
Sore ini, acara hari ke tujuh mendiang Melisa benar-benar telah selesai. Rangga pun mengajak Keyza untuk pulang. Awalnya, Keyza tak mau, namun karena Rangga membujuknya, akhirnya Keyza pun mau pulang bersamanya. Keyza pamit pada Arini dan Davian, Tira pun demikian, ia berpelukan dengan Arini, dan segera mengikuti Rangga masuk kedalam mobil.
Rangga seperti kehilangan semangatnya, ia rasanya sudah tak mau banyak bicara lagi, dan ingin segera pulang ke rumahnya. Tira pun tak bisa banyak bicara, karena ia bingung, harus bicara apa, karena Rangga sepertinya sedang tak bisa diajak bicara.
Sore ini, mereka telah selesai makan bersama. Rangga memesankan makanan secara online, karena kalau Tira yang masak pasti akan lama dan merepotkan. Rangga sedang bermain-main bersama Keyza. Rangga terlihat tulus menemani Keyza, walaupun dari raut wajahnya terlihat, bahwa ia sangat sedih. Tira sedang membersihkan sisa makan mereka, dan akan melanjutkan mencuci pakaian.
"Opah kecil, kenapa?" tanya Keyza.
"Enggak kok, gak kenapa-napa. Ayo, lanjutin mainnya." Rangga tersenyum.
"Opah kecil gak mau ya main sama Key?" tanyanya lagi.
"Enggak sayang, Opah kecil pusing banyak kerjaan, dan Opah malas mengerjakannya, makanya Opah pilih bermain sama kamu." ucap Rangga.
Ya Tuhan, apa wajahku terlihat tak ceria? Maafkan aku, sayang. Aku merasa taj bersemangat. Aku harus terlihat biasa saja didepan Keyza, aku tak boleh memperlihatkan kesedihan ini. Batin Rangga.
"Oh, Opah kecil jangan sedih yah, kan ada Key sama Kakak Tira yang selalu ada bersama Opah..." jawab anak polos itu.
"Key?" tanya Rangga.
"Yes, opah?" jawab Keyza.
"Bisakah kamu memanggilku, Ayah?" tanya Rangga lagi.
Tira yang mendengar Rangga mengatakan hal itu langsung terdiam seketika. Ia kaget, ada apa dengan Rangga kali ini? Namun, ia tetap fokus pada cuciannya, ia pura-pura tak mendengar yang Rangga katakan.
"Apa? Kenapa memangnya Opah? Kenapa Opah meminta dipanggil Ayah oleh Key?" tanya Keyza polos.
"Karena Opah kecil ingin menjadi Ayah Key yang sesungguhnya." Rangga mengusap lembut rambut kuncir keyza.
"Benarkah? Opah kecil serius?" mata Keyza berbinar.
"Tentu saja. Aku sangat menyayangimu, panggil aku Ayah, jangan opah kecil terus ya," Rangga tersenyum.
"Aku belum biasa manggilnya. A...yah...." Keyza tersenyum.
"Ulangi lagi, sayang?" pinta Rangga.
"Iya, Ayaaaaaah...." Keyza tersenyum bahagia.
Rangga senang, ia segera memeluk Keyza dengan lembut. Rangga tak boleh menunjukkan kesedihannya pada Keyza. Didepan Keyza, ia harus tetap bahagia, Rangga meyakinkan dirinya, bahwa ia akan menjadi sosok pria sekaligus Ayah yang baik dan bertanggung jawab untuk Keyza.
Tira mendengar ucapan Keyza dan Rangga dari dapur. Rasanya, ingin bergabung bersama mereka, namun Tira takut Rangga akan berharap lebih lagi padanya. Tira memutuskan untuk tetap bekerja saja di dapur, karena ia tak mau mengganggu keharmonisan Rangga dan Keyza.
"Kakak Tiraaaaa?" teriak Keyza.
Tira menoleh, dan ia menjawab dari dapur, "Apa Key? Kakak lagi bersih-bersih."
"Sini cepetan, sebentar." pinta Keyza.
Tira pun menuruti perintah Keyza. Ia segera mendekat, dan berdiri di samping Keyza.
"Apa, Key?" Tira tersenyum.
__ADS_1
"Kakak, sekarang Key panggil Opah dengan sebutan Ayah loh!" ucap Keyza.
Tira tersenyum, "Wah, begitu kah? Bagus dong, jadi Key sekarang punya Ayah lagi, begitu?"
"Iya, Kakak. Opah Rangga jadi Ayah Key sekarang." jawab Keyza polos.
"Key senang, Nak?" Tira mengusap rambut Keyza.
"Tentu saja senang, Ayah Rangga adalah Ayah yang baik, sama seperti Daddy, walaupun sekarang Daddy telah pergi." jawab Keyza.
"Gak apa-apa sayang, kamu akan tetap bahagia walaupun bersama Ayah Rangga." Tira menguatkan Keyza.
Rangga tak berbicara sepatah kata apapun, ia hanya mendengarkan dari tempat duduknya.
"Opah, eh Ayah?" ucap Keyza.
"Apa, Nak?" jawab Rangga.
"Kalau Opah kini jadi Ayah Keyza, berarti Kakak Tira jadi Mommy Keyza juga dong sekarang?" tanya Keyza polos.
Rangga dan Tira tersedak bersamaan, saat mendengar ucapan polos Keyza,
"Uhuk, uhuk. Kamu ada-ada aja, Nak. Kakak Tira tetaplah Kakak yang akan menjaga kamu." jawab Rangga.
Tira menatap Rangga, Tira merasa ada yang aneh pada diri Rangga. Rangga tak seperti biasanya begitu pada Tira, hal ini membuat Tira merasa tak enak. Kenapa dia tak semangat seperti biasanya? Tumben sekali, dia begini padaku. Batin Tira.
"Tapi, Key ingin Kakak Tira jadi Mommy baru untuk Key. Kakak Tira sangat baik, Key maunya Kakak Tira, Opah. Ya, Kakak Tira, mau ya? Mau ya jadi Mommy yang baik untuk Key?" rengek Keyza.
"Key, jangan begitu." cegah Rangga.
"Gak mau tahu, Ayah! Aku maunya Kakak Tira yang jadi Mommy Keyza. Kalau yang lain, pokoknya Key gak mau," Keyza cemberut.
"Key, Key sayang.. Iya, iya, sekarang Key bobo dulu ya sayang, ini udah malem lho, yuk bobo sama Kakak?" ajak Tira.
"Gak mau!"
"Kenapa? Ayo, kita bobo yuk, Kakak juga udah ngantuk nih, hoaam." Tira pura-pura menguap.
"Key gak mau bobo, sebelum Kakak Tira janji sama Key, kalau Kakak Tira mau jadi Mommy-nya Key!" tegas Keyza.
Tira menatap Rangga. Rangga terlihat biasa saja, ia tak menunjukkan ekspresi apapun. Rangga yang sekarang, bukanlah Rangga yang seperti biasa Tira kenal. Tira jadi sangat tak nyaman dengan keadaan saat ini. Ia bingung, harus menjawab apa. Tira menghela nafas, mengatur deru nafasnya agar tetap rileks.
"Iya, iya. Kakak akan mempertimbangkannya, asal sekarang Key tidur ya?" pinta Tira.
"Enggak, kakak belum bilang iya!" Keyza memaksa.
Lagi lagi Tira menghela nafas, Rangga tak membantunya sedikitpun. Ia hanya sesekali menatap mereka lalu fokus lagi pada layar televisi.
"Baik, sayang baik. Kakak akan menjadi Mommy-mu. Asalkan Key bobo sekarang ya?" Tira terus membujuk.
"Benarkah? Kakak gak tulus ngomongnya!" ucap Keyza.
Ya Tuhan, kenapa Tuan Rangga diam saja? Kenapa dia tak berbicara sedikitpun? Bukankah dia tahu mengenai permintaan terakhir Melisa? Kenapa dia seperti terus? Apa yang salah dengannya? Batin Tira.
__ADS_1
"Iya, iya Keyza cantik. Kakak akan menjadi Mommy-mu. Asalkan Key bobo sekarang ya? Nurut ya sama Kakak?" ucap Tira.
"Janji?" jari kelingking Keyza diangkat menuju Tira.
"Janji, sayang." Tira tak ada pilihan lain, ia membalas jari kelingking Keyza dengan jarinya, pertanda ia pun berjanji.
Keyza akhirnya dibawa menuju kamar kecil, sebelum ia tidur. Tira terus menemaninya, walau bagaimanapun, Keyza adalah bagian dari hidupnya. Tira sangat menyayangi Keyza, walau tak ada ikatan darah diantara mereka.
Kini, Keyza sedang ditemani oleh Tira. Tira menepuk-nepuk pundaknya agar Keyza segera tidur. Tira terhanyut dalam lamunan, ia sangat tak mengerti dengan hidupnya kali ini. Bagaimana nasibnya nanti? Ia bingung, ia telah berjanji pada Keyza, ia tak mungkin ingkar janji pada anak kecil polos ini.
Apa aku harus menerima Tuan Rangga? Apa aku harus belajar mencintainya? Apa dengannya, aku akan bahagia? Harus bagaimana aku? Kenapa aku bingung sekali, tapi aku pun kasihan pada anak ini, aku tak mungkin membiarkannya seperti ini, setelah ia ditinggalkan oleh orang-orang terkasihnya. Hidupnya sangat malang, kasihan Keyza. Tapi, jika aku menikah dengan Tuan Rangga, mungkinkah aku akan bahagia dengannya? Aku masih belum bisa menata hatiku dengan baik. Apa aku harus menerimanya? Dan mencoba mencintainya. Mungkinkah cinta itu akan datang jika aku mencobanya? Tira merenung.
Setengah jam kemudian, ia keluar dari kamar Keyza. Ia melihat, Rangga masih sibuk dengan televisi dan snack-nya. Tira ingin berbicara pada Rangga, perihal keputusannya. Perlahan, Tira duduk di sofa, ia menatap Rangga, dan Rangga pun membalas tatapannya.
"Tuan..." ucap Tira.
Rangga hanya melihat Tira, ia tak menjawab sapaan Tira padanya. Tira menjadi tak enak diperlakukan seperti ini.
"Tuan, sepertinya..." ucapan Tira terpotong.
Rangga memotong ucapan Tira, "Tira, Aku harus berangkat ke Swiss beberapa hari lagi." ucap Rangga.
"Ada pekerjaan di sana, Tuan?" tanya Tira.
"Iya, aku harus segera berangkat." jawab Rangga.
"Baiklah, Tuan. Saya akan mempersiapkan semuanya," jawab Tira.
Rangga menatap Tira dengan tajam. Wajah Rangga sangat serius, tak ada sedikitpun ekspresi santai di wajahnya.
"Siapkan juga semua baju-baju Keyza." ucap Rangga dingin.
Tira terbelalak, ia tak mengerti, kenapa Rangga berkata bahwa dirinya harus menyiapkan baju-baju Keyza juga.
"Baju-baju Keyza? Kenapa harus baju Keyza, Tuan?" tanya Tira dengan ekspresi yang tak menyangka.
Rangga menatap Tira, "Aku akan pergi bersamanya. Aku akan membawa Keyza pergi liburan." jawab Rangga datar.
"Ta-tapi, kenapa harus semuanya Tuan?" Tira tak mengerti.
"Aku akan menetap di Swiss bersama Keyza. Beberapa hari ini, aku akan mengurus surat-suratnya. Tolong masukan semua baju-bajunya beserta mainannya kedalam koper yang ada di atas lemari." perintah Rangga.
"Ta-tapi kenapa mendadak seperti ini, Tuan?" air mata Tira memenuhi pelupuk matanya.
"Berbahagialah, Tira. Aku akan melepas mu, maafkan aku yang terlalu berambisi untuk mendapatkan mu. Aku menyesali perbuatan ku. Mulai besok, kamu akan terbebas dari belenggu diriku, maafkan aku yang membuatmu kesulitan akhir-akhir ini." Rangga beranjak,
"Tuan, tapi.. Saya akan mencobanya..." Tira tak kuasa menahan tangisnya.
"Aku lelah, aku akan istirahat. Selamat malam." Rangga meninggalkan Tira, dan segera berlalu menuju kamarnya.
Tira berdiri ditempatnya, ia tak kuasa menahan tangisnya. Entah kenapa, rasanya sakit sekali ketika Rangga mengucapkan kata-kata itu padanya. Padahal, Tira memang tak mencintainya, tapi kenapa? Kenapa kala ucapan perpisahan itu telah Rangga katakan, Ia sedih, bahkan sangat sedih. Tira melihat punggung itu berlalu dari hadapannya. Ia sangat shock, tak menyangka, bahwa Rangga akan seperti ini padanya.
*Bersambung*
__ADS_1