Terjerat Cinta Sang Pembantu

Terjerat Cinta Sang Pembantu
Calandra series 20


__ADS_3

Sebelum membaca, tekan like dulu ya. Makasih..


Selamat membaca โค


"Maafkan aku, Kanisha! Aarrggghhh!" Calandra menghempaskan tubuh Nisha dan,


BRUUGGHHH, Nisha terpental dan dahinya mengenai pinggir kaca mobil. Andra menghempaskan nya begitu keras sehingga terjadi benturan pada dahi Nisha. Nisha pingsan akibat benturan itu, dan dahinya mengeluarkan sedikit darah. Andra kaget, namun ini yang terbaik, daripada Andra harus merusak Nisha dan melakukan hal gila itu.


Andra mengambil tisu di plafon mobilnya, dan segera mengelap darah yang menetes di kening Nisha. Ia tak tega melukai Nisha, tapi jika tidak begini, Nisha mungkin akan terus memaksa Andra melakukannya, dan Andra pun takut terbawa hawa nafsu yang akan menyesatkan mereka berdua.


"Maafkan aku, Kanisha. Aku tak mungkin melakukan hal itu. Akan bagaimana orang tuaku nanti, mereka pasti kecewa padaku. Tunggulah sebentar, aku akan segera menghubungi Mommy. Kuharap kamu baik-baik saja, Nisha. Sungguh, maafkan aku yang telah melukaimu." Andra mengelus-elus pipi Nisha yang lembut.


Telepon tersambung, dan Andra berharap, Arini akan segera mengangkatnya. Waktu sudah sore, dan Andra berharap Arini sudah pulang dari Rumah sakit. Tak lama, Arini pun mengangkat teleponnya.


"Mom, mommy ... Mommy dimana? Kumohon, tolong aku, bantu aku. Bawa peralatan medis untuk Nisha. Tolong dia, dan bantu dia, Mom. Please, ini darurat sekali." Andra berbicara dengan tergesa-gesa.


"Calm down, baby. Kenapa Andra sayang? Aku masih di rumah sakit, dan aku akan pulang sekarang. Why? Nisha kenapa? Apa yang terjadi dengannya? Kamu dimana?" Arini pun khawatir.


"Mom, aku dijalan kampung duri, jalan pintas menuju Rumah sakit. Mobil Mommy yang ini mogok. Cepatlah datang, dan bawa peralatan lengkap untuk Nisha. Aku khawatir padanya." jawab Calandra.


"Astaga, kenapa kamu bisa berada di sana? Baik, Mommy sama Pak Ujang akan segera ke sana. Nisha kenapa? Jelaskan padaku, aku harus membawa peralatan sesuai tindakan yang akan aku lakukan!" ucap Arini.


"Nisha meminum obat perangsang, Mom. Obat itu sudah bereaksi di tubuhnya. Jangan tanya kenapa, dan cepat datang saja dulu! Carikan agar racun dalam obat perangsang bisa mati ditubuhnya. Aku mohon, tolong Nisha. Kasihan dia, Mom." Andra berbicara dengan lesu.


"Astaga, apa sebenarnya yang terjadi pada kalian? Baiklah, aku akan segera ke sana. Tunggu, aku akan lewat jalan itu, karena dijalan masih macet total, ada sebuah kecelakaan parah." tegas Arini.


"Ya, aku tahu itu, makanya aku bisa berada di jalan ini. Baiklah, aku tunggu sekarang juga, Mom." Calandra mematikan ponselnya.

__ADS_1


Ia menyimpan ponselnya, dan melihat Nisha yang tengah pingsan. Andra tak tega melukai wanita itu. Tapi, ini adalah jalan terbaik. Andra segera membenarkan posisi Nisha, ia memeluk Nisha dan memegangi pundaknya. Andra menempelkan kepalanya ke rambut Nisha, dan sesekali, ia mengusap-usap rambut wanita malang itu.


Aku, laki-laki. Aku punya gairah juga. Ketika obat itu telah bereaksi dari tubuhmu, dan kamu meminta aku melakukan hal itu, jujur Nisha ... aku tak munafik, aku juga punya gairah, aku juga merasakan hasrat itu. Aku ingin melakukannya, apalagi kamu yang menawarkan dirimu sendiri. Tapi, aku tak mungkin merusak mu. Sudah cukup bagiku, menghancurkan hidupmu, dan membuatmu sampai seperti ini.


Aku sudah cukup malu atas perbuatan ku, dan aku menyesalinya seumur hidup. Mencium kamu, adalah satu kehancuran bagi hidupmu, Nisha. Aku menyadari, bahwa itu adalah kesalahan terbesarku padamu. Aku tak mungkin melakukan kesalahan yang sama. Aku tak mungkin menikmati tubuhmu ini sebelum waktunya. Mungkinkah aku berharap, jika kamu bisa menjadi milikku kelak nanti? Aku terlanjur jatuh padamu, Nisha. Rasa bersalahku karena telah mencium mu, menjadikan aku lelaki yang selalu ingin melindungi dan menjagamu. Apakah boleh jika aku berharap menjadi lelakimu? Lelaki yang akan kamu cintai dan kamu sayangi. Batin Calandra menatap Nisha dan menciumi rambut gadis itu.


Setengah jam berlalu, Arini dan Pak Ujang pun datang. Arini mengetuk-ngetuk kaca mobil Calandra, sepertinya Calandra pun ketiduran. Arini menengok kedalam kaca mobil, melihat bahwa Calandra sedang memeluk Nisha sambil tertidur. Pemandangan yang membingungkan, dan Arini tak bisa menerka-nerka apa yang terjadi pada mereka.


"Calan! Calandra, bangun Nak! Hey, bangun!" Arini menggedor-gedor pintu mobilnya.


Calandra pun tersadar, dan ia sangat bahagia melihat sang Ibu sudah tiba. Calandra segera membuka pintu mobilnya dan segera memerintahkan Pak Ujang untuk membawa Nisha ke mobil Arini. Nisha masih tak sadar, benturan itu benar-benar keras, sampai darah pun masih terlihat. Arini tak tega melihat Nisha, tapi ia harus kuat dan berniat akan membawanya ke Rumah sakit.


Arini duduk dibelakang kemudi bersama Nisha. Arini memberikan bantuan seadanya agar Nisha sadar. Arini memeriksa Nisha, ia menggunakan stetoskopnya dan mengecek detak jantung Nisha. Arini pun memberikan fresh aromatherapy dan mengoles-oles balsam di sekitar tubuhnya.


"Dia shock, Andra. Kamu apa kan dia sampai bisa seperti ini? Apa yang terjadi pada kalian? Dan maksud kamu apa? Tadi kamu mengatakan dia minum obat perangsang? Kamu melakukan apa padanya? Apa kamu gila?" Arini menyangka Calandra yang memberikannya.


"Mom, bukan aku ... Semua ini perbuatan Elang. Dia mengajak Nisha bertemu, dan memberikan minuman yang berisi obat perangsang. Untung aku menemani Nisha, dan aku curiga, bahwa Elang akan melakukan sesuatu yang diluar dugaan. Dan benar saja, dia kabur ketika aku menghampirinya, bahkan aku pun membawa bukti minuman yang telah ia campur dengan obat perangsang itu. Aku akan menyelamatkan Nisha dan membawanya ke Rumah sakit tempatmu bekerja, tapi jalanan macet parah karena kecelakaan, hingga aku memutuskan untuk ke jalan pintas ini, dan ternyata mobil lama ini malah mogok. Aku bingung saat itu, apalagi ketika Nisha memegangi tubuhku karena obat itu telah bereaksi. Sungguh, jika aku tak sadar, mungkin aku juga sudah melakukan perbuatan gila itu." jelas Calandra.


"Apa maksudmu, Mom?" Andra tak mengerti.


"Kami semua tahu, kamu telah menghancurkan hidup Nisha. Kamu menciumnya didepan umum, dan kamu membuat Nisha diusir dari rumah orang tua angkatnya, bukan begitu? Karena hal itu, Daddy malu dan Daddy pasti memberi pelajaran padamu! Sayangnya, Daddy masih di pulau seribu, dan belum bisa menemui mu. Kamu harus bertanggung jawab, Andra. Kamu harus meminta maaf pada orang tua angkat Nisha, karena semua ini berawal dari kamu. Karena rasa bersalah Daddy, Daddy ingin menjodohkan kamu dengan Nisha. Daddy ingin Nisha bahagia dan menjadi bagian dari keluarga kita. Mungkin, sekretaris Dika telah memberi tahu Elang, dan sepertinya Elang tak terima." jelas Arini.


Calandra kaget, ia merasa malu karena orang tuanya telah mengetahui semua hal itu. Ya, itu adalah alasan Andra menjaga Nisha. Andra begitu menyesal, memang semua ini berawal karena perlakuannya. Kalau saja dulu Andra tak menghancurkan hidup Nisha, mungkin nasib Nisha tak akan seperti ini. Ucapan Arini memberikan tamparan hebat bagi Andra, karena memang semua ini berawal dari kesalahannya.


"Mommy, maafkan aku ..." Andra yang duduk di samping Pak Ujang merasa malu dan menyesal.


"Sudah, lupakan. Perbaiki dirimu, dan meminta maaf lah pada semua orang yang terlibat. Terutama pada Nisha, kamu sangat bersalah padanya, Calandra! Aku marah, tapi semua ini telah terjadi. Aku kecewa, karena kamu mengecewakanku, dengan menghancurkan hidup bahagia gadis yang sedang di pangkuanku ini. Tapi, semua sudah terlanjur, dan aku tak bisa berbuat apa-apa selain meminta maaf dan menata kembali kebahagiaannya." tegas Arini.

__ADS_1


"Mommy, sungguh aku menyesal. Maafkan aku ..." Andra tak bisa berkata-kata lagi.


Tak lama, mata Nisha mulai terbuka perlahan-lahan, dan ia mengaduh kesakitan. Kepalanya pusing akibat benturan tersebut. Namun sepertinya, efek obat di tubuh Nisha masih bereaksi. Ini baru dua jam setelah kejadian tersebut. Arini melihat, Nisha menggeliat tak nyaman, dan Arini tahu, bahwa Nisha masih mengalami reaksi dari obat tersebut.


"Aahhh, sakit." Nisha belum sepenuhnya sadar.


"Nisha, minum dulu obat anti nyeri ya, aku tak berani bertindak lebih dalam, kamu harus bertemu dengan Dokter spesialis penyakit dalam. Karena ini berhubungan dengan lambung mu. Jika efek obat ini tak bisa di hentikan dengan obat anti nyeri dan karbon aktif, mungkin kamu harus mendapat tindakan bilas lambung. Sabar ya, sebentar lagi kita sampai." Arini mengusap rambut Nisha sambil memberikan obat anti nyeri padanya.


"I-ibu Arini? Auhh, Ke-kenapa Ibu ada disini? Nisha sakit Bu, Nisha gak nyaman, ditambah kepala Nisha pusing sekali. Maafkan Nisha, Bu." Nisha lemah, tapi ia kaget melihat Arini di sampingnya.


"Nisha, maafkan aku ..." Andra menyesal.


Akhirnya, mereka pun sampai di Rumah sakit. Arini mempercayakan Nisha pada sesama rekan Dokternya. Arini menunggu diluar dan segera menghubungi Davian perihal kejadian yang menimpa anak-anak ini. Davian begitu kaget dan shock. Ia sepertinya marah besar, karena Arini berkali-kali menenangkannya.


Arini selesai mengabari Davian, dan Arini pun kembali mendekati Andra. Terlihat gurat kekecewaan dari wajah Arini. Jika mengingat perbuatan nekad Elang, semua ini tak luput dari kesalahan awal yang dilakukan Calandra.


"Setelah Nisha selesai melakukan tindakan oleh Dokter, Daddy meminta kamu dan Mommy pergi ke rumah sekretaris Dika. Kamu, Elang dan juga Nisha harus bertemu. Tapi, kubilang Nisha tak mungkin ikut, karena ia masih harus mendapat perawatan. Daddy akan berbicara dengan kamu dan Elang! Mau tidak mau, kamu harus ikut. Tak ada penolakan, karena kali ini, Daddy-mu benar-benar marah!" tegas Arini.


"Baik, Mom. Aku akan menemuinya. Aku siap dengan segala konsekuensi yang akan aku terima atas perbuatan ku. Aku akui, semua ini berawal dari kesalahanku, dan aku tak akan menghindar. Sekalipun Daddy akan menghukum aku, aku terima, karena aku mengakui kesalahanku." ucap Calandra.


"Sekarang kita temui Nisha, kita lihat kondisinya. Aku akan menelepon asisten yang lain, untuk menjaga Nisha jika nanti kita pergi ke rumah sekretaris Dika." ucap Arini.


"Baik, Mom." Andra mengikuti langkah Arini.


Ini cobaan untuk hidupmu, Calandra. Kamu tak salah telah menyakiti Nisha hingga kepalanya terluka, karena itu untuk kebaikan kalian juga. Tapi, semua ini berawal karena kesalahanmu. Daddy-mu tak mungkin hanya melihat dari satu sisi. Daddy-mu pasti akan mengusut semua sampai ke akar-akarnya. Kurasa, Mas Davian juga terlalu tergesa-gesa meminta Nisha dijodohkan dengan Andra, sehingga menimbulkan kecemburuan sosial pada Elang. Padahal, biarkan Nisha memilih, dan kalian Mas Davi juga Dika, tak perlu ikut campur. Karena keputusan Mas Davi juga, Elang jadi nekad seperti ini. Kasihan Nisha, hidupnya begitu menyedihkan. Aku berjanji, aku harus bisa membuat Nisha bahagia. Semoga saja badai ini cepat berlalu.


*Bersambung*

__ADS_1


Yang baca cerita ini tapi gak pernah komen, komen dong sesekali.. sapa aku, aku pengen di sapa nih ๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿค—


Makasih ya semuanya yg mau dukung dan support cerita ini.... aku seneng, kalian begitu antusias๐Ÿค—๐Ÿค—


__ADS_2