Terjerat Cinta Sang Pembantu

Terjerat Cinta Sang Pembantu
Merayu Melisa


__ADS_3

"HEY! Lepaskan dia! Atau kau akan berurusan denganku!" ucapan Rangga membuat mereka kaget, terutama Melisa yang langsung berdiri melihat Rangga berada didepannya.


"Ba-bang Rangga!" Melisa kaget.


"Siapa lu? Mau booking dia? Gue cuma megang aja, Sob. Silahkan, ambil saja. Sorry ya, gue gak sengaja. Kali ini, gue gak punya duit. Lain kali,


giliran gue ya." Pria hidung belang itu mengedipkan matanya.


"Dia adikku! Dia hanya bekerja disini. Awas saja kalau ada yang berani menyentuhnya. Tinggal pilih, Rumah sakit, atau kantor polisi." ancam Rangga.


"Slow, Bos. Sorry, kita cuma iseng. Silahkan bawa dia, pesanan kita sudah tiba. Udah sob, jangan cari masalah." saran salah seorang dari mereka.


"Melisa, ayo!" ajak Rangga.


Rangga menarik tangan Melisa dengan erat. Ia segera membawa Melisa ke pelataran parkir dengan cepat. Melisa tak habis pikir, Rangga dengan mudahnya membawa paksa dirinya, padahal saat ini ia sedang bekerja.


"Bang Rangga! Kenapa sih selalu aja gangguin aku!" bentak Melisa.


"Mel, aku gak mau lihat kamu diperlakukan seperti itu!" tegas Rangga.


"Bang, ini sudah menjadi resiko untuk pekerjaanku yang seperti ini. Sudahlah, jangan membuat aku tambah muak dengan sifat sok peduli mu itu. Aku sungguh benci kamu seperti ini." bentak Melisa lagi.


"Mel, anakmu membutuhkan kamu. Kalau kamu begini, dia pasti kecewa! Hentikan saja pekerjaan ini, aku bisa memberimu pekerjaan yang lebih baik dari ini." tegas Rangga.


"Aku tak mau memakan uangmu. Sudah cukup aku dicaci maki dan dihina oleh keluargamu. Apa kata mereka jika aku bekerja denganmu? Aku sudah terlanjur jelek dimata keluargamu. Sudah, jangan perpanjang pembicaraan ini lagi." Melisa terlihat kelelahan.


"Maaf. Apa kamu sakit lagi?" tanya Rangga.


"Iya, kumohon jangan memperkeruh suasana. Aku sedang tak enak badan, asma-ku kambuh lagi tadi sore. Bekerja pun aku memaksakan diri, karena ini malam minggu, pasti ramai sekali." jawab Melisa.


"Kalau kamu sakit, kamu pulang saja. Biar aku antar. Kamu tak perlu mempedulikan pekerjaanmu, biar aku yang izin pada atasanmu. Pulang saja, ada hal yang ingin aku sampaikan padamu, Mel." ucap Rangga.


Tubuh Melisa memang lelah, ia tak bersemangat, apalagi, ditambah emosinya yang memuncak karena Rangga memancingnya. Pikiran dan suasana hati Melisa kacau, ia tak boleh banyak pikiran, ia memutuskan untuk menyetujui permintaan Rangga agar dirinya pulang dan izin untuk tak bekerja.


Akhirnya, Rangga membawa pulang Melisa. Tubuh Melisa akhir-akhir ini memang semakin drop, namun ia selalu memaksakan dirinya untuk bekerja, karena jika ia tak bekerja, siapa lagi yang akan membiayai dirinya sendiri.

__ADS_1


Mereka telah sampai di kontrakan Melisa. Melisa mempersilahkan Rangga masuk ke rumah kecilnya. Wajah Melisa pucat, namun ia masih menguatkan dirinya untuk membawa minuman untuk Rangga.


"Melisa, apa kondisimu akan membaik di hari esok?" tanya Rangga.


"Memang kenapa? Semoga saja aku cepat sembuh. Karena penyakit ini, kadang datang kadang pergi." Melisa tersenyum lemah.


"Duduklah, kamu terlihat pucat."


Melisa pun duduk, "Ada apa sebenarnya?"


"Bukankah besok adalah hari ulang tahun anakmu?" tanya Rangga.


"Ah, iya benar. Aku sampai lupa, padahal aku yang mengingatkan kamu, Bang." jawab Melisa.


"Datanglah besok ke rumah Davian. Dia ingin kamu hadir. Kehadiranmu adalah kado terindah untuk Keyza." ucap Rangga.


"Bang, aku gak bisa menginjakkan kakiku ke rumah Davian. Aku terlalu malu bertemu mereka. Aku sudah tak ingin berhubungan dengan keluarga besar itu," Melisa menunduk.


"Tenang saja, aku sudah meminta izin pada Arini dan Davian. Ini adalah keinginan anakmu, Mel. Apa kamu tak mau, membahagiakan dia dihari ulang tahunnya?" ucap Rangga.


"Aku tentu saja ingin sekali membahagiakan anakku sendiri. Tapi, kini rasanya sudah tak mungkin. Aku tak mau menampakkan diriku di hadapannya lagi. Aku terlalu malu padanya, aku berdosa padanya. Aku sudah membuatnya menangis, aku tak mau menambah kesedihannya lagi. Aku sudah membelikannya kado, jauh-jauh hari sebelumnya. Berikan saja kado itu padanya, aku tak mungkin bisa hadir di pesta ulang tahunnya." ucap Melisa.


"Ga, aku tak bisa menemuinya. Aku terlalu malu, aku tak siap melihat tangisannya. Sungguh." Melis menutup matanya, ia menangis.


"Percayalah padaku, Keyza tak akan menangis sedih. Justru ia akan bahagia, karena kamu datang. Kumohon, datanglah dan beri anakmu kado terindah. Jangan mengecewakannya, dia sangat mengharapkan kehadiranmu, Melisa!" tegas Rangga.


Melisa terdiam. Ia sedih, ia tak bisa berkata-kata lagi. Melisa merasa berdosa pada anaknya. Ia bukan Ibu yang baik untuk Keyza. Dirinya sadar, ia tak pantas menjadi Ibu. bahkan, rasanya lebih baik Keyza mendapat Ibu baru pengganti untuk dirinya, karena dia tak mungkin bisa bersama Keyza lagi. Ia terlalu malu untuk memulai kembali kehidupannya.


"Mel, jawab aku!" ucap Rangga.


"Maafkan aku, Bang." Melisa menutup wajahnya.


"Melisa! Kumohon, sekali ini saja temui anakmu. Dia ingin kamu hadir, dia begitu menyayangimu. Setelah esok hari, kamu bisa pergi menjauh darinya. Biarkan dia bahagia di hari ulang tahunnya. Aku sudah terlanjur berjanji padanya, akan membawamu ke hadapannya. Please, setelah pertemuan mu dengannya, terserah apa yang akan kamu lakukan." Rangga terus memohon.


"Baiklah, jika kamu memaksa. Aku akan menemuinya esok. Namun, jangan salahkan aku, jika aku tak ingin menemui dia lagi. Aku malu, aku tak mau dia mengetahui pekerjaanku yang seperti ini. Aku ingin melanjutkan sendiri hidupku. Kuharap, kamu segera mengurus surat-surat adopsinya. Aku akan mempercayakan Keyza padamu. Aku akan mencari kehidupan ku yang baru, dengan orang-orang baru. Bukan aku tak mau merawat Keyza, hanya saja aku tak pantas menjadi Ibu untuknya. Semoga saja Abang mengerti, dan membiarkan aku mencari kebahagiaanku sendiri." ucap Melisa.

__ADS_1


"Baiklah, kalau itu mau mu. Aku akan mengurus surat-surat untuk mengadopsinya. Dengan begitu, aku akan mencari Ibu untuknya. Ibu yang bisa menyayangi dan mencintai Keyza sama seperti Ibu kandungnya yang mencintai anaknya." ucap Rangga.


"Bukankah didepan matamu, orang itu sudah ada?" tanya Melisa.


"Tira maksud kamu?" tanya Rangga.


"Iya, wanita yang menjaga anakku. Bukankah dia sangat menyayangi anakku? Tak bisakah ia menjadi istrimu?" ucap Melisa.


"Dia menyayangi Keyza, tapi dia tak menyayangi aku." jawab rangga.


"Kok bisa sih, Bang?" Melisa tak mengerti.


"Sepertinya, dia menyukai laki-laki lain. Aku jadi pesimis bisa mendapatkannya." ucap Rangga.


"Laki-laki harus semangat dong, Bang. Jangan menyerah," Melisa mulai tersenyum.


"Semoga saja aku terus semangat untuk mendapatkannya." ucap Rangga.


"Aku mendukungmu, Bang." Melisa menepuk pundak Rangga.


Rangga menatap Melisa. Ia melihat, semangat baru pada diri Melisa untuk mencari kebahagiaannya sendiri. Ia tersenyum, akhirnya Melisa mau membuka hatinya kembali.


"Apa kamu sedang dekat dengan seseorang?" tanya Rangga.


"Kenapa Abang bertanya seperti itu?" ujar Melisa.


"Katamu, akan mencari kebahagiaanmu sendiri. Apa kamu sudah menemukan lelaki pengganti mantan suamimu?" tanya Rangga penasaran.


Melisa tersenyum, "Ah, itu.. Iya, aku akan menemukan kebahagiaanku yang sesungguhnya. Aku tak akan bersedih terus. Doakan aku, semoga secepatnya aku bisa mendapatkan kebahagiaanku, Bang." jawab Melisa.


"Iya, Mel. Ku doakan yang terbaik untukmu!" Rangga tersenyum.


"Terima kasih, Bang. Semoga Abang juga bahagia ya," Melisa tersenyum.


"Mel, besok jangan terlambat ya. Akan ku hubungi, jika acaranya sudah mulai." jawab Rangga.

__ADS_1


"Baik, Bang. Aku akan datang tepat waktu."


*Bersambung*


__ADS_2