
Davian tetap tak mengizinkan Arini pergi camping. Karena, Arini menolak mencium Davian didepan umum. Karena kesal, tanpa basa-basi lagi Davian tetap berkata TIDAK pada Arini. Arini mengejar Davian, karena langkah Davian terlalu cepat.
Davian segera naik ke mobilnya, lalu Arini mengikuti dari belakang. Arini kesal, Davian begitu keras kepala. Sulit sekali membujuk Tuannya itu. Kini, Arini dan Davian sudah berada didalam mobil.
"Tuan, kenapa sih jalannya cepet banget? Aku capek tau!" gerutu Arini
"Elu nya aja yang lelet." jawab Davian datar
"Jelas-jelas, Tuan yang kecepetan." balas Arini
"Udah, berisik."
Arini tak menjawab. Ia benar-benar kesal ditinggalkan oleh Davian. Namun, jika Arini terus menerus kesal, Davian pasti tetap keras kepala juga, dan tak akan mengizinkan Arini pergi camping.
"Tuan?"
"Hem?"
"Tuan marah ya?"
"Diem, gue mau nyetir." jawab Davian malas
Arini menahan stir mobil Davian. Lalu, Arini menatap Davian. Davian membalas menatap Arini. Mata mereka saling bertatapan penuh tanya.
"Lepasin. Kita pulang sekarang." ucap Davian
"Tunggu dulu, aku belum selesai bicara." Arini tetap menahan
"Bicara apalagi?"
"Pokoknya jangan dulu berangkat. Aku harus bicara sama Tuan." pinta Arini
"Ya sudah, lepasin dulu tangan lu dari stir gue!!!"
Arini melepaskan tangannya dari kemudi stir mobil Davian. Arini menatap Davian dengan tajam.
"Apa alasan Tuan tak mengizinkan aku pergi camping?" tanya Arini
__ADS_1
"Suka-suka gue. Mau ngizinin, mau enggak, itu urusan gue! Tugas lu cuma patuh sama ucapan gue." jelas Davian
"Kenapa hanya camping saja tidak boleh? Lagipula, aku bukan istri sungguhan Tuan kan? Aku hanya kehidupan sandiwara mu! Kenapa Tuan harus melarang saya pergi?" tanya Arini merasa tak puas dengan jawaban Davian
"Lu mau tahu alasan gue?" tanya Davian
"Tentu saja, karena aku ingin sekali pergi camping menemani Alif." jawab Arini
"Terserah kalau lu maksa." jawab Davian
"Kenapa Tuan jadi dingin seperti ini?" tanya Arini lagi
"Gue bener-bener heran sama lu! Gue nolak, lu terus aja berisik maksa-maksa gue buat ngizinin. Setelah gue izinin lu pergi, kenapa lu masih juga berisik? Apa emang mulut lu itu gak bisa diem?" Davian marah
"Apa salah aku? Aku hanya ingin camping! Kenapa harus ga boleh? Aku hanya tak puas mendengar jawaban Tuan. Makanya aku terus bertanya." Arini membela diri
"Lu boleh pergi sesuka hati lu, kemanapun lu mau, lu bebas pergi. Puas? Udah, kita balik sekarang. Gue capek."
Arini kesal. Davian malah berkata seperti itu. Arini tak suka Davian memberi izin namun kesannya terpaksa. Arini memegang tangan Davian. Davian kaget melihat tangannya dipegang Arini.
"Tuan! Kenapa harus marah begini? Saya hanya ingin tahu, alasan Tuan tak mengizinkan saya pergi. Lagipula, saya bukan istri Tuan yang sesungguhnya. Untuk apa Tuan melarang-larang saya?" Arini tersulut emosi
Arini terdiam. Ia enggan menjawab perkataan Davian. Arini malu, Davian mengalah dan mengizinkannya. Namun, kenapa hati Arini tak tenang meskipun Davian telah mengizinkannya pergi?
"Tuan, maafkan saya." Arini menyadari kesalahannya.
"Lu nggak salah kok."
Davian mulai memajukan mobilnya. Davian fokus menyetir, sehingga tak memperhatikan Arini. Davian tak ingin terus membahas masalah camping dengan Arini. Biarkan Arini sesuka hatinya.
Gue sadar, gue siapa. Gue malu, ketika lu bilang lu hanya istri sandiwara gue. Gue terlalu mengekang kehidupan pribadi lo. Emang gue harus tahu diri, sejauh mana hubungan kita. Gue jangan pernah berharap lebih dengan cinta ini. Percuma aja. Semuanya akan sia-sia. Davian dalam hati.
Mereka terdiam sepanjang perjalanan. Tak ada yang berbicara sepatah kata apapun. Arini jadi serba salah, ia merasa dirinya terlalu memaksakan diri. Ia membuat Davian kesal dengan memberi pertanyaan bertubi-tubi.
"Tuan jangan marah sama saya." ucap Arini
"Nggak, kok." jawab Davian
__ADS_1
"Tuan, Bohong! Saya tahu, kalau Tuan kesal sama saya." jawab Arini
"Kenapa gue harus kesel sama lu?" tanya Davian
"Gara-gara saya maksa Tuan, buat ikut camping, dan nanya terus alasan Tuan melarang saya." ucap Arini
"Iya, maaf. Gue nggak ngertiin lo. Sekarang, gue udah izinin lo pergi kok. Pergi aja, hati-hati dijalan nanti. Jaga kesehatan." ucap Davian
Arini merasa makin tak enak karena Davian berkata begitu. perasaannya jadi tak tenang. Arini tak menyangka, ternyata Davian bisa marah juga. Arini yakin, Davian mengizinkan ia pergi, tidak dengan sepenuh hatinya.
Arini dan Davian telah sampai di depan gerbang rumah besar Davian. Arini menahan Davian lagi, ia belum tenang kalau Davian seperti ini padanya.
"Tuan, aku tahu, Tuan tidak ikhlas mengizinkan aku pergi." ucap Arini
"Sudah pergi saja, lagipula kita tak ada hubungan apa-apa kan? Lu hanya istri sandiwara gue. Gue nggak ada hak untuk ngelarang elu. Bener apa kata elu tadi. Sorry, gue terlalu menghayati peran kita sebagai pasangan suami istri. Gue lupa, kalau ini hanya sandiwara."
Bagaikan tertusuk duri, sedikit namun menyakitkan. Ucapan Davian sangat halus, namun membuat hati Arini sakit. Bukan maksud Arini berkata yang menyakiti hati Davian, Arini hanya bermaksud agar Davian mengizinkannya pergi camping.
Kalau Arini tahu semuanya akan menjadi serumit ini, mungkin lebih baik ia paksakan saja tadi mencium Davian. Agar Davian mengizinkannya dan tak marah seperti ini.
"Aku tahu, rumah tangga kita memang hanya sandiwara. Tapi, ketika Tuan berkata seperti itu, hatiku rasanya sakit sekali. Entah kenapa, aku tak sanggup mendengarnya. Aku hanya ingin Tuan mengizinkanku dengan tulus, bukan seperti itu." jawab Arini
"Gue udah izinin lu pergi, Rin! Harus gimana lagi?"
"Tapi, Tuan tak ikhlas mengizinkanku pergi.Tuan masih kesal denganku." ucap Arini
"Gue ikhlas lu pergi, pergi aja. Gue gak akan larang lo apapun lagi. Gue udah tahu batasan gue sama elu. Kita hanya sebatas sandiwara, sekarang gue sadar, gue nggak terlalu menghayati peran ini lagi. Gue berterima kasih sama lu, karena elu, gue jadi sadar atas pernikahan sandiwara ini." jelas Davian
"Aku merasa hangat karena pernikahan sandiwara ini. Justru, ketika Tuan melarang ku, aku merasa diperhatikan. Lebih baik sifat Tuan pada saya, seperti tadi saja. Jangan seperti ini. Maafkan kalau aku lancang." ucap Arini
"Lu emang bikin gue bingung. Gue udah sadar, malah lu suruh kayak tadi lagi. Gue paham sekarang, apapun lo lalukan, sesuka hati lo, Rin. Gue hanya butuh lu untuk meeting bersama investor asing. Nanti, gue beri tahu elu waktunya. Dan juga, untuk ruangan tidur, lu bisa kembali tidur dikamar lu, gak usah dikamar gue lagi. Lu seperti biasa menjadi pelayan gue. Oke, Rin?" Davian menguatkan diri
"Tuan, kenapa hatiku sakit mendengar ucapan Tuan yang seperti ini?" Arini sedih
*Bersambung*
Halo, jangan lupa dukungannya untuk cerita ini ya. Like, komen dan vote juga 🤗
__ADS_1
Maaf kalau updatenya telat ya, karena aku nulis dua novel sekaligus, dua-duanya on going. Kalau kalian tahu, betapa sulitnya menulis, pasti mengerti deh. Maafkan aku kalau telat, tapi aku pasti posting setiap hari. kalau sibuk, pasti sehari sekali episode, karena DCPK juga sehari se episode. kalau lagi ngebut sehari 4 episode juga ku sanggup kalo keadaan memungkinkan hehehe. DCPK 2, Arini 2 episode juha. Klo sekarang kayaknya nggak, hari minggu suka banyak kegiatan huhuhu
I love u all 😍😍😍 setia menemani Arini dan Davian ya 😘😘😘