
"Ayo, pulang!" bentak Davian pada Arini
Salsa menatap Arini kesal. Ia tak menyangka, bahwa Davian bisa ada di tempatnya. Makian Davian padanya membuat Salsa kesal.
"Sa, gue pulang dulu ya. Makasih atas undangannya kesini." ucap Arini
Salsa tak menjawab, ia masih kesal dengan tingkah Davian. Namun, dirinya tak bisa melawan. Salsa tak menyangka, hanya karena seorang Arini, Davian bisa marah-marah seperti itu.
Davian dan Arini telah masuk kedalam mobil. Tak lama, mobil itu melaju. Ketika itu, di waktu yang berasamaan, datang sebuah mobil mewah berhenti di parkiran butik. Wanita cantik menggunakan kacamata turun dari mobil itu. Ternyata, dia adalah Meliza, istri Arkan.
Meliza masuk kedalam butik ditemani dua temannya yang setia mengikuti kemanapun dirinya pergi.
Karyawan butik Salsa menyambut kedatangan Meliza, karena Meliza juga merupakan salah satu pelanggan tetap di butik Salsa.
"Selamat siang, Nona Mel. Silahkan uduk dulu!" ucap Salsa sopan
"Lu owner-nya kan?" tanya Meliza
"Iya, nona." jawab Salsa sopan
"Barusan, gue lihat mobil range rover keluar dari butik ini. Apa itu Davian? Lu kenal Davian?" tanya Meliza
"Betul, Nona. Barusan, Tuan Davian datang kemari." ucap Salsa
"Ngapain Davian ke tempat kayak gini?" Meliza tak mengerti
"Tuan Davian menjemput pembantunya yang bernama Arini." jawab Salsa sedikit gugup
"Arini? Ngapain pembantu itu dateng ke butik? Si Davian, ngapain juga mau jemput-jemput pembantu kayak gitu." Meliza tak suka
"Arini itu teman SMA saya, dia mengajak saya bertemu, jadi kami bertemu disini. Namun, saya tak menyangka Tuan Davian akan datang menjemputnya." ucap Salsa
"Arini temen lu?"
"Iya, Nona."
Wanita ini sepertinya tahu seluk-beluk tentang Arini, si istri sandiwara Davian. Sepertinya, gue harus bisa dapetin hatinya pemilik butik ini. Gue akan manfaatkan dia untuk menggali informasi si Arini. Batin Meliza dalam hati
"Nama lu siapa tadi?" tanya Meliza
"Salsa, Nona. Baiklah, ada baju yang Nona ingin lihat-lihat?" tanya Salsa
"Tentu saja ada, cuma gue sedikit terganggu dengan ucapan Nona. Panggil aja gue Mel, atau Liza. Kayaknya, umur kita juga nggak beda jauh!" ucap Meliza
"Kayaknya terlalu lancang bagi saya jika harus menyebut nama.." ucap Salsa
"Gak apa-apa Salsa, gue biasa seperti itu kok. Mari kita berteman. Jangan sungkan-sungkan. Panggil aja gue Mel ya!" ucap Meliza
"Baik-baik, Mel." Salsa sedikit gugup
"Pilihkan gue baju keluaran terbaru!" perintah Mel
"Baik.''
Salsa memilihkan baju untuk Meliza. Salsa tahu, selera Meliza. Dengan perasaan senang, Salsa memilihkan beberapa dress cantik. Sesuai dengan kemolekan tubuh Meliza.
"Salsa?" tanya Meliza
"Iya, Non eh Meliza?" tanya Salsa
"Lu temennya Arini kan?"
"Iya. Emangnya kenapa?" tanya Salsa
"Apa gue bisa minta bantuan lu?" tanya Meliza
__ADS_1
"Bantuan apa?" tanya Salsa
"Sini, gue bisikin." ucap Meliza
Entah apa yang Meliza rencanakan. Namun, Salsa terlihat setuju dengan bisikan Meliza. Sepertinya, mereka berdua merencanakan sesuatu.
***
Didalam mobil, Davian terus menatap Arini. Davian masih tak mengerti dengan Arini. Didepan temannya sendiri, ia terlihat tak ada apa-apanya. Berbeda dengan perlakuannya pada Davian, Arini selalu keras kepala dan membantah.
"Lu kenapa diem aja tadi?" tanya Davian
"Memangnya, aku harus apa?"
"Lawan dong! Seperti yang suka lu lakukan ke gue." timpal Davian
"Gak bisa, dia udah terlalu banyak berjasa sama aku. Dulu, dia baik dan perhatian. Aku nggak ngerti, kenapa dia jadi berubah seperti itu." jelas Arini
"Baru punya butik gitu aja belagu!"
"Jangan gitu, Tuan." ucap Arini
Arini menatap Davian. Davian memang keras, tapi dia sangat hangat. Dia baik pada Arini, dan melindungi Arini.
"Makasih, Tuan." ucap Arini
"Untuk apa?" tanya Davian
"Telah melindungi saya dari makian Salsa. Sebenarnya, saya juga sedih dan kecewa, kenapa Salsa bisa seperti itu." ucap Arini
"Lu itu punya harga diri, jangan mau harga diri lu diinjak-injak. Meskipun dia dulu berjasa dan baik sama lu, kalau sekarang dia sombong kayak gitu, buat apa lu deketin. Gak usah diambil pusing orang kayak gitu. Gue gak suka aja ada yang nyakitin hati istri gue. Hati gue ikut kalau lu disakitin orang lain."
"Ekhhmmmm, ekkhhmmm!" sekretaris Dika berdehem
"Uhukkkk, Uhukkkkk!" Arini tersedak
"Kenapa kalian? Apa ada yang aneh dari ucapan gue barusan?" Davian heran.
"Nggak, Bos. Ini, tenggorokan gue gatel banget rasanya!" jawab sekretaris Dika.
"Lu lagi, kenapa malah tersedak gitu?" tanya Davian pada Arini.
"Sama, tenggorokan aku juga sakit, Tuan." Arini kaget mendengar ucapan istri gue.
Davian segera mengambil minum didalam tasnya, lalu ia memberikannya pada Arini.
"Kok bisa sakit tenggorokan? Nih, minum dulu. Jangan sampe kenapa-napa, Rin." ucap Davian
Arini terpaksa minum air yang diberikan Davian. Arini tersedak karena kaget dengan ucapan Davian, bukan karena tenggorokannya sakit. Entah kenapa, kali ini Davian terlihat lebih manis pada Arini.
Biarpun gue selalu membuat lu kesal atau marah, tapi gue gak rela kalau ada orang lain selain gue yang nyakitin lu. Gue gak mau, lu sedih, gue mau lu bahagia, Rin. Sudah cukup penderitaan lu selama ini. Sekarang, lu berhak bahagia. Hidup lu harus bahagia. Gue akan bahagiain lu dengan cara gue sendiri. Batin Davian dalam hati.
"Rin?" tanya Davian
"Ya, Tuan?"
"Jalan-jalan dulu, yuk?" ajak Davian
"Kemana, Tuan?"
"Mall sana. Kita ke bioskop! Gue pengen nonton." ucap Davian
"Ehm, saya ikut aja Tuan."
"Oke! Dik, antar gue ke Mall xxi, gue mau nonton. Nanti, mobil gue yang bawa. Lu pulang aja." perintah Davian
__ADS_1
"Baik, Bos. Lu mau pacaran ya?" goda Dika
"Gue udah nikah, ngapain pacaran."
"Tapi, lu belum pernah kan pacaran sama Arini? Ini waktunya lu pacaran sama dia, Bos!" Dika terkekeh
"Elu bener-bener ya Dik. Gue cuma lagi pengen nonton aja."
"Kalau gitu, kenapa gak ajak gue Bos?" Dik menggoda Davian.
"Udah, berisik!" Davian kesal.
Dika terkekeh, "Bos, lu masih aja deh malu-malu."
"Dika, berisik atau gue cari pengganti elu?" Davian membentak sekretaris Dika.
"Yoi, Bos. Maaf deh maaf! Ancaman maut elu itu-itu aja. Nakutin Bos!"
Sekretaris Dika telah pulang kembali, dan menyerahkan kunci mobil pada Davian. Davian dan Arini sedang membeli tiket yang akan mereka tonton saat ini.
Davian merasa, bersama Arini adalah hal ternyaman baginya. Entah mengapa, kali ini Davian malah ingin jalan-jalan bersama Arini.
Mereka sudah berada didalam bioskop. Menonton film yang mereka inginkan.
"Tuan, makasih udah ajak saya kesini." ucap Arini
"Emangnya lu belum pernah ke bioskop apa?" tanya Davian
"Belum, Tuan. Baru kali ini, itupun diajak Tuan. Kalau tidak, saya tak akan pernah tahu isi bioskop itu seperti ini." jawab Arini
Davian memang kasihan melihat Arini. Ia tak pernah menikmati hidup, Perasaan aneh mulai muncul dalam diri Davian. Tak biasanya Davian seperti ini pada Arini.
Tangan Davian mulai mencari-cari tangan Arini. Tangannya menggenggam tangan Arini, mengelus-elus tangan lembut Arini. Seraya melihat Arini, Arini kaget dengan perlakuan Davian.
"Arini, kamu berhak bahagia. Aku pastikan kamu akan bahagia. Jangan menyiksa diri, bersenang-senanglah, nikmati hidup ini. Ada aku, yang siap memberikan kebahagiaan untukmu." Davian mengelus lembut tangan Arini.
"Tuan, tapi kenapa?" Arini tak menyangka ucapan manis itu akan keluar dari mulut Davian
"Aku memang kasar padamu, tapi aku tak pernah berniat untuk menyakitimu. Biarlah, pernikahan kita berjalan sebagaimana mestinya, aku akan menunggu cinta itu hadir untuk kita." jawab Davian.
"Aku bingung harus menjawab apa. Aku tak mengerti lagi, kenapa Tuan tiba-tiba jadi manis seperti ini padaku." jawab Arin
"Lu mau tahu alasannya?" tanya Davian.
"Tentu saja, Tuan."
"Karena lu ada disisi gue, ada didalam hari-hari gue! Perhatian gue jadi tertuju sama lu, Rin. Lu udah mengalihkan pandangan gue." ucap Davian serius.
Arini tak menjawab perkataan Davian. Arini bingung harus bagaimana. Kadang Davian manis, kadang juga Davian menyebalkan. Kadang berkata aku-kamu, kadang berkata gue-elu lagi.
"Gak usah khawatir, gak akan ada orang yang bisa nyakitin lu, akan gue pastikan itu." ucap Davian
"Makasih, Tuan." Arini gugup.
Arini dan Davian fokus menonton film yang tayang di bioskop. Tangan mereka tetap berpegangan, Davian tak ingin melepaskan genggaman tangannya. Arini keberatan, namun ia tak bisa berbuat apa-apa.
Ketika sound bioskop cukup keras sekali, sehingga suara orang disebelah kita akan sulit terdengar, Davian berkata pada Arini.
"Arini... I Love You..." ucap Davian pelan,
"HAH? Tuan ngomong apa? Gak kedengeran!" Arini berteriak
*Bersambung*
Hai semuanya.. Jangan lupa like, komen dan vote juga ya untuk kelanjutan cerita ini ❤
__ADS_1
Aku ucapkan terima kasih pada kalian yang telah mendukung ceritaku ini...