
"Kenapa muka lu kusut?" tanya Davian ketika sekretaris Dika tiba di rumahnya.
"Kagak, Bos. Gak apa-apa." sekretaris Dika lesu.
"Lu ditolak?" tanya Davian.
"Enggak." jawab sekretaris Dika simpel.
"Bohong lu!" tegas Davian.
"Ah, udah ah. Gue laper bos, mau makan!" ucap sekretaris Dika.
"Makan apa?" tanya Davian lagi.
"Makan ati. Puas lu," sekretaris Dika berlalu.
Davian tertawa mendengar jawaban sekretaris Dika. Davian memang tahu, bahwa sekretaris Dika sedang kesal. Namun, Davian belum bisa memastikan. Kekesalan apa yang menjadi penyebab sekretaris Dika bisa seperti itu.
Arini sedang bermain bersama bayinya. Davian menghampiri Arini dan Calandra. Davian mencium pipi bayi mungilnya itu. Lengkap sudah kebahagiaan Arini dan Davian selama ini. Kehidupan mereka tambah bahagia setelah dikaruniai bayi selucu dan semenggemaskan Callandra.
"Sayang, telepon Nadya deh!" ujar Davian.
"Loh, emangnya ada apa?" tanya Arini.
"Curut Dika tadi nemuin dia, tapi pulang-pulang mukanya kusut banget deh yang." tegas Davian.
"Oh ya? Aku jadi penasaran. Ayo, kita telepon dia." Arini mengeluarkan ponselnya.
Arini memencet nomor ponsel Nadya. Tak lama, telepon pun tersambung. Dan deringan ketiga, telepon pun diangkat oleh Nadya.
"Halo, Rin. Ada apa?" sapa Nadya lewat telepon yang tersambung.
"Tadi kamu ketemu sama si Dika?" tanya Arini.
"Pak Dika? Ah, enggak kok, Rin. Aku gak ketemu sama dia. Emang kenapa?" tanya Nadya.
"Ha? Kukira kamu ketemu sama dia." ucap Arini.
__ADS_1
"Enggak, aku lagi di cafe sama temen SMP kita. Kamu ingat gak? Sama si Rivan? Temen SMP kita yang dulunya pendiam banget. Sekarang Rivan udah jadi pengusaha loh. Dia pemilik cafe ini. Kamu harus ketemu sama dia, Rin!" ucap Nasya bersemangat.
Ooh, ternyata itu penyebabnya sekretaris Dika kesal. Mungkin karena dia melihat Nadya sedang bertemu dengan Rivan. Padahal, Rivan adalah teman sekolah aku dan Nadya. Ternyata, Dika memang cemburu, dan sepertinya Dika memang menyukai Nadya. Batin Arini.
"Ah, aku tak mungkin diberi izin oleh Mas Davian, Nad. Kamu tahu sendiri kan, bagaimana suamiku? Dia punya penyakit menahun!" jelas Arini.
Davian yang mendengar ucapan Arini seketika memelototi Arini, karena kesal Arini telah mengumpati dirinya.
"Hahaha, menahun apanya, Rin?" tanya Nadya lewat gawainya.
"Suamiku itu punya penyakit cemburu akut. Kayak gak tahu Mas Davian aja kamu, Nad. Bisa habis aku sama dia kalau ketahuan ketemuan sama cowok, walaupun itu temen kita sendiri. Ya udah, salamin aku sama Rivan ya. Udah jadi orang sukses dia sekarang!" ujar Arini.
"Baik, akan aku salam kan padanya. Ya udah, udah dulu ya, aku lagi makan nih, hehe." Nadya ingin menyudahi teleponnya.
"Oke, Nad. Maaf mengganggumu, ya!" Arini menutup teleponnya.
Telepon pun terputus. Tapi, amarah Davian tetap tersambung karena ucapan Arini yang menjelek-jelekkan dirinya pada Nadya. Arini melihat wajah Davian yang berubah. Arini tahu, bahwa sang suami sedang kesal padanya.
"Ganteng ku, kok mukanya ditekuk sih? Senyum dong, gantengnya jadi gak keliatan kan Mas!" Arini merayu Davian.
"Kamu genit ya, Rin!" tegas Davian kesal.
"Itu, apa maksudmu salam-salam ke cowok lain! Berani-beraninya kamu titip salam sama cowok lain padahal suamimu sendiri ada di sampingmu! Kamu sengaja membuatku cemburu?" Davian berapi-api.
"Tuh kan! Mas emang punya penyakit pencemburu akut! Cuma titip salam sama temen SMP aja udah jealous gak jelas gitu! Ya ampun, Mas. Aku cuma titip salam aja, loh. Gak lebih." Arini geleng-geleng kepala.
"Tetep aja aku gak suka! Berani banget kamu salam-salam sama teman laki-lakimu. Centil banget kamu ya, Rin!"
"Mas, apa sih! Over banget jadi orang! Please deh, masa gitu aja musti cemburu. Aneh kamu, Mas." Arini masih membela diri.
"Tentu saja aku cemburu. Dengar ya, apa kamu tahu, salam itu apa? Salam itu sebuah ungkapan perasaan rindu pada seseorang. Yang di ungkapkan, dan berharap agar orang yang menerima salam dari kita, akan mengingat dan mengenang kita. Tentu saja aku tak ingin kamu diingat-ingat oleh laki-laki lain. Hanya aku yang boleh mengingatmu dan menerima salam darimu! Jangan berani-berani begitu lagi. Aku kesal padamu, awas saja kalau kamu macam-macam lagi." Davian mengancam Arini.
"Eh, eh sembarangan aja kamu, Mas. Seenaknya main ancam-ancam gak jelas gitu! Arti salam itu gak gitu, Mas!" ujar Arini.
"Terserah kamu aja. Pokoknya aku kesel sama kamu. Kamu gak jaga perasaan aku." Davian cemberut.
"Ih, sebel deh! Semua ini gara-gara si curut Dika, aku jadi kena omel kamu!" Arini tak terima.
__ADS_1
"Abisnya kamu genit. Didepan suamimu berani-beraninya kamu maen salam-salaman ke cowok lain." Davian masih saja cemburu.
"Kita harus ke Dokter, Mas!" ujar Arini.
"Ngapain?" tanya Davian.
"Ngobatin penyakit cemburu kamu! Biar aku gak pusing ngadepin kamu! Jagain Callan, aku mau labrak si curut Dika!" Arini berlalu meninggalkan Davian.
"Eh, sayang! Maafin aku. Loh, loh kok malah ngambek beneran sih?Ya ampun, Arini. Baby, Ibumu akhir-akhir ini jadi mudah marah. Kenapa ya?" Davian bertanya pada sang bayi.
Author POV, "Gimana gak gampang marah, Dav! Lu itu cemburunya udah akut. Bikin orang gemes ajah! Wkwkwk~"
Arini bertanya pada pembantu yang lain tentang keberadaan sekretaris Dika. Ternyata, sekretaris Dika sedang di meja makan. Sepertinya, ia baru selesai makan, namun masih terdiam di meja makan.
"Heh, curut!" ujar Arini kemudian duduk di meja tamu.
"Eh, iya Non? Kok ngatain sama kayak Bos sih!" gerutu sekretaris Dika.
"Bodo amat! Gara-gara kamu, cemburu akutnya Mas Davi muncul lagi. Aku mau tanya, tadi kamu gak ketemu Nada?" tanya Arini.
Waduh, Nona Arin nanya gini. Berarti dia udah tahu dong kalo tadi gue mau nemuin Nadya. Emang Dasar si Bos ember bocor. Selalu aja ngadu sama istrinya kalo gue mau ngapa-ngapain. Aarrggh, malu gue. Batin Sekretaris Dika.
"Ah? I-iya, Non. Gak ketemu, soalnya kata Ibu Nadya lagi izin keluar." jawab sekretaris Dika gugup.
"Terus kamu lihat dia lagi sama cowok?" tanya Arini.
DEG. Wajah sekretaris Dika berubah pucat. Ia malu jika ketahuan oleh Arini. Tapi, sekretaris Dika bingung, kenapa Arini bisa menebaknya?
"Eh, eng-gak kok. Kata siapa Nona?" tanya sekretaris Dika.
"Gak kata siapa-siapa. Cuma, tadi kebetulan aja dia ngabarin kalo Nadya lagi di cafe sama cowoknya." ucap Arini.
"Ha? Cowoknya?" Dika kesal dan cemburu.
"Iya. Cowoknya. Emang kenapa? Kok kamu kaget gitu?" Arini ingin tertawa, namun ia tahan.
"Enggak kok, Non. Gak apa-apa." sekretaris Dika terlihat sedih.
__ADS_1
Makan tuh gengsi, Dik. Jadi cowok kok gengsian. Nyatain perasaan aja susahnya minta ampun. Biarin aja, biar rasa kamu gantung-gantungin cewek terus! Padahal kan, setahuku si Rivan itu udah nikah! Kok aku seneng ya jahilin si Dika? Emang tipe cowok kayak si Dika ini, harus dikasih pelajaran dulu biar nyesel. Laki-laki yang gengsi nyatain perasaan ke cewek! Ya ampun, sampe gak tahan aku lihat wajahnya si Dika. Semoga saja, perasaanmu pada sahabatku gak main-main, Dik. Walaupun kamu memang terkesan sulit untuk mengatakan perasaanmu! Batin Arini.
Bersambung~~