
Kamar Keyza.
Rangga dan Tira masuk kedalam kamar Keyza. Keyza cemberut, ia terlihat kesal. Rangga segera menghampirinya. Kemudian, Rangga duduk di ranjangnya, lalu Tira mengikutinya dari belakang. Tira tak berani ikut duduk di ranjang Keyza, ia hanya berdiri saja.
"Keyza kenapa?" tanya Rangga.
Keyza diam tak menjawab.
"Sayang, anak Ayah, Keyza kenapa?" tanya Rangga lagi sambil mengusap rambut gadis kecil itu.
Keyza tetap tak menjawab. Rangga menatap Tira. Mungkin, hanya Tira yang bisa membuat Keyza mau berbicara. Rangga menarik tangan Tira yang berdiri di belakangnya, hingga Tira terduduk di ranjang Keyza, dengan posisi Rangga berada dibelakang Tira Tira sangat kaget, jantungnya berdebar, ketika Rangga menariknya hingga duduk di depannya.
"Ke-key, kenapa sayang? Cerita sama Kakak? Apa Key sedih? Jangan diem aja sayang, mending di ceritain sama Kakak, biar Key gak sedih lagi. Bagi kesedihannya untuk Kakak, ya?" rayu Tira.
Keyza menatap Tira, "Aku kesel sama kak Sherly."
"Sherly? Memangnya apa yang dia lakukan padamu, sayang?" tanya Rangga.
Tira sangat tak nyaman, ia ingin kembali berdiri, namun ada tubuh Rangga dibelakangnya.
"Kak Sherly bilang, kalau anak Aunty Arin itu adiknya dia. Kan itu adik Key, Ayah! Tapi, Kak Sherly gak mau ngalah sama Key. Dia terus bilang gitu. Katanya, Key bukan Kakaknya bayi, katanya yang Kakaknya itu adalah Kak Sherly. Kak Sherly memang jahat dan menyebalkan!" Keyza marah.
Rangga dan Tira tertawa mendengar kekesalan Keyza yang menganggap becandaan Sherly dengan serius. Tira gugup, karena tubuh Rangga hampir menempel pada tubuhnya karena tangan Rangga mencoba meraih tangan Keyza. Seketika itu pula, Tira kembali bangkit. Ia berdiri, karena ia tak nyaman terlalu dekat seperti itu dengan Rangga.
"Jangan dianggap ucapan Kak Sherly, dia hanya bercanda Key. Dia gak serius bilang kayak gitu, dia cuma pengen bercandain kamu. Baby Onty Arin tetap adiknya Key, kok." rayu Rangga.
"Enggak. Kak Sherly beneran, Key kesel sama dia. Ayah, pokoknya Key gak mau tahu, Key ingin punya adik sekarang juga. Key pengen punya adik sendiri." Keyza kesal.
Tira dan Rangga kaget mendengar Keyza berkata ingin punya adik sendiri. Seketika itu juga, Rangga kebingungan bagaimana harus menjawab ucapan anak kecil pintar ini.
"Iya, iya. Nanti kita carikan adik untuk Key ya." Rangga mengusap rambut Keyza lagi.
"Gak mau!" Keyza marah lagi.
__ADS_1
"Loh, jadi mau Key apa sayang? Kan Key mu adik, bukan?" Tira mencoba merayu.
"Key mau adik dari Kakak Tira!" ucapnya polos.
DEG. Jantung Tira rasanya berhenti berdetak ketika keinginan polos Keyza benar-benar berada diluar nalarnya. Ia tak menyangka, kata-kata seperti itu akan keluar dari mulut kecilnya. Rangga pun heran, kenapa Keyza berani berbicara seperti itu.
"Key, kenapa mau adik dari Kakak Tira, kan dia Kakak kamu," ucap Rangga.
"Dulu Kakak Tira pernah janji sama Key, kalau Kakak Tira bakalan jadi Mommy-nya Key kan? Jadi, Key ingin adik dari Kakak Tira. Ayah, cepat jadikan Kakak Tira mommy Key! Ayo!" Keyza bersemangat.
"Key, Ayah Rangga tak bisa memutuskan hal itu. Semua itu tergantung Kakak Tira-mu." jawab Rangga.
Keyza berdiri, dan menarik tangan Tira agar kembali duduk di ranjangnya. Tira pun terpaksa menuruti keinginan Keyza, karena gadis kecil itu terus memaksa.
"Kakak, mau kan?" rayu Keyza.
"Hah? Ah, i-iya Key, nanti Kakak pertimbangkan." Tira bingung.
"Pokoknya, sekarang Ayah rayu Kakak ya, agar mau bikinin Key adik. Key mau cerita dulu sama Onty Arin sekarang. Ayah bujuk Kakak ya, Key gak mau tahu!" Keyza bangun dan turun dari ranjangnya.
Tira yang ditinggalkan oleh Keyza merasa canggung dan tak nyaman. Karena hanya ada dirinya dan Rangga di kamar itu. Segera mungkin ia kembali berdiri, namun tangan Rangga menariknya kembali, hingga Tira terduduk lagi didepannya. Rangga segera memeluk pinggang Tira dari belakang. Tira terperanjat kaget, namun dekapan Rangga membuatnya hangat. Ia ingin menolak, tapi rasanya sudah tak bisa.
"Mmh, Tuan ... Jangan seperti ini, lepaskan!" Tira sungguh tak nyaman.
Rangga mendekatkan kepalanya ke bahu Tira, "Ra, itu keinginan Keyza. Bisakah kamu menyetujuinya? Aku akan dengan senang hati mengenalkan mu pada keluargaku. Ini sudah waktunya, aku mengenalkan dirimu, calon istriku."
"Aah, Tuan. Sungguh, ini tak nyaman bagi saya. Kumohon, lepaskan." Tira sungguh tak nyaman dibuat Rangga. Jantungnya berdebar tak karuan.
"Jawab dulu," Rangga memejamkan matanya, ia masih menempel di bahu Tira.
"Ba-baik. Aku mau, tapi lepaskan. Aku malu kalau dilihat banyak orang." Tira benar-benar gugup.
Ya Tuhan, inikah rasanya? Kenapa jantungku tak henti-hentinya berdebar? Bagaimana kalau dia tahu aku berdebar karenanya? Tuan, kumohon lepaskan. Aku sangat malu. Aku tak biasa melakukan hal seperti ini. Tuan Rangga, jangan biarkan aku gugup begini. Ingin rasanya berlari, tapi aku tak bisa, mengacaukan suasana hatinya. Batin Tira.
__ADS_1
"Ra, benarkah? Aku ingin kamu jujur tentang semua perasaanmu padaku." ucap Rangga.
"Aku sudah jujur, Tuan." ucap Tira.
Rangga melepaskan pelukannya. Ia membalikkan tubuh Tira agar menghadap padanya. Kini, mereka saling berhadapan. Rangga memegang lengan Tira. Rangga tersenyum padanya,
"Ra, aku cinta padamu. Aku menyayangimu. Aku ingin, kamu mau menerimaku dengan tulus. Hanya kamu, yang membuat hatiku bergetar. Aku sangat menyayangimu. Maukah kamu mengarungi bahtera kehidupan bersamaku? Ada Keyza, yang berharap penuh pada cinta kita." ucap Rangga tulus.
Tira menggigit bibirnya, ia menatap Rangga, ia masih tak percaya hal ini terjadi padanya. Seorang Rangga, pengusaha sukses mengutarakan perasaannya padanya. Awalnya, ia ragu, karena tak mungkin ada laki-laki yang mau serius padanya. Awalnya, ia tak ingin menganggap Rangga. Karena ia takut, Rangga hanya mempermainkan perasaannya saja. Tapi, kini perasaannya berubah. Ia melihat, Rangga tulus mengungkapkan perasaan itu padanya.
"Tira, bagaimana?" tanya Rangga lagi.
Tira menghela nafas, ia sangat gugup, "I-iya, Tuan. Aku mau."
"Tira, benarkah?" Rangga terlihat sangat bahagia.
"Ya, Tuan. Aku mungkin memang belum sepenuhnya mencintaimu, tapi aku akan mencoba mencintaimu dengan tulus." Tira sangat malu.
"Tira, benarkah? Aku diterima?"
"Ya, aku menerimamu, Tuan." jawab Tira.
"Terima kasih. Aku mencintaimu ..." ucap Rangga.
"Ya, Tuan.." Tira masih malu untuk membalas ungkapan cinta Rangga padanya.
"Aku akan segera membawamu kepada kedua orang tuaku. Dan aku juga akan memintamu pada kedua orang tuamu, aku akan meminta izin pada mereka untuk menikahi mu." ujar Rangga.
"Aku hanya punya Bibi dan Paman, Tuan." ucap Tira.
"Oh, maafkan aku. Baik, aku sudah tak sabar ingin segera melamarmu. Secepatnya, akan ku halalkan kamu di atas pelaminan." Rangga mengusap rambut Tira.
Bermimpikah aku? Kenapa rasanya sangat bahagia sekali? Tuhan, semoga aku bahagia bersamanya. Mungkin memalukan, seorang pembantu bisa mendapatkan cinta Tuannya. Aku tak bermimpi. Sejauh manapun aku menghindar, ternyata dia serius padaku. Aku takut, lelaki kaya seperti mereka tak akan serius padaku. Tapi, kini aku mengerti, setelah melihat Nona Arini dan Tuan Davian. Hal itu juga terjadi padaku. Terjerat cinta sang pembantu, season 2.
__ADS_1
*Bersambung*