Terjerat Cinta Sang Pembantu

Terjerat Cinta Sang Pembantu
Benalu!


__ADS_3

"Maaf untuk apa, Tira?" tanya Rangga.


"Maaf sekali,"


Tira terdiam. Berat baginya untuk mengatakan yang sesungguhnya. Rangga menanti dengan harapan. Ia tetap melihat Tira, yang menunduk lesu. Entah Tira memikirkan apa, Rangga tak tahu alasannya.


"Maaf, aku tak bisa membalas perasaan itu. Aku tak ingin cinta yang seperti ini." tegas Tira.


"Tapi, aku tak main-main, Tira. Walaupun ini terkesan lelucon, walaupun ini terkesan mendadak, aku serius padamu. Aku akan segera mengenalkan mu pada kedua orang tuaku!" tegas Rangga.


"Tuan, sekali lagi maafkan saya. Mungkin ini terdengar seperti permintaan Tuan Davian pada Nona Arini, namun saat ini berbeda kisah. Aku tak mungkin bisa menerima semua itu. Maafkan aku, aku memiliki alasan untuk ini." Tira tetap bersikukuh.


"Apa alasanmu? Karena Melisa lagi? Iya?" Rangga menerka-nerka.


"Saya sudah bilang kepada Tuan, Tuan kini mengurus Keyza. Tuan menjadi sosok pengganti Ayahnya. Kenapa harus saya yang menggantikan Ibunya? Sementara Ibunya masih ada! Saya tidak mau merusak kebahagiaan yang semestinya bukan untuk saya, Tuan!" tegas Tira.


"Kumohon, jangan pikirkan orang lain. Cukup pikirkan dirimu saja. Bagaimana perasaanmu padaku? Apakah kamu bisa belajar untuk mencintaiku? Biarkan Melisa, aku tak mau bersamanya, aku memang memilihmu, walaupun ini sangat mendadak. Aku mohon, kita bersama-sama belajar untuk saling mencintai. Bukankah itu mudah? Tira, bagaimana perasaanmu padaku? Aku berharap penuh, padamu." Rangga terus memohon.


"Maaf, Tuan. Keputusan saya sudah bulat. Saya tak akan menerimanya. Saya tidak menyukai Tuan Rangga sedikitpun. Maafkan saya. Kumohon, Saya ingin bekerja dengan tenang, saya tak ingin pekerjaan saya dicampuri oleh perasaan yang tak saya inginkan sedikitpun." Tira menguatkan dirinya.


"Jadi, kamu menolak ku? Apa kamu tak sedikitpun menyimpan perasaan untukku, Tira?" Rangga meyakinkan dirinya.


"Tidak. Aku tak punya perasaan apapun pada Tuan Rangga. Selain rasa hormat saya pada Tuan selaku majikan saya." tegas Tira.


"Tira, apa kamu yakin, dengan kata-kata mu itu?" Rangga menyeringai.


"Saya yakin! Tolong Tuan jangan merendahkan saya. Karena saya sedang tidak bercanda." Tira menegakkan kepalanya.


"Baiklah, aku terima keputusanmu. Tetaplah bekerja bersamaku, akan ku buktikan, kalau ucapan mu itu salah, kalau ternyata kamu memang menyimpan perasaan untukku. Aku yakin, kamu pun menyukai aku, kita lihat saja nanti, Tira. Terserah lah, apapun yang kamu inginkan, akan ku buktikan suatu hari nanti, kalau kau juga mencintai aku! Camkan itu, Tira!" Rangga kesal.


Rangga membawa tas dan jaketnya, ia segera berlalu. Ia pergi entah kemana. Pintu apartemen ia banting dengan keras. Bukan tanpa alasan, Rangga pusing setengah mati, bagaimana ia bisa mengenalkan wanita pilihannya pada kedua orang tuanya, sementara wanita yang ia harapkan, tak mengindahkan perasaannya.


Rangga mengendarai mobilnya dengan cepat. Ia sudah tak bisa berpikir dengan jernih lagi. Ia segera melajukan mobilnya menuju restoran pizza tempat Melisa bekerja. Rangga tak ada pilihan lain. Diterima atau tidak, Rangga akan memaksakan dirinya. Daripada ia menikah dengan wanita lain, lebih baik ia menikahi wanita yang menjadi Ibu dari anak yang ia rawat saat ini.


Walaupun dalam hati Rangga tak menginginkannya. Rangga hanya ingin membuat Tira kesal dan sakit hati atas pilihannya karena telah menolak dirinya. Rangga ingin membuat Tira menyesal, karena mengabaikan perasaannya.


Rangga pun sampai di restoran. Terlihat Melisa sedang membersihkan meja-meja kotor bekas pelanggan. Rangga segera mendekati Melisa. Rangga menarik paksa tangan Melisa.

__ADS_1


"Awwww," Melisa kesakitan.


"Mel, ikut aku sekarang!" tegas Rangga.


"Bang Rangga! Ada apa sih? Lepas, kenapa sifat Bang Rangg selalu saja seenaknya begini?" Melisa kesal.


"Bawa tas mu, dan izin pada atasanmu untuk pulang lebih awal. Ada hal yang ingin aku katakan padamu!" perintah Rangga.


"Bang!" Melisa tak suka.


"Cepatlah, Mel. Aku tak ingin buang-buang waktu!"


Melisa tak ada pilihan lain. Rangga selalu memaksanya. Ia tak ingin membuat keributan, hingga akhirnya ia mengalah dan ikut bersama Rangga masuk kedalam mobilnya. Melisa tak mengerti, kenapa Rangga berbuat seperti ini padanya. Kini, mereka sudah berada didalam mobil.


"Ada apa sih Bang?" Melisa tak mengerti.


"Kamu tahu kan, selama ini aku yang menjaga dan merawat anakmu?" tanya Rangga.


"Tentu saja, aku berterima kasih untuk itu. Memangnya, kenapa Bang?"


"Kamu harus berterima kasih dengan cara yang lain." tegas Rangga.


"Menikah kontrak lah denganku! Itu caramu berterima kasih padaku!" tegas Rangga.


Melisa tersedak, "Uhukk, uhukk. Bang Rangga! Apa maksudnya? Kenapa aku harus menikah kontrak denganmu? Apa maksudmu?" Melisa benar-benar kaget.


"Aku ingin membuat wanita yang aku cintai cemburu padaku. Akan ku buktikan, bahwa dia memang mencintaiku. Kumohon, bekerja samalah denganku, Melisa!" pinta Rangga.


"Kenapa aku harus melakukan hal itu? Bukankah, Bang Rangga sudah memiliki kekasih, dan dialah yang akan menjadi pengganti aku untuk merawat Keyza? Ada apa sebenarnya?" Melisa bertanya-tanya.


"Dia bukan kekasihku. Dia hanya asisten yang membantuku merawat Keyza. Hingga akhirnya, aku jatuh padanya. Namun, dia tetap bersikeras tak ingin menerima aku. Aku yakin, dia sebenarnya juga mencintai aku. Namun, dia mengedepankan egonya. Aku ingin kamu menikah kontrak denganku. Dengan seperti itu, kamu bisa bertemu dan selalu bersama dengan anakmu, bukan?" Rangga bernegosiasi.


"Memang benar, aku bisa bertemu anakku setiap hari. Namun, rasanya aku yang dipermainkan disini." Melisa menunduk.


"Tak ada yang dipermainkan. Aku dan kamu hanya menikah di atas kertas saja. Ambil sisi positifnya, kamu bisa selalu bersama anakmu, dan aku bisa mengetahui, apakah wanita itu menyukai aku atau tidak!" Rangga bersikeras.


"Sampai kapan aku melakukan pernikahan kontrak itu?" tanya Melisa.

__ADS_1


"Sampai aku yakin, bahwa Tira mencintai aku." tegas Rangga.


"Aku tak menjamin cara ini akan berhasil. Namun, sebagai ucapan terima kasihku, aku akan melakukannya. Aku akan menjadi istri kontrakmu. Dengan syarat, kita tak boleh tidur bersama. Karena setelah semuanya selesai, aku akan segera pergi." tegas Melisa.


"Benarkah, Mel? Kamu menyetujuinya? Terima kasih! Terima kasih kamu telah mau bekerja sama denganku." ucap Rangga.


Tira, akan ku buktikan, bahwa kamu juga mencintai aku. Aku ingin kamu cemburu padaku karena kehadiran Melisa. Semoga Melisa bisa membantuku untuk mendapatkan Tira. Maafkan aku yang harus menempuh jalan pahit seperti ini. Aku hanya ingin tahu perasaanmu yang sesungguhnya. Batin Rangga.


Rangga membawa Melisa menuju ke rumah utama kedua orang tuanya. Rangga gugup, namun ia harus meyakinkan kedua orang tuanya, bahwa Melisa-lah, yang akan dijadikan istrinya. Rangga memegang tangan Misa masuk kedalam rumah utama itu. Mereka berdua benar-benar gugup. Didalam rumah, sudah ada Ayah Rangga dan Papa Davian. Mereka kaget, melihat Rangga membawa Melisa ke rumah itu.


"RANGGA! Apa-apaan kamu ini. Kenapa wanita tak tahu diri itu bisa bersamamu, HAH?" Kakek Surya marah.


"Ayah, dengarkan aku dulu!"


"RANGGA! Bawa pergi wanita tak tahu diri itu! Aku sudah tak ingin melihatnya. Aku muak dengan wanita yang meninggalkan kewajibannya!!!" Kakek Surya marah.


"Rangga. Apa maksudmu? Kenapa membawa Melisa?" Papa Davian tak habis pikir.


"Hentikan amarah kalian. Dengarkan aku! Bukankah Ayah menginginkan aku segera menikah? Kini, aku merawat Keyza. Aku adalah pengganti Arkan! Dan aku juga akan menggantikan Arkan untuk menjadi suami Melisa. Aku akan menikahinya, Ayah, Kakak! Dengan begitu, Keyza dan Melisa akan tetap bahagia bersama." ucap Rangga tegas.


"RANGGA! Hentikan omong kosong mu itu. Bawa wanita tak tahu diri itu pergi. Aku muak, aku tak ingin melihat wajahnya lagi." bentak Kakek Surya.


"Kek, jangan seperti itu!" ucap Rangga.


"Wanita seperti dia tak pantas lagi menginjakkan kaki di rumah ini. Ingin rasanya aku melihat dia mati saja, daripada dia harus hidup, dan kembali ke keluarga ini. Aku tak mungkin mengizinkan dia menikah denganmu. Benalu ini hanya membuat masalah didalam keluarga besar kita. Bawa dia keluar Rangga! Aku tak sudi melihatnya!" Kakek Surya marah.


"Ayah, hentikan! Kau terlalu kasar padanya! Cukup!" Rangga menenangkan Ayahnya.


Melisa sakit hati mendengar ucapan Kakek Surya, ia tak menyangka, bahwa Kakek Surya akan berkata se-menyakitkan itu. Tak terasa, air matanya jatuh. Entah ia harus bagaimana, hati dan jiwanya benar-benar shock mendengar ucapan kejam mantan Kakeknya itu. Hingga sesak di dada Melisa kambuh lagi, ia tak kuasa menahan pengap di dadanya, ia memegangi dadanya terus-menerus, mencoba agar kondisinya membaik lagi.


Rasa sesak dan pengap terus saja menggelayuti dirinya. Ia tak kuasa menahan rasa sakit. Rangga yang tak memperhatikannya, membuat Melisa tambah sedih dan sakit hati. Hingga kesadarannya menurun lagi, tanpa sadar, Melisa menjatuhkan tubuhnya ke lantai. Ia sudah tak kuasa menaham sesak di dadanya. Hingga akhirnya, pertahannya pun runtuh.


Brruggghhh, Melisa pingsan lagi.


"MEL, MELISA! Kamu kenapa? Bangun Mel!!!" Rangga menggerak-gerakkan tubuh Melisa yang tak berdaya.


*Bersambung*

__ADS_1


Nikmati saja alurnya ya, semua akan indah pada waktunya.. 🤗


__ADS_2