
"Keyza ..." Davian memanggil Keyza yang baru saja bangun tidur.
"Iya, Om Davian?" jawab Keyza polos.
Davian mendekati Keyza, dan ia segera duduk, "Apa Keyza sakit hati pada perlakuan Om saat itu?"
"Tidak, Om. Key memang salah, maafkan Key ya, Om." Keyza merasa bersalah.
"Sayang, sayang maafkan Om. Om Davian memang salah. Om selalu saja memarahi Keyza dan Om tak pernah menganggap Keyza. Maaf, semua karena rasa marah Om pada Ayah dan Ibumu. Om lupa, kalau kamu tak bersalah, kamu hanya korban dari perlakuan orang tuamu." ucap Davian.
"Om gak salah kok, kata Ayah Rangga, yang salah Daddy Key, Om." ucap Keyza.
"Sayang, Om mau bicara jujur sama Keyza. Apa Keyza mau mendengarkan Om Davi bicara?" Davian tersenyum dsn membenarkan rambut Keyza yang berantakan.
Keyza mengangguk, "Iya, Om Davi, mau!"
"Key, mungkin Om belum merasakan bagaimana rasanya punya anak. Mungkin, Om juga belum bisa mengontrol emosi dengan baik. Om memang tak pernah peka pada perasaan kecil Key. Keyza bilang pada Om, bahwa Keyza gak apa-apa, tapi Om tahu, bahwa Keyza menyimpan kesedihan itu sendirian. Om menyesal, karena baru saat ini menyadarinya. Om harap, Keyza mau memaafkan ucapan Om yang sangat membuat hati Keyza terluka. Om benar-benar menyesal, ketika kini Om sadar, Aunty Keyza sedang berjuang untuk mengeluarkan bayinya. Om ingin, Keyza memaafkan Om dengan tulus. Maukah Key memaafkan Om?" Davian penuh harap.
"Key takut sama Om, waktu itu Key nangis di pelukan Ayah, Key sedih, kenapa Om tega harus marahin Key, padahal Key gak sengaja. Key gak ngerti salahnya dimana. Key kesel sama Om, Om gak seperti Onty Arin yang baik dan peduli, Om malah jahat sama Key." Keyza mengeluarkan keluh kesahnya.
"Ya sayang, maafkan Om. Om tahu, Keyza sakit hati kan? Keyza sedih kan? Apa sekarang Keyza mau memaafkan Om? Kalau Keyza memaafkan Om Davi, Om akan berterima kasih sekali pada Keyza, Om janji, akan menyayangi Key seperti Ayah Rangga." Davian memegang tangan lembut Keyza.
"Om, janji? Beneran Om?" tanya Keyza.
"Bener sayang. Asal, Key maafin dulu Om. Setelah itu, apapun mau Key, akan Om turuti. Om janji. Om ingin, hati Keyza taj sakit lagi, Keyza tak sedih lagi." Davian tersenyum.
"Key mau memaafkan Om, tapi Key punya satu permintaan sama Om.." ucap Keyza.
"Apa itu, sayang?"
"Bolehkah Key bertemu Daddy?" tanya gadis kecil itu.
Seketika Davian terdiam mendengar keinginan Keyza. Namun, ia mencoba untuk tetap mengerti apa keinginan anak kecil ini. ia harus bisa memahami setiap ucapan yang di lontarkan Keyza.
"Kenapa gak minta sama Ayah Rangga?"
"Key gak mau, Key gak mau Ayah kecewa kalau dia tahu Key ingin bertemu Daddy. Om jangan bilang-bilang Ayah ya, Key gak mau Ayah tahu." ucap Keyza.
"Tenang saja, Ayah Rangga sekarang sedang pulang ke apartemen, begitu Key tidur disini, Ayah Rangga pulang dulu, dan Om yang menunggu Key bangun." ucap Davian.
"Jadi gimana Om? Apa boleh Key bertemu Daddy? Bukankah Daddy masih ada, Om?" Keyza berharap.
"Daddy-mu masih ada. Baiklah, suatu hati nanti Om akan mengajakmu bertemu dengannya. Asal, sekarang Key maafkan Om dulu, ya?" pinta Davian.
"Iya, Om. Key sudah memaafkan Om. Key juga sayang sama Om dan aunty."
Davian memeluk Keyza, "Makasih sayang. Kamu memang anak baik, aku menyesal telah melukai hatimu. Om janji, Om akan bahagiakan Keyza, dan Om akan menebus semua dosa Om pada Keyza." jawab Davian.
"Makasih, ya Om. Om udah mau minta maaf sam Key."
"Ya, sayang. Om juga minta, kamu doain Aunty ya, semoga bayi Aunty segera lahir, kasihan Aunty nangis-nangis kesakitan, dedek bayinya belum lahir juga." jelas Davian.
__ADS_1
"Iya Om. Key doain. Ya Allah, semoga Aunty segera melahirkan dedek bayi lucu untuk Key. Key ingin lihat dede bayi Aunty yang lucu. Semoga semuanya lancar dan dedek bayi tetep sehat sama Onty juga, Amin ..."
Keyza berdoa dan Davian memperhatikannya. Davian memeluk Keyza lgi dengan hangat. Mereka larut dalam kebahagiaan bersama. Tiba-tiba, Tira dan Mama Davian membuka pintu dengan cepat, mereka begitu khawatir dan shock.
"Dav, Dav," Mama Davian ngos-ngosan.
"Ada apa, Ma? Arini kenapa?" Davian seketika bangkit.
"Istrimu sudah mau melahirkan sekarang. Ayo, segera temani dia. Cepatlah, Dav!" Mama Davian berbicara dengan nada tinggi.
"Ya ampun, syukurlah. Alhamdulillah, berkah aku meminta maaf pada Keyza, Ma." Davian segera berlari menuju ruang bersalin Arini.
"Tira, temani Keyza, sementara Rangga belum kembali, jaga dia ya!" perintah Mama Davian.
"Baik, Nyonya."
Davian dan Mamanya berlari sekuat tenaga ke ruangan bersalin yang tak jauh dari kamar ganti tempat Keyza istirahat. Davian melihat Arini telah dikelilingi beberapa perawat, bidan dan juga Dokter Tika. Davian segera mendekati Arini. Ia memegang tangan Arini, menciumi Arini yang sudah berkeringat hebat. Davian tegang, sangat tegang. Tangannya bergetar hebat, keringatnya pun mulai bercucuran. Baru pertama kali dalam hidupnya ia mengalami hal seperti ini.
"Sayang, semangat! Kamu pasti bisa, kamu pasti kuat sayang. Bertahanlah, aku di sisimu, aku pasti menjagamu, sayang." Davian mengecup kening Arini.
"Aarrgghhhhh, Mas, ini sangat menyakitkan. Aku capek, aku gak kuat," Arini terus mencoba mengejan, ia tak tahan dengan rasa sakit yang teramat dalam.
Dokter Tika memecahkan ketuban Arini yang tak kunjung pecah. Hingga Dokter Tika meminta Arini untuk mengatur pola nafasnya, dan mulai mengejan dengan teratur.
"Ayo, Nona. Tarik nafas, mengejan dengan sekuat tenaga ya. Jangan mengangkat, tetap rileks, agar semuanya lancar. Ayo, bismillah, kita mulai," Dokter Tika terus menyemangati Arini.
"Aarrgggghhhhhh," Arini terus mengejan.
Davian panas dingin. Ia melihat istrinya menangis dan mengejan menahan sakit. Davian jadi gemetar sendiri. Ia tak menyangka, dalam hidupnya akan melihat istrinya berjuang seperti ini.
"Sus, sepertinya bayinya terlalu besar. Kita perlu melakukan episiotomi, agar jalan lahir semakin luas."
Suster menyerahkan alat episiotomi pada Dokter Tika. Alatnya mirip seperti gunting dan Davian sangat keheranan melihat suster membawakan gunting pada Dokter Tika. Seketika, mulut limis Davian bersuara, padahal sejak tadi Davian tak ingin berbicara sepatah kata pun.
"Loh, Dok. Ngapain bawa-bawa gunting? Istri saya mau di apain?" Davian kaget.
"Dav, berisik kamu! Itu untuk memperbesar jalan lahir! Jangan bawel kamu!" Mama Davian malu.
"Aduh, ngilu sekali aku, Ma." Davian menutup matanya.
Dokter hanya tersenyum melihat tingkah Davian. Dokter Tika telah menggunting jalan lahir Arini, dan ia meminta Arini untuk terus mengejan. Perlahan, Dokter Tika mencoba menarik perlahan kepala bayi Arini yang telah keluar, hingga Davian terus memeluknya, menciuminya, berdoa agar Arini tetap kuat, dan dengan doa dengan dorongan sang suami, Arini berhasil mengejan dengan sekuat tenaga, hingga ia benar-benar kelelahan dan kehabisan nafas.
"Oe, oe, oe." suara tangis bayi mungil memecah keheningan di ruangan bersalin itu.
Lahirlah bayi mungil nan lucu. Bayi itu menangis. Davian terdiam. Ia melihat bayi mungil yang menangis dan digendong oleh suster. Davian tak bisa menahan air matanya yang jatuh melihat keadaan ini. Hal pertama dalam hidupnya, hal yang sangat Davian nantikan juga Davian takutkan.
"Bayinya laki-laki ya, dengan berat badan 3,5 kg, dan panjang 51 cm. Bayinya sangat sehat. Selamat untuk Tuan Davian dan Nona Arini."
Perawat segera membersihkan bayi, hingga kemudian sang bayi di kumandangkan adzan oleh Davian. Keluarga besar Davian perlahan masuk kedalam karena tahu bahwa Arini telah melahirkan.
"Sayang, ini bayi kita, ini buah hati kita. Aku bahagia sekali. Terima kasih, perjuanganmu sangat hebat. Aku bangga padamu, kamu wanita terhebat yang aku cintai. Sekali lagi, makasih sayang. Aku sangat mencintaimu." Davian mengecup Arini yang terlihat kelelahan.
__ADS_1
"Mas, kamu nangis?" Arini mengusap air mata di pipi Davian.
"Aku terharu sayang, aku sangat bahagia."
Mama Davian dan Ibu Arini berdiri dibelakang mereka. Kakek dan Papa Davian pun turut hadir karena mendengar Arini sudah lahir. Tak ketinggalan, dua kembar Sherly dan Sheldy pun turut datang melihat keponakannya yang telah lahir.
"Kak Davian cengeng!" seru Sherly.
"Kakak hatinya kayak hello kitty ya!" Sheldy tertawa.
"Shhht, kalian berdua gak boleh kayak gitu!" ucap Mama Davian.
"Selamat Davian. Aku bangga padamu. Aku mempunyai buyut juga darimu." Kakek Davian menepuk pundak Davian.
"Terima kasih. Aku bahagia sekali."
Kebahagiaan Arini dan Davian tengah sempurna karena kehadiran bayi mungil yang sangat mereka tunggu-tunggu. Semuanya terasa bahagia, lega karena Arini dan bayinya telah sehat. Semua keluarga diminta keluar, karena Dokter akan menjahit jalan lahir Arini yang tadi sempat digunting.
Davian gusar lagi. Ia takut terjadi sesuatu pada Arini, namun ia terlalu sibuk untuk membawa bayi ke ruangan bayi agar segera mendapat perawatan.
...🍂🍂🍂...
Tira dan Keyza telah melihat bayi Davian dan Arini, namun mereka belum sempat bertemu dengan Arini. Keyza sangat senang sekali melihat bayi kecilnya. Ia menyebutnya adik, ia terlihat bahagia ketika bisa menatap bayi mungil itu. Kini, Tira dan Keyza sedang berjalan di koridor rumah sakit, Keyza ingin membeli susu kotak dan beberapa camilan.
"Kakak, Key kangen sama Kakak ..."
"Ya, Key. Kakak juga sangat merindukan Keyza. Maafkan Kakak mengecewakan Key, ya. Key pasti marah sama Kakak." ucap Tira.
"Dulu Key marah, sekarang udah enggak kok. Karena Ayah bilang, Kakak gak salah, yang salah Ayah, katanya gitu." Keyza tersenyum.
"Syukurlah, kalau Key gak marah sama Kakak."
Tira belum sempat bertemu Rangga, karena pada saat Rangga tiba, ia langsung pergi dengan wanita yang bersamanya. Bahkan, Rangga belum sempat menyapa Tira, karena Rangga terlihat begitu sibuk. Anehnya, wanita itu diajak Rangga untuk pulang ke apartemen, sehingga membuat Tira semakin penasaran.
"Key, apa Kakak boleh bertanya sesuatu?" tanya Tira.
"Boleh, Kakak. Tanya apa?" jawab Keyza.
"Kemarin kalian datang sama siapa? Karena sibuk, Kakak belum sempat berkenalan dengannya." ucap Tira pura-pura.
"Oh, kemarin Key datang sama Ibu. Ibu mau ikut pulang, katanya." jawab Keyza polos.
"IBU? Maksud Keyza?" Tira tak mengerti.
"Iya, itu Ibu. Keyza punya Ibu sekarang, Kak." jawab Keyza.
Hati Tira lemas mendengar Keyza mengatakan hal itu. Entah mengapa, dia merasa cemburu dan sakit hati mendengar Keyza mengatakan hal itu. Tira harus bertemu Rangga, Tira sangat kesal saat ini.
Laki-laki memang biad*b. Bisa-bisanya dia mengatakan rindu padaku, sementara dia kesini membawa wanita yang menjadi Ibu bagi Keyza. Kenapa hatiku sangat sakit? Ya Tuhan, apa aku sudah mulai menaruh perasaan padanya?
*Bersambung*
__ADS_1
Kasih ucapan selamat dong buat Davian dan Arini 😁😁😁