
Tiga minggu kemudian.
Malam ini, Arini merasa tubuhnya tak nyaman. Ia bolak-balik terus ke kamar mandi. Ia ingin buang air kecil terus, namun hanya sedikit-sedikit. Tak nyaman sekali rasanya, karena itu membuat Arini kesulitan untuk tidur. Berkali-kali, Davian mengantarnya ke kamar mandi, karena takut Arini kepeleset. Davian pun khawatir dengan kondisi istrinya saat ini.
"Sayang, lebih baik kita ke rumah sakit saja sekarang. Sepertinya, bayi kita terlalu menekan kebawah, jadi bawaannya kamu ingin ke toilet terus." saran Davian.
"Gak perlu, Mas. Sepertinya itu normal kok. Karena ini memang sudah bulannya. Wajar kalau posisi bayi sudah berada di bawah. Udah, Mas. Mas Davi istirahat aja, Mas pasti lelah seharian ini meeting sama clien." ucap Arini.
"Kamu lebih penting dari segalanya sayang. Aku akan menemani kamu, kasihan istriku sudah sangat kesulitan melakukan aktifitas apapun." ucap Arini.
"Baiklah, terima kasih, Mas-ku." Arini tersenyum pada Davian.
Davian memang sangat kelelahan hari ini. Aktifitas di perusahaan sangat padat. Pagi hari, ia sudah meeting dengan dewan direksi, siang hari ia makan bersama dengan perwakilan CT Grup, sore hari, ia meeting kembali dengan beberapa Dept. Head di kantor, malam hari ia bertemu dengan rekan bisnis di tempat bermain golf. Hingga kini, ia baru sampai di rumah dengan segala kelelahannya.
Kelelahan itu memang nyata, tapi Davian tak mau menunjukkan rasa lelahnya pada Arini, karena ia sadar, istrinya sangat membutuhkan dirinya. Walaupun ada Tira yang selalu standby untuk Arini, namun ternyata Arini hanya ingin dibantu dan ditemani oleh Davian saja.
Davian memaksakan diri, mengelus-elus perut Arini, terkadang ia mengipasi istrinya yang sedang kegerahan tersebut. Arini mudah gerah, padahal AC sudah terpasang di kamar ini, namun rasanya ia masih saja kegerahan, dan malah ingin dikipasi oleh Davian, sang suami.
"Maaf, aku merepotkan Mas Davi terus," Arini merasa bersalah.
"Sayang, ini sudah tugasku untuk mengurus kamu, menjaga kehamilan mu. Kandungan mu sudah sembilan bulan, itu berarti sebentar lagi kita akan bertemu dengan bayi kecil kita. Perubahan pada diri kamu ini sangat nyata sayang. Aku memaklumi kamu yang seperti ini. Aku menikmati semua fase-fase ini. Mulai dari kamu sering pegal-pegal, kamu sering kegerahan, dan kadang kamu juga ingin sekali aku manja. Aku akan selalu siap siaga untuk menemani kamu, sayang. Jangan pernah mengkhawatirkan aku, karena rasa lelahku akan hilang, begitu aku melihatmu. Kamu adalah penyemangat dalam hidupku. Aku mohon, jangan selalu menyalahkan diri sendiri, kamu tak merepotkan aku sedikitpun, sayang." Davian mengusap rambut Arini.
"Tapi, aku begitu membebani dirimu, Mas. Aku pengennya terus sama kamu, aku gak mau Tira yang nemenin aku. Aku juga gak mau Tira gantiin kamu, karena pijitan Tira gak enak, masih enak kalau kamu yang mijit, Mas. Karena itu, aku minta maaf sama kamu, selalu saja membuatmu kesusahan." Arini merasa bersalah.
"Tentu saja kamu ingin selalu bersamaku, karena aku suamimu, dan bayi ini adalah milikku. Dia tahu, mana Daddy-nya, jadi dia nyaman ketika Daddy-nya yang memperlakukannya dengan baik. Aku tulus dan ikhlas sayang, aku lakukan semua ini demi kalian berdua. Sudah, segera tidur istriku, ini sudah larut." ucap Davian.
"Aku gak bisa bobo, Mas. Aku ingin Mas nyanyi." pinta Arini.
"Nyanyi? Nyanyi apa sayang? Aku gak bisa nyanyi." ucap Davian.
"Tapi, aku dan baby bisa bobo kalo kamu nyanyi dulu, Mas." Arini tersenyum manja.
"Baiklah, baiklah, kamu ingin Mas-mu ini nyanyi apa?" tanya Davian.
"Apa ya?" Arini berpikir.
"Bagaimana kalau lagu peterpan saja?" saran Davian.
"Gak mau, aku maunya Mas nyanyi lagu Nella Kharisma yang judulnya Ku puja-puja!" ucap Arini.
"What? Lagu apa itu? Dangdut kah sayang?" Davian tak tahu.
"Yes, Mas. Lagu dangdut. Dedek bayi mau Mas nyanyi lagu dangdut. Ayolah, sepertinya ini ngidam terakhirku, Mas!" Arini merengek.
"Sayang, aku tak tahu bagaimana lagunya." Davian berdalih.
"Mas, kan bisa cari lagunya di handphone, terus dengerin, entar juga bisa kok, lagu dangdut kan mudah di nyanyikan! Ayo dong, Mas. Nanti aku nangis nih," Arini cemberut.
Sayangku, awas saja kalau ini bukan ngidam terakhirmu. Batin Davian.
__ADS_1
"Tapi, sayang ... " Davian keberatan.
"Tapi apa sih?" jawab Arini ketus.
"Nanti aku gak keren lagi kalau aku nyanyi dangdut." Daviaan keberatan.
"Masa sih! Banyak kok penyanyi dangdut laki-laki yang tampan dan keren! Itu cuma alasan kamu aja, Mas." sanggah Arini.
"Aduh, sayang, nyanyi yang lain aja ya, Aku gak biasa nyanyi dangdut. Bahkan, nyanyi lagu pop saja aku jarang sekali. Suaraku sangat jelek!" Davian sungguh tak ingin bernyanyi.
Arini tak menjawab ucapan Davian. Ia terlihat sedih. Tiba-tiba, ia menangis. Tiba-tiba, air mata berlinang di pipinya. Arini menangis, karena Davian tak mewujudkan keinginannya. Davian jadi merasa bersalah pada Arini. Ia bingung, disatu sisi, ia tak bisa bernyanyi dangdut, disisi lain, ia tak mungkin mengecewakan keinginan istrinya.
"Sayang, kok nangis sih? Ya, baiklah-baiklah, aku akan bernyanyi lagu yang kamu inginkan. Tapi tunggu beberapa menit, aku akan mencoba mendengarkannya dulu." ucap Davian.
"Nah, gitu dong Mas. Itu baru namanya sayang istri." Arini melebarkan senyumannya.
Davian memutar lagu yang Arini inginkan. Ia mencoba melafalkan nada lagu dangdut tersebut. Lagu yang familiar, sering ia dengarkan di beberapa tempat yang memutar lagu tersebut. Hingga akhirnya, ia pun mulai bernyanyi, walau hanya dibekali keberanian saja, yang penting istrinya itu tak marah padanya.
"Oke, aku mulai nyanyi sekarang!" ucap Davian.
"Ya, Mas. Ayo nyanyi," seru Arini.
"Ekhm, ekhmm," Davian berdehem.
...🎶Sungguh ku terpuruk dalam lamunan...
...Seakan ragaku hangus terbakar...
...Tak akan mampu kusirami...
...Sengaja kah kau kirimkan undangan?...
...Ataukah hanya pelampiasan?...
...Adakah alasan...
...Yang akan kau tunggu?...
...Apa salahku?...
...Apa dosaku?...
...Hingga kau tega menyakiti...
...Kau yang s'lalu kupuja-puja...
...Namamu terukir indah...
...Gelapnya indah dunia...
__ADS_1
...Terluka penuh kecewa🎶...
Selesai sudah Davian menyanyikan lagu yang diinginkan oleh istrinya itu. Davian bangga pada dirinya, karena ia bisa menyanyikan lagu itu dengan baik. Walaupun lagunya sedikit manja dan genit, Davian menyanyikannya dengan datar, dan sesekali bergoyang mengikuti irama lagu dalam handphonenya. Ia senang bis menyelesaikan permintaan Arini.
"Sayang, tuh kan apa kataku, aku memang lelaki hebat yang serba bisa, bukan? Bagaimana, suaraku? Apakah aku pantas menjadi penyanyi dangdut?" ucap Davian.
Arini tak menjawab. Davian melihat kearah istrinya itu, dan seketika itu pula, Davian geleng-geleng kepala, karena ternyata Arini telah tertidur. Davian menggerak-gerakan tangannya pada wajah Arini, ternyata Arini memang sudah tidur pulas.
"Ya ampun, istriku, dan bayiku. Kenapa kalian harus mengerjai aku? Kenapa malah tertidur ketika aku sedang bernyanyi? Pertanda apa kalau kalian tertidur ketika mendengarkan suaraku? Apakah suaraku bagus sehingga cocok dijadikan penghantar tidur kalian?" Davian berbicara sendiri.
"Ah, anggap saja lah begitu. Anggap saja suaraku bagus dan istriku meresapinya, hingga ia tertidur." ucap Davian.
"Good night my wife and my little Baby. Have a nice dream, semoga secepatnya kita bisa bertemu ya bayiku sayang. Sehat-sehat didalam perut Mommy-mu. Daddy janji, akan berada di sisimu, ketika kamu akan melihat dunia. Love you so much more, baby! Let's sleep with Daddy right now ... "
Davian mencium pipi Arini, kemudian mencium perut istrinya yaang terlihat besar karena sudah bulannya. Ia pun terlelap, sambil memeluk Arini. Berharap, malam ini akan bermimpi indah.
🍂🍂🍂
Pukul 02.00 dinihari.
"Auh, aww, aduh, Mas ... Bangun, Mas. Aw, sakitnya. Aduh, perutku." Arini gelisah, ia memegangi perutnya yang begitu sakit.
Arini menggeliat, melengking menahan rasa sakit di perutnya. Tangannya meraba-raba tubuh Davian, agar Davian bangun, kalau dirinya sangat membutuhkan Davian.
"Aarrgghh, Mas Davi, sakit ... Perutku, Aduh. Mas, bangun, Mas." Arini menggeliat hebat, karena menahan rasa sakit.
Davian begitu terlelap. Ia tak mendengarkan rintihan Arini yang menahan sakit. Mungkin karena terlalu lelah, Davian tak sadar bahwa istrinya saat ini membutuhkan bantuannya. Dengan tenaga dalam, Arini meraba-raba tubuh Davian, hingga ia memegang rambut Davian. Arini menjambak rambut Davian sekaligus, karena ia tak tahan dengan rasa sakit yang ia alami sekarang.
"Aarrrggghhhh, mimpi buruk macam apa ini?" Davian kaget dan segera terbangun.
Davian melihat Arini, ternyata Arini sedang menahan sakit. Ia langsung bangkit dari tidurnya. Davian benar-benar khawatir.Matanya langsung segar ketika melihat istrinya terbaring kesakitan.
"Ya ampun, istriku. Kamu sepertinya akan segera melahirkan. Sabar sayang, tahan ya, tahan. Kita ke Rumah sakit sekarang juga. Aku akan kabari semua penghuni rumah agar siap siaga. Tahan ya cantik, sabar ya, kamu kuat, kamu bisa, aku yakin, kita bisa melewati semua ini." Davian segera memangku Arini.
"Mas, Arrrghh, ini sakit banget. Auh, Sakit, Mas ..." Arini pun menangis menahan sakitnya kontraksi di perutnya.
Tanpa basa-basi, Davian membawa Arini menuju mobilnya. Ia segera memanggil sekretaris Dika dan Tira. Tanpa persiapan apapun, mereka segera berangkat ke rumah sakit.
"Tira, kamu nyusul saja nanti dengan Mamaku. Tolong siapkan perlengkapannya, untuk Arin dan juga bayi. Segera bawa ke rumah sakit ketika semuanya sudah selesai." perintah Davian.
"Baik, Tuan." jawab Tira.
Davian memegang tangan Arini, ia mengipasi Arini yang terlihat berkeringat. "Sayang, sabar ya. Kamu kuat, pasti kuat. Ada aku di sisimu," Davian menyemangati Arini.
"Mas, aku lemas, sakit sekali, Aahhh, sakit, Mas ..." Arini benar-benar tak berdaya.
"Dik, cepatlah! Kasihan istriku. Bisa nyetir yang bener gak sih lo? Cepet gue bilang!" Davian emosi.
"Ba-baik, Bos. Maaf," sekretaris Dika tahu, bahwa Davian sangat cemas.
__ADS_1
Sabar sayang, bertahanlah. Kuat demi anak kita, aku yakin Arini-ku adalah wanita yang hebat. Perjuangan kita akan segera dimulai. Aku mendoakan yang terbaik untukmu sayang. Aku selalu ada di sisimu. bisik Davian pada Arini.
*Bersambung*