Terjerat Cinta Sang Pembantu

Terjerat Cinta Sang Pembantu
Menikah!?


__ADS_3

Ucapan Davian membuat keheningan mendalam di rumah besar itu. Semuanya menatap kearah Davian dan Arini. Semuanya tercengang mendengar ucapan Davian.


"Kamu sungguh-sungguh Davian? Kakek senang mendengarnya." ucap Kakek Surya


"Kek!" Arkan tak suka


"Ayah, pikirkanlah lagi." Tante Meisya menolak


"Kalau Davian memang akan menikah, menikahlah. Tandanya kau serius terhadap perusahaan. Langsungkan pernikahan di rumah saja, jangan buat resepsi untuk sekarang. Takut terdengar oleh investor. Anggap saja kalian telah lama menikah. Lalu, kapan?" tanya Kakek Surya


"Secepatnya, Kek. Davian akan memberitahukan pada kalian nanti." jawab Davian


Bagaimana perasaan Arini saat ini? Ia hancur, ia hancur sehancur-hancurnya. Tetapi, ia pun tak bisa menjawab Tidak. Sorot mata Davian berkata padanya, bahwa Arini harus membantu nya kali ini.


Arini diam tanpa kata. Arini tak tahu harus berbuat apa. Tuannya memang membutuhkan bantuan Arini, tetapi sebenarnya Arini tak sanggup kalau harus menikah dengan Davian. Bagaimana bisa Arini menentang? Ketika Davian telah meminta bantuannya.


Arini teringat pada hutang Ayahnya yang dilunasi oleh Davian. Apakah harus dengan cara ini Arini membayar semuanya? Apa Arini harus mau menikah dengan Davian untuk membalas budi Davian pada saat itu?


"Arini, apa kamu mau menikah dengan Davian?" tanya Papa Davian yang terlihat cemas, takut kalau Arini menolak


"Rin, kamu jangan gegabah! Pikirkanlah matang-matang. Kamu tak mungkin!" ucapan Rangga terputus


"Arini, pikirkanlah demi masa depan kamu dan Davian. Semuanya ada pada tanganmu. Berikanlah yang terbaik." ucap Mama Davian


"Aku mohon, terima aku, Arini. Aku akan menyayangimu dengan tulus."


Arini masih terdiam. Terlihat sekali banyak sorot mata tajam yang memandangnya. Arini harus bisa melawan mereka. Arini menegakkan badannya. Ia terlihat berani, Arini tersenyum tipis.


"Baik, Tuan. Saya akan menikah dengan anda. Saya menyetujuinya." ucap Arini mengagetkan semuanya.


"ARINI!!!" Rangga benar-benar tak setuju


Syukurlah, Arini. Kamu menyelamatkan masa depan Davian. Mama Davian dalam hati.


"Pah, mungkin wanita itu dan Davian hanya bersandiwara. Mereka tak akan sesungguhnya menikah. Jangan percaya pada mereka." Tante Meisya mencoba merayu Kakek Surya

__ADS_1


"Biarkan saja. Toh, pernikahan akan tetap SAH meskipun mereka bersandiwara. Davian, persiapkan semuanya. Aku percaya padamu. Ayo, sekarang kita makan malam dahulu." ucap Kakek Surya


Keluarga besar Davian meninggalkan ruang keluarga, dan menuju ruang makan bersama-sama. Tante Meisya dan Arkan terlihat geram sekali, ia benar-benar marah pada Davian. Usaha Arkan untuk merebut perusahaan semakin sulit.


Aku harus memutar otak, bagaimana caranya agar aku bisa menghancurkan Davian tanpa sisa. Aku harus mengatur strategi lagi. Lihat saja nanti, Davian. Akan ku balas semuanya. Arkan dalam hati.


Hanya tersisa Davian, Arini dan Rangga di ruangan tersebut.


"Dav, lu jangan seenaknya buat Arini menikah dengan lu. Gila lu ya?" Rangga kesal


"Ga, ini demi perusahaan. Lu juga dengar kan tadi? Apa jawaban Arini? Rin, apa lu menyesal telah menyetujuinya?" tanya Davian pada Arini.


Gue nyesel. Gue bener-bener nyesel Dav! Asal lu tahu itu. Tetapi, karena elu pernah baik sama gue, pernah melunasi semua hutang Ayah gue, gue jadi simpati sama lu. Gue terpaksa melakukan ini Tuan Dav yang terhormat. Batin Arini dalam hati.


"Karena kebaikan Tuan Dav, saya akan menerima pernikahan itu." jawab Arini


"Rin, bagaimana dengan cita-citamu? Apa kamu akan menyerah begitu saja HAH? Jangan menikah dengan Davian. Kumohon." ucap Rangga


"Maafkan saya, Tuan. Saya telah menyetujuinya didepan semua keluarga besar." Arini menunduk.


Acara makan malam telah selesai. Keluarga Davian kembali pulang. Ada yang senang, dengan keputusan Kakek Surya ada pula yang kesal dan emosi dengan keputusan tersebut. Salah satunya adalah keluarga Arkan. Mereka kesal dengan ulah Davian.


Mama Dan Papa Davian meminta Davian dan Arini duduk bersama. Rangga tak hadir, ia lebih memilih untuk merenung di kamarnya. Rangga kecewa, Arini tak menolaknya.


"Davian, apa ucapan mu itu serius?" tanya Papa Davian


"Serius, semua untuk perusahaan kan?" jawabnya


"Davian, kamu mengorbankan Arini. Apa kamu tahu itu?" ucap Mama Davian


"Arini, kenapa kamu mau menikah dengan Davian?" tanya Papa Davian


"Kalian tak perlu ikut campur. Hanya beri restu saja aku dan Arini. Untuk masalah pernikahan dan selanjutnya, aku yang akan membicarakannya dengan Arini."


"Arini, apa kamu mau menikah dengan Davian?" tanya lagi Mama Davian

__ADS_1


"Saya tak ada pilihan lain lagi, Nyonya. Maafkan sikap lancang saya yang telah menyetujuinya." Arini menunduk


"Justru aku senang kamu mau menikah dengan Davian. Dengan itu, Papa mertua tak akan membiarkan perusahaan jatuh ke tangan si Meisya yang angkuh itu." ucap Mama Davian


"Dav, sepertinya kamu perlu berbicara dengan Arini. Bawalah dia, bicaralah dengannya." ucap Papa Davian


"Baik, Pa."


Davian memegang tangan Arini dengan refleks. Arini mengikutinya. Arini benar-benar tak mengerti dengan situasi ini. Semuanya serba dadakan. Tak ada yang direncanakan sama sekali. Pilihan yang sulit, apalagi dijalankan, akan lebih sulit lagi.


"Maaf, Rin. Semua diluar batas ku." jawab Davian


"Aku bingung, Tuan. Aku tak mengerti kenapa semua ini harus terjadi padaku." ucap Arini


"Gue mohon, kita menikah saja. Gue gak akan ngapa-ngapain elu. Gue hanya butuh surat tertulis untuk mendapat status menikah. Kalau lu keberatan, dalam jangka waktu enam bulan kita bisa bercerai." ucap Davian


Arini terdiam. Kenapa pernikahan dijadikan ajang main-main seperti ini? Arini berharap pernikahannya akan berjalan dengan lelaki yang ia cintai, dan pernikahan yang sakral. Tetapi, kenapa sekarang pernikahannya akan menjadi sandiwara seperti ini?


"Tuan pernah membantuku melunasi hutang-hutang Ayahku. Sebaliknya, aku pun harus membantu Tuan demi merebut perusahaan. Itu akan menjadi balas budi ku atas semua kebaikan Tuan! Aku bersedia menerima tawaran Tuan. Dengan syarat, kita hanya menikah di atas kertas. Tak ada hubungan lebih sebagai suami istri selain itu." jelas Arini


"Tentu saja! Kamu tetap menjadi pembantuku, bukan begitu?"


"TUAN!!! Masih saja membuatku kesal. Tetapi, bagaimana aku memberi tahu Ibu?" Arini bingung


"Ibumu akan kecewa kalau mengetahuinya. Biarkan dia tak tahu, kamu bisa memakai wali hakim bukan? Lagipula, pernikahan ini hanya sandiwara. Kita tak sesungguhnya menikah." jawab Davian


"Baiklah, aku akan menuruti semua permintaan Tuan. Berarti kita impas ya, Tuan?" ucap Arini


"Impas gimana maksud lu?" Davian tak mengerti


"Ya impas, saya tak punya hutang lagi dengan Tuan. Dulu, saya terikat dengan Tuan karena hutang budi ini. Sekarang, telah saya bayar. Suatu saat nanti, saya pasti akan pergi meninggalkan rumah ini demi menggapai cita-cita saya. Saya tak mau hidup dengan penuh sandiwara." ucap Arini


Kenapa rasanya aku tak rela? Kenapa rasanya sakit sekali mendengarnya berkata akan pergi meninggalkan rumah ini? Kenapa dia tak mau berumah tangga yang sesungguhnya saja denganku? Kenapa harus pergi? Kenapa kita tak menikah sungguhan saja? Aku terlalu malu untuk mengatakan itu. Aku takut kamu menolak jika aku mengatakan ingin benar-benar menikah denganmu. Arini, aku harus bagaimana?


*Bersambung**

__ADS_1


__ADS_2