Terjerat Cinta Sang Pembantu

Terjerat Cinta Sang Pembantu
DEG


__ADS_3

"Halo?" sapa Tira.


"Halo, Rin. Gimana? Kamu sudah melahirkan belum? Aku khawatir, tadi Davian meneleponku, namun aku sedang sibuk. Davian mengirimi aku pesan, kalau kamu akan melahirkan. Aku menelepon dia kembali, tapi tak diangkat. Syukurlah, kalau kamu yang mengangkatnya."


"Tu-tuan Rangga?" Tira benar-benar kaget mendengar suara itu. Suara yang sangat ia rindukan. Suara yang mengingatkan kebersamaan mereka.


"Ti-Tira?" Rangga pun kaget, mereka bisa saling mendengarkan suaranya satu sama lain.


Sekretaris Dika yang mendengar Tira menyebut nama 'Tuan Rangga' seketika langsung melirik kearah Tira. Dika melihat ekspresi Tira yang terlihat bahagia ketika menyebut nama Rangga. Ia tak ingin mengganggu Tira yang sedang berbincang dengan sekretaris Dika, ia segera pergi meninggalkan Tira seorang diri. Tira yang fokus dengan teleponnya, tak menyadari kepergian sekretaris Dika.


"Maaf, Tuan. Handphone Nona Arini saya yang pegang. Nona sedang di ruang bersalin, ia belum melahirkan, masih kontraksi." jawab Tira.


"Oh, kalau begitu, Davian mana? Aku ingin berbicara dengannya." ucap Rangga.


"Sebentar, Tuan ..." ucap Tira.


Tiba-tiba, Mama Davian keluar dari ruang bersalin, kebetulan sekali, Tira segera memanggil Mama Davian, mungkin saja beliau mau berbicara bersama Rangga.


"Nyonya, ini Tuan Rangga menelepon. Dia ingin berbicara dengan Tuan Davian, tapi saya tidak tahu dimana keberadaan Tuan Davian." ucap Tira.


"Rangga? Serius Rangga menelepon? Sini, berikan padaku, biar aku saja yang berbicara dengannya." ucap Mama Davian.


Tira segera memberikan handphonenya pada Mama Davian. Kebetulan sekali, orang yang sangat ditunggu-tunggu oleh Mama Davian, akhirnya menelepon juga.


"Ga? Halo?" sapa Mam Davian.


"Ya, Kak? Ada apa? Bagaimana keadaan Arini?" tanya Rangga.


"Arini baik, Ga. Namun, sampai saat ini dia belum juga melahirkan. Pembukaannya tak bertambah, masih stay saya. Itu yang kita khawatirkan. Oh iya, ada yang ingin aku bicarakan padamu, Ga." ucap Mama Davian.


"Apa Kak? Sepertinya, tadi juga Davian ingin berbicara padaku. Namun, aku masih sibuk. Ketika aku meneleponnya kembali, dia malah tak mengangkatnya. Apa ini darurat?" tanya Rangga.


"Tidak, begini Ga ... Sebenarnya, aku takut, perihal Arini yang juga belum melahirkan. Aku takut, hal ini ada sangkut pautnya dengan Keyza." ucap Mama Davian.


"Keyza? Kenapa dengan Keyza?" Rangga tak mengerti.


"Gini, kamu ingatkan sejak awak Davian tak pernah menyukai kehadiran Keyza? Davian juga pernah membentak dan memarahi Keyza. Aku takut, hal itu menjadi penyebab Arini sulit melahirkan. Aku takut, hati Keyza sangat terluka karena ucapan Davian. Aku ingin, Davian meminta maaf pada Keyza secara tulus. Aku ingin, Keyza memaafkan Davian, karena aku takut, hati kecil Keyza masih sangat sakit dan tak terima akan perlakuan Davian padanya. Aku hanya takut, ini ada hubungannya dengan Arini yang kesulitan saat akan melahirkan seperti ini." ucap Mama Davian menjelaskan.


"Lalu, apa yang bisa aku bantu? Ya, aku mengerti, itu semacam karma, karena telah menyakiti hati gadis kecilku yang tak berdosa." ucap Rangga.


"Iya, Ga. Aku pun mengira begitu. Makanya, aku ingin Davian meminta maaf pada Keyza, aku ingin Davian memaafkan Keyza karena kesalahan yang Davian lakukan. Apa Keyza ada?" tanya Mama Davian.


"Dia sedang sekolah, karena saat ini dia mulai sekolah. Kalau aku yang datang ke sana, bagaimana?" saran Rangga.


"Apa Ga? Kamu mau datang kesini? Serius kamu?" Mama Davian tak percaya.


"Tentu saja. Aku harus menolong Arini dan Davian. Biarkan Davian meminta maaf pada Keyza secara langsung. Aku akan mencari penerbangan menuju Indonesia dengan waktu paling cepat dan keberangkatannya sebentar lagi. Semoga saja ada," ucap Rangga.


"Ga? Kamu serius? Syukurlah, Kakak senang mendengarnya. Terima kasih, terima kasih banyak kamu mau menolong kedua anakku. Kamu memang baik, Ga." Mama Davian terharu.


"Baiklah,tunggu aku. Aku akan bersiap sekarang juga. Jaga kesehatan kalian, jaga kedua keponakanku, Kak." ucap Rangga.


"Baik, Ga. Kakak pasti menjaga mereka. Terima kasih, adikku ..." Mama Davian bahagia.


"Ku tutup ya,"


"Hati-hati dijalan ya, Ga."


"Iya, Kak."


Telepon pun tertutup. Tira mendengar ucapan Mama Davian dengan Rangga. Ia bisa mengerti, bahwa Rangga akan datang ke Indonesia saat ini.


"Ra, ini handphonenya." ucap Mama Davian.

__ADS_1


"Iya, Nyonya." Tira memasukan kembali handphone milik Arini.


"Ra, aku bahagia, Rangga mau meluangkan waktunya untuk datang kesini. Itu berarti, Davian bisa meminta maaf secara langsung pada Keyza. Tapi, aku tetap berharap, semoga saja, sebelum Rangga datang, bayi Arini dan Davian telah lahir. Aku hanya terlalu khawatir pada kesehatan Arini, menantuku. Aku takut akan karma itu," ucap Mama Davian.


"Iya, Nyonya. Keputusan Nyonya meminta Tuan Davian meminta maaf pada Nona Keyza sudah benar, karena hati anak sekecil itu, masih sangat bersih, jika kita menyakitinya, itu berarti kita mengotori hati dan perasaannya. Mungkin, anak kecil tak terlihat dendam atau marah, namun jika seorang anak kecil dibentak dan dimarahi, akan berpengaruh pada psikisnya." jelas Tira.


"Betul, Tira. Itulah maksudku. Aku harus segera memberi tahu Davian, dimana ya dia? Ah, tapi biarlah. Aku harus menemani Arini, dia lebih penting saat ini." Mama Davian kembali masuk ke ruang bersalin.


Tiba-tiba, ketika Mama Davian telah masuk kedalam, Mita dan Alif keluar, karena mereka tak mungkin berlama-lama berada didalam ruang bersalin. Mita dan Alif lapar, mereka ingin makan. Mereka mengajak Tira untuk pergi mengantar mereka ke kantin.


"Kak Tira, Alif lapar!" ucap Alif.


"Mita juga, Kak. Anter kita ke kantin yuk?" ajak Mita.


Tira tersenyum, "Ayo, Kakak antar. Kantinnya dekat sini, kok."


Tira, Mita dan alif segera bergegas ke kantin. Saat berjalan menuju kantin, Tira teringat pada sekretaris Dika. Ia ingat, tadi saat Rangga menelepon, sekretaris Dika masih ada, namun saat selesai menelepon, sekretaris Dika sudah tak ada. Tira memutuskan akan mencari sekretaris Dika setelah mengantar Alif dan Mita menuju kantin.


"Kalian mau makan apa? Tuh, lihat banyak menunya!" seru Tira.


"Aku mau mie ayam aja, Kak." ucap Mita.


"Alif juga mau mie ayam, tapi sama jus mangga!" seru Alif.


"Baiklah, akan kakak pesankan ya, Mita mau jus apa?" tanya Tira.


"Mita mau jus alpukat aja, Kak." jawab Mita.


"Oke, tunggu ya ..."


Tira memesankan makanan untuk kedua adik Arini. Ia tak ikut memesan, karena ia akan mencari sekretaris Dika dulu. Setelah ia menemukan sekretaris Dika, ia akan segera mengajaknya untuk makan bersama. Tak lama, pesanan pun datang, Mita dan Alif sangat bahagia karena bisa menuntaskan rasa laparnya.


"Kalian makan berdua disini ya, jangan kemana-mana kalau sudah selesai. Kakak akan mencari Kak Dika dulu, nanti kakak kesini lagi. Oke?" ucap Tira.


Tira segera berlalu mencari sekretaris Dika. Ia berjalan di sekitar halaman Rumah sakit, semoga saja bertemu dengan sekretaris Dika. Ternyata, tak perlu memakan waktu lama untuk menemukan sekretaris Dika, karena penampilannya yang sangat berbeda dengan kebanyakan orang, ia jadi mudah ditemukan.


Sekretaris Dika menggunakan jas hitam dan dasi, ia terlihat sangat formal, ditambah dengan sepatu pantofelnya. Lengkap dengan kacamata yang menempel di kepalanya, membuat sekretaris Dika terlihat sangat keren dan gagah. Tira segera mendekati sekretaris Dika yang sedang duduk di halaman Rumah sakit.


"Dik, Dika!" sapa Tira.


Sekretaris Dika menoleh, "Ya, ada apa?"


"Mita sama Alif lagi makan di kantin. Kita ikut makan yuk?" ajak Tira.


"Aku belum lapar, kamu saja." jawab sekretaris Dika datar.


"Kok kamu gitu sih?" Tira sedikit kecewa.


Tiba-tiba, handphone sekretaris Dika berdering, "Maaf, aku angkat telepon dulu."


"Ya, silahkan." jawab Tira.


Sekretaris Dika tak beranjak, ia tetap duduk di tempatnya.


"Halo, Nad? Ada apa?" sapa sekretaris Dika di gawainya.


"Oh, baiklah. Aku akan segera menjemputmu sekarang. Tunggu aku, lima belas menit aku sampai di sana." ucapnya.


"Yaa, see u Nad." ucap sekretaris Dika mematikan teleponnya.


Tira menatap sekretaris Dika dengan tajam. Ia tahu, mungkin Nadya yang menelepon dan sekretaris Dika akan menjemput Nadya.


"Maaf, Ra. Aku harus menjemput Nadya. Dia akan kesini sekarang," ucap sekretaris Dika.

__ADS_1


"Oh, begitu. Baiklah ..." Tira tak bisa berkata apa-apa lagi.


"Ya, aku berangkat." sekretaris Dika berlalu meninggalkan Tira.


Rasanya, sangat dingin dan cuek sekali sikap sekretaris Dika pada Tira saat ini. Namun, Tira hanya bisa terdiam melihat sifat dingin sekretaris Dika padanya. Ia memutuskan untuk kembali ke kantin, menemani Alif dan Mita yang sedang makan.


Tiba-tiba, dalam perjalanannya menuju ke kantin, handphone Arini berbunyi, tanda panggilan masuk. Tira segera membuka lagi ponsel Arini, ternyata nomor tak dikenal memanggilnya lagi. Ia teringat, itu adalah nomor Rangga yang tadi meneleponnya. Ketika Tira mengangkatnya, teleponnya malah dimatikan. Tira pun aneh, ia tak mengerti, mungkinkah sinyal yang membuat teleponnya terputus?


📩 pesan masuk


Kalau handphone ini masih di tanganmu, balas pesanku! -Rangga-


Tira kaget. Benar saja, itu adalah nomor Rangga. Ia bingung, tapi pesan Rangga sepertinya memang untuk Tira, karena kata-katanya tak mungkin untuk Arini, jika seperti itu. Tira ragu, ia tak mau membalasnya, karena ia tak berani memakai handphone Arini seenaknya.


📩 pesan masuk


Balas, aku tahu kamu membacanya. Balas sekarang!


Deg. Rangga memang tahu jika Tira membacanya. Dengan tangan bergetar, pelan-pelan ia membalas pesan Rangga. Ia berjanji, akan menghapus pesan itu jika telah selesai.


📨 Kirim pesan


Ya, Tuan. Ini saya ...


📩 Pesan masuk


Benar dugaan ku. Apa kau tahu, apa alasanku akan datang ke Indonesia?


📨 Kirim pesan


Untuk mempertemukan Keyza dengan Tuan Davian, Tuan. Bukan begitu?


📩 Pesan masuk


Itu salah satunya. Alasan yang utama, apa kau tahu?


📨 Kirim pesan


Tidak, Tuan. Memangnya apa?


📩 Pesan masuk


Karena aku mendengar suaramu di telepon. Jantungku hampir meledak ketika aku mendengar suara itu lagi. Aku memutuskan untuk datang, aku ingin menemui mu, aku merindukanmu.


Hati Tira rasanya mau meledak ketika Rangga mengetik pesan seperti itu padanya. Ada perasaan senang, sedih dan bahagia ketika orang yang dirindukannya mengetik hal semanis itu padanya.


Ya Tuhan, aku harus membalas apa? Aku bingung membalasnya. Kenapa jantungku tiba-tiba berdegup kencang? Tuan Rangga, apakah ini suatu kerinduan?


📩 Pesan masuk


Kenapa tak membalasnya?


📨 Kirim pesan


Ah, iya Tuan. Terima kasih banyak.


📩 Pesan masuk


Tunggu aku, aku akan segera bertemu denganmu dalam hitungan jam.


Deg.


*Bersambung*

__ADS_1


__ADS_2