Terjerat Cinta Sang Pembantu

Terjerat Cinta Sang Pembantu
Calandra series 18


__ADS_3

Jangan lupa like ya πŸ₯°πŸ˜˜


Beberapa hari kemudian.


Part Of View Nisha ...


"Apa kamu ingin kembali pada orang tua angkat mu?" suara itu terdengar begitu tulus dan hangat.


Seketika aku menatapnya, ketika ucapan itu keluar dari mulut lelaki yang akhir-akhir ini menemaniku. Aku tahu, dia adalah penyebab hancurnya keluargaku. Calandra adalah orang yang membuat aku jauh dengan orang tua angkat ku. Tapi, entah kenapa, aku merasa ini lebih baik. Daripada aku di rumah dengan Papa Adi dan Mama Ani, yang hanya membuat mereka akan semakin terbebani dengan kehadiran diriku.


Terkadang, aku memang merindukan mereka, tapi ... jika aku ingat-ingat lagi, aku ini seperti beban bagi mereka. Aku yang membuat mereka malu, karena perbuatan ku yang sudah diluar batas. Walaupun aku tahu, Andra melakukannya karena ketidaksengajaan. Mungkin, jalan hidupku harus seperti ini, aku harus ikhlas menjalaninya.


"Aku tak ingin kembali pada mereka, aku terlanjur malu. Tidak apa-apa, mungkin jalan hidupku harus seperti ini." ucapku pada Calandra yang terlihat menyesali perbuatannya.


"Aku yang membuat hidupmu hancur seperti ini, Nisha. Aku tahu, perasaanmu pasti sangat terluka, ketika melihat Papa angkat mu saat itu, bukan? Aku merasa, masih ada satu hal yang belum aku lakukan untukmu." ucap Calandra yang begitu tulus menatapku.


"Apa itu? Kurasa, tak ada lagi yang perlu kamu lakukan, Andra. Aku hanya merindukan mereka, tak lebih." jawabku.


"Aku belum meminta maaf pada kedua orang tuamu, Nisha. Aku yang harusnya bertanggung jawab pada mereka, dan mereka tak seharusnya gegabah mengusir mu sampai kamu hidup sendiri seperti ini." jawab Andra.


"Ah, jangan merasa seperti itu. Itu bukan salahmu, Andra. Sudah, lupakan saja. Semua sudah terjadi, dan aku bahagia sekarang, bisa menjadi guru les untuk adikmu, seperti ini." Aku tersenyum padanya.


"Izinkan aku, meminta maaf pada kedua orang tua angkat mu, Nish." pintanya yang membuat aku sedikit kaget.


"Tak perlu, lupakan saja, Calandra." aku tak ingin Andra terbebani lagi.


"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin meminta maaf pada mereka, dan memberitahukan kebenarannya, bahwa kamu tak salah, dan ini murni kesalahanku. Kumohon, jangan menolak. Libur nanti, izinkan aku bertemu dengan kedua orang tuamu." Calandra terus memaksa, membuat aku sedikit kebingungan.


"Baiklah, kalau kamu memaksa. Tapi, kalau pun kamu berubah pikiran, katakan saja padaku. Karena, semua ini telah berlalu, kamu tak seharusnya mengingat hal itu lagi, Calandra." ucap Nisha.


"Tak apa Nish, aku harus bertanggung jawab, untukmu." Andra tersenyum tulus padaku.


Aku merasakan sesuatu mengalir dari tubuhku, dan ini kali pertamaku, dekat dengan Andra membuat jantungku berdegup kencang. Entahlah, aku tak tahu kenapa dia jadi hangat seperti ini. Yang harus aku lakukan, aku tak boleh mudah terbuai olehnya. Aku harus bisa menahan diriku untuk tidak jatuh cinta padanya.


Tiba-tiba, ponselku berbunyi, ada panggilan masuk memenuhi layar ponselku. Aku segera melihatnya, dan ternyata, Elang yang meneleponku. Aku menatap Andra, sepertinya dia juga curiga padaku. Tapi, aku sudah berjanji pada Elang, kalau aku akan mengangkat teleponnya.


"Sebentar, Elang menelepon." ucapku pada Andra.


"Silahkan," ia terlihat tak suka.


Aku segera mengangkat telepon dari Elang. Sepertinya, aku tahu, maksud dan tujuan Elang meneleponku.


"Halo," sapa ku lewat telepon.


"Nish, kamu dimana? Bisakah kita bertemu? Sesuai janjiku, ada hal yang ingin aku bicarakan padamu." ucapnya penuh pengharapan.


"Aku sedang berada di rumah Bu Arini, aku sedang mengajar les. Mau jam berapa?" tanyaku sedikit malas.


"Jam empat, gimana? Aku jemput ya?" pintanya.


"Aku sendiri aja, nanti kirimkan alamatnya, mau ketemu dimana. Gak usah jemput kesini." tegasku.


"Baiklah, nanti aku kabari ya. Sampai nanti,"


"Ya, Elang." jawabku Malas.


Telepon ditutup. Ada alasan mengapa aku tak ingin Elang menjemput ku kesini, karena aku tak ingin, Calandra dan Elang bertemu. Calandra menatapku, aku jadi tak nyaman. Entah kenapa, tatapan misteriusnya selalu membuat aku bingung sekaligus takut. Sebenarnya, apa sih yang ada didalam pikiran dia?


"Mau ketemuan sama mantanmu?" tanya Calandra.


"Ya, dia ingin membicarakan sesuatu." jawabku.

__ADS_1


"Biar aku yang antar." jawab Calandra.


Deg, aku kaget mendengarnya, "Ta-pi, aku, kamu gak usah... Biar aku sendiri aja,"


"Aku antar, Nisha. Aku takut dia melakukan sesuatu padamu. Jangan menolak, karena kini, kamu adalah bagian dari hidupku!" Calandra berdiri, aku begitu kaget mendengar ucapannya.


"Akan aku pastikan, selama kau ada dalam pandanganku, selama itu juga, kau akan tetap aman. Aku menjamin kamu, didalam hidupku." ucapnya, lalu berlalu meninggalkan aku.


Ya Tuhan, hatiku serasa melambung tinggi. Kenapa dia manis sekali padaku? Apa salah, jika aku mengira dia menaruh hati padaku? Tapi, aku sadar diriku siapa. Dia tak mungkin akan mencintai wanita miskin sepertiku. Aku harus tahu diri. Tapi, ucapan dan perlakuannya membuat aku egois, aku selalu berharap, dia menaruh hatinya padaku. Aku tak mau jatuh dalam rasa ini, aku tak mau, sakit hati untuk yang kedua kalinya ....


POV Nisha selesai.


...🌸🌸🌸...


Sesuai janjinya, Calandra mengantar Nisha untuk bertemu dengan Elang. Nisha bingung, tapi ucapan Calandra tak bisa dibantahkan. Calandra memaksa, dan berkata tak ada penolakan untuk dirinya. Nisha hanya bisa pasrah, semua kedua lelaki itu tak saling bertengkar.


"Kamu gak usah ikut turun," ucap Nisha.


"Kenapa?"


"Aku gak mau kalian bertemu. Tunggu saja disini." pinta Nisha.


"Baiklah, aku akan menunggumu, dan mengamati kalian dari sini." ucap Calandra.


"Terima kasih, Ndra." Nisha tersenyum.


Tiba-tiba, tangan Nisha dipegang oleh Andra. Nisha kaget, tapi Andra menatapnya begitu dalam.


"Ke-kenapa?" Nisha gugup.


"Jangan beri hatimu lagi untuknya, aku tak mau kamu kembali lagi padanya." ucap Calandra.


DEG. Ucapan Calandra seharian ini sangat membuat Nisha kaget dan tak menyangka. Kenapa Andra tiba-tiba jadi hangat seperti ini padanya? Nisha tak tahu lagi, harus bagaimana menghadapi Andra yang kini mulai berubah lebih hangat padanya.


"Nish ..." Andra menatap Nisha.


"Ya?" Nisha tersipu, Andra terus menatapnya.


"Ah, tidak. Lupakan saja. Segera temui dia, aku akan menunggu disini." ucap Calandra.


Sebenarnya dia ini mau bilang apa sih? Batin Nisha.


"Baiklah, aku turun sekarang."


Nisha pun keluar dari mobil Andra, dan segera masuk kedalam cafe. Elang sudah menunggunya, dan sepertinya Elang tak sadar, kalau Nisha turun dari mobil dan diantar oleh Elang. Nisha tak ingin Elang tahu, kalau ada Calandra yang mengantarnya.


"Selamat sore, Lang." Nisha menyapa Elang.


"Hai, Nish. Aku sudah lama menunggu kamu."


"Maaf, aku baru selesai." jawab Nisha.


"Tak apa, duduklah. Pesan makan dulu," pinta Elang.


"Tak perlu, aku hanya ingin tahu, apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Nisha.


"Maafkan aku ..." ucapnya.


"Aku sudah memaafkan mu, Elang. Sudahlah."


"Nish, Ayahku ingin, agar aku kembali padamu." tegas Elang.

__ADS_1


Nisha kaget, "Apa? Kenapa Ayahmu ikut campur dengan hubungan ini? Kita sudah berakhir, Elang. Sudahlah!" Nisha tak ingin membahas hal itu.


"Aku sungguh! Ayahku ingin, aku kembali padamu, karena kamu wanita baik-baik." tegas Elang.


"Lantas, kenapa kamu memutuskan aku dan berbohong padaku? Sampai saat ini, aku tak tahu, apa alasanmu memutuskan aku, Lang!" ujar Nisha.


"Nish, pada saat itu ... aku, Nish, aku bingung, maafkan aku." ucap Elang.


"Minumlah dulu, Nisha." ucap Elang.


Nisha minum air yang berada di meja. Ia meneguknya sedikit, dan ia ingin berbicara mengutarakan kekesalannya selama ini pada Elang.


"Kamu sudah berbohong padaku, Elang. Aku tak tahu, kenapa kamu memutuskan aku, aku tak mengerti, apa yang ada didalam pikiranmu. Sampai-sampai kamu membohongi aku dan melibatkan orang tuamu yang tak tahu apa-apa. Sudah cukup, Elang. Aku tak ingin mendengar alasan apapun lagi." ucap Nisha.


"Nish, itu karena aku melakukan kesalahan. Kumohon, percaya padaku. Ayahku kini telah tahu, dan ia mau kamu yang menjadi kekasihku. Kumohon, percaya padaku ..." Elang terus memohon.


"JANGAN MAU KANISHA! Dia telah mendua dibelakang mu!" Calandra tiba-tiba datang karena kesal melihat Elang merayu Nisha.


"Andra?" Nisha kaget.


"Ngapain lo kesini?" Elang berdiri karena kesal.


"Gue disini karena Nisha. Lo gak berhak mendapatkan Nisha lagi, karena lo udah berkhianat sama dia! Gue tahu, semua tentang lo, Elang! Dan gue gak akan ngasih celah buat lo masuk lagi kedalam kehidupan Nisha. Karena kini, gue yang akan lindungi dia, dan selalu ada buat dia. Paham?" Calandra membentak Elang.


"Sialan! Apa maksud lo, Calandra? Jangan sembarangan! Seenaknya aja lo nuduh-nuduh gue!" Elang emosi.


Buggghhhhh, satu pukulan mendarat di wajah Calandra. Elang emosi, ia tak bisa menahan amarahnya, sekalipun dihadapannya adalah anak dari Bos yang mempekerjakan Ayahnya.


"ELANG! Hentikan!" Nisha berdiri lalu menolong Calandra yang dipukul oleh Elang..


"Dengar ya, Calandra! Jangan mentang-mentang elu anak Bos bokap gue, lu bisa seenaknya kayak gini. Gue gak suka, lu selalu merasa hebat dan selalu bisa mendapatkan segalanya. Lu liat aja nanti, gue bakalan dapetin Nisha!" Elang berdiri, kemudian ia pergi meninggalkan Nisha dan Calandra.


Nisha membantu Andra untuk bangun, karena Andra begitu kaget, Elang memukulnya. Calandra tak siap, karena itulah ia tak bisa menahan pukulan Elang.


"Andra, kamu gak apa-apa kan?" Nisha khawatir.


"Enggak. Aku gak apa-apa," Andra perlahan bangun sambil memegangi pipinya yang kesakitan.


"Ayo kita pergi," ajak Nisha.


"Tunggu ... " Calandra menghentikan Nisha.


"Kenapa, Andra?" Nisha heran.


"Apa kamu minum air ini?" tunjuk Andra pada gelas yang berada di atas meja.


"Ya, aku meminumnya, kenapa?" Nisha bingung.


Calandra mengambil air di gelas itu, dan mencoba mencium baunya, ataupun melihat perubahan yang terjadi didalam air minum tersebut.


"Astaga, kurasa aku kecolongan." Calandra berlari menuju kasir dan membeli air mineral dalam botol. Ia membuang air mineral itu kedalam wastafel, lalu kembali ke meja tempat Nisha berdiri. Calandra memasukkan air yang Nisha minum kedalam botol.


"Kenapa sih?" Nisha kaget.


"Aku tahu maksud dia meminta bertemu denganmu. Kurasa, air ini penyebabnya. Aku bisa melihat gelagatnya yang takut karena melihat aku datang! Sebelum obat itu bereaksi, ayo kita pergi ke rumah sakit sekarang juga. Aku tak menyangka, bahwa Elang akan senekad ini. Ayo, Nish. Kita pergi sekarang!" tegas Andra lalu menarik tangan Nisha menuju mobil.


"Andra? Apa maksudnya? Aku tak mengerti."


*Bersambung*


Temen-temen, yang suka cerita ini, berikan hadiah dan vote nya juga ya β€πŸ€—πŸ˜˜

__ADS_1




__ADS_2