
Mobil sedan hitam yang baru saja terparkir dipinggir gerbang itu, melihat dua insan yang sedang berpelukan. Ia enggan keluar dari mobilnya, karena tak mau mengganggu mereka berdua. Walaupun, dalam hatinya ia sangat kesal dan merasa sedih.Ya, sekretaris Dika melihat Tira dipeluk Rangga. Ia laki-laki, namun ia tak bisa berbuat apa-apa.
Bukan tak mau memperjuangkan Tira. Bukan tak mau merebut Tira dari Rangga. Ia menghormati Rangga sebagai atasannya juga. Ia begitu tahu, bahwa Rangga sangat ingin memiliki Tira. Sekretaris Dika tahu, perasaannya pada Tira hanya sebuah perasaan kagum karena Tira sangat cantik dan berbeda dari kebanyakan wanita yang pecicilan dan selalu mengganggunya.
Memang, ku akui aku tak ada apa-apanya dibanding dengan Tuan Rangga. Aku harus merelakannya, agar dia lebih bahagia. Kehidupannya lebih terjamin jika bersama Tuan Rangga. Dia tak akan bahagia jika bersamaku. Dia pasti akan sering aku tinggal, karena tugasku mengabdi pada Bos Davian yang notabene adalah orang sibuk. Biarlah, aku mengalah, tapi bukan untuk kalah. Mengalah demi kebahagiaan wanita yang aku sukai. Batin Sekretaris Dika.
Ia enggan keluar. Ia memutuskan untuk tidur didalam mobilnya, karena ia tahu, Rangga pasti akan menemui Davian. Ia tak mau bertemu dengan mereka. Sekretaris Dika ingin menata dulu hatinya yang sedang kusut.
...🍂🍂🍂...
"Non, terima kasih banyak, karena Nona saya bisa diajak Tuan Rangga pulang ke Indonesia. Padahal, say harusnya pulang satu tahun lagi." ucap Rita.
"Eh, kenapa makasih sama saya, Mbak? Dan juga, jangan panggil saya Non, saya hanya pembantu disini." jelas Tira.
"Karena Pak Bos bilang, dia ingin pulang karena Nona Tira, karena Nona Tira membuat suasana hati Bos membaik dan bahagia. Karena itulah, dia kasihan pada saya, dan mengajak saya untuk pulang ke Indonesia. Makasih banyak ya sekali lagi." Rita terus berterima kasih.
"Ah, i-iya sama-sama. Ngomong-ngomong, Mbak Rita mau lihat bayi Nona Arini juga ya?" tanya Tira.
"Iya, say diminta Bos untuk bertemu keponakannya juga." jawab Rita.
Untuk apa Tuan Rangga membawa Mbak Rita bertemu Nona Arini? Bukankah mereka tak ada hubungan apa-apa? Mengapa aku merasa ada yang aneh pada Mbak Rita ini? Batin Arini.
Tiba-tiba, Rangga dan Keyza menyusul dari belakang. Rangga memanggil-manggil Tira, karena ada hal yang harus Rangga bicarakan.
"Ra, tunggu." ucap Rangga.
"Ya, Tuan? Kenapa?"
"Jangan dulu ke ruangan Arini sekarang. Davian barusan nelepon, Arini sedang diperiksa oleh Dokter. Katanya, beberapa jam lagi diperbolehkan pulang. Kita makan siang saja dulu, nanti baru ke ruangan Arini." jelas Rangga.
"Oh, baiklah kalau begitu."
"Ayah, Key mau beli es krim. Boleh, ya?" pinta Keyza.
__ADS_1
"Boleh, sayang. Ayo, kita beli sekarang!" ajak Rangga.
"Oh, makan dulu ya Bos? Baiklah." Rita menurut.
Mereka menunda untuk bertemu dengan Arini dan bayinya. Karena, Arini sedang diperiksa oleh Dokter dan perawat. Davian selalu setia menemani Arini dan bayinya. Sesekali, ia belajar menggendong bayinya, diajari oleh suster dan juga Dokter Tika.
"Oya, Nona ... Karena Nona melahirkan dengan baik, tak perlu rawat inap, sore ini juga bisa pulang. Bayi pun sehat, hanya jaga tali pusarnya agar tak terjadi infeksi. Bersihkan dengan kain kassa, lalu tutup bagian tali pusar, namun jangan terlalu kencang. Dalam beberapa hari, pasti akan mengering." ucap Dokter Tika.
"Baik, Dok. Makasih. Bagaimana dengan perawatan istri saya pasca melahirkan?" tanya Davian.
"Tentunya, selagi masih masa nifas, Nona Arini tak boleh terlalu banyak beraktifitas. Biarkan tubuhnya istirahat dulu. apalagi, Nona Arini mendapatkan episiotomi pada jalan lahirnya, tak boleh banyak gerak, agar luka jahitnya cepat sembuh dan mengering." jelas Dokter Tika.
"Ya, Dok. Tapi, itu tak berbahaya kan untuk masa depan kami?" ucap Davian ragu.
Arini melotot pada Davian, karena Davian sangat memalukan. Davian pura-pura tak melihat Arini, karena ia takut dengan mata tajam Arini yang terus memperhatikannya.
Dokter Tika tersenyum, "Tentu saja tidak berbahaya, karena benang jahit yang digunakan akan menyatu dengan daging. Tuan hanya perlu menunggunya sampai kering dan masa depan tetap bisa berlanjut."
"40 hari kan, Dok?" tanya Davian.
Gila, 3 bulan? Lama bener! Dok, apa Dokter gak kasihan sama junior gue? Tega banget bilang 3 bulan. Dua bulan mending lah, Oke gue terima. Tapi, 3 bulan, bro? Bayanginnya aja udah kesel gue. Tapi, demi kesembuhan dan kesehatan Arini, istriku. Aku akan sanggup menghadapinya. Segala rintangan dan cobaan, akan aku lalui dengan tabah dan sepenuh hati. Aku tetap berharap, tiga bulan hanya seperti tiga hari saja. Amin. Gumam Davian dalam hati.
"Dok, kalau ASI saya sedikit, apa boleh saya gunakan susu formula?" tanya Dokter Tika.
"Kalau ingin ASI eksklusif selama enam bulan, tak perlu gunakan susu formula. Karena, ASI itu, semakin sering dihisap oleh bayi, akan semakin banyak produksinya. Mungkin sekarang masih sedikit, karena bayi pun belum pintar menyusu. Nanti, jika sudah pintar, ASI akan banyak dengan sendirinya. Saya menyarankan susu formula digunakan untuk usia satu tahun keatas saja." ucap Dokter Tika.
"Apa tidak akan lapar Dok bayinya?" tanya Arini.
"Lambung bayi baru lahir itu hanya sebesar buah ceri. Sangat kecil sekali. Ia tak akan kelaparan walaupun ASI kita sedikit, ini pemahaman yang harus di pahami. Jangan memberikan makanan selain ASI untuk bayi dibawah enam bulan, karena lambungnya masih kecil dan juga sensitif." jelas Dokter Tika.
"Oh, begitu ya Dok. Baiklah, saya mengerti. Terima kasih atas pencerahannya ya," ujar Arini.
"Sama-sama. Kalau begitu, silahkan persiapkan kepulangan kalian, jam empat sore kalian bisa pulang." jelas Dokter Tika.
__ADS_1
"Terima kasih banyak, Dok atas semua ilmunya." Davian tersenyum.
"Baiklah, saya permisi dulu ya," Dokter Tika berlalu.
Ternyata, Rangga dan yang lainnya sudah menunggu diluar. Ketika Dokter Tika keluar, mereka semua langsung masuk kedalam ruangan. Rangga menyapa Davian dan Arini, serta mengucapkan selamat kepada mereka berdua.
"Selamat ya, sorry gue telat. Hallo Baby Boy, nanti ya kadonya!" Rangga tersenyum.
"Makasih, Bang. Padahal Abang tak perlu repot-repot seperti ini." ucap Arini.
Davian melihat sosok Sita yang datang bersama Rangga. Davian tak mengerti, kenapa ada wanita yang turut bersama Rangga dan juga Tira.
"Ga, lu bawa siapa?" tanya Davian.
"Eh iya, gue lupa. Gini lho, dia adalah Sita, pelayan sekaligus penjaga Keyza saat gue di Swiss. Gue bawa dia pulang, karena dia sudah merindukan keluarganya. Jadi gini, Sita ini memutuskan untuk tidak bekerja menjadi TKW lagi di Swiss. Dia ingin bekerja saja di Indonesia. Kalian kan sekarang baru punya bayi, pasti kalian membutuhkan baby sitter bukan?" tanya Rangga.
Tira seketika melirik kearah Rangga. Baby sitter bayi Davian dan Arini jelas-jelas adalah Tira. Kenapa Rangga harus berkata seperti itu? Tira tak mengerti.
"Kan ada Tira, dia yang akan mengasuh dan menjaga bayi gue." ucap Davian.
Rangga terdiam. Ia berbalik, menatap Tira. Tak lama, ia berjalan mendekati Tira, lalu Rangga memegang tangan Tira dan mendekatkannya pada Davian dan Arini.
"Eh, Tu-tuan, ada apa ini?" Tira sangat tak nyaman.
"Dav, gue gak akan izinin Tira menjadi baby sitter lagi. Gue akan mengambil Tira kembali. Maaf, jika ini membingungkan kalian. Gue udah punya pengganti untuk pengasuh kalian, dan gue percaya sama Mbak Sita. Kalian gak perlu khawatir. Gue jamin, dia bisa bekerja dan menyayangi bayi kalian dengan tulus." ucap Rangga.
"Eh, Tuan! A-apa, maksudnya!" Tira kesal.
"Oh, ya ya. Lalu?" Davian memperhatikan.
Arini hanya mendengarkan. Arini sepertinya tahu, kemana arah pembicaraan Rangga berlangsung.
"Gue mau jadikan Tira baby sitter di hati gue. Agar Tira bisa menjaga hati dan perasaan gue. Gue juga pengen, Tira bisa menyayangi gue, seperti baby sitter yang menyayangi anak asuhnya ..."
__ADS_1
Tira terdiam. Tak bisa berkata apa-apa lagi. Ia shock, Rangga mengucapkan hal yang berada diluar dugaannya.
*Bersambung*