Terjerat Cinta Sang Pembantu

Terjerat Cinta Sang Pembantu
Jujurlah, hati.


__ADS_3

Arini tetap menolak permintaan Davian untuk menidurinya malam ini. Davian tak serius mengatakannya. Davian pun sebenarnya takut melakukan hal itu, karena Davian belum pernah sama sekali melakukannya.


"Udah lu, gak usah lebay gitu! Gue becanda. Gue gak akan maksa, gak akan buru-buru. Sampe cinta lu ke gue bener-bener ada."


"Apa cinta itu memang akan ada?" tanya Arini


"Entahlah, gue gak mau mikirin hal itu." jawab Davian


"Kenapa?" tanya Arini


"Gue belum yakin sama hati gue sendiri. Pernikahan kita jelas bukan karena cinta. Gue takut, suatu hari nanti, lu malah pergi ninggalin gue!"


DEG. Ucapan Davian membuat hati Arini teriris. Hubungannya bersama Davian kini telah semakin dekat. Apa mungkin Arini akan sanggup pergi meninggalkannya? Kenapa akhir-akhir ini rasa nyaman itu muncul dalam diri Arini, ia merasakan kehangatan ketika bersama Davian, meskipun terkadang Davian masih saja membuatnya kesal.


"Kenapa aku harus ninggalin Tuan?" tanya Arini


Kini, tak ada alasan untuk Arini meninggalkan Davian. Toh, sampai saat ini belum ada juga pihak rumah sakit atau klinik yang memanggilnya untuk interview


"Bukannya, cepat atau lambat lu akan ninggalin gue? Lu bilang, setelah gue menyelesaikan meeting dengan investor asing, lu akan memutuskan hubungan ini. Bukan begitu?"


Kenapa rasanya bingung sekali menghadapi situasi ini? Apa yang harus aku lakukan? Kenapa hati ini malah enggan menerima kenyataan bahwa aku harus mengakhiri hubungan ini ketika semua itu sudah selesai. Kenapa rasanya aku tak rela? Ada apa dengan hatiku? Gumam Arini dalam hati.


"Mm, i-itu memang benar! Memutuskan hubungan pernikahan kita, dan aku kembali jadi pembantu Tuan. Begitu kan?" Arini gugup, ada gurat kesedihan di wajahnya ketika ia mengatakannya


"Lu menginginkannya?"


"Menginginkan apa?" Arini tak mengerti


"Memutuskan hubungan pernikahan kita?" tanya Davian penuh harapan


Arini terdiam. Ia enggan menjawab, hatinya ingin sekali berkata tidak, ia nyaman bersama Davian. Tetapi, Arini juga tak mungkin terlalu berharap pada hubungannya dengan Davian. Kehidupan Arini dan Davian jauh berbeda. Arini takut, kehidupan Davian terlalu keras untuk orang biasa sepertinya.


"Kenapa nggak dijawab?" tanya Davian lagi


"Aku bingung harus jawab apa, bisa enggak kita bahas yang lain aja Tuan?" Arini mengalihkan pembicaraan


"Kenapa harus yang lain? Gue ingin kepastian dari diri lo, Rin."


"Kepastian seperti apa yang Tuan maksud? Bukankah kita tinggal jalani saja dahulu, biar waktu yang menjawab semua, jangan terlalu memikirkan hal yang tak semestinya kita pikirkan." ucap Arini


"Mesti dong gue pikirin. Ini pernikahan kita!" jawab Davian sedikit meninggikan suaranya

__ADS_1


"Kalau begitu, biar aku yang tanya Tuan. Bagaimana keinginan Tuan yang sebenarnya?" Arini berbalik bertanya


"Kok gue sih? Lu aja belum jawab!" Davian melemparkan lagi pada Arini


"Yang menjalani hubungan ini itu bukan cuma aku aja, tapi Tuan juga. Tapi, aku belum mendengar keinginan Tuan yang sebenarnya tentang hubungan kita! Yang aku tahu, Tuan hanya banyak bicara dan terus mendesak ku, sedangkan Tuan sendiri, sama sekali tak memberikan jawaban pasti mengenai kelanjutan hubungan pernikahan sandiwara ini."


"Pinter ngomong lu ya!"


"Jawab aja, jangan ngeles terus!"


"Berani lu ya merintah gue?" Davian mulai kesal


"Ya berani lah! Kenapa harus gak berani? Cuma ngomong gitu doang masa harus takut?" Arini menantang Davian


Davian bingung harus menjawab apa. Sejujurnya, ia tak ingin melepaskan hubungan ini. Ia ingin terus bersama Arini, tapi dirinya terlalu malu dan gengsi untuk mengatakannya. Rasanya, pengakuan kejujuran itu sangat sulit bagi mereka berdua.


Keduanya sama-sama saling mengedepankan gengsi, mereka mencintai satu sama lain, tapi tak mau jujur mengatakannya. Mereka terus menyembunyikan perasaan cinta itu.


"Lu emang nyebelin gak ada abisnya ya. Sini, biar gue beri lu pelajaran karena udah memerintah gue!"


Davian mendekati Arini, tubuhnya langsung menangkap tubuh Arini, membopongnya, lalu membawa ke ranjangnya, Davian menjatuhkan tubuhnya bersamaan dengan tubuh Arini. Arini menolak, ia kaget dengan perlakuan Davian.


Pikiran Arini mulai berkeliaran kemana-mana, ia mulai takut kalau Davian akan nekad lagi. Davian dan Arini dalam posisi tidur di atas ranjang, keduanya saling berhadapan.


"Apa lu gugup deket sama gue gini?" tanya Davian


"Aku gak gugup! Aku takut."


"Takut kenapa?"


"Aku belum siap!" Arini menutup wajahnya


Davian membenarkan rambut Arini, membuka wajah Arini yang tertutup rambutnya.


"Lu kan istri gue. Kita udah SAH secara hukum dan agama. Bukan begitu?"


"Tapi, aku belum ikhlas Tuan. Maafkan aku." ucap Arini pelan-pelan


"Apa yang membuat lu merasa gak ikhlas berhubungan sama gue?" tanya Davian


"Aku takut."

__ADS_1


"Kenapa?"


"Aku takut, hubungan ini akan berakhir begitu saja, aku menyesal jika aku telah memberikan mahkotaku pada Tuan. Aku tak mau masa depanku hancur hanya karena melakukan hal seperti itu. Maafkan aku." Arini menggigit bibirnya


"Kalau gue menjamin, lu gak akan pernah gue lepaskan gimana?"


"Jaminan apa? Tak ada yang bisa menjamin aku akan terus bahagia disisi Tuan. Kita tak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, sekalipun Tuan memiliki banyak uang, tapi kita gak tahu kan kehidupan nanti akan bagaimana? Uang tak bisa menerawang kehidupan." jawab Arini


"Bukan uang, tapi hati."


"Hati?" Arini mengernyitkan dahinya


"Hati gue yang bisa menjamin kebahagiaan elu selamanya. Hati gue yang akan menjaga elu, hati gue juga yang akan selalu melindungi lu dimana pun dan kapanpun. Apa lu bisa percaya hati gue?"


"Nggak."


"Kenapa?" tanya Davian


"Tuan saja tak pernah tahu, apa yang hati tuan inginkan. Terkadang, hati dan pikiran tak pernah sejalan. Apalagi aku, aku tak bisa tahu apa isi hati Tuan yang sesungguhnya. Sudah kubilang, aku takut, kumohon jangan lakukan." jawab Arini


"Lu kan udah tahu, kalau gue ingin terus melanjutkan hubungan ini." jawab Davian


"Nggak."


"Kok nggak sih? Kan gue udah bilang sama lu."


"Kapan? Aku minta Tuan jawab keinginan hati Tuan gimana, malah banyak alasan kan? Aku belum dengar jawabannya. Tuan malah membopongku membawaku ke ranjang ini. Itulah yang ku maksud, Tuan saja tak tahu isi hati Tuan yang sebenarnya, bagaimana aku bisa tahu hati Tuan?"


Davian terdiam. Rasanya sulit sekali untuk mengungkapkan perasaan yang sebenarnya pada Arini. Lidahnya kelu, tak mau berkata. Namun, hatinya jelas-jelas menginginkan Arini seutuhnya. Harus bagaimana lagi Davian?


"Aku tak pandai berkata. Aku hanya ingin bilang, percayalah padaku. Aku akan mempertahankan pernikahan ini. Apa kamu mau membantuku mempertahankannya?"


".........."



*Bersambung*


Halo... Selamat pagi ya..


Jangan lupa like setelah membaca, apalagi yang berkenan komentar. Uh, aku sangat menghargainya🤗🤗🤗

__ADS_1


Makasih ya udah mau baca..


Yang mau gabung Grup Chat aku, gabung yuk.. klik chat dengan author ya di profilku 😘


__ADS_2