangga hanya menawarkan pekerjaan pada Arini.
"Tuan, lepaskan!" Arini menghempaskan tangan Davian
"Kenapa lu harus ada di dapur bareng si Rangga?" tanya Davian melotot
"Saya sedang membersihkan sayur untuk besok, kemudian Tuan Rangga datang ke dapur mengambil minuman di kulkas." ucap Arini
"Kenapa Rangga bisa sebaik itu sama lu? Apa lu menggoda si Rangga? Iya?" terdengar seperti Davian merendahkan Arini.
Arini melirik tajam Davian. Arini tak menyangka Davian akan sejahat itu padanya..
"Tuan, maaf sekali! Kedengarannya seperti anda sedang meremehkan saya! Saya tidak serendah itu, saya mempunyai harga diri. Saya tak akan mungkin menggoda lelaki kaya seperti kalian. Saya lebih baik hidup miskin daripada di rendahkan seperti ini." Arini akan pergi keluar kamar Davian
Davian menahan Arini. Davian kira, Arini tak akan marah seperti itu. Davian tak menyangka ucapannya bisa membuat Arini tersulut emosi.
"Jangan pergi. Urusan kita belum selesai." ucap Davian
"Apalagi? Saya akan pergi ke kamar. Saya mau istirahat." jawab Arini sinis
"Kenapa lu harus marah sama gue? Apa gue menyinggung lo? Apa lo tersinggung?"
"Anda kira saya bukan manusia? Saya manusia, saya punya hati. Jelas-jelas perkataan anda sangat merendahkan saya!"
"Maaf!" ucap Davian simpel
Apa? Dia meminta maaf padaku? Kenapa? Apa aku tak salah mendengarnya? Tuan angkuh dan arogan seperti dia meminta maaf padaku? Hahahha, puas rasanya hatiku saat ini. Batin Arini.
"Untuk apa anda meminta maaf? Bukannya Tuan selalu benar?" Arini meledek
"Gue gak suka lo berhubungan sama Rangga. Gue gak suka lo berinteraksi sama dia." ucap Davian
"Kenapa? Tuan Rangga sepertinya baik. Tadi juga dia menawari saya pekerjaan yang lebih baik." jawab Arini
"Itu hanya akal-akalan nya saja! Dia ingin lu masuk ke perangkapnya. Percaya sama gue! Lu belum kenal sama dia kan?"
__ADS_1
"Tapi dia baik kok." Arini membela Rangga
"Terserah lo mau suka atau enggak sama dia. Tapi, gue minta sama lo, jangan pernah tinggalin rumah ini. Lo harus tetap jadi pembantu gue. Apa perlu gue membuat kontrak tertulis buat lo?" ucap Davian
"Tidak perlu perjanjian atau apapun Tuan, saya akan mengikuti perintah anda. Karena saat ini, anda adalah majikan saya, dan saya digaji oleh anda." ucap Arini sopan
"Baguslah kalau lu paham!"
"Saya sangat paham. Hmm, Maaf! Tuan, apa boleh saya meminta gaji saya untuk satu bulan ini dulu?" Arini memohon
"Minta gaji? Lu aja belum sebulan kerja sama gue, udah minta gaji. Gimana sih lu?"
"Maaf, Tuan. Tapi, saya kepepet. Besok, sudah waktunya jatuh tempo. Saya belum memegang uangnya." ucap Arini
"Hutang siapa?"
"Hutang Ayah saya." jawab Arini menunduk malu
"Berapa?" tanya Davian lagi
"Satu juta tiga ratus ribu, Tuan." jawab Arini
"Keseluruhannya?"
"Saya tak tahu, karena semakin lama semakin besar bunganya." jawab Arini lagi
"Yang kau tahu berapa?"
"Untuk apa uang sebanyak itu?"
Arini menitikkan air matanya. Jika mengingat hutang Ayahnya, ia tak sanggup. Ia marah dan kecewa, sekaligus sedih. Ayahnya kecanduan judi dan minum-minuman keras, sehingga selalu saja meminjam uang kepada rentenir.
Dahulu, Arini masih kecil. Ia tak mengerti. Ketika sudah dewasa, Ayahnya malah sakit-sakitan dan memberi beban padanya dan juga Ibunya. Ayahnya memberi pesan terakhir pada Arini, agar Arini bisa menjadi dokter, jangan sampai menjadi sepertinya. Hal itu membuat Arini sangat terpukul.
"Ceritanya panjang, maaf saya belum bisa menjelaskan pada Tuan. Kalau tidak akan memberi juga, tak apa-apa." Arini pasrah
"Jangan banyak pikiran. Sudah, sekarang lu istirahat saja." ucap Davian
"Baiklah, Tuan. Saya permisi."
"Tunggu!"
"Iya, Tuan?"
"Kunci pintu dan jangan keluar kamar lagi." perintah Davian
"Ba, baik Tuan!"
Kenapa dia begitu? Aku heran dengan tingkahnya. Kenapa dia jadi perhatian padaku? Halah, itu kan agar aku jatuh cinta padanya, agar aku masuk kedalam perangkapnya, tapi aku takkan bisa kau jebak! Aku sudah tahu hal ini. Batin Arini.
Arini berlalu meninggalkan Davian. Arini segera masuk kedalam kamar kecilnya, dan perlahan ia mulai memejamkan matanya.
__ADS_1
Besok hari libur, Davian sibuk memainkan game online di laptop miliknya. Davian tak bisa memejamkan matanya. Sesekali, pikirannya teringat pada Arini.
Dia wanita yang kuat dan tangguh. Pantas saja dia selalu membangkang padaku, dia tak ingin harga dirinya di injak-injak. Aku mengerti kenapa dia se-berani itu. Arini, adalah tantangan baruku. Batin Davian.
***
Pagi ini, Arini telah membereskan semua pekerjaan rumah untuk Davian. Mulai dari mencuci baju, menyiapkan sarapan, dan menyiapkan air hangat lengkap dengan pakaian ganti Davian.
Ini hari minggu, Arini memang meminta izin libur pada Davian di hari minggu, karena Arini bisa bermain bersama kedua adiknya. Davian pun telah menyetujuinya.
Hari ini debt kolektor pasti mengunjungi rumah Arini, mereka pasti menagih hutang karena memang sudah waktunya. Arini bingung, bagaimana ia akan membayar utangnya?
Davian tak memberinya kasbon. Tetapi, kalau Arini tak pulang, bagaimana nasib Ibu dan adik-adiknya? Arini tetap harus pulang dan meminta waktu kepada debt kolektor itu. Arini akan pamit kepada Davian.
Arini mengetuk pintu Davian, tetapi tak ada jawaban. Arini membuka perlahan pintu kamarnya, tetapi tak ada siapa-siapa. Davian kemana? Pikir Arini.
Arini menuruni anak tangga dan bertanya kepada asisten lainnya dimana keberadaan Davian.
"Bu, Tuan Dav kemana ya? Ada yang lihat gak?" tanya Arini pada asisten Ibu dan Ayah Davian
"Barusan mah saya lihat teh Tuan Dav pergi keluar bersama sekretaris Dika, coba lihat saja sama neng Arini, mungkin saja belum berangkat." ucap Ibu Lilis, pembantu yang berasal dari tanah sunda
Arini segera berlari menuju halaman parkir rumah Davian, bagaimanapun ia harus pamit kepada Tuannya.
Ternyata Davian dan Dika sedang berdiri di pinggir mobil mewah Davian, Arini beruntung Davian belum berangkat. Arini mendekati Davian.
"Selamat pagi, Tuan. Saya mau izin pamit, ini hari minggu. Saya libur bekerja." ucap Arini
"Aku tahu!" jawab Davian datar
"Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu ya!" Arini membungkukkan badannya
"Mau kemana?" tanya Davian
"Mau pulang, Tuan!" ucap Arini
"Naiklah!"
"Apa?" Arini kaget
"Masuk ke mobil gue. Bukankah hari ini lu harus bayar utang?" ucap Davian berlalu dan segera masuk kedalam mobil
*Bersambung*
Happy reading..
Jangan lupa like, komen dan vote juga ya sahabat 🥰
Cerita ini masih baru, jadi perlu dukungan kalian semua 😘
Terima kasih...
__ADS_1