
Selamat membaca..
Jangan lupa like dulu ya teman-teman, makasih 🥰
"Nyonya, yang sabar ya ..." pesan Bik Min.
"Maksud Bibi apa sih? Saya masih gak ngerti." ucap Ani didepan pintu kamar Rena.
"Coba dengarkan, didalam ada suara seperti Tuan Adi, Nyonya." ucap Bik Min.
"Astaga, gak mungkin, Bik!" Ani terlihat kecewa.
"Sini, Nyah." ajak Bik Min.
Bu Ani pun mendekatkan telinganya ke depan pintu. Hingga matanya membelalak kaget, dan jantungnya berdebar tak beraturan saking kagetnya mendengar desahan dari dalam kamar.
"Astagfirullah, Bik ... i-itu, suara Rena seperti sedang mendesah. De-dengan siapa dia, Bik? Su-suamiku ada didalam? I-ya, Bik? Ya Allah Ya Rabbi, Gusti ... Sakit hati sekali aku mendengar suara lenguhan itu!" Bu Ani tak percaya.
Bik Min mengusap pundak Bu Ani, "Nyonya, yang sabar. Benar perkiraan Nyonya, didalam ada Tuan. Kita harus bagaimana? Kenapa mereka dengan mudahnya berbuat seperti itu." ujar Bik Min yang sama-sama tak percaya.
"Aku tak bisa tinggal diam melihat mereka berbuat gila dibelakang ku. Lihat saja, aku akan permalukan mereka berdua. Aku tak menyangka, suamiku yang aku percaya, bisa berkhianat dibelakang ku." Bu Ani menangis, ia kecewa karena Pak Adi telah membohonginya.
Ia berjalan cepat menuju kamarnya, untuk mengambil kunci cadangan kamar pembantu. Karena Bu Ani tahu, kalau pintu mereka pasti dikunci. Ia berjalan sambil menangis, dan menahan amarah. Bagaimana tidak, baru saja beberapa jam Rena di rumah ini, tapi Rena dan suaminya sudah berbuat tak senonoh.
Dengan perasaan sedih bercampur amarah, Bu Ani membuka pintu dengan kunci cadangannya, dan berharap mereka tak akan menyadari ada yang membuka pintunya. Bu Ani yakin, jika sang suami ada didalam, karena kemana lagi perginya Pak Adi? Jika Rena didalam sedang mendesah manja.
"Nyonya, sabar ya ..." Bik Min terus menenangkan Bu Ani.
Perlahan-lahan, gagang pintu pun dibuka, dengan perasaan was-was dan tak siap menghadapi kenyataan, Bu Ani pun membuka pintu tersebut, dan ... pintu pun terbuka.
"BAJINGAN GILA!!!!!!!" umpat Bu Ani.
Kaget dan marah yang kini ia rasakan, ketika melihat sang suami sedang menyetubuhi wanita lain. Mereka dalam keadaan org4sme bersama. Pak Adi terlihat menggelinjang hebat menyemburkan seluruh benih kentalnya kedalam sarang milik Rena.
Pak Adi benar-benar kaget melihat istrinya membuka pintu dan membentak dirinya. Ia pun segera bangun dan gelagapan saking tak percaya bahwa istrinya memergoki dirinya tengah bercinta dengan Rena. Pak Adi segera memakai pakaiannya dan berjalan menuju Bu Ani.
"Mama, i-ini tak seperti yang kau bayangkan. Maafkan aku, i-ini, aku, sungguh, a-aku, khilaf, aku ..." Pak Adi terbata-bata saking kagetnya.
__ADS_1
"Teganya kamu, Pah. Sudah berapa tahun kita berumah tangga? Kenapa dengan mudahnya kamu meniduri wanita asing yang baru tinggal di rumah ini beberapa jam saja! Kenapa kamu tega melukai rumah tangga kita, ha? Sakit hatiku, melihat kalian berdua sedang melakukan hal keji itu! Sungguh biadab kalian berdua! Aku tak akan pernah memaafkan kesalahan kalian berdua." Bu Ani menangis dan memukuli Pak Adi.
"Ma, Mama ... Aku bisa jelaskan semuanya, kumohon dengarkan penjelasan ku! Mama jangan marah dulu, maafkan Papa. Papa hanya tergoda, Ma. Sungguh, Papa khilaf. Maafkan kesalahan Papa, Ma." Pak Adi menunduk lesu sambil memegangi pundak istrinya yang sedang menangis menahan kekecewaan yang mendalam.
"Hanya tergoda katamu?"
PLAKKKKKK, sebuah tamparan keras mengenai pipi Pak Adi.
"Mah, tenang, jangan emosi ..." Pa Adi memohon.
Bu Ani menatap Rena yang sedang menutupi dirinya dengan selimut karena malu tubuhnya tak menggunakan pakaian apapun. Tatapan tajam penuh kebencian yang Bu Ani tunjukkan pada Rena. Bu Ani berjalan mendekati Rena.
"Kau! Wanita jal4ng tak tahu diri! Aku tak menyangka, aku mengasihani mu, mempekerjakan kamu disini, dan percaya bahwa kamu memanglah gadis baik-baik. Alasanku menerimamu karena kamu adalah orang yang pernah bekerja dengan sekretaris Dika, kukira kau takkan pernah berani bermain-main seperti ini. Dasar wanita ular! Kau memang tak punya harga diri! Dasar biadab! Wanita bajingan gila! Kau memang pel4cur yang berani-beraninya menggoda dan tidur dengan suami orang! Kau lebih biadab dari seorang pelakor!"
"Bu ... maafkan saya, saya benar-benar khilaf." Rena menunduk sedih.
"Persetan dengan ucapan mu! Kamu, wanita bajingan yang tak tahu diri. Berani-beraninya tidur dengan suamiku. Kau memang sudah tak punya otak! Kau memang sudah gila! Kalau kau memang sadar, tak mungkin kau mau melakukan perbuatan keji itu. Aku akan membuat perhitungan denganmu! Aku juga akan meminta sekretaris Dika untuk menghukum kalian!"
"Mama, sudah. Cukup Ma ..." Pak Adi membela Rena.
Ingin rasanya kucabik-cabik wajahmu, dan ku pukul tubuhmu atau ku bakar kemalu4nmu! Agar kau merasakan apa yang aku rasakan. Karena kau juga wanita, dan aku tak mungkin menyakitinya dengan fisikku. Biarlah hatiku sakit kala ini, tapi nanti akan ku buat kau lebih sakit lagi, wahai wanita murahan! Jangan harap kau akan mendapatkan harta suamiku karena kau telah tidur dengannya. Aku, akan membuat kau dan suamiku hancur. Batin Bu Ani.
"Mah, cukup. Maafkan aku, Ma ..." Pak Adi benar-benar tak bisa berkata-kata lagi, selain kata maaf yang mampu ia katakan.
Bu Ani menutup wajahnya, ia benar-benar stress melihat kelakuan suaminya dan pembantu barunya itu. Rena mengerti sekarang, kenapa dirinya diminta oleh sekretaris Dika untuk bekerja di rumah ini. Ternyata, agar Pak Adi mau mengakui bahwa ada janin miliknya didalam tubuh Rena. Memang, tidur bersama mereka kali ini, karena tak disengaja, karena Rena dan Om Adi memang saling merindukan satu sama lain.
Hal yang tak akan pernah disangka oleh keduanya adalah, ketahuan oleh Bu Ani. Mungkin, karena hal ini, Bu Ani tak akan tinggal diam. Karena Bu Ani melihat sendiri, bahwa suaminya telah sampai pada puncaknya dan mengeluarkan seluruh benihnya didalam milik Rena. Karena hal itu, Bu Ani harus berpikir keras. Karena besar kemungkinan Rena akan hamil. Padahal, sebelum hubungan ini pun, Rena memang tengah hamil. Mungkin, inilah maksud sekretaris Dika. Agar Rena dan kandungannya, diakui oleh Adi, sang Ayah, walaupun semua kejujuran ini akan menyakiti hati Ibu angkat Nisha.
"Tunggu aku di ruang keluarga sekarang juga! Ini tak bisa dibiarkan. s
Sekalipun aku marah dan muak melihat kalian berdua, tapi karena aku melihat kamu telah menyetubuhi dia, aku juga manusia yang masih punya hati. Kita bicarakan diluar dan jangan ada yang berani keluar dari rumah ini." ucap Bu Ani dengan nada tinggu, dan segera meninggalkan Rena dan Adi di kamar itu.
Bik Min mengikuti Bu Ani dari belakang. Karena ia tahu, Pak Adi pasti menaruh dendam padanya. Bu Ani memasuki kamarnya. Ia duduk di meja riasnya. Ia menatap sendu pada kaca yang memperlihatkan wajah sedihnya. Air matanya tak terasa terus mengalir, karena ia terbayang-bayang akan suaminya yang sedang telanjang berbuat gila dengan wanita lain.
"Bik Min ... aku harus bagaimana?" tanya Bu Ani dengan tatapan kosong.
Bik Min mendekat, "Nyonya harus sabar dan ikhlas. Ini cobaan untuk orang yang tegar seperti Nyonya."
__ADS_1
"Mungkinkah semua ini karena aku tak bisa mempunyai anak?" tanya Bu Ani lagi.
"Nyonya, jangan berkata seperti itu."
"Bibik lihat kan? Tadi mereka telah sama-sama melakukannya, bahkan aku lihat Mas Adi begitu bergairah dengan gadis itu? Sakit hatiku, sungguh aku sakit melihat mereka. Mungkinkah, gadis itu akan hamil karena Mas Adi telah menyetubuhinya? Hancur dan berantakan sekali hatiku ini, Bik." Bu Ani mulai lemas.
"Ada kemungkinan gadis itu hamil, Nyonya. Karena saya juga melihatnya. Nyonya yang sabar, semua keputusan ada di tangan Nyonya. Saya mendukung Nyonya, dan akan tetap bersama Nyonya, apapun yang terjadi." ucap Bik Min.
Bu Ani melihat lemari kerja Pak Adi. Bu Ani menatapnya tanpa berkedip. Ia berpikir dengan keras dan menghela nafasnya berkali-kali.
"Bik, ambilkan lima buah map berwarna biru di laci dan bawa semuanya padaku." ucap Bu Ani.
"Ah, i-iya Nyonya, baiklah." Bik Min melaksanakan perintah Bu Ani.
Dengan sigap, map itu pun kini berada di tangan Bu Ani. Bu Ani melihat-lihat, semua berkas-berkas perusahaan, restoran, surat rumah, aset-aset dan semua tertata rapih didalam map tersebut. Semua aset atas nama Ani Mariana, tak ada nama Adi satu pun, kecuali rumah ini. Bu Ani memasukannya kedalam lemari pribadi miliknya, lalu mengunci lemari tersebut.
"Apa yang akan Nyonya lakukan?" tanya Bik Min.
"Besok pagi aku akan menemui Nisha, anakku. Aku akan membalik nama kan semua aset-asetku. Aku ingin nama Nisha yang tertera di semua surat-surat itu. Akan ku pastikan, gadis jal4ng itu tak akan mendapatkan apa-apa dari suamiku." tegas Bu Ani.
"Maksud Nyonya, bagaimana? Apa Nyonya akan?" ucapan Bik Min terpotong.
"Aku akan menyuruh Mas Adi menikahi dia. Karena walau bagaimanapun, mereka telah berzina, dan mereka harus dinikahkan. Aku tak peduli dengan hati dan perasaanku! Yang aku pedulikan hanyalah Nisha, anakku. Aku ingin dia bahagia, aku ingin hidup dengannya. Maka dari itu, aku akan membuat seluruh asetku menjadi miliknya. Esok hari, aku akan menemui anakku. Walaupun dia anak angkatku, tapi aku tetap menganggapnya sebagai anakku sendiri." tegas Bu Ani.
"Nyonya, tapi bagaimana anda dengan Tuan Adi ..." tanya Bik Min.
"Aku tak sudi kalau harus dimadu, Bik. Aku akan membuat mereka hancur dan menyesal atas perbuatannya. Akan ku berikan seluruh aset ku untuk Nisha. Dia yang pasti akan menjagaku dan menemani hari tuaku. Biarlah aku kehilangan suamiku, karena dia bukan lelaki yang tepat untukku. Aku telah salah menilai dan memilihnya." ucap Bu Ani.
"Nyonya wanita yang kuat dan hebat. Saya bangga pada Nyonya." Bik Min tersenyum.
"Bik, ayo kita temui mereka. Hatiku sudah sedikit tenang. Aku akan mengatakan apa yang seharusnya aku katakan pada mereka." ajak Bu Ani.
Bik Min pun mengikuti Bu Ani yang akan menemui Pak Adi serta Rena. Entah apa yang akan Bu Ani katakan. Yang pasti, ia harus memastikan, bahwa sekali sampah, tetap akan jadi sampah dan tak akan pernah menjadi bunga.
Nisha ... hati Mama sakit, Nak. Mama sedih, Mama terluka. Mama ingin menangis di bahu mu. Mama ingin kamu ada disisi Mama ketika Mama terpuruk seperti ini. Nisha, maukah kamu hidup bersama Mama lagi? Mama tak punya siapa-siapa lagi selain kamu. Ingin rasanya aku bertemu dengan putriku sekarang. Nisha ... bantu Mama melewati semua ini. Bu Ani menghela nafas, karena teringat pada Nisha.
*Bersambung*
__ADS_1