
Selamat membaca...
Tekan like dulu ya, biar gak lupa🤗
Hari sudah gelap, sedangkan Davian dan sekretaris Dika belum juga sampai di rumah. Di Bogor macet total, dan Davian pasti akan telat sampai di rumah. Malam ini, Kota Jakarta di guyur hujan lebat. Intensitas air meninggi, sehingga sekretaris Dika tak bisa mengemudikan mobil dengan cepat.
Genangan air di jalanan membuat mobil harus melaju perlahan-lahan. Davian sudah sangat kesal sekali, karena ia sangat lelah dan ingin rasanya segera sampai di rumah. Tiba-tiba, pandangan sekretaris Dika tertuju pada wanita yang berjalan di tengah derasnya hujan sambil sempoyongan.
"Bos, lihat ke sana. Di trotoar itu! Ada cewek sempoyongan kayak mau pingsan, mana ujan-ujanan lagi. Kasihan, Bos." ucap sekretaris Dika.
"Ah, iya. Apa dia mabuk, Dik?" tanya Davian.
"Gak tahu, Bos. Tapi, kelihatannya udah gak bertenaga itu orang. Kasihan, Bos. Ayo, kita tolong dia!" ajak sekretaris Dika.
"Kamu bener, Dik. Eh, eh ... astaga, dia pingsan kayaknya, Dik. Ayo, cepet pinggirin mobilnya, kasihan!" tambah Davian.
Sekretaris Dika segera memarkirkan mobilnya, dan ia keluar dari mobil refleks tanpa menggunakan payung. Davian menyusul dari belakang karena ia mengambil payung terlebih dahulu. Sekretaris Dika segera berlari dan melihat keadaan wanita yang tersungkur lemah itu. Davian memakai payung, lalu ia keluar dan memayungi mereka.
"Bos, ayo, bawa ke mobil aja, kita ke rumah sakit." ucap sekretaris Dika.
"Dik, tunggu!" Davian membuang payungnya, karena ia kaget mihat wanita tersebut.
"Kenapa, Bos? Bos, payungnya! Bos gak boleh keujanan!" tegas sekretaris Dika.
"Dik, ini guru lesnya Livia. Ini, Nisha! Ya, dia Nisha." Davian menatap Nisha berkali-kali, memastikan apakah dia salah atau tidak.
"Astaga, Bos. Kasihan sekali dia! Baiklah, ayo kita bawa ke mobil dulu." Sekretaris Dika memangku Nisha yang terkapar lemah.
Davian sangat tak menyangka. Wanita cantik nan polos itu kini terkapar lemah di belakang mobilnya. Davian menyelimutinya, agar ia tak kedinginan. Masih jadi tanda tanya, kenapa Nisha bisa pingsan dan berada di tengah derasnya hujan.
"Kita ke Rumah sakit mana, Bos?" tanya sekretaris Dika.
"Ke rumah saja. Biar istriku yang memeriksanya, jika keadaannya gawat, baru kita pergi ke rumah sakit. Aku sangat lelah, aku tak ingin ke Rumah sakit! Semoga saja gadis ini tak kenapa-napa." perintah Davian.
"Baik, Bos."
...🌸🌸🌸...
Sesampainya di rumah.
Sekretaris Dika bersama Pak Ujang membawa Nisha ke kamar tamu. Arini yang menyambut kedatangan suaminya sangat kaget, mendapati Nisha yang pingsan dan tak berdaya. Arini segera mengambil tas kerja Davian dan membuka jas Davian yang basah.
"Mas, ada apa ini sebenarnya? Kamu basah seperti ini, ayo masuk ke kamar dulu." ajak Arini.
"Nanti aku jelaskan. Aku ingin membersihkan tubuhku lebih dulu. Sayang, periksa dia, apakah sakitnya berbahaya, dan minta Bik Lilis untuk mengganti pakaiannya." ucap Davian.
"Baik, Mas. Aku akan segera memeriksanya." ucap Arini.
Arini menunda rasa penasarannya yang semakin menggebu. Ia sangat khawatir, akan kondisi Nisha yang sebenarnya. Bik Lilis telah mengganti pakaian Nisha yang basah. Lalu, Arini membawa peralatan kedokteran seadanya, dan ia mulai memeriksa kondisi Nisha yang masih melemah.
Sekretaris Dika dan Davian pun masuk ke kamar tamu itu lagi setelah mereka selesai mengganti pakaiannya. Arini sangat khawatir, karena Nisha masih juga belum sadar.
"Sebenarnya, apa yang terjadi, Mas?" tanya Arini.
"Dia pingsan, dan dia sepertinya sengaja menerobos hujan yang lebat. Kurasa, dia sedang ada masalah." ucap Davian.
"Iya, Bos. Sepertinya begitu, dilihat dari penampilan awalnya tadi, dia terlihat sangat rapi. Sepertinya ada masalah. Kurasa, dia tak mabuk. Dia hanya terlalu lama berada ditengah-tengah hujan." ucap sekretaris Dika.
__ADS_1
Davian pun mengangguk. Ia merasa, Nisha memang sedang ada masalah.
"Dilihat dari pakaiannya yang basah kuyup, sepertinya Nisha sudah kehujanan untuk waktu yang sangat lama. Kehujanan dalam durasi yang cukup lama bisa membuat seseorang kedinginan. Ketika suhu tubuh terlalu rendah, sistem imunitas tubuh pun bisa menurun. Tubuh pun jadi lebih rentan terinfeksi kuman penyebab penyakit, salah satunya virus flu. Kurasa, ia terlalu lelah dan imunitasnya menurun, sehingga ia lemas dan pingsan. Untung saja Mas menemukannya dengan cepat. Kasihan sekali, badannya sudah menggigil kedinginan, dan bibir nya pun membiru karena kedinginan. Semoga saja Nisha akan segera sadar, aku telah memeriksanya dan ini tak berbahaya, Nisha hanya butuh istirahat yang cukup." jelas Arini.
"Dia demam, dan aku khawatir demamnya susah turun jika dia tak sadar juga. Semoga saja, sebentar lagi Nisha akan sadar." ucap Arini.
Kenapa kamu, Nak? Ceritakan lah padaku masalah hidupmu. Aku siap mendengarnya, aku akan membantumu mengurangi beban permasalahan mu. Kamu sangat terluka, aku tahu itu. Batin Arini.
Beberapa menit kemudian, mata Nisha mulai terbuka perlahan-lahan. Nisha merasa kepalanya sangat pusing dan berat sekali. Ia membuka matanya perlahan, dan ia kaget melihat Arini, ada di sampingnya. Ia mengucek matanya, dan memegangi kepalanya yang masih terasa sakit, dan benar saja itu adalah Arini. Nisha juga kaget, karena Davian ada dibelakang Arini.
"Bu-Bu Dokter, saya kenapa ini, ke-kenapa saya ada disini? Auwh, kepala saya pusing sekali, Bu." Nisha meringis kesakitan dengan suara yang sangat serak.
"Nisha, kamu pingsan. Kamu kehujanan di jalanan. Kamu gak apa-apa kan, Nish?" Arini khawatir.
"Ah, i-iya, Nisha ingat. Maafkan Nisha, Bu. Nisha merepotkan Ibu dan keluarga." ucap Nisha.
"Tenang saja, Nak. Jangan merasa begitu, aku senang bisa menolong mu. Ayo, minum dulu air mineralnya, agar kamu lebih segar, kita makan dan kamu harus minum obat. Kamu demam, Nish. Kamu terserang flu." ucap Arini.
"Ke-kenapa Nisha bisa ada disini? Seingatku, tadi Nisha berjalan di sekitar cafe," Nisha mencoba mengingat-ingat kembali.
"Iya, kamu pingsan, dan kebetulan saya lewat dijalan itu. Ceroboh sekali kamu, Nisha. Kenapa harus berjalan disaat hujan sedang deras? Untungnya saya dan sekretaris Dika melihat kamu." tanya Davian.
Nisha bingung harus menjawab apa. Nisha sengaja berjalan saat hujan, ia ingin menangis bersama hujan, menumpahkan segala rasa kecewa dan kesedihannya karena ditinggalkan oleh Elang. Arini tersenyum melihat Nisha yang kebingungan. Davian kalau bicara memang tak pernah di filter, pertanyaan apapun yang ada didalam benaknya, pasti langsung ia lontarkan.
"Mas, sudah. Jangan bertubi-tubi memberikan pertanyaan pada Nisha." ucap Arini.
"Santai, Bos. Bos, makan yuk! Lapar nih, perutku sudah keroncongan. Aku lega, karena guru Nona Livia sudah bangun, jadi kita bisa makan malam dengan tenang." ucap sekretaris Dika.
"Baiklah, kita makan sekarang, Dik!" ucap Davian.
Davian mencium tangan Arini, "Istriku, aku makan dulu ya, dan kamu Nisha, kamu juga harus makan dan minum obat!" tegas Davian.
"Baik, Pak." Nisha sedikit takut.
Arini menyuruh Bik Lilis mengambil makan malam untuk Nisha. Bik Lilis pun segera ke dapur sesuai instruksi dari Arini. Sesampainya di dapur, ternyata ada Andra yang baru selesai nge-gym di ruang fitness mini miliknya. Calandra sedang meneguk air es yang dingin dan segar.
"Bik, bubur buat siapa tuh? Emang ada yang sakit?" tanya Calandra.
"Iya, Aden gak tahu ya, ada Neng Nisha disini, dia pingsan, sekarang masih demam, makanya Bibik mau beri bubur untuk makannya, agar dia bisa minum obat." ucap Bik Lilis.
"Ha? Nisha? Disini? Dia kenapa, Bik? Bibi gak bohong?" tanya Calandra tak percaya.
"Benar, Den. Neng Nisha pingsan. Neng Nisha ada di kamar tamu!" ucap Bibik.
"Ah, baiklah. Aku akan segera ke sana." Calandr berlari saking kagetnya.
Bik Lilis heran melihat tingkah Calandra yang kaget dan tak sabar ingin segera menuju kamar tamu. Andra tak tahu, bahwa Nisha ada di rumahnya, karena sejak satu jam yang lalu, ia berada di ruang fitness di lantai dua. Calandra penasaran dengan apa yang terjadi pada Nisha. Calandra membuka pintu kamar tamu yang setengah tertutup.
"NISHA .... " Calandra begitu khawatir melihat Nisha terbaring lemah dan terlihat sangat pucat sekali.
Arini keheranan melihat tingkah Calandra yang begitu mengkhawatirkan Nisha. Sebelumnya, Arini tak tahu lagi kedekatan antara Calandra dan Nisha itu sudah sejauh apa. Calandra segera menghampiri Nisha, dan berdiri didekat sang Mommy.
"Mom, Nisha kenapa?" tanya Calandra.
"Ia kehujanan, lalu pingsan. Kebetulan aja Daddy-mu lewat dijalan itu dan menolongnya." ucap Arini.
"Kamu kehujanan? Memangnya kamu habis darimana, Nish? Kenapa kamu harus ujan-ujanan segala, ha?" Calandra begitu khawatir.
__ADS_1
"Ma-maaf, tadi aku ada urusan, pas aku mau pulang, tahu-tahu malah ujan. Jadi aku keujanan." jelas Nisha dengan suara serak.
"Urusan apa malam-malam begini? Sudah tahu hujan, kenapa kamu tidak berteduh? Kenapa kamu malah memaksakan diri? Dengan siapa kamu tadi?" selidik Calandra.
"Calandra! Kamu ini kenapa?" Arini begitu heran dengan sikap protektif Calandra.
"Jangan bilang tadi kamu bertemu dengan kekasihmu itu! Dan kamu, akhirnya pulang sendiri. Iya?" tebak Calandra.
DEG. Mata Nisha membulat. Calandra bisa menebak apa yang tersirat dibenak Nisha. Nisha tak mau menjawab, karena dihadapannya ada Arini. Nisha malu mengatakannya. Ia hanya bisa terdiam, dan terlihat gurat kesedihan di wajahnya karena Calandra menyebut-nyebut soal kekasih.
"Benar kan, Nish? Kamu bertemu dengannya? Kenapa dia tega membiarkan kamu pulang sendiri sampai kamu begini, ha?" Calandra begitu emosi.
"Calandra, Sayang, cukup! Ada apa denganmu? Nisha sedang sakit, kamu tak boleh membiarkannya makin pusing." Arini malu dengan tingkah Calandra.
Bik Lilis mengetuk pintu lalu masuk membawa makan malam untuk Nisha. Calandra yang tak ingin mengganggu Nisha makan, memutuskan untuk keluar dari kamar tersebut.
"Semua ini gara-gara sekretaris Dika!" Calandra kesal, ia pun berlalu.
Arini semakin bingung, "Nak, maksud kamu apa? Andra! Hey!"
"Bu, biarkan aja Andra. Nisha gak apa-apa, kok." Nisha mencegah Arini untuk mengejar Calandra.
Nisha tak mengerti apa maksud dari ucapan Calandra, yang membawa nama sekretaris Dika. Nisha terlalu lelah untuk memikirkan apa maksud dari ucapan Calandra.
"Nisha maafkan Andra yang malah memarahi mu, harusnya dia tak begitu. Maafkan dia ya, Nish." Arini merasa tak enak.
"Gak apa-apa, Bu." Nisha tersenyum walau masih lemas.
"Ayo, makan dulu. Biar Ibu suapin," ucap Arini.
"Eh, gak usah Bu. Ini sangat merepotkan, biar Nisha sendiri aja." Nisha mencoba untuk bangun, dan menyandar di dipan ranjang.
"Gak apa-apa, kamu masih lemas, kamu juga sedang demam. Biar Ibu suapin, jangan sungkan Nisha." Arini tersenyum dan mulai menyuapi Nisha.
Nisha terharu, Bu. Bu Arini begitu baik pada Nisha. Bu Arini begitu perhatian pada Nisha. Hal seperti ini, adalah hal yang tak pernah aku dapatkan seumur hidupku. Disuapi oleh sosok wanita yang sudah seperti Ibuku sendiri. Makasih, Bu Dokter. Aku malu, merepotkan HP kalian semua. Batin Nisha.
Calandra pergi keluar dan mendatangi Davian serta sekretaris Dika yang sedang makan malam. Calandra begitu yakin, kalau penyebab Nisha jatuh pingsan adalah karena Elang dan Nisha ada masalah. Calandra emosi, ia jadi kesal melihat sekretaris Dika.
"Pak Dika!" sapa Calandra dengan nada tinggi.
"Iya, Tuan muda. Ada apa?" jawab sekretaris Dika yang baru saja selesai mengunyah.
"Sayang, ada apa?" Davian tak mengerti.
"Pak Dika, Pak Dika itu paling sigap dalam menjaga keluargaku, tapi Pak Dika terlalu lemah dalam menjaga keluarga sendiri! Pak Dika terlalu acuh pada anak sendiri, sehingga dia bisa membuat Nisha seperti itu! Kuharap, Pak Dika berkaca dan mencari tahu penyebab semua ini, sebelum aku benar-benar marah pada anak sulung mu!" Calandra berlalu meninggalkan Davian dan sekretaris Dika.
"Tuan, Tuan muda! Apa maksudnya? Saya tak mengerti." sekretaris Dika berdiri karena kaget.
Davian lebih tak mengerti dibuat anaknya. Ia heran, kenapa Andra begitu kesal pada sekretarisnya, "Dik, apa kesalahanmu sampai anakku marah seperti itu? Apa masalah anakku, dan anakmu?"
"Maaf, Bos. Aku tak mengerti. Aku tak paham sama sekali. Apa ini berhubungan dengan guru les Nona Livia?" tanya sekretaris Dika.
"Nisha maksud kamu? Apa Nisha ada hubungannya dengan anakmu?" tanya Davian.
"Aku gak tahu, Bos. Anakku terlalu tertutup padaku. Kurasa, Nona Nisha bisa menjelaskan semuanya. Aku akan bertanya padanya, Bos." sekretaris Dika minum, kemudian pergi menuju kamar tamu tempat Nisha istirahat.
"Dik? Kita masih makan, bukan? Hey!" Davian ditinggalkan sendiri.
__ADS_1
Ada apa ini? Anak sulung ku sampai emosi seperti itu. Ah, mengganggu makan malamku saja kalian ini. Baiklah, mungkin aku harus tangan agar aku bisa mencari tahu titik permasalahan ini, dan menyelesaikan semuanya. Davian pun mengikuti sekretaris Dika.
*Bersambung*