Terjerat Cinta Sang Pembantu

Terjerat Cinta Sang Pembantu
Positif kah?


__ADS_3

Dengan semangat dan rasa bersalah yang mendalam, Rangga segera melajukan mobilnya dengan cepat. Ia menyesal telah menggerutu pada Tira, karena ia sama sekali tak tahu, jika penyebab Tira seperti itu adalah kemungkinan Tira sedang hamil.


Kenapa aku bodoh sekali? Kenapa aku bisa tak menyangka kalau Tira hamil ya? Padahal, dari perlakuannya saja sudah jelas berubah, dan memang bukan Tira yang seperti biasanya. Sayangnya, aku dan Ibu tak terlalu dekat, sehingga sulit untukku bisa berbagi dan bertanya padanya. Batin Rangga.


Rangga berlari, agar ia bisa segera menuju lift. Karena ia sudah tak sabar ingin segera bertemu dengan Tira. Rangga malu telah kesal pada Tira, padahal Tira seperti itu mungkin saja bawaan bayi. Bodohnya dia, yang tak peka sama sekali akan hal ini. Rasa lelahnya menghilang karena ia sangat bahagia jika benar Tira hamil.


Pintu apartemen dibuka Rangga dengan sigap. Betapa kagetnya Rangga, melihat rumah bersih, dan sangat-sangat bersih. Mulai dari meja yang di lap, debu-debu yang hinggap kini tak ada, lantai yang telah di pel sangat kinclong, begitu juga dengan jendela-jendela yang terlihat sangat bersih.


Betapa kagetnya Rangga, padahal seingatnya, ia tak membersihkan semua itu. Ia hanya menyapu lantai, mencuci piring, dan membersihkan sisa makanan dan bungkus makanan yang berserakan di meja. Ia segera masuk kedalam dan mencari keberadaan Tira. Rangga pun kaget, melihat gorden jendela yang telah diganti baru, semuanya di ganti baru.


Rangga melihat Tira tak ada di kamarnya. Melihat di kamar Keyza pun tak ada, hanya Keyza sendirian yang sedang tertidur pulas. Ia mencari ke ruang keluarga pun tak ada. Tempat terakhir yang Rangga tuju adalah dapur dan kamar mandi. Sungguh tak percaya, ketika Rangga melihat Tira yang sedang mencuci gorden jendela dan selimut serta sprei.


Itu pekerjaan berat yang tak seharusnya Tira lakukan. Mencuci pakaian berat seperti itu adalah tugas laundry. Tira memegangi perutnya yang keram. Perut Tira melilit karena mengangkat barang yang besar. Cucian pun juga berat-berat semua.


"Sayang! Ya ampun. Kenapa kamu melakukan semua ini ha?" Rangga langsung berlari dan memeluk Tira.


"Aku membersihkan rumah sesuai instruksi yang kamu suruh!" jawab Tira sambil terus memegangi perutnya.


"Sudah, ayo! Tinggalkan semua pekerjaan berat ini. Kenapa kamu memaksakan diri seperti Ra? Aku minta maaf, semua ini karena ulahku." Rangga menyesal.


Tira tak menjawab. Ia merasakan perutnya keram dan begah. Entah kenapa perut Tira sangat melilit. Tak seperti biasanya. Tira terus memegangi perutnya karena rasa sakit yang melilit membuatnya tak tahan.


"Sayang! Perut kamu sakit? Iya? Astaga, aku khawatir. Ayo, berbaringlah. Aku akan segera menelepon dokter agar ia segera datang kesini. Ya ampun sayang, maafkan aku. Maafkan ucapanku yang membuatmu sakit hati. Aku sungguh tak menyangka akan seperti ini jadinya." Rangga membaringkan Tira dan mengusap tangannya.


Rangga segera menelepon Dokter Tika, Dokter kandungan kepercayaan keluarga Raharsya. Tira tak mengerti, kenapa Rangga malah menelepon Dokter kandungan. Padahal, ia hanya sakit perut.


"Kenapa harus menelepon Dokter kandungan? Kenapa tidak Dokter umum saja?" tanya Tira.


"Gak apa-apa. Sayang, maafkan aku yang membuatmu kesal ya, aku menyesal sayang. Kamu tak seharusnya membersihkan semuanya. Kenapa kamu malah mendengarkan ucapanku?" Rangga mengecup tangan Tira berkali-kali.


"Aku hanya berusaha menjadi istri seperti yang kamu minta. Mungkin aku salah, karena akhir-akhir ini aku terlalu malas untuk membersihkan rumah Tapi, asal kamu tahu, aku mempunyai alasan untuk itu. Tubuhku lemas, walaupun aku tak sakit. Tubuhku hanya ingin aku berbaring dan tak melakukan aktifitas apapun. Maafkan aku, jika aku tak bisa menjadi istri yang baik si matamu!" ucapan Tira penuh makna.


Rangga menghela nafas, ia mengusap rambut Tira yang berkeringat karena telah melakukan aktifitas berat, "Sayang, sudah. Aku tahu, kenapa kamu seperti ini. Maafkan aku yang tak peka akan semua ini. Aku sangat menyesalkan hal ini karena kamu bekerja terlalu berat seperti itu. Apa perutnya masih sakit?" Rangga memegang perut Tira.

__ADS_1


"Sedikit, aku gak apa-apa kok. Aku harus segera menyelesaikan pekerjaanku. Maafkan aku yang terlalu leha-leha." Tira akan bangun, namun Rangga menahannya.


"Tidak, tidak. Kamu jangan melakukan aktifitas berat lagi. Kamu harus istirahat. Biarkan, biar aku yang menyelesaikan pekerjaan itu. Aku akan mencari pembantu sesegera mungkin, agar kamu tak perlu susah payah mengerjakan semua ini. Kumohon, kamu jangan menolak. Karena aku akan memaksa, aku tak ingin mendengar penolakan mu, Ra."


Beberapa menit kemudian, pintu apartemen berbunyi. Rangga segera membuka pintunya. Ternyata, Dokter Tika sudah tiba. Rangga mempersilahkan Dokter Tika masuk dan segera mengajaknya menuju kamar dimana Tira berbaring karena kelelahan.


"Wah, ternyata Nona Tira cantik juga ya walaupun tanpa make up. Waktu itu, saya hanya lihat di pelaminan kalian saja." Dokter Tika tersenyum.


"Ah, makasih Dok." Tira ramah.


"Kenapa ini?" Dokter Tika meraba-raba perut Tira.


"Aku kelelahan, Dok. Perutku tiba-tiba sakit. Seperti keram dan begah," ujar Tira.


Dokter Tika memeriksa menggunakan stetoskopnya. Rangga harap-harap cemas dan berharap agar ucapan Davian tadi itu benar. Rangga ingin Tira hamil.


"Nona Tira jadwal haidnya kapan?" tanya Dokter Tika.


Rangga kaget mendengar ucapan Tira. Itulah hal sepele yang tak Rangga tanyakan pada Tira. Tira sudah telat satu minggu. Berarti, kemungkinan besar Tira hamil, tentu saja ada. Rangga yang mendengarnya sangat bahagia dan antusias sekali.


Dokter Tika menyuruh Tira menggunakan testpack, karena Dokter Tika menduga bahwa Tira tengah hamil. Tira pun kaget, ia tak kepikiran sama sekali kalau dirinya akan hamil secepat ini. Tira pun beranjak dan menggunakan testpack tersebut. Beberapa menit kemudian, Tira keluar dari kamar mandi dan menyerahkan hasil testpack nya pada Dokter Tika.


Dokter Tika tersenyum melihat Rangga dan Tira, "Wah, selamat ya. Garisnya dua. Nona Tira positif hamil ..."


"Ha? Saya hamil, Dok? Ya ampun, Alhamdulillah. Saya gak nyangka. Secepat ini saya diberi kepercayaan." Tira mengucap syukur.


"Alhamdulillah Dok, saya sangat bahagia mendengarnya. Walaupun saya sangat merasa bersalah, karena daya sempat mengeluh bahwa istri saya malas, tak mau beres-beres rumah." Rangga jujur pada Dokter Tika.


"Tentu saja pada Ibu hamil akan merubah hormonnya. Itu hal yang wajar jika istri malas dan inginnya tiduran saja, itu bawaan bayi. Setiap bayi, punya perbawa masing-masing. Baiklah, saya akan meresepkan obat untuk Nona Tira ya, karena ini hamil pertama, saya mohon jangan biarkan Nona Tira melakukan aktifitas berat, karena kandungannya masih sangat rentan." saran Dokter Tika.


"Baik, Dok. Tentu saja. Terima kasih," Rangga tersenyum.


"Dok, makasih banyak." Tira tersenyum.

__ADS_1


Setelah Dokter Tika selesai memberikan resep untuk Tira, ia pun berlalu. Rangga merasa menyesal telah memarahi Tira. Kalau saja dia tahu, bahwa itu perbawa bayi, mungkin Rangga tak akan seperti ini. Rangga sangat menyesali perbuatannya.


"Sayang, maafin aku ya. Aku nyesel, udah buat kamu kecewa." Rangga duduk di ranjang.


"Iya, gak apa-apa kok. Maafin aku juga, yang males-malesan. Aku juga gak ngerti kenapa aku males banget akhir-akhir ini." jelas Tira.


"Baiklah, sekarang aku akan cari pembantu untuk membantu kamu di rumah." ucap Rangga.


"Tapi, aku punya syaratnya!" tegas Tira.


"Syarat? Syarat apa itu?"


"Pembantunya harus berusia 35 tahun ke atas. Jangan yang masih muda, dan juga, pembantunya jangan yang banyak bicara. Awas aja kalo Abang bawa pembantu daun muda." ancam Tira.


"Loh, kasihan kan kalo udah berumur, pasti capek. Aku niatnya cari yang usia 25-30 aja, yang." ucap Rangga.


"GAK! AKU GAK SETUJU! Aku takut Abang diambil pembantu. Aku takut Abang juga genit sama pembantunya kalau ternyata pembantunya masih muda. Abang juga tergoda kan sama aku! Walaupun aku hanya pembantu." sindir Tira.


Rangga tak tahan ingin tertawa, "Ya ampun, sayang. Hormon kehamilan itu memang luar biasa. Seneng banget aku, kamu jadi cemburuan gini. Istriku yang cuek kini jadi cemburuan. Wah, seneng banget aku. Rasanya, aku pengen punya banyak anak aja deh!" celetuk Rangga.


"Eh, apa maksud kamu? Dikira hamil itu enak apa, banyak kesulitannya tahu."


"Aku pengen dicemburuin terus sama kamu. Makanya, kita punya banyak anak aja. Ya? Biar kamu cemburu terus kayak gini." Rangga tersenyum nakal.


Tira mencubit lengan Rangga hingga Rangga kesakitan.


"Aww, sakit yang. Duh ampun! Baiklah, baiklah, aku akan mencari pembantu yang sudah berumur. Uh, sakit banget cubitan kamu!" Rangga kesakitan.


"Awas aja kalo pembantunya gak sesuai sama kriteria yang aku sebutkan tadi." Tira melotot.


"Ah, iya iya sayang. Aku akan menuruti keinginanmu." Rangga mengalah.


*Bersambung*

__ADS_1


__ADS_2