Terjerat Cinta Sang Pembantu

Terjerat Cinta Sang Pembantu
Akan berlabuh pada siapa?


__ADS_3

...Sesungguhnya, hati berlabuh pada siapa?...


...Cinta yang rumit membuat pahit...


...Mengapa hati tak mengutarakan...


...Cinta yang dia inginkan...


...Mengapa sulit sekali tuk berucap?...


...Berpijak lah di tempat semestinya...


...Jangan sampai salah menetap...


...Hati takkan sampai bahagia...


...Jika ia tak menapak di jalannya...


Merenungi hati sebenarnya berlabuh pada siapa? Sulit menentukan cinta yang sesungguhnya. Seperti yang Tira alami saat ini. Hari esok yang menyakitkan yang akan dilalui oleh Tira, akan menjadi hari yang paling menyedihkan dalam hidupnya.


Malam ini, semua persiapan telah selesai. Rangga dan Keyza akan berangkat esok hari. Rangga telah memberi tahu Davian perihal kepergiannya. Davian sangat menyayangkan, namun keputusan Rangga sudah bulat dan Rangga sudah menelepon asistennya yang berada di Swiss untuk membersihkan rumah besarnya di sana.


Tira hanya bisa terdiam. Malam ini, ia diselimuti rasa bersalah yang begitu mendalam. Rasanya, melihat wajah Keyza yang sedang terlelap, membuatnya sangat sedih, membayangkan betapa terlukanya hati anak kecil ini, kalau tahu ternyata Keyza dibohongi.

__ADS_1


Rangga membohongi Keyza. Rangga memang menyuruh Tira untuk ikut membereskan pakaiannya juga, karena Tira diminta Davian untuk kembali menjadi baby sitter untuk anak Davian kelak nanti. Namun, Rangga berbohong pada Keyza, ia berkata bahwa Tira pun akan ikut, karena telah membereskan pakaiannya juga.


Tira tak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya bisa merenung kesedihannya saat ini. Ia pun bingung dengan perasaannya sendiri. Entah bagaimana perasaannya pada Rangga. Di satu sisi, ada hal yang membuat Tira tertarik pada Rangga, namun Tira tak bisa memastikan perasaan apa itu. Dan juga, akhir-akhir ini ada sekretaris Dika yang mengganggu bayangan dan pikirannya.


Apakah Tuan bisa membatalkan kepergiannya? Aku tak tega jika Keyza harus menangis karena aku. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Kenapa aku sangat dilema sekali? Tuan? Tuan sedang apa? Apa kita bisa bicara sebentar? Aku ingin, tak ada kejelekan diantara kita. Kuharap, kalau pun aku tak bisa membujuk Tuan, aku tetap bisa menjalin hubungan baik dengannya. Apa dia sudah tidur? Haruskah aku ke kamarnya? Batin Tira.


Tira keluar dari kamar Keyza, dan ia segera melihat-lihat di ruangan, siapa tahu Rangga masih belum tidur. Namun, ruangan tampak kosong. Sepertinya, Rangga sudah tidur. Tira pun berjalan menuju kamar Rangga, namun kamarnya tertutup. Sepertinya, memang benar kalau Tuan Rangga sudah tidur. Ia pasti sedang beristirahat, karena besok pagi ia akan terbang ke Swiss. Ya Tuhan, kenapa aku sedih sekali? Gumam Tira.


Tira membalikkan tubuhnya, ia memutuskan untuk kembali ke kamarnya dan tidur bersama Keyza. Namun, ketika Tira akan pergi, Tira mendengar teriakan dari dalam kamar Rangga.


"Aarrgghhhhhhhh. " terdengar suara Rangga.


Tira pun kaget. Ada apa dengan Tuannya? Ia segera berbalik dan kembali menuju kamar Rangga. Tira pasrah, ia mencoba membuka kamar Rangga, untungnya pintu kamarnya tidak dikunci. Tira merasa ini sangat lancang, namun Tira kaget mendengar Rangga berteriak.


Rangga sedang duduk di meja kerjanya. Ia menatap kearah Tira. Rangga menyeringai dengan mata yang memerah, efek alkohol telah menguasai dirinya. Tira sedikit takut, karena ia tahu orang yang sedang mabuk sering melakukan hal-hal diluar nalar manusia.


Ya ampun, Tuan sedang mabuk. Aku tak menyangka, didalam rumahnya, ia menyimpan minuman keras. Aku takut, aku takut terjadi sesuatu kalau kesadarannya menghilang, lebih baik aku pergi tidur dan mengunci kamarku sekarang juga. Batin Tira.


Tira akan pergi, namun Rangga segera berdiri dari duduk nya dan berlalu menuju Tira. Rangga segera menahan tangan Tira. DEG, Tira benar-benar takut. Ia membayangkan kejadian yang saat ini menimpa dirinya. Ia sering membaca novel seorang majikan yang menyetubuhi anak buahnya karena sedang mabuk, dan Tira sangat takut saat ini, ia takut hal menakutkan itu terjadi padanya.


Tolong aku, yaAllah. Aku sangat takut sekali saat ini. Tolong aku, bantu aku. Aku tak ingin nasibku tragis seperti novel-novel yang selalu aku baca. Tolong aku dari hal gila ini. Astagfirullah, Tuan Rangga. Gumam Tira dalam hati.


Tira menarik paksa tangannya, namun Rangga mencengkeramnya dengan kuat, hingga Rangga menarik paksa tangan Tira, dan tubuh Tira pun berada di dada Rangga. Rangga dengan cepat kilat memeluk Tira, membuat Tira sangat ketakutan dan terbayang-bayang akan novel-novel yang pernah ia baca.

__ADS_1


Mata Tira terbelalak kaget, jantungnya berdebar tak karuan, ia sangat takut, ia meronta namun tubuhnya terlalu kecil untuk bisa melawan Rangga. Rangga tetap memeluknya dengan erat. Sungguh hal yang sangat menjijikan harus berpelukan dengan laki-laki mabuk seperti ini.


"Aarrgghh, Tuan! Lepaskan saya! Atau saya akan laporkan anda!" Tira meronta-ronta.


Tubuhnya yang kecil didekap hangat oleh Rangga. Rangga memejamkan matanya, ia merasakan hangat di sekujur tubuhnya karena pelukannya pada Tira. Ia tak mengindahkan ucapan Tira yang meronta meminta Rangga melepaskan dirinya. Rangga tetap memeluknya. Antara sadar dan tidak, ia pun telah larut dalam efek alcohol yang sejak tadi ia teguk seorang diri.


"Brengs*k! Lepas gak! Aarrggghhhh." Tira terus meronta.


Rangga perlahan melepaskan pelukannya. Rangga menjulurkan ibu jarinya pada mulut Tira, pertanda bahwa Tira harus diam. Rangga menggenggam tangan Tira dan mengajak Tira untuk duduk di ranjangnya. Tira menolak, namun tangan Rangga sangat sulit untuk dilepaskan. Tira pun duduk di ranjang itu dengan terpaksa.


"Tuan, jangan macam-macam ya! Saya gak akan segan-segan laporkan kebejatan Tuan Rangga pada saya!" ucap Tira mengancam Rangga.


Dengan mata setengah tertutup, Rangga tersenyum, "Kamu tak perlu membuang tenaga mu seperti itu. Aku tak akan melakukan apa yang kau takutkan."


"Lalu, apa maksud Tuan? Kenapa anda memaksa saya begini?" ucap Tira.


Rangga tersenyum, "Aku hanya ingin memelukmu untuk yang terakhir kalinya, aku akan melepas mu dengan senyuman. Maafkan aku yang memelukmu tanpa izin, tapi inilah pelukan perpisahan. Aku tak akan menodai dirimu. Aku tahu, kamu bukanlah untukku, kamu mencintai Dika, bukan begitu? Tubuhmu tak akan ku nodai, tubuhmu hanya milik laki-laki yang kau cintai. Aku tahu batasan ku, hal yang sama pernah aku lakukan pada Arini, hanya untuk menakut-nakuti kamu saja. ini adalah kejujuran ku. Untuk itu, aku hanya meminta izin untuk memelukmu, memeluk tubuh hangat mu yang akan selalu aku rindukan saat aku telah jauh denganmu. Terima kasih, telah mengisi hari-hari ku dengan ceria dan kebahagiaanmu, maafkan ambisi dan obsesi ku yang keterlaluan padamu,"


BRUUGGGHHHHH, tubuh Rangga terjatuh pada kasur empuknya. Rangga sudah tepar, ia tak bisa dibangunkan. Tira mencoba menyentuh pipi Rangga, ternyata kesadaran Rangga menghilang, ia telah larut dalam efek alkohol di tubuhnya.


Tira yang mendengar ucapan Rangga, tak kuasa menahan tangisnya. Lagi lagi, air mata itu jatuh tak terhenti. Baru kali ini, ia merasa bahwa Rangga tulus padanya, ketulusan yang diungkapkan saat Rangga dalam kondisi tak sadar. Bukankah, setiap orang yang sedang mabuk akan selalu berkata jujur?


Sambil menangis, ia membenarkan posisi tidur Rangga, dan menyelimuti laki-laki itu dengan selimut tebalnya. Entah, perasaan yang berkecamuk, dan hati yang tak bisa ditentukan kemana arahnya, akan berlabuh pada siap sesungguhnya?

__ADS_1


*Bersambung*


__ADS_2